#ReviewMaret – Ayo Me-review Buku Fiksi!

Pada setiap buku yang selesai dibaca, ada pengalaman dan kesan setelahnya

Dear bloger, 

Kalian suka baca buku fiksi? Novel mungkin? Atau kumpulan flash fiction dan cerpen? Ah iya! Atau mungkin kumpulan puisi?

Dari banyak buku fiksi yang sudah kalian baca, pasti ada beberapa yang meninggalkan kesan selesai membacanya. Kesan bisa saja baik atau buruk, dong! Kenapa tidak ditulis dan diikutkan saja dalam #ReviewMaret dalam rangka ulang tahun @momo_DM @danissyamra @ridoarbain


Selain bisa jadi rekomendasi untuk pembaca lain, sekaligus bisa mendapatkan paket hadiah dari kami bertiga. Lumayan, kan? Tertarik? Simak dulu aturan mainnya, yuk!

  1. Follow akun Twitter penyelenggara @momo_DM @danissyamra @ridoarbain (optional jika memiliki akun Twitter);
  2. Peserta memiliki blog pribadi dengan berbagai platform (wordpress, blogspot, blogdetik, fb note, tumblr, dll);
  3. Peserta boleh menulis lebih dari satu , maksimal tiga buah review buku dengan judul berbeda;
  4. Buku yang di-review adalah karya fiksi (novel, kumcer, kumpulan ff, dan kumpulan puisi) berbagai genre yang diterbitkan oleh penerbit mana saja (major maupun indie);
  5. Review yang ditulis merupakan hasil karya sendiri dan bukan JIPLAKAN serta belum pernah dipublikasikan di media massa online dan offline maupun blog pribadi;
  6. Review ditulis dengan Bahasa Indonesia dan taat EYD;
  7. Twit link review kamu dengan format: #ReviewMaret judul buku – genre – link cc: @momo_DM @danissyamra @ridoarbain. Contoh: #ReviewMaret Sabtu Bersama Bapak – Family Romance – http://www.ridoarbain.com/2014/07/review-sabtu-bersama-bapak-adhitya-mulya.html cc: @momo_DM @danissyamra @ridoarbain
  8. Periode pengiriman review mulai tanggal 4 sampai 24 Maret 2015 pukul 23.59 WIB dan pemenang akan diumumkan pada tanggal 27 Maret 2015
  9. Mencantumkan: Diikutkan dalam #ReviewMaret @momo_DM @danissyamra @ridoarbain di https://bianglalakata.wordpress.com/2015/03/03/reviewmaret-ayo-me-review-buku-fiksi/ pada akhir review;
  10. Tersedia 3 paket hadiah untuk tiga review terbaik. 

Hal-hal yang belum jelas, sila ditanyakan di kolom komentar postingan ini atau mention @momo_DM @danissyamra atau @ridoarbain di Twitter. 

Tunggu apa lagi? Segera kirimkan review terbaikmu! Ditunggu, ya!  Jangan lupa untuk menyebarkan info ini kepada teman-temanmu lewat akun media sosial milikmu. 😘



 Salam hangat dari Awesome Aries,

@momo_DM @danissyamra @ridoarbain

#CERBUNG – MAS(S)A Bagian 2

ARION: Tombol Pengingat

DP BBM
Sumber: http://blog-rangga.blogspot.com/2013/01/cara-mudah-membuat-tombol-pada-blog.html

 

Pohon cemara itu tidak seharusnya tumbang. Bukan waktunya. Tapi, apa pun bisa saja terjadi bukan? Bahkan, pada saat yang tidak seharusnya sekalipun. Suara yang keras berhasil membangunkan seorang lelaki yang tidur meringkuk. Arion. Memang hawa dingin tak terelakkan. Penghangat ruangan kualitas terbaik pun sepertinya tidak mampu mengusir hawa dingin yang menusuk tulang.

