DIBUKA KEMBALI! SAYEMBARA FIKSI FEMINA 2016/2017

Posted on Updated on

SYARAT UMUM SAYEMBARA CERPEN & CERBER FEMINA 2016/2017:

  • Peserta adalah Warga Negara Indonesia;
  • Naskah ditulis dalam ejaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar;
  • Naskah harus karya asli, bukan terjemahan;
  • Tema bebas, tetapi sesuai untuk majalah femina;
  • Naskah belum pernah dipublikasikan di media cetak, elektronik, dan online, dan sedang tidak diikutsertakan dalam sayembara lain;
  • Peserta hanya boleh mengirim 2 naskah;
  • Hak untuk menyiarkannya di media online ada pada PT Gaya Favorit Press;
  • Redaksi berhak mengganti judul dan menyunting karya;
  • Naskah yang tidak menang, tetapi memenuhi syarat, akan dimuat di femina;
  • Penulis akan mendapat honor sesuai standar femina;
  • Keputusan juri mengikat, tidak dapat diganggu gugat, dan tidak ada surat-menyurat;
  • Lomba ini tertutup untuk karyawan Femina Group;
  • Naskah dikirim ke Redaksi femina, Jl. H.R. Rasuna Said Kav B Blok 32-33, Kuningan, Jakarta Selatan, 12910

SYARAT KHUSUS CERPEN

  • Diketik dengan komputer di atas kertas HVS A4 dengan jarak dua spasi. Font Arial ukuran 12;
  • Panjang naskah 6-8 halaman, dan dikirim sebanyak dua rangkap disertai 1 (satu) CD berisi naskah;
  • Naskah dilampiri formulir asli dan fotokopi KTP;
  • Pada amplop kiri atas ditulis: Sayembara Mengarang Cerpen Femina 2016;
  • Naskah ditunggu selambat-lambatnya 1 Oktober 2016;
  • Pemenang akan diumumkan di majalah femina yang terbit pada bulan November 2016.

SYARAT KHUSUS CERBER

  • Diketik dengan komputer di atas kertas HVS A4 dengan jarak dua spasi. Font Arial ukuran 12;
  • Panjang naskah antara 40-50 halaman;
  • Dijilid dan dikirim sebanyak dua rangkap disertai 1 (satu) CD berisi naskah;
  • Naskah dilampiri formulir asli dan fotokopi KTP, serta sinopsis cerita;
  • Pada amplop kiri atas ditulis: Sayembara Mengarang Cerber Femina 2016/2017;
  • Naskah ditunggu selambat-lambatnya 30 Desember 2016;
  • Pemenang akan diumumkan di majalah Femina yang terbit pada bulan April 2017.

HADIAH SAYEMBARA CERPEN

Pemenang I : Rp4.000.000
Pemenang II : Rp3.000.000
Pemenang III: Rp2.000.000

HADIAH SAYEMBARA CERBER

Pemenang I : Rp7.000.000, beasiswa kelas menulis skenario dari Plotpoint, dan Profil di majalah Femina
Pemenang II : Rp6.000.000, dan beasiswa kelas menulis skenario dari Plotpoint
Pemenang III: Rp5.000.000, dan beasiswa kelas menulis skenario dari Plotpoint
Sumber: Femina Magazine

FORMULIR SAYEMBARA FIKSI FEMINA

Sumber: http://www.femina.co.id/sayembara/formulir-sayembara-fiksi-femina

[Kumpulan Flash Fiction] – LOL (Legenda Oh Legenda)

Posted on Updated on

Cover LOL
Kumpulan 123 flash fiction 123 kata hasil dekonstruksi legenda oleh peserta #FFKomedi123Kata

Judul Buku: LOL (Legenda Oh Legenda) Jenis: Kumpulan Flash Fiction Penulis: @momo_DM, @Irfanaulia, @__fatwaningrum@_n_kecil, @aa_muizz, @anhardanaputra, @auxentina, @constantane, @didotanindita, @fannywatmadja, @jiahjava, @kakaakin, @mae_roseku, @MeliyaIndri, @MentionSari, @NafriYrrah, @rindrianie, @ry4nn_, @therendra. Harga: Rp. 40.000,-

Tebal: 170 Halaman B/W

Ukuran: 13 x 19 cm

Tahun Terbit: 2014

Diterbitkan melalui: www.nulisbuku.com

Deskripsi Buku:

LOL (Legenda Oh Legenda) merupakan kumpulan flash fiction 123 kata hasil dekonstruksi dari 15 (lima belas) legenda nusantara yang ditulis oleh 19 (sembilan belas) orang kontributor proyek menulis #FFKomedi123Kata. Sebanyak 123 flash fiction dengan genre komedi ditulis dengan gaya khas masing-masing penulis. Unik dan segar! Banyak kreativitas ide tercipta dalam mendekonstruksi legenda nusantara menjadi cerita-cerita tak terduga yang mampu melahirkan tawa. Begitu cara mereka merayakan legenda nusantara dari sudut berbeda. Kamu ingin merayakannya juga? Mari bersama-sama ikut merayakannya lewat tawa! Silakan unduh sampel naskahnya di sini. Pemesanan lewat email : admin@nulisbuku.com Sertakan dalam badan email:

  • Judul Buku: LOL (Legenda Oh Legenda)
  • Penulis: Momo DM dkk
  • Jumlah Buku:
  • Nama Penerima:
  • Alamat Penerima:
  • No. Telepon/HP:
Cover LOL copy
Penampakan cover buku secara utuh yang bernuansa kuno
IMG-20140601-02273
Penampakan bagian dalam buku dilengkapi dengan sketsa kece tiap bab karya Onty @I_am_BOA

Catatan: Royalti penjualan buku akan disumbangkan sepenuhnya untuk kegiatan Lintas Komunitas Lombok ‘Share for Care’ yang konsen dengan pendidikan anak di wilayah terpencil Lombok. Untuk laporan pertanggungjawaban, perolehan royalti penjualan buku ini, akan di-update secara berkala di blog ini sekaligus peruntukannya. Mari bersama-sama berbagi dengan membeli buku ini!   IMG-20140529-02238

Cara Menghitung Total Destruction Clan War 

Posted on Updated on

Langsung saja, ya, Archer Queen dan Barbarian King.

Gambar 1. Hasil Akhir Clan War

Ini adalah contoh kasusnya, clan war antara Bismillah vs Apalah-apalah. Hasil akhirnya draw, 23 – 23. Namun Bismillah kalah dalam Total Destruction. Kok bisa? Padahal semua menggunakan jatah attack-nya. Sementara kubu Apalah-apalah ada 3 jatah attack yang tidak dipakai. 

Begini penjelasannya, Golem

Pertama, perhatikan gambar berikut. Ini adalah penampakan hasil serangan dari tim Bismillah dan Apalah-apalah.
 

Gambar 2. Hasil Attack Tim Bismillah
 

 

Gambar 3. Hasil Attack Tim Apalah-apalah

Dari gambar tersebut, kita bisa melihat serangan terbaik pada masing-masing base musuh. Serangan terbaik ditentukan jumlah bintang terlebih dahulu, baru persentase kerusakannya. Artinya, 2 bintang 50% itu lebih baik dari 1 bintang 90%. Oleh karena itu, yang dihitung dalam total destruction sebagai ‘serangan terbaik’ adalah 50%, bukan 90%. Wah! Rugi 40% dong, ya, kalau hasil akhirnya draw. Ya iyalah, Hog Rider! Karenanya dibutuhkan strategi perolehan bintang dan total kerusakan terbaik. Begitu, Giant

Sekarang fokus lagi ke hasil attack tim Bismillah dan Apalah-apalah, ya, Goblin. Cara menghitung total destruction yang diperoleh adalah sebagai berikut:

  1. Perhatikan gambar 2. Langkah pertama adalah urutkan nama berdasarkan nomor urut tim musuh. Dalam kasus ini tim Apalah-apalah, dan saya sengaja tidak pakai nama karena saya tidak mengerti bahasanya. Kita pakai nomor urut saja. Berdasarkan hasil attack tim Bismillah (kerusakan terbesar yang dialami masing-masing tim Apalah-apalah) , serangan terbaik ke musuh nomor 1 sebesar 46% (attack 1 Njai Orange), ke nomor 2 sebesar 53% (attack 2 Njai Orange), ke nomor 3 sebesar 43% (attack 1 cogase), ke nomor 4 sebesar 52% (attack 1 erm), ke nomor 5 sebesar 91% (attack 2 cogase), ke nomor 6 sebesar 100% (attack 2 JvTino), ke nomor 7 sebesar 100% (attack 2 ksatria cahaya), ke nomor 8 sebesar 100% (attack 1 papahjahat.3gp), ke nomor 9 sebesar 100% (attack 1 rierdi), dan ke nomor 10 sebesar 100% (attack 2 itam). Selanjutnya, jumlahkan persentase kerusakan tersebut kemudian dibagi dengan jumlah peserta clan war. Perhitungan dari contoh di atas adalah (46% + 53% + 43% + 52% + 91% + 100% + 100% + 100% + 100% + 100%) : 10 = 785% : 10 = 78,5%. Jadi total destruction tim Bismillah adalah 78,50%.
  2. Selanjutnya urutkan nama berdasarkan tim sendiri. Dalam contoh ini adalah tim Bismillah. Berdasarkan gambar 3, diperoleh hasil serangan terbaik musuh (kerusakan terbesar yang dialami tim Bismillah) sebagai berikut: Njai Orange sebesar 0% (tidak ada yang menyerang), Reza sebesar 86% (attack 1 musuh nomor 2), cogase sebesar 100% (attack 2 musuh nomor 1), erm sebesar 72% (attack 2 musuh nomor 2), JvTino sebesar 72% (attack 1 musuh nomor 4), ksatria cahaya sebesar 86% (attack 1 musuh nomor 6), itam sebesar 100% (attack 2 musuh nomor 6), papahjahat.3gp sebesar 100% (attack 2 musuh nomor 9), rierdi sebesar 100% (attack 1 musuh nomor 10), johng kiyak sebesar 100% (attack 1 musuh nomor 9). Jika dijumlahkan dan dibagi jumlah peserta war, perhitungannya adalah sebagai berikut: (0% + 86% + 100% + 72% + 72% + 86% + 100% + 100% + 100% + 100%) : 10 = 816% : 10 = 81,60%
  3. Jadi, besarnya total destruction tim Bismillah vs tim Apalah-apalah = 78,50% vs 81,60%. Dengan demikian, tim yang menang adalah tim Apalah-apalah. Sedangkan tim yang kalah adalah…. Tim Bismillah. Kalah lagi? Wis biyasa. Namun kemenangannya selama ini lebih luar biasa, kok! Serius! 😀

Demikian kira-kira. Intinya dibutuhkan strategi serangan yang tepat agar bisa menang saat clan war. Sepakat, Goblin?

Salam CoC,
– ZZ –

(co leader pemilik alasan getok heroes saat enggak ikut clan war)

Jangan pernah bosan mainin CoC, tetapi bosanlah mainin hati cewek terus-terusan

Catatan:

  • Ditulis setelah enggak nemu cara menghitung total destruction yang bener di mbah google;
  • Ditulis setelah gagal menemukan jawaban saat mencoba berbagai macam cara menghitung total destruction;
  • Ditulis dengan harapan ada yang berminat gabung di clan Bismillah dengan syarat trofi minimal 2000 dan aktif war karena di Bismillah everyday is war day #sokwahenggres (ujung-ujungnya promo)


20 Fiksimini Pilihan Kuis @JUNG_Coffee

Posted on

Luar biasa!

Kata yang pantas untuk antusiasme fiksiminiers dalam menerima tantangan menulis fiksimini dengan topik KOPI dari @JUNG_Coffee, sebuah kedai yang asyik untuk pegiat literasi. Selain sebagai tempat untuk bedah buku, diskusi literasi maupun mengobrol ringan tentang dunia kepenulisan,  @JUNG_Coffee juga cocok untuk menemukan inspirasi menulis sambil ngopi asyik. Didukung dengan berbagai fasilitas dan event-event menarik, layak jika @JUNG_Coffee menjadi pilihan. Buktikan!

Bertujuan untuk memperkenalkan keberadaan @JUNG_Coffee sebagai alternatif lokasi berkegiatan bagi pegiat literasi ini, tantangan dibuat dalam bentuk kuis berhadiah voucher buy 1 get 1 dan buku Tarian Bumi karya Oka Rusmini. Dan, dari tantangan tersebut lahirlah karya-karya luar biasa. Apresiasi setinggi-tingginya untuk para peserta. Terima kasih partisipasinya. Keren!

Dari sekian banyak fiksimini yang masuk, tidak semuanya terpilih menjadi pemenang. Hal ini karena hanya disediakan hadiah untuk tiga orang pemenang saja. Namun semua peserta adalah pemenang yang bisa menaklukkan tantangan. Keren!

Setelah melalui diskusi panjang dengan tim, akhirnya terpilihlah 20 fiksimini. Bukan berarti yang lain tidak bagus. Semuanya bagus. Hanya saja tetap harus dipilih yang bagus dari sekian banyak karya bagus. Yang belum terpilih, tetaplah menulis. Semangat!

Dua puluh fiksimini terpilih ini selanjutnya akan dinilai oleh juri yang memutuskan secara mutlak dan tidak dapat diganggu gugat, tiga fiksimini terbaik. Sambil menunggu hasil dari juri, mari simak dulu 20 fiksimini pilihan yang ditulis dengan urutan acak berikut ini.

 

Suasana Asyik Jung Coffee (dok. @JUNG_Coffee)

(1)

SEGELAS KOPI KENANGAN

Setiap selesai diseruput. Gelas kopi itu mengeluarkan air mata.

@tkngES ~

(2)

KANGEN

Terlihat sendok sedang mengaduk kopi. Dan potongan tangan Bi Inem yang menggenggam.

~ @pena_gagu ~

(3)

BEDA PENDAPAT

Ia tak suka aku meminum kopi itu. Alhasil, aku dan jiwaku kini berpisah.

~ @DimASUpel ~

(4)

SEBELUM PEMILU

Aku tak butuh gula lagi, cukup kuminum kopiku di depannya yang sedang berpidato.

~ @DimASUpel ~

(5)

LARUT

Terlalu asyik ngobrol ngalor ngidul. Tahu-tahu, Eros dan Adam sampai di dasar cangkir kopi.

~ @okaholic ~

(6)

KOPI PAHIT

Setelah kunikmati, mataku tak mau diajak tidur. Ia masih asyik bermain dalam gelas.

~ @parta_4 ~

(7)

BARISTA TAMPAN

Biji-biji kopi langsung menghancurkan diri saat menatap wajahnya.

~ @nvqds ~

(8)

JOKER

Meredam lelah di kedai kopi. Mencari inspirasi.

Lelucon pedas di pesta pernikahan mantan istrinya nanti.

~ @JvTino ~

(9)

 TIDAK TEGA

Melihat Ibu bingung kehabisan gula, kopi itu memisahkan pahit dalam cangkirnya sendiri.

~ @Harry_Bawole ~

(10)

JATUH CINTA DI DALAM SEBUAH KEDAI KOