Featured
Posted in Lomba Menulis

DIBUKA KEMBALI! SAYEMBARA FIKSI FEMINA 2016/2017

SYARAT UMUM SAYEMBARA CERPEN & CERBER FEMINA 2016/2017:

  • Peserta adalah Warga Negara Indonesia;
  • Naskah ditulis dalam ejaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar;
  • Naskah harus karya asli, bukan terjemahan;
  • Tema bebas, tetapi sesuai untuk majalah femina;
  • Naskah belum pernah dipublikasikan di media cetak, elektronik, dan online, dan sedang tidak diikutsertakan dalam sayembara lain;

Continue reading “DIBUKA KEMBALI! SAYEMBARA FIKSI FEMINA 2016/2017”

Featured
Posted in Proyek Menulis

[Kumpulan Flash Fiction] – LOL (Legenda Oh Legenda)

Cover LOL
Kumpulan 123 flash fiction 123 kata hasil dekonstruksi legenda oleh peserta #FFKomedi123Kata

Judul Buku: LOL (Legenda Oh Legenda) Jenis: Kumpulan Flash Fiction Penulis: @momo_DM, @Irfanaulia, @__fatwaningrum@_n_kecil, @aa_muizz, @anhardanaputra, @auxentina, @constantane, @didotanindita, @fannywatmadja, @jiahjava, @kakaakin, @mae_roseku, @MeliyaIndri, @MentionSari, @NafriYrrah, @rindrianie, @ry4nn_, @therendra. Harga: Rp. 40.000,-

Tebal: 170 Halaman B/W

Ukuran: 13 x 19 cm

Tahun Terbit: 2014

Diterbitkan melalui: www.nulisbuku.com

Deskripsi Buku:

LOL (Legenda Oh Legenda) merupakan kumpulan flash fiction 123 kata hasil dekonstruksi dari 15 (lima belas) legenda nusantara yang ditulis oleh 19 (sembilan belas) orang kontributor proyek menulis #FFKomedi123Kata. Sebanyak 123 flash fiction dengan genre komedi ditulis dengan gaya khas masing-masing penulis. Unik dan segar!

Continue reading “[Kumpulan Flash Fiction] – LOL (Legenda Oh Legenda)”

Posted in Sekadar Berbagi

13 Kengerian #HororisCausa di Mata @AlamGuntur

Pernah ngebayangin gak kalau teman-teman yang terbiasa nulis @fiksimini “diminta” nulis cerita yang panjang? Dan cerita panjang teman-teman @fiksimini ini mengambil tema horor. Beerrr… agak ngilu ngebayanginnya.

Ini seperti derap langkah di lorong rumahmu. Tubuh samar-samar mengintai di jendela itu. Kata-kata, katanya diketikkan. Diketukkan menjadi ketakutan demi ketakutan. Ini seperti pisau berkarat diseret di dalam kepalamu – Firman. A.

Kengerian Pertama. dibuka oleh cerita @adelliarosa “Burung-Burung Hitam di Mata Mahla” (BBHdMM). Mahla pernah bermimpi, ada sekawanan burung-burung bersayap pekat yang menukik ke arah matanya. Adelia Rosa membuka cerita BBHdMM cukup berhasil; sebagai pembaca aku langsung ingin tahu ‘apa yang terjadi?’. BBHdMM berkisah tentang anak perempuan yang dirasuki iblis. Yang kusuka, Adel mahir memvisualkan ceritanya. Aku dapat membayangkan saat adegan imam dan para santo berusaha mengusir iblis dari tubuh Mahla. Bukan perkara mudah menulis cerita horor yg meneror tanpa lebay. Dan Adel cukup berhasil dalam BBHdMM. Adel tidak terseret emosi sebagai pengarang saat plot Doa Bapa Kami. Dia mampu mengatur ritme dan ketegangan di sana. Ada kalimat dalam BBHdMM yg membuatku terdiam lama. Sebuah pertanyaan dari Mahla.

“Ibu mereka datang kepadaku, orang-orang yang meminta tolong itu. Apakah Tuhan cemburu?”

Continue reading “13 Kengerian #HororisCausa di Mata @AlamGuntur”

Posted in Sekadar Berbagi

7 Langkah Menjadi Blogger Peduli Pariwisata Lombok Sumbawa

“Selalu ada pelajaran dalam setiap perjalanan”

Bukan saja perjalanan ke suatu tempat baru. Namun juga perjalanan menemukan teman-teman baru. Banyak hal baru diperoleh dari sebuah temu. Bincang dan diskusi hangat. Pun berbagi banyak hal bermanfaat.

Tidak terkecuali sua dalam event Workshop dan Jumpa Blogger Lombok Sumbawa sebagai rangkaian Bulan Budaya Lombok Sumbawa 2016. Dalam acara yang digagas Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi NTB (Disbudpar NTB) ini setidaknya bisa menambah ilmu dalam mempromosikan Lombok dan Sumbawa melalui tulisan. Hal ini terbukti dari paparan nara sumber dalam kegiatan yang dilaksanakan di Hotel Santika Mataram hari Sabtu (10/9).

Continue reading “7 Langkah Menjadi Blogger Peduli Pariwisata Lombok Sumbawa”

Posted in Cerita Pendek, Lomba Menulis

#MyCupOfStory – Kopi Samsudin

“Bapak ndak mungkin pulang, Buk!”

“Kamu tahu apa tentang bapakmu, Mirna?”

Mirna pun terdiam. Ia tahu sore ini ibunya tidak akan berubah pikiran seperti hari-hari sebelumnya. Perempuan berusia enam puluh tahun itu tidak akan peduli apa pun perkataannya jika menyangkut bapaknya. Pemilik tubuh kurus itu akan tetap melakukan rutinitas seperti biasa. Menyeduh secangkir kecil kopi hitam lalu meletakkannya di meja teras rumah. Rutinitas yang seingat Mirna sudah dilakukan ibunya selama di rumah, setiap kali ia pulang merantau dari negeri jiran. Dan selama itu pula, ibunya memiliki keyakinan kalau bapaknya akan pulang untuk menghabiskan kopi hitam buatannya.

Continue reading “#MyCupOfStory – Kopi Samsudin”

Posted in Iseng

Cara Menghitung Total Destruction Clan War 

Langsung saja, ya, Archer Queen dan Barbarian King.

Gambar 1. Hasil Akhir Clan War

Ini adalah contoh kasusnya, clan war antara Bismillah vs Apalah-apalah. Hasil akhirnya draw, 23 – 23. Namun Bismillah kalah dalam Total Destruction. Kok bisa? Padahal semua menggunakan jatah attack-nya. Sementara kubu Apalah-apalah ada 3 jatah attack yang tidak dipakai. 

Begini penjelasannya, Golem

Pertama, perhatikan gambar berikut. Ini adalah penampakan hasil serangan dari tim Bismillah dan Apalah-apalah.
 

Gambar 2. Hasil Attack Tim Bismillah
 

 

Gambar 3. Hasil Attack Tim Apalah-apalah

Dari gambar tersebut, kita bisa melihat serangan terbaik pada masing-masing base musuh. Serangan terbaik ditentukan jumlah bintang terlebih dahulu, baru persentase kerusakannya. Artinya, 2 bintang 50% itu lebih baik dari 1 bintang 90%. Oleh karena itu, yang dihitung dalam total destruction sebagai ‘serangan terbaik’ adalah 50%, bukan 90%. Wah! Rugi 40% dong, ya, kalau hasil akhirnya draw. Ya iyalah, Hog Rider! Karenanya dibutuhkan strategi perolehan bintang dan total kerusakan terbaik. Begitu, Giant

Sekarang fokus lagi ke hasil attack tim Bismillah dan Apalah-apalah, ya, Goblin. Cara menghitung total destruction yang diperoleh adalah sebagai berikut:

  1. Perhatikan gambar 2. Langkah pertama adalah urutkan nama berdasarkan nomor urut tim musuh. Dalam kasus ini tim Apalah-apalah, dan saya sengaja tidak pakai nama karena saya tidak mengerti bahasanya. Kita pakai nomor urut saja. Berdasarkan hasil attack tim Bismillah (kerusakan terbesar yang dialami masing-masing tim Apalah-apalah) , serangan terbaik ke musuh nomor 1 sebesar 46% (attack 1 Njai Orange), ke nomor 2 sebesar 53% (attack 2 Njai Orange), ke nomor 3 sebesar 43% (attack 1 cogase), ke nomor 4 sebesar 52% (attack 1 erm), ke nomor 5 sebesar 91% (attack 2 cogase), ke nomor 6 sebesar 100% (attack 2 JvTino), ke nomor 7 sebesar 100% (attack 2 ksatria cahaya), ke nomor 8 sebesar 100% (attack 1 papahjahat.3gp), ke nomor 9 sebesar 100% (attack 1 rierdi), dan ke nomor 10 sebesar 100% (attack 2 itam). Selanjutnya, jumlahkan persentase kerusakan tersebut kemudian dibagi dengan jumlah peserta clan war. Perhitungan dari contoh di atas adalah (46% + 53% + 43% + 52% + 91% + 100% + 100% + 100% + 100% + 100%) : 10 = 785% : 10 = 78,5%. Jadi total destruction tim Bismillah adalah 78,50%.
  2. Selanjutnya urutkan nama berdasarkan tim sendiri. Dalam contoh ini adalah tim Bismillah. Berdasarkan gambar 3, diperoleh hasil serangan terbaik musuh (kerusakan terbesar yang dialami tim Bismillah) sebagai berikut: Njai Orange sebesar 0% (tidak ada yang menyerang), Reza sebesar 86% (attack 1 musuh nomor 2), cogase sebesar 100% (attack 2 musuh nomor 1), erm sebesar 72% (attack 2 musuh nomor 2), JvTino sebesar 72% (attack 1 musuh nomor 4), ksatria cahaya sebesar 86% (attack 1 musuh nomor 6), itam sebesar 100% (attack 2 musuh nomor 6), papahjahat.3gp sebesar 100% (attack 2 musuh nomor 9), rierdi sebesar 100% (attack 1 musuh nomor 10), johng kiyak sebesar 100% (attack 1 musuh nomor 9). Jika dijumlahkan dan dibagi jumlah peserta war, perhitungannya adalah sebagai berikut: (0% + 86% + 100% + 72% + 72% + 86% + 100% + 100% + 100% + 100%) : 10 = 816% : 10 = 81,60%
  3. Jadi, besarnya total destruction tim Bismillah vs tim Apalah-apalah = 78,50% vs 81,60%. Dengan demikian, tim yang menang adalah tim Apalah-apalah. Sedangkan tim yang kalah adalah…. Tim Bismillah. Kalah lagi? Wis biyasa. Namun kemenangannya selama ini lebih luar biasa, kok! Serius! 😀

Demikian kira-kira. Intinya dibutuhkan strategi serangan yang tepat agar bisa menang saat clan war. Sepakat, Goblin?

Salam CoC,
– ZZ –

(co leader pemilik alasan getok heroes saat enggak ikut clan war)

Jangan pernah bosan mainin CoC, tetapi bosanlah mainin hati cewek terus-terusan

Catatan:

  • Ditulis setelah enggak nemu cara menghitung total destruction yang bener di mbah google;
  • Ditulis setelah gagal menemukan jawaban saat mencoba berbagai macam cara menghitung total destruction;
  • Ditulis dengan harapan ada yang berminat gabung di clan Bismillah dengan syarat trofi minimal 2000 dan aktif war karena di Bismillah everyday is war day #sokwahenggres (ujung-ujungnya promo)


Posted in Lomba Menulis

20 Fiksimini Pilihan Kuis @JUNG_Coffee

Luar biasa!

Kata yang pantas untuk antusiasme fiksiminiers dalam menerima tantangan menulis fiksimini dengan topik KOPI dari @JUNG_Coffee, sebuah kedai yang asyik untuk pegiat literasi. Selain sebagai tempat untuk bedah buku, diskusi literasi maupun mengobrol ringan tentang dunia kepenulisan,  @JUNG_Coffee juga cocok untuk menemukan inspirasi menulis sambil ngopi asyik. Didukung dengan berbagai fasilitas dan event-event menarik, layak jika @JUNG_Coffee menjadi pilihan. Buktikan!

Bertujuan untuk memperkenalkan keberadaan @JUNG_Coffee sebagai alternatif lokasi berkegiatan bagi pegiat literasi ini, tantangan dibuat dalam bentuk kuis berhadiah voucher buy 1 get 1 dan buku Tarian Bumi karya Oka Rusmini. Dan, dari tantangan tersebut lahirlah karya-karya luar biasa. Apresiasi setinggi-tingginya untuk para peserta. Terima kasih partisipasinya. Keren!

Dari sekian banyak fiksimini yang masuk, tidak semuanya terpilih menjadi pemenang. Hal ini karena hanya disediakan hadiah untuk tiga orang pemenang saja. Namun semua peserta adalah pemenang yang bisa menaklukkan tantangan. Keren!

Setelah melalui diskusi panjang dengan tim, akhirnya terpilihlah 20 fiksimini. Bukan berarti yang lain tidak bagus. Semuanya bagus. Hanya saja tetap harus dipilih yang bagus dari sekian banyak karya bagus. Yang belum terpilih, tetaplah menulis. Semangat!

Dua puluh fiksimini terpilih ini selanjutnya akan dinilai oleh juri yang memutuskan secara mutlak dan tidak dapat diganggu gugat, tiga fiksimini terbaik. Sambil menunggu hasil dari juri, mari simak dulu 20 fiksimini pilihan yang ditulis dengan urutan acak berikut ini.

 

Suasana Asyik Jung Coffee (dok. @JUNG_Coffee)

(1)

SEGELAS KOPI KENANGAN

Setiap selesai diseruput. Gelas kopi itu mengeluarkan air mata.

@tkngES ~

(2)

KANGEN

Terlihat sendok sedang mengaduk kopi. Dan potongan tangan Bi Inem yang menggenggam.

~ @pena_gagu ~

(3)

BEDA PENDAPAT

Ia tak suka aku meminum kopi itu. Alhasil, aku dan jiwaku kini berpisah.

~ @DimASUpel ~

(4)

SEBELUM PEMILU

Aku tak butuh gula lagi, cukup kuminum kopiku di depannya yang sedang berpidato.

~ @DimASUpel ~

(5)

LARUT

Terlalu asyik ngobrol ngalor ngidul. Tahu-tahu, Eros dan Adam sampai di dasar cangkir kopi.

~ @okaholic ~

(6)

KOPI PAHIT

Setelah kunikmati, mataku tak mau diajak tidur. Ia masih asyik bermain dalam gelas.

~ @parta_4 ~

(7)

BARISTA TAMPAN

Biji-biji kopi langsung menghancurkan diri saat menatap wajahnya.

~ @nvqds ~

(8)

JOKER

Meredam lelah di kedai kopi. Mencari inspirasi.

Lelucon pedas di pesta pernikahan mantan istrinya nanti.

~ @JvTino ~

(9)

 TIDAK TEGA

Melihat Ibu bingung kehabisan gula, kopi itu memisahkan pahit dalam cangkirnya sendiri.

~ @Harry_Bawole ~

(10)

JATUH CINTA DI DALAM SEBUAH KEDAI KOPI

Sepasang mata bertatapan hangat. Dalam teko.

~ @ry4nn_ ~

(11)

KOPI UNTUK BAPAK

Setiap hari, dari hangat sampai dingin, sampai basi. Sudah setahun berselang.

“Suatu hari, Bapakmu pasti pulang!”

~ @NafriYrrah ~

(12)

SECANGKIR KOPI PAHIT

Setelah 10 sendok gula, ia pun memasukkan 2 sendok kenangan ke dalamnya.

~ @lizacica ~

(13)

BARISTAKU TERCINTA

“Tidak boleh ada yang menikmati racikanmu seperti semalam!” Pintaku.

~ @_PanduAP ~

(14)

YANG KAU TINGGAL SAAT BERPISAH

Setiap pagi, masih bisa kunikmati sisa remah-remah bibirmu, di cangkir kopi.

~ @_Kinang ~

(15)

KOPI SUSU

Setelah habis, di perutku terdengar suara sapi.

~ @adisyah33 ~

(16)

SALAH PAHAM

Setelah gadis cantik itu menyeruput kopinya, cangkirnya tiba-tiba memerah kemudian leleh.

~ @ag_sega ~

(17)

KOPI PERTAMA DI HARI INI

Ternyata yang terakhir.

~ @Enrouz ~

(18)

KOPI MANIS

Setelah sekian lama dilarang, kali ini istrinya membolehkan suaminya minum kopi dengan madunya.

~ @_bhita_ ~

(19)

GARA-GARA MENYERUPUT KOPI TUBRUK

Setiap kali aku meminumnya, selalu tertabrak masa lalu.

~ @moakbart ~

(20)

KOPDAR

Sehari setelah kiamat, akhirnya kami berhasil bertatap muka.

~ @ksatria_cahaya ~

Selamat untuk 20 fiksimini pilihan.

Tunggu pengumuman 3 fiksimini terbaik.

Segera!

ttd

Host

Posted in Lomba Menulis

Masih Ada Cinta untuk Perempuan di Mata Uang Sepuluh Ribuan #KeputusanCerdas

“Lo enggak pengin nengokin makam bokap sama nyokap lo, Bos?”

“Ogah! Yang udah mati, biarin sih mati. Ditengokin juga enggak bakal hidup lagi, kan? Lagian gue juga udah lupa kampung halaman gue tuh di mana.”

Ini bukan pertama kalinya Ferdi, sahabat dan asisten pribadi sekaligus wakilku, bicara seperti itu. Dan, pembicaraan selalu saja berujung pada sebuah ceramah panjang tentang keluarga lengkap dengan silsilah dan keturunannya. Sebuah topik yang selama ini tidak pernah ada dalam daftar kamus kehidupanku. Aku tak pernah keberatan saat ia membuka topik tentang itu. Sepuluh tahun kedekatan sejak aku memimpin perusahaan ini telah menghapus jarak antara aku dan dirinya. Beruntung Ferdi bisa profesional saat menjadi asisten pribadi atau sahabat.

Keluarga?

Apa itu keluarga? Sekumpulan orang yang mencariku saat mereka butuh bantuan dana? Iya? Menurutku, keluarga tidak seperti itu. Aku punya deskripsi sendiri tentang apa itu keluarga. Sekumpulan orang yang bisa diajak berbagi tawa saat aku melakukan perjalanan ke luar negeri. Salah jika aku punya deskripsi seperti itu? Tentu tidak. Bebas, kan?

Deskripsi buatanku sendiri itu menjadi pegangan hidup setelah tahu bahwa aku tidak pernah mengenal kedua orang tuaku. Setidaknya seperti itu kebenaran yang diceritakan oleh mendiang ayahku, pemilik travel agent di Jakarta yang saat ini kukelola.

“Lo enggak boleh ngomong gitu, Bos! Gimanapun juga, mereka tetep orang tua kandung lo. Bisa kualat lo entar.” Telunjuk jari Ferdi mendadak tepat berada di depan hidungku.

“Hahaha…”

Sesat setelahnya, di atas sebuah kursi kayu, tubuhku sedikit berguncang. Tawaku menggema di sudut kafe, salah satu unit usahaku juga yang bersebelahan dengan kantor utama. Suasana kafe yang sepi karena sudah jam pulang membuat tawaku terdengar membahana.

“Ferdi… Ferdi… Masih percaya aje lo sama begituan. Mitos itu. Enggak ada istilah kualat di zaman sekarang,” kataku sambil memukul-mukul meja bundar dari kayu jati di hadapanku. Beberapa benda dari kaca terdengar beradu menimbulkan suara denting tak beraturan.

“Bos… Kualat enggak kenal zaman, lho!”

Aku melihat tatapan serius di kedalaman mata Ferdi. Tidak seperti biasanya.

“Udah, Fer. Mending lo siepin aja deh untuk keberangkatan gue ke Athena.”

Aku berusaha mengalihkan topik pembicaraan untuk sedikit menenangkan debar yang mendadak singgah. Aku juga berusaha meredamnya dengan meneguk air putih hangat hingga tandas. Setelahnya, gelas bening berukuran besar itu beradu dengan permukaan meja kayu.

“Bos… Bos… Ke luar negeri muluk mainnya. Sekali-kali jelajah Indonesia napah?” Ferdi bertanya sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi kayu.

Aku tidak segera menanggapi pertanyaannya. Ia juga sudah seringkali melontarkan pertanyaan yang sama setiap aku memintanya untuk menyiapkan perjalananku ke luar negeri. Biasanya aku hanya diam untuk menjawabnya. Namun tidak kali ini.

“Hahaha… Jelajah Indonesia? Apanya yang mau dijelajahi, Fer? Korupsinya? Carut-marut hukumnya? Intoleransinya? Hahaha…,” aku terus tertawa sampai akhirnya memutuskan untuk melanjutkan kata-kata, “Fer… asal lo tau, ya. Dana traveling gue di bank khusus masih cukup buat seneng-seneng di luar negeri. Untuk apa aku menjelajahi Indonesia? Males gila liat sampah berserakan di mana-mana. Males juga liat masyarakat enggak sadar sama sekali sama kondisi wilayahnya. Cukup masa kecil gue doang yang begitu bangga sama Indonesia. Sekarang sih ogah banget gue, Fer.”

Ferdi sepertinya tidak mau menyanggah pernyataanku. Ia tahu betul aku masih memiliki jawaban atas sanggahan yang akan diberikannya. Seperti saat-saat sebelumnya. Namun kali ini aku salah mengira. Ferdi telah menyiapkan jurus yang sama sekali tidak kuduga.

“Lalu kenapa lo enggak pindah kewarganegaraan aja sekalian, Bos? Timbang bolak-balik. Lumayan, kan, ongkos pesawat bisa buat buka usaha travel agent di sono.”

Deg!

Kali ini giliranku terdiam. Aku tidak pernah punya pemikiran seperti itu. Bagiku jalan-jalan ke luar negeri hanya untuk bersenang-senang. Bukan untuk tinggal selamanya atau sekadar melebarkan sayap usaha. Tidak. Sama sekali tidak ada niat ke arah sana. Sebab itu artinya aku harus kembali memulai dari nol. Dan, tanpa mendiang ayah angkatku, aku bisa apa. Aku tidak bisa apa-apa. Aku tahunya hanya bisa bersenang-senang. Bahkan untuk memikirkan strategi marketing pun, aku harus berkonsultasi dengan Ferdi. Bagaimanapun juga, usia Ferdi lebih matang dari aku sepuluh tahun. Ia telah berpengalaman dalam dunia travel agent selama bertahun-tahun di usianya yang ke-35. Lagipula bisnisku di Jakarta prospeknya sangat menjanjikan. Dibukanya berbagai tujuan wisata baru yang booming di Indonesia adalah alasan utamanya. Banyak yang penasaran lalu berkeinginan untuk mengunjunginya. Namun tidak bagiku. Aku tetap memilih luar negeri sebagai pilihan liburanku. Sebenarnya… Itu bukanlah alasan utamaku untuk (terpaksa) tetap tinggal di Indonesia. Ada satu pesan sebelum ajal menjemput mendiang ayah angkatku.

“Ziyaad… kamu harus mengembalikan ini kepada pemiliknya. Jangan biarkan ayahmu ini tidak tenang di akhirat hanya karena hutang yang tidak seberapa,” kata ayah angkatku sambil menyodorkan kotak kaca berisi gulungan selembar uang kertas sepuluh ribuan berpita merah kecil, sebelum akhirnya melanjutkan kembali kata-katanya, “ayahmu ini pernah meminjam uang ini saat mau membawamu kemari dari seorang perempuan yang telah me… .”

Yang kuingat hanya sampai di situ saja ia berkata padaku. Sesaat setelahnya hanya kata-kata samar yang tidak pernah aku pahami. Hanya beberapa kata saja yang masih agak jelas terdengar dan kuingat. Lahir. Nama. Kampung. Hanya tiga kata itu saja. Sepeninggal beliau, aku berusaha menemukan teka-teki dari tiga kata itu. Tidak ada petunjuk jelas yang kudapatkan, selain peta sebuah pulau yang beberapa bagiannya sudah tidak begitu jelas terbaca serta barang-barang lainnya. Aku juga mendapatkan beberapa cerita serta informasi, tetapi aku gagal merangkainya dan akhirnya memilih menyerah. Namun kata-kata Ferdi membangkitkan kembali ingatan tentang tugas yang harus kuselesaikan. Sendiri.

“Fer… rasanya gue harus pulang sekarang,” kataku sambil beranjak dari kursi.

Wait! Terus gimana persiapan ke Athena, Bos?” Ferdi berusaha menahan langkahku yang menjauh.

“Lanjut! Jangan lupa kontak Juan, yes?” kataku singkat sambil bergegas meraih tas kerja dan melangkah menuju pintu keluar kafe tanpa memedulikan ekspresi Ferdi.

Di dalam perjalanan, pikiranku mengembara ke banyak cerita dan informasi. Bukan tentang objek wisata di Yunani ataupun resto-resto yang menawan di sana. Pun pusat hiburan yang akan kukunjungi. Bukan. Bukan tentang semua itu. Ini tentang mengumpulkan berbagai cerita dan informasi yang berkelindan menjelma rimbun pikiran yang tak beraturan.

Setiba di rumah, aku bergegas menuju ruang penyimpanan. Seketika, beberapa barang yang berhubungan upaya pencarian terkumpul menjadi satu. Sebuah kotak kaca berisi gulungan uang kertas, peta, pensil, buku tulis, kapur tulis, dan buku pelajaran. Kedua tanganku sibuk membolak-balik barang-barang tersebut satu per satu. Kosong. Aku sama sekali tidak menemukan petunjuk. Hanya sekeliling terasa berputar yang kudapatkan.

Aku memaksakan diri membuka lebar-lebar peta sebuah pulau. Untuk menjawab rasa penasaran, aku buka aplikasi peta digital di smartphone-ku. Berhasil. Aku mengenalinya sebagai peta pulau Lombok. Dengan teliti aku berusaha mencari nama lokasi yang diberi tanda merah agak buram di peta kertas. Berkali-kali aku berusaha mencocokkan dengan nama yang ada. Dan, seringkali aku salah dalam menerjemahkan lokasi. Belum selesai usaha mengenali lokasi, sekali lagi sekelilingku kembali berputar.

Aku hampir saja mengacak-acak peta kertas ketika telingaku menangkap suara nada dering. Kulempar peta tersebut begitu saja dan meraih smartphone-ku.

“Sori, Bro! Kayaknya gue enggak bisa nemenin lo selama di Athena.”

Aku melangkah keluar ruang penyimpanan menuju ruang tengah. Di sofa empuk berwarna coklat, kuempaskan tubuhku yang sebenarnya penat sambil terus berbincang dengan Juan, sahabatku sejak zaman kuliah yang sekarang tinggal dan kerja di Athena.

“Soalnya sekarang juga gue harus balik ke Jakarta. Ibu sedang kritis di rumah sakit. Gue cuti lama di kantor. Oya, kalau lo masih tetep berencana ke sini, entar ada asisten gue yang siap anterin lo.”

Klik! Telepon ditutup.

Aku tidak lekas bangun dari sofa. Sengaja kubiarkan anganku mengembara. Ke Athena tanpa ditemani Juan? Itu artinya aku akan keliling sendirian. Dan, sementara aku bersenang-senang di Athena, Juan harus sendirian menunggu ibunya di rumah sakit. Sahabat macam apa aku ini?

Ibu? Apakah aku punya ibu? Siapa ibuku?

Demi ibunya, Juan rela melakukan perjalanan pulang dari luar negeri. Begitu berbaktinya ia sebagai anak. Sementara aku? Sekadar mengunjungi makamnya yang jelas-jelas di Indonesia pun aku enggan. Anak macam apa aku?

Deg!

Secepat kilat aku telepon Ferdi untuk membatalkan perjalananku ke Athena. Aku memutuskan untuk melakukan perjalanan terpanjang sepanjang hidupku – pulang. Pulang? Ke mana? Apakah masih ada rumah ternyaman untuk aku pulang yang bernama pelukan ibu? Entahlah.

Keputusanku sudah bulat. Aku harus segera menemukan tempat seharusnya aku pulang. Di depan sebuah laptop, jemariku menarikan kata demi kata. Aku telah menemukan beberapa kata kunci untuk diketik di kolom pencarian berdasarkan barang-barang petunjuk yang ada. Sekolah. Terpencil. Lombok.

Di peramban yang kubuka, muncul berbagai informasi tentang sekolah terpencil di Lombok. Aku menemukan nama sekolah di wilayah Praya. Untuk memastikan, kucocokkan dengan peta. Tidak ada kecocokan sama sekali. Bukan. Berarti bukan wilayah Praya.

Aku memutuskan mengganti kata kunci. Sekolah. Pelosok. Lombok. Sama seperti sebelumnya. Pandanganku tertuju pada urutan pertama hasil pencarian. Muncul debar yang berbeda. Beberapa titik di peta menunjukkan letak yang sama. Apakah di sini rumahku?

“Fer… Tolong atur perjalananku ke Lombok. Segera! Thanks!”

Kututup telepon tanpa memedulikan protes dari Ferdi di seberang. Setelahnya aku telah selesai merapikan barang-barang yang merupakan petunjuk bagiku untuk menjelajah. Selanjutnya aku tinggal menunggu konfirmasi dari Ferdi sambil membebaskan angan-angan. Bayangan-bayangan gelap satu per satu bergantian. Wajah Indonesia tampak berubah-ubah dalam sempitnya pikiranku. Kegelapan. Kesunyian. Kesemrawutan. Ketertingalan. Kejahatan.

“Akhirnya mau tidak mau aku menjelajah Indonesia juga,” batinku sambil tersenyum getir.

Seperti dugaanku. Tidak sampai hitungan jam, Ferdi membuyarkan puzzle potongan wajah Indonesia yang hampir selesai kususun. Ia mengabarkan telah menyelesaikan tugasnya. Aku tinggal berangkat.

Dan, tanpa terasa kakiku pun berpijak juga di Bandara Internasional Lombok, bumi yang mungkin adalah tanah kelahiranku. Aku tidak yakin. Hanya saja keinginan kuat telah membutakan kenyataan bahwa aku sama sekali tidak tahu tentang Lombok. Bagiku, dua jam penerbangan terasa menjadi waktu terlama yang pernah kutempuh. Sebab ini adalah perjalanan dalam negeri pertamaku. Sebelumnya? Sekadar niat saja bahkan tidak ada.

Di jalur keluar bandara, berkali-kali aku menengok ke segala arah sambil memegang kedua tali ransel. Kali ini aku sekadar menunaikan janji lalu kembali menikmati hedonisme lagi.

Kenyataannya? Berawal dari tatapan mata pada sebuah papan bertuliskan namaku yang dipegang seorang pria bertubuh gempal. Dang! Ferdi memang bisa diandalkan. Saat aku tidak tahu siapa yang harus dihubungi selama di Lombok, ia telah memilihkan seorang pemandu wisata untukku.

“Nginep di mana, Bang?” Lelaki berambut gondrong yang diikat rapi itu memecah kesunyian mobil Avanza hitam yang disopirinya.

“Gue enggak tau, Bang. Emang Ferdi bilang apaan sama lo?” tanyaku balik sambil melirik ke arah wajahnya yang brewokan.

Pemandu wisata yang kuketahui bernama Ahmad itu hanya diam. Ia tetap fokus mengendarai mobilnya di sepanjang by pass dari arah bandara. Sebuah bisu yang mau tidak mau mengganggu pikiranku.

“Waduh! Jangan-jangan Ahmad ini enggak kenal sama Ferdi.”

“Astaga! Jangan-jangan Ahmad ini mau nyulik gue.”

“OMG! Jangan-jangan Ahmad ini mau ngrampok gue.”

“God! Tolong selametin gue sekarang juga!”

Aku mendekap tas ransel kuat-kuat untuk menyembunyikan kecamuk dalam hati. Aku hanya tidak ingin perjalanan ini berubah menjadi malapetaka. Beruntung akhirnya Ahmad menghentikan mobilnya di depan sebuah hotel di tengah kota. Aku pun pamit untuk beristirahat.

Keesokan harinya, Ahmad telah membukakan pintu mobil untukku sambil berkata, “Jadi ke mana kita hari ini, Bang? Saya siap mengantarkan.”

Aku menjawab pertanyaan itu dengan senyuman sampai akhirnya aku dan ia duduk berdampingan di bagian depan mobil. Hawa sejuk diiringi dengan lagu-lagu band indie yang setahuku berasal dari Jogja.

“Mau diganti lagunya, Bang?” tanya Ahmad sambil menjulurkan tangan kea rah perangkat audio di bagian dashboard mobil.

Aku menggeleng sambil berkata, “Enggak usah panggil Bang, ah! Panggil aja Zi. Keknya kita seumuran, deh. Bukan begitu… Ahmad?”

Right, Bang! Eh…. Zi. Jadi ke mana tujuan kita? Bang Ferdi enggak pernah ngomong apa-apa sama saya soalnya.” Ahmad berkata sambil menarik kembali tangan dari dashboard dan meletakkannya di kemudi.

“Ahmad anak Lombok asli, kan?” tanyaku sambil membuka ritsleting tas dan mengeluarkan peta pulau Lombok.

“Iya, Zi. Kenapa?” Kulihat mata Ahmad penuh tanda tanya saat melihat peta yang sudah kubuka di pangkuanku.

“Berarti tahu daerah ini, dong?” Kali ini aku memusatkan pertanyaan dengan telunjuk kananku. Sekilas kulirik Ahmad berusaha menemukan lokasi yang kumaksud. Setelahnya ia menganggukkan kepala.

Perjalanan pun berlanjut dengan candaan Ahmad yang hampir mendekati garing. Meskipun demikian, aku cukup terhibur hingga hampir sampai lokasi. Menurutnya, jalan menuju kampung tidak bisa dilalui mobil. Satu-satunya cara adalah dengan naik sepeda motor atau berjalan kaki. Dan, petualangan pun dilanjutkan. Aku memilih berjalan kaki karena memang suka. Langkahku pun akhirnya melewati jalan setapak yang di kiri dan kanannya ditumbuhi pepohonan rimbun dan tinggi. Tidak sampai di situ saja. Petualangan berlanjut ketika aku harus dibantu Ahmad untuk menyeberangi sebuah sungai kecil berbatu. Beberapa kali aku hampir terjatuh.

Hingga akhirnya…

“Itu kampung yang situ cari, Zi,” kata Ahmad sambil menunjuk ke arah pemukiman saat ia berdiri sejajar denganku.

Aku tak menanggapi perkataannya. Aku lebih memilih membiarkan rasaku berkelana. Campur aduk. Andai benar seperti itu adanya, apa yang akan kulakukan? Jika tidak demikian kenyataannya, aku harus bagaimana? Dan, pertanyaan-pertanyaan lainnya berlomba memenuhi ruang pikirku. Penuh. Demikian tiba-tiba kurasakan. Pertanyaan demi pertanyaan terus berputar. Meningkatnya kuantitas dan intensitas pertanyaan beradu dengan keletihan akhirnya membuatku tumbang. Gelap untuk beberapa saat.

“Zi…”

Mendengar panggilan samar itu, aku berusaha membuka kedua kelopak mataku. Berat. Semuanya serba tidak jelas. Tidak kerumunan di sekitarku yang kudengar di sekitar dengan bahasa yang sama sekali tidak kupahami. Tidak juga dengan jalan pikiranku yang sepertinya sudah buntu.

“Zi…”

Suara yang sama kembali terdengar. Bukan suara Ferdi, Ahmad atau siapapun yang kukenal. Ini suara seorang perempuan. Siapa? Entahlah.

“Ibu?” Aku menggumam lirih dalam setengah sadarku.

Di tengah hal-hal yang serba tidak jelas, aku berusaha membuka mata kembali. Gagal. Sekitarku lebih dulu berputar-putar sebelum aku bisa menerjemahkan semuanya sebagai bayangan di retina mata. Aku hanya butuh waktu mengatasi vertigo ini.

Tak seberapa lama kemudian, aku bisa membuka mata. Perputaran sekeliling tak lagi begitu menyiksa.

“I… Ibu siapa?” Aku bertanya sambil mendelikkan mata sekaligus memastikan suara yang kudengar adalah milik seorang perempuan.

“Ibu pemilik rumah ini, Zi. Panggil saja Ibu Zaenab. Barusan ada seorang anak muda yang mengantar kamu ke sini. Dia bilang namamu Zi sebelum pergi karena harus mengantar tamu ke bandara. Oya, bagaimana keadaanmu? Masih pusing?”

Aku mengangguk ke arahnya. Sejenak kemudian aku melihat perempuan yang kutaksir berusia sekitar lima puluh tahun itu mengambil segelas air putih dari atas lemari kayu. Tak jauh dari tempatku berbaring. Ia kemudian membantuku bangun dan meminumkan air tersebut. Dengan bersandar di tembok, aku dan Ibu Zaenab pun terlibat perbincangan hangat. Dari bertuturnya, aku menyadari bahwa keenggananku selama ini untuk berinteraksi dengan masyarakat pelosok adalah sebuah kesalahan besar. Sungguh sebuah ketakutan yang berlebihan. Terlebih setelah dua minggu kondisiku berangsur membaik. Aku telah mengabarkan pada Ferdi tentang keputusanku untuk tetap tinggal bersama keluarga besar Ibu Zaenab. Kehangatan Ibu Zaenab dan seorang cucunya bernama Rini yang masih sekolah di SD terdekat membuatku berani membuka diri. Kuceritakan tujuan kedatanganku.

“Maaf, Bu,” kataku sambil membuka kotak kaca berisi gulungan uang kertas sebelum akhirnya melanjutkan kata-kata, “saya ditugaskan mendiang ayah angkat saya untuk mengembalikan uang ini. Beliau enggak ngasih tahu apa-apa tentang kepada siapa saya harus mengembalikan uang ini. Ayah hanya memberikan beberapa petunjuk.”

“Boleh Ibu melihatnya, Zi?” Ibu Zaenab menatap ke arah kotak kaca dan beberapa barang petunjuk yang telah kusodorkan sesaat sebelumnya.

“Silakan, Bu. Saya sudah enggak tahu lagi harus bagaimana memecahkan petunjuk-petunjuk ini,” kataku sambil sedikit memalingkan wajah dari arah Ibu Zaenab yang menekuni barang-barang tersebut.

“Kamu kenapa masih menyimpan uang lama ini, Zi?”

Aku memalingkan muka ke arah Ibu Zaenab dan melihatnya sedang memegang uang sepuluh ribuan edisi lama bergambar pahlawan wanita. Aku sejenak terdiam untuk mengatur pernapasan.

“Atas permintaan ayah angkat saya, Bu. Katanya uang ini yang akan menuntun saya pulang ke pelukan ibu kandung saya.”

Sudut mataku menangkap Ibu Zaenab yang sedang membolak-balikkan uang kertas tersebut. Sesekali keningnya tampak berkerut. Sepertinya ia sedang berpikir tentang sesuatu.

“Uang ini bergambar R.A. Kartini. Hmm… Bisa jadi nama ibu kandungmu itu Kartini, Zi.”

Goblok!

Kenapa aku tidak pernah berpikiran ke arah sana? Kenapa?!

“Bisa jadi, Bu. Lalu buku tulis, kapur, buku pelajaran SD itu maksudnya apa, Bu?” tanyaku sambil menggeser posisi duduk mendekat Ibu Zaenab.

“Gampang itu, Zi. Ibu yakin ibu kandungmu adalah seorang guru. Dari mana Ibu tahu? Tentu Ibu tahu. Sama halnya dengan ibumu, Ibu juga memakai barang-barang ini untuk mengajar anak-anak di SD filial di atas bukit kampung ini.” Ibu Zaenab meletakkan kembali barang-barang yang dipegangnya di atas dipan tempatku berbaring.

Aku melihat perempuan berkerudung itu menatap ke arah dinding kamar tepat di bagian kananku. Aku mengikuti arah pandangannya. Foto dalam pigura? Bukan. Hiasan dinding? Bukan juga. Lalu apa? Jika aku beri tahu, kamu mungkin tidak akan percaya. Yang ditatap Ibu Zaenab tidaklah menempel di dinding dalam arti yang sesungguhnya. Namun ini adalah perempuan bertubuh mungil yang tiba-tiba bersandar di dinding. Tubuhnya tampak lelah.

“Sudah pulang sekolah, Rin?” tanyaku sambil beranjak bangun dari dipan sebelum akhirnya melanjutkan kata-kata, “tumben cepet banget lo pulang sekolah? Ada rapat?”

Kuncir dua di kepala anak perempuan kelas dua SD tersebut bergoyang-goyang pelan. Sesaat kemudian anak perempuan tanpa baju seragam dan alas kaki itu terdiam. Mengetahui kondisi Rini, aku memaksakan diri untuk bangun. Belum sempat berdiri sempurna, anak perempuan bertahi lalat di dagu itu lebih dulu menghampiriku.

“Kakak Zi istirahat saja dulu. Rini enggak papa, kok. Kita dipulangkan karena atap kelas bocor. Untuk sementara kita disuruh belajar di sini. Kakak Zi mau liat kita belajar?”

Dengan bantuan Ibu Zaenab aku pun berdiri dan melangkah pelan menuju ruang depan. Tampak olehku beberapa anak sedang berkumpul. Sebagian ada yang tertawa-tawa di pojokan. Sebagian lagi tampak menulis di buku masing-masing.

Dengan sikap berdiri yang menurutku masih tegap, Ibu Zaenab mengajak anak-anak berdiri dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Meskipun beberapa terdengar sumbang, aku yakin mereka menyanyikannya dengan sesungguhnya cinta. Mendadak aku merasa kerdil di hadapan mereka. Terlebih saat menyaksikan Rini begitu menghayati setiap lirik yang dinyanyikannya. Bagaimana bisa mereka seperti itu sementara aku tidak? Ke mana perginya patriotisme yang dialirkan ibu dalam darahku? Ah! Mungkin sedikit demi sedikit telah terbawa arus kesombongan. Bisa jadi juga telah tersumbat oleh gelimang harta yang hanya kuanggap sebagai recehan di salah satu bank.

Kekuatan hatiku perlahan mengendur dan membuatku beringsut dari ruang tengah. Suara hati anak negeri perlahan menghilang. Pun barisan rapi anak-anak yang mencintai ibu pertiwi. Gambaran itu telah hilang saat aku tiba di kamar. Kini gambar itu menjelma seorang perempuan di selembar uang sepuluh ribuan. Pahlawan emansipasi bernama R.A. Kartini. Nama yang sama seperti nama ibuku, pendiri SD filial yang saat ini kondisinya semakin mengkhawatirkan. Begitu diceritakan Ibu Zaenab, teman baik ibuku, sebagai jawaban atas teka-teki yang diberikan mendiang ayah angkatku.

Hingga sebulan kemudian, aku bisa memahami cinta, sebagai patriotisme yang berkobar dalam dada. Terima kasih, Ibu. Untuk jiwa sosial yang kaualirkan di dalam darahku. Terima kasih, Rini. Untuk cinta yang kaukenalkan sehingga aku bisa kembali berkenalan dengan Indonesiaku. Terima kasih juga, Ibu Zaenab. Untuk segala cinta dan kepedulian sehingga SD filial peninggalan ibu kandungku bisa dibangun dengan uangku. Keputusanku mengalokasikan uang di bank untuk melakukan perjalanan adalah tepat. Meskipun kali ini, bukan lagi perjalanan ke luar negeri, tetapi perjalanan hati atas nama cinta untuk ibu pertiwi.

Untuk terakhir kali, kutatap wajah dan kubaca nama perempuan di mata uang sepuluh ribuan sebelum akhirnya benar-benar terkubur tepat di makam ibu kandungku.

“Aku mencintaimu,” bisikku.

 

***

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com danNulisbuku.com