[Penjualan Khusus] Di Penghujung Pelukan

Featured[Penjualan Khusus] Di Penghujung Pelukan

Adalah kehilangan. Segala yang seringkali terjadi tanpa diharapkan. Pun bagian kehidupan yang terkadang melahirkan kedukaan. Namun, bukan saja perihal kesedihan. Disadari atau tidak, kehilangan bisa saja merupakan rahasia kebahagiaan dalam skenario Tuhan.

Adalah kehilangan. Bisa berupa apa saja. Pun dialami siapa saja. Termasuk tokoh-tokoh dalam sehimpun cerita yang memiliki beragam kisah kehilangannya. Bisa jadi, pada salah satunya kau pernah merasakan kehilangan yang sama.

***

Benar adanya jika kehilangan tak selalu berwajah duka, terkadang ia berwajah tawa dalam skenario Tuhan. Keduanya dibidik melalui sehimpun cerita kehilangan oleh dua orang penulis yang berkolaborasi, Iit Sibarani dan Momo DM. Melalui cerita yang mereka tulis berdua, ada pesan tersirat yang ingin disampaikan bahwa kebahagiaan selepas kehilangan itu ada.

Sebanyak sebelas cerita dalam buku ini masing-masing ditulis berdua. Kesamaan pemilihan kata dan gaya penulisan menjadikan masing-masing cerita seperti ditulis oleh satu orang saja, merupakan kekuatannya. Beragam cerita dengan satu tema kehilangan yang begitu dekat dengan keseharian bukan tidak mungkin pernah dirasakan oleh khalayak pada umumnya. Hati-hati banyak luka di dalamnya. Tak terkecuali duka. Namun tak sedikit juga suka.

Bekerja sama dengan beberapa toko buku online, pihak Penerbit Media Kita melakukan promo penjualan khusus selama sebelas hari dari tanggal 11 sampai 22 Mei 2017.
Penjualan khusus buku bertanda tangan penulis dengan potongan harga 20% dan bonus travel pouch dapat dipesan di toko buku online berikut:

  • bukukita.com ~> Pesan klik di sini (atau WA 081285000570);
  • buku-plus.com ~> Pesan klik di sini (atau WA 089628519266);
  • republikfiksi.com ~> Pesan klik di sini (atau WA 087885575247);
  • grobmart.com ~> Pesan klik di sini (atau Line @grobmart); dan
  • buku kece ~> Pesan di Line @bukukece.

Ayo pesan pelukanmu sekarang! Jangan sampai kehabisan karena stok sangat terbatas.

(mo)


Catatan Embun di Atas Daun (2)

07:00 Wita

Aku masih enggan membuka mata. Ingatan tentang kehangatan rahim Mamah masih begitu lekat. Bukan saja kehangatan, tetapi juga perihal posisi favorit. Aku masih suka meringkuk seolah-olah masih berada di dalam rahim Mamah. Tempat ternyaman selama sembilan bulan sepuluh hari. Tempat terindah bagiku untuk mulai belajar tentang kehidupan. Tentang terang dan gelap dunia. Pun ingar bingar suara-suara yang menyertainya. Salah satu suara yang kusuka adalah dendang selawat ‘Ya Ashiqol Mustofa’. Sebuah kidung hangat yang seringkali kudengar saat Mamah dan Papah pulang kerja. Sebuah dendang menenangkan yang selalu sempat dinyanyikan Papah sambil memijat Mamah. Aku tidak tahu apa alasan Papah suka sekali mendendangkan lagu itu untukku. Atau jangan-jangan hanya selawat itu saja yang dihafal Papah? Ah! Entahlah. Yang pasti aku bahagia saat mendengar Papah mendendangkannya.

Continue reading “Catatan Embun di Atas Daun (2)”

Catatan Embun di Atas Daun (1)

15:15 Wita

Ini pertama kalinya tangisanku terdengar memecah batu kecemasan di hati Papah dan Mamah. Sebuah tangisan keras dan panjang yang tak hanya terdengar di ruang operasi RSI Siti Hajar saja. Namun juga hingga menembus telinga Papah yang sedang berjaga di selasarnya. Aku yakin, waktu itu pasti Papah dan Mamah langsung mengucapkan syukur kepada-Nya. Aku yang telah mereka tunggu sepeninggal Kakak Inshira dalam kandungan Mamah, enam belas bulan yang lalu.

