#CeritaSudutKota – Mengajak Ingatan Menyusuri Kenangan Masa Kecil

Memotret bagian yang kadang luput dari perhatian

image

Aha! Siapa yang tidak tahu nama permainan anak-anak ini. Jangankan anak-anak, orang-orang dewasa yang pernah jadi anak-anak pada zamannya juga tahu. Odong-odong. Sederhana. Sesederhana bentuk dan penampilannya. Hanya berupa kotak persegi dengan beberapa tunggangan untuk anak-anak berbagai bentuk dan lampu warna-warni. Dilengkapi dengan roda, cukup dipindah-pindahkan tempatnya dengan sepeda motor.

Continue reading #CeritaSudutKota – Mengajak Ingatan Menyusuri Kenangan Masa Kecil

#CeritaSudutKota – Taman Tanpa Tanda

Memotret bagian yang kadang luput dari perhatian

image
Pagi di Taman Mini yang Maksi

Taman nyalah (nanggung). Seperti itu biasa orang menyebutnya. Bukan tanpa alasan pastinya. Luasnya memang tak seberapa. Fasilitasnya pun tak jauh berbeda. Seadanya. Beberapa bangku taman dan bundaran di tengah sebagai pelengkapnya. Terlebih taman ini antimainstream, tak punya papan nama berupa deretan huruf-yang-katanya-lagi-hits. Hanya ada plang kepemilikan tanah oleh pemerintah kota Mataram dan tulisan nama warna emas di satu sisi temboknya, Taman Adi Sucipto.

Tak ada cerita seru di dalamnya. Namun ada pembelajaran yang bisa dicontoh darinya. Apakah itu? Kebersihannya!

Diakui atau tidak, taman ini cukup bersih dengan rumput yang terawat. Pepohonan yang mengelilinginya pun sangat meneduhkan. Pemandangan seperti itu membuat saya bertanya-tanya, “Kenapa taman ini berbeda?”

Aha! Saya pun menemukan jawabannya. Selain karena perawatan rutin, taman mungil di dekat pom bensin Pelembak Ampenan ini masih sedikit orang berjualan. Hanya saat tertentu saja. Biasanya sore hari saat ramai pengunjung. Pada pagi hari hampir tidak ada aktivitas apa-apa di taman ini. Hampir tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali. Senyap. Hanya deru mesin kendaraan yang melewati kiri dan kanannya. Maklum, taman ini berada di ujung sebuah persimpangan. Wajar kalau bising diapit dua jalur kendaraan.

Meskipun demikian, pada saat-saat tertentu, taman ini terasa sepi. Cocok bagi pasangan atau keluarga untuk menghangatkan hubungan. Sekadar jalan santai atau duduk-duduk di kursi semen yang ada bisa menjadi pilihan. Berbincang santai tentang apa saja. Tertawa lepas tanpa beban di dalamnya. Semua bisa dilakukan. Hanya saja akan terasa lebih nikmat rasanya jika ada terobosan baru.

Biarkan saja taman tersebut tetap seperti ini keadaannya. Tidak apa-apa. Tak perlu sarana ini itu dan sebagainya. Pun papan nama seperti yang sudah ada di tempat lainnya. Cukup papan nama yang sudah ada sebagai identitas. Justru membuatnya tampak berbeda. Yang perlu diperbarui mungkin adalah peraturan di dalamnya.

Sebagai taman kecil yang cocok untuk pasangan dan keluarga berbagi cerita, ada baiknya jika di taman ini diterapkan aturan berbeda. Apa itu? Taman Tanpa Tanda. Maksudnya? Saat memasuki taman ini tidak diperbolehkan meninggalkan tanda keberadaan. Tidak boleh update status di Foursquare, Path, Facebook, Twitter, Instagram, dan akun media sosial lainnya. Dengan arti kata, no gadget di taman ini. Tujuannya apa? Jelas. Untuk lebih mendekatkan pasangan atau keluarga yang sedang menghabiskan waktu bersama.

Tidak perlu setiap hari aturan diterapkan. Cukup hari tertentu saja. Hari libur, misalnya. Pun tak perlu aturan tertulis. Kesadaran pengunjung saja sudah cukup rasanya.

Sulit? Iya. Karena belum pernah mencoba. Saya pribadi sih bisa. Suatu hari bersama teman-teman menghabiskan waktu beberapa jam saat libur di taman ini hanya untuk berdiskusi. Tak ada satu pun gadget menemani. Bisa? Bisa, kok. Sulit? Ah! Dengan adanya komitmen setiap kesulitan akan menemukan jalannya.

– mo –

#CeritaSudutKota – Ketika Sepetak Sawah Bertanya Sampai Kapan Bertahan?

~ Memotret bagian yang kadang luput dari perhatian ~

image

Apa yang pertama kali terlintas dalam benak kita melihat pemandangan pada suatu pagi tersebut? Indah! Benar. Diakui atau tidak keindahan tersebut terpancar jelas dari langit biru yang bersih dan juga penampakan hamparan sawah.

Lalu ada cerita apa di baliknya?

Continue reading #CeritaSudutKota – Ketika Sepetak Sawah Bertanya Sampai Kapan Bertahan?

#CeritaSudutKota – Seorang Bapak Tua dan Gerobaknya

~ Memotret bagian yang kadang luput dari perhatian ~

image
Pemandangan Pagi di Jalan Adi Sucipto Ampenan (Dok. Pribadi)

 

Setiap orang tahu, pagi adalah awal untuk mencari rezeki. Bukan saja pegawai pemerintahan. Bukan juga monopoli pekerja kantoran. Apa pun jenis pekerjaan, pagi adalah pintu rezeki.

Tak terkecuali seorang bapak berompi kuning ini. Tulisan warna hitam di bagian belakang rompinya atau di gerobaknya, rasanya cukup jelas menunjukkan di mana ia bertugas.

Hampir setiap pagi saat berangkat ke sekolah, saya selalu melihat bapak tua ini. Selalu seperti ini. Mengais, mengumpulkan, mengangkat, dan mengangkut. Mungkin memang seperti itu job description yang harus ia lakukan. Entah tertulis atau tidak. Bisa jadi tentang kontrak kerja dan sistem pembayaran pun sama. Sama-sama abu-abu.

Namun, memperhatikan gerak-geriknya dengan saksama, saya tahu ia kompeten dan berdedikasi penuh dalam pekerjaannya. Mungkin tanpa harus punya bekal pendidikan tinggi sekalipun. Bandingkan dengan beberapa oknum dengan pendidikan tinggi dan pekerjaan yang sesuai bidang ilmunya. Beberapa di antaranya justru tidak memiliki kompetensi dan dedikasi. Semata-mata demi materi. Jika terus-menerus seperti ini, ke manakah perginya nurani? Ah! Entahlah mungkin motivasinya berangkat kerja hanya agar mendapat predikat ‘sudah bekerja’. Ya… meskipun kenyataannya hasil kerjanya tak seberapa.

Terlepas dari itu, kembali lagi pada masing-masing oknum. Bukan urusan kita. Bukan pula urusan bapak tua dan gerobaknya. Toh tidak ada hubungannya, kan?

Bapak tua dan gerobaknya tak pernah mempermasalahkan etos kerja orang lain. Ia hanya berusaha tetap bekerja sesuai tugas yanf diberikannya. Baginya ini adalah amanah. Sekecil apa pun rezeki diperoleh yang penting berkah. Begitu katanya saat saya bertanya tentang penghasilannya.

Bukan itu poinnya sebenarnya. Yang perlu menjadi fokus kita saat ini adalah menemukan cara meringankan pekerjaannya. Membantu menggenjot gerobaknya yang penuh sampah? Tentu tidak. Itu tidak akan membantunya. Ia masih punya kuasa melakukannya sendirian saja.

Lalu apa?

Begini. Kita perhatikan dulu bak sampah yang ada. Ukurannya tidak terlalu besar, kan? Tentu tidak akan cukup menampung volum sampah yang berlebihan. Kita sebagai agen sampah pertama, hendaknya berpikir ulang sebelum membuang sampah di bak yang seperti itu. Tujuannya jelas. Agar sampah tidak berserakan. Kita masih bisa membatalkan niat membuang sampah di sana. Bukankah bak sampah yang disediakan tidak hanya satu buah saja? Masih ada alternatif bak sampah di lokasi lain. Lalu kenapa kita harus memaksakan membuang di sana? Tolong dipikirkan!

Bukan kita saja pastinya. Rasanya tidak fair kalau kita menimpakan kesalahan pada oknum ‘kita’ saja. Bagaimanapun juga, pengadaan bak sampah yang representatif tetaplah tanggung jawab pemerintah kota. Dalam kasus ini tentu Pemerintah Kota Mataram. Tergantung pemerintah mau atau tidak membantu meringankan kerja bapak tua dan gerobaknya.

Semoga.

– mo –

#SelfieStory – Buanglah (Barang Pemberian) Mantan pada Tempatnya

Tentang mantan di masa lalu bukan untuk tetap dikenang keindahannya, tetapi dijadikan pembelajaran ke depannya.

image
Membuang (Barang Pemberian) Mantan pada Tempatnya — Bak Sampah (diambil dengan kamera depan Smartfren U2)

Mantan? Hiii… Horor banget mendengarnya, ya? Iya. Bagi beberapa orang. Namun bagi sebagian orang, terdengar biasa saja. Kenapa? Karena (mungkin) mereka telah melupakan atau bahkan sudah tidak mengingat mantannya lagi. Atau bisa jadi memang tidak punya mantan? Ah! Entahlah…

Tentang mantan tentu banyak kenangan. Banyak pula cerita kebahagiaan. Ingat, ya! Tentang mantan sebenarnya bukan hanya kesedihan.

Continue reading #SelfieStory – Buanglah (Barang Pemberian) Mantan pada Tempatnya

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 5,597 other followers