Arion bergegas menuju kamar mandi. Tak butuh waktu lama baginya untuk mandi. Setelah selesai membungkus tubuh atletisnya dengan pakaian kerja, dia pun berangkat. Dia mendadak ingat dengan janjinya pada seseorang hari ini.

“Masih ada waktu.”

Continue reading #CERBUNG – MAS(S)A Bagian 2

#Cerbung – MAS(S)A Bagian 1

PISCESSA: Sepasang Sepatu Tua

IMG_0973

Piscessa membuka mata. Retina matanya tak mampu membiaskan bayangan benda di kamarnya. Gelap. Syaraf sadarnya memerintahkan tangannya meraba nakas di samping tempat tidurnya. Syaraf ujung jarinya belum bisa menemukan benda yang dicari. Dalam kegelapan dia tidak bisa melakukan apa-apa. Persis seperti saat pertama kali dia mendapati kenyataan, bahwa Arion memutuskan hubungan tanpa sebab. Saat itu, bintang di langit mendadak lenyap. Semua titik-titik kuning berpendar dalam kepalanya.

Continue reading #Cerbung – MAS(S)A Bagian 1

#FF2in1 – Lima Tahun Lalu

“Aku belum siap!”

“Aku tak memaksamu, Asha. Aku akan menunggu.”

Kulihat Asha menunduk. Ia hendak pergi saat aku mencengkeram lengannya. Sama sekali tak ada penolakan. Aku tahu itu. Sepuluh tahun mengenalnya cukup bagiku untuk mengetahui segala hal tentang dirinya. Ia pun tak beda jauh denganku. Sebenarnya. Aku tahu ia juga memiliki perasaan yang sama.

“Tolong kasih aku waktu, Ren.”

“Iya, Sha. Aku selalu nunggu sampai kamu benar-benar siap, kok.”

Aku pun akhirnya memilih untuk sementara menjauh darinya. Aku tahu persis rasanya kehilangan orang yang dicintai. Bukan tanpa alasan. Aku pernah merasakannya lima tahun lalu saat ayah meninggal karena sakit tua dan menjadikanku seorang yatim piatu. Sama persis dengan kematian orang yang paling dicintai Asha.

Beruntung di usia yang hampir sebaya dengan Asha, tiga puluh tahun, aku kuat. Terlebih aku juga telah memiliki pekerjaan tetap rasanya bisa membahagiakan Asha. Namun masalah hati tidaklah mudah. Apa pun yang terjadi aku bertekad menunggu Asha siap, meskipun sampai seribu tahun lamanya. Demi cintaku padanya, meskipun aku tahu kalau sebenarnya ia belum bisa melupakan almarhum suaminya — ayah kandungku.

- mo -

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari Tiket.com dan nulisbuku.com #TiketBaliGratis.

#FF2in1 – Dia Bukan Aku

“Lalu apa artinya sumpah kita dulu?”

Ia terdiam. Di sampingnya, aku masih meradang. Terlebih saat melihat ia melenggak-lenggokkan tubuhnya. Sesekali ia membetulkan gaun malamnya. Ia tampak sempurna. Tanpa cacat setelah kejadian dulu. Berbeda dengan kondisiku saat ini. Mendadak aroma tubuhnya menusuk hidungku. Hal ini sedikit banyak mampu meredakan amarahku. Aku menguatkan diri untuk memeluknya dari belakang.

“Gila kamu!”

Ia berteriak sambil memberontak. Berhasil. Ia terlalu kuat untuk tubuhku yang lemah. Kaki kiriku patah karena kecelakaan saat menjemput dia pulang kerja. Malam itu aku cukup lama menunggunya. Tidak seperti hari-hari biasanya, ia tidak keluar kantor sendirian. Di sampingnya melangkah seorang lelaki tegap. Ia pernah mengenalkannya padaku sebagai Andrew, direkturnya. Aku percaya.

Suatu hari sebelumnya aku mendengar kabar, bahwa ia menjadi simpanan direkturnya tersebut. Ia tak pernah mengetahuinya. Aku pun diam saja. Takut kehilangan dirinya adalah penyebabnya.

“Tunggu! Jangan tinggalin aku! Aku butuh kamu, Ratri!”

Ratri tak memedulikanku dan terus melangkah ke depan. Aku berusaha menyusulnya dengan tertatih hingga ke bahu jalan yang sepi. Aku sama sekali tak peduli dengan angin malam yang dingin menusuk tulang. Hingga di depan kantornya yang tak jauh dari rumahku dan rumahnya sekarang setelah pindah dulu, ia berhenti. sesekali ia menoleh ke arahku. Sekilas saja. Tanpa senyuman seperti dulu waktu pertama saling bersumpah untuk sehidup semati.

“Arion! Mendingan kamu pulang aja! Udah malem ini!”

“Kamu mau ke mana, Ratri?”

“Arion… Arion… Kamu enggak tahu malem apa sekarang?”

Aku menggeleng pelan. “Sekarang malem Jumat, Arion! Dan itu artinya waktu bagiku untuk ketemu Andrew. Bukankah kamu udah setuju?! Lalu kenapa masih menghalangiku?! Kenapa?!”

“Aku masih mencintaimu, Ratri.”

“Aku tahu itu, Arion. Tapi maaf. Aku lebih mencintai Andrew, manusia itu. Bukan kamu yang seorang hantu.”

Aku melihat Ratri melangkah menjauh.

“Sayangnya kamu lupa kalau kamu sama kayak aku, Ratri,” bisikku.

- mo -

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari Tiket.com dan nulisbuku.com #TiketBaliGratis.

#RABUMENULIS – KESEPAKATAN DENGAN MATAHARI

IMG_0926

“Tunggu!”
Matahari tak bergeming. Ia terus bergerak turun. Perlahan. Sementara aku masih termangu di atas balon udara. Hingga akhirnya, matahari mengalah. Untuk sepersekian detik berikutnya, ia berhenti saat aku semakin mendekat. Aku tersenyum ke arahnya.
“Apa yang kauinginkan, Anak Muda?”
“Ikutlah denganku sebentar saja. Kotaku butuh bantuanmu.”
Aku pun menceritakan kondisi kotaku akhir-akhir ini. Pun tentang aku yang tak berani pulang tanpa membawa dirinya.
“Hahaha… Bukan urusanku! Sekarang sudah waktu bagiku untuk pulang, Anak Muda.”
Aku terbang semakin mendekatinya.
“Aku akan melakukan apa pun asal kamu mau ikut aku sekarang.”
Matahari tampak menggeleng perlahan.
“Tolonglah aku wahai pemilik cahaya.”
Matahari terdiam sesaat.
“Sebenarnya aku ragu kalian akan menepati janji. Tapi baiklah. Aku akan membantumu. Syaratnya, kamu dan warga kota lainnya harus mencegah terulang kejadian setelahnya. Bagaimana? Sanggup?”
Aku mengangguk pelan. Setelahnya matahari pun mengikutiku ke arah kota. Tak lama matahari tercengang menatap lautan.
“Mana kotamu?”
Aku menunjuk ke bawah. Gelombang tampak mengalun pelan di permukaannya. Aku jelaskan pada matahari tentang apa yang harus dilakukannya. Ia mengangguk.
“Baiklah. Menyingkirlah jauh-jauh sampai aku menyelesaikannya.”
Aku menurut. Tak butuh waktu lama baginya. Perlahan-lahan terlihat sebuah puncak yang dibalut emas. Setelahnya puncak-puncak pencakar langit pun tampak. Aku tersenyum di kejauhan melihat kotaku yang tak lagi tergenang. Matahari telah berhasil menguapkan.
“Selesai! Aku pulang dulu. Jangan lupa dengan janjimu.”
Aku mengangguk lalu mendarat di tanah lapang dekat sebuah monumen kebanggaan kotaku. Setelah matahari pulang, kukabarkan pada balon-balon lain yang perlahan memenuhi lapangan dan bersiap kembali pulang ke rumah masing-masing.

- mo -

#30HariMenulisSuratCinta – Surat Terbuka untuk Pak @aniesbaswedan

Selamat pagi, Pak.

Sebelumnya perkenankan saya memperkenalkan diri dulu. Nama saya Sudomo, S.Pt.. Sudah mengabdi menjadi guru PNS sejak 1 April 2006 di SMP Negeri 3 Lingsar Lombok Barat NTB dan mengampu mata pelajaran IPA. Saat ini saya sedang pemberkasan untuk sertifikasi melalui jalur PPGJ 2015. Hal ini karena tahun-tahun sebelumnya selalu gagal. Permasalahannya saya yakin Bapak sudah paham, yaitu pengangkatan saya yang setelah diundangkannya UU Guru dan Dosen tahun 2005.

Dan, baru tahun inilah saya bisa kembali pemberkasan setelah mengikuti UKA tahun 2013/2014. Hanya saja pemberkasan tidaklah berjalan sesuai yang saya harapkan. Pasalnya adalah sampai sekarang, meskipun berkas sudah lengkap, tetapi nama saya masih dinyatakan Belum Verifikasi di situs Informasi Sertifikasi Guru. Mengetahui hal tersebut saya tidak tinggal diam. Saya berusaha menanyakan ke pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lombok Barat. Hasilnya adalah bahwa saya kemungkinan besar tidak bisa ikut PPGJ 2015. Hal ini disebabkan karena latar belakang pendidikan S1 saya dianggap tidak linier, S1 Peternakan mengajar IPA.

Sebagai informasi, saya diterima sebagai PNS guru di kabupaten Lombok Barat lewat jalur umum dengan menggunakan ijazah S1 Peternakan dan Akta IV Kependidikan. Hal ini karena waktu itu memang formasi yang dibutuhkan adalah guru IPA dari S1 Non Kependidikan. Itu artinya ijazah Akta IV Kependidikan saya diakui. Terlebih saya telah memiliki NUPTK 9659753654200012. Saya rasa itu cukup kuat untuk mengakui saya sebagai seorang pendidik. Terlepas dari latar belakang S1 saya yang Non Kependidikan. Hanya saja dalam perjalanannya sampai hari ini, tetap saja dianggap tidak linier sehingga terancam tidak bisa ikut PPGJ 2015. Maaf, Pak. Menurut saya ini kurang adil. Padahal sama-sama telah berpengalaman mengajar. Bedanya hanya di ijazah S1 saja, kependidikan dan non kependidikan. Padahal dalam kenyataannya beban jam mengajar keduanya sama. Pun tuntutan untuk profesional maupun kewajiban mendidik siswa. Apakah memang yang S1 Kependidikan lebih profesional dalam mengajar bidang studi dibandingkan yang S1 Non Kependidikan? Saya rasa kenyataan di lapangan tidak demikian adanya, Pak.

Melalui surat terbuka ini, saya hanya ingin menyampaikan uneg-uneg. Kiranya Bapak ada keluangan waktu untuk memberikan penjelasan tentang sertifikasi melalui PPGJ 2015 bagi guru yang berasal dari S1 Non Kependidikan. Semata-mata demi pemerataan kesempatan mendapatkan penghargaan atas jerih payahnya dalam mengajar selama ini. Hal ini disebabkan karena saya tidak sendirian. Banyak teman saya yang bernasib sama dan membutuhkan penjelasan yang sama pula.

Demikian saya sampaikan. Besar harapan saya kiranya Bapak berkenan memberikan tanggapan. Atas perhatian dan kesediannya saya ucapkan terima kasih.

Salam hormat,

Sudomo, S.Pt.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 5,496 other followers