Continue reading “Catatan Embun di Atas Daun (1)”

#1Like1Blogpost ~ Seikat Sayur dan Harapan yang Hancur [3]

#1Like1Blogpost ~ Seikat Sayur dan Harapan yang Hancur [3]

Baca juga: Seikat Sayur dan Harapan yang Hancur (Bagian 2)

“Sudah enggak zaman lagi lewat minuman, Nak. Kalau Mbah bisa lewat apa saja. Paling manjur, ya, lewat apa yang sering kamu bawa setiap hari.”

“Saya tiap hari bawa sayur, Mbah. Gimana? Bisa enggak, Mbah?”

Tanpa menjawab pertanyaan Rani, lelaki dengan ikat kepala itu merapalkan mantra pada seikat sayur yang disodorkannya. Dengan saksama Rani menyaksikan setiap detik ritual yang dijalani oleh lelaki itu. Dia sama sekali tak terganggu dengan asap dan aroma dupa yang memenuhi ruangan kecil itu.

Continue reading “#1Like1Blogpost ~ Seikat Sayur dan Harapan yang Hancur [3]”

#1Like1Blogpost ~ Seikat Sayur dan Harapan yang Hancur [2]

#1Like1Blogpost ~ Seikat Sayur dan Harapan yang Hancur [2]

Baca juga: Seikat Sayur dan Harapan yang Hancur (Bagian 1)

“Aku kurang apa, Pah?!”

Pak Soni tak menjawab pertanyaan istrinya. Dia memilih bergegas masuk mobil dan berangkat kerja. Hari ini, dia berangkat kerja lebih pagi. Ada hal yang harus segera dia selesaikan. Dia bahkan tak sengaja hampir saja menabrak gerobak sayur.

Di depan jalan utama depan kompleks, dia melambatkan laju mobilnya. Ingatan-ingatan mendadak berkelindan di kepalanya. Sesekali dia terlihat menarik napas panjang. Terlebih saat dia mengaitkan ingatan demi ingatan tentang istrinya dan gadis penjual sayur itu.

“Papah sama sekali enggak ada apa-apa, Mah. Cuma ngobrol doang di warung kopinya. Salah?!”

Continue reading “#1Like1Blogpost ~ Seikat Sayur dan Harapan yang Hancur [2]”

#1Like1Blogpost ~ Seikat Sayur dan Harapan yang Hancur [1]

#1Like1Blogpost ~ Seikat Sayur dan Harapan yang Hancur [1]

“Hahaha… Kenapa, Ran? Kamu masih merasa diri lebih suci? Hahaha…”

Sungguh senja yang berat oleh kata-kata terakhir Adam sebelum akhirnya mereka berdua berpisah di jalan kompleks perumahan itu. Rani sama sekali tak menyangka maksud baiknya justru berbalik melukai hatinya. Hampir lima tahun mengenal Adam, bukan waktu yang singkat untuk memahami kepribadian Adam. Dia hafal betul, saat kondisinya terdesak, Adam akan berubah menjadi sosok yang berbeda.

Continue reading “#1Like1Blogpost ~ Seikat Sayur dan Harapan yang Hancur [1]”

#1Like1Blogpost ~ Sepotong Roti dan Kenangan yang Menyertai [3]

#1Like1Blogpost ~ Sepotong Roti dan Kenangan yang Menyertai [3]

Baca juga: Sepotong Roti dan Kenangan yang Menyertai (Bagian 2)

“Kenapa jadi aku yang disalahin?”

“Adam… Maaf, ya. Menurutku dalam hal ini emang kamu yang salah. Kamu udah berani main api.”

“Heh! Rani! Jangan asal ngomong, ya. Bukannya kamu yang dulu ngajarin aku? Kamu lupa?!”

Hening membius kedua pedagang keliling kompleks itu. Keduanya menundukkan kepala. Setelahnya Adam menerima roti terbungkus plastik yang isinya sudah hancur dari tangan Rani. Dia hanya bisa menyesali ucapan yang baru saja dilontarkannya pada perempuan muda seusianya yang terlihat menjauh sambil mendorong gerobak sayurnya.

Continue reading “#1Like1Blogpost ~ Sepotong Roti dan Kenangan yang Menyertai [3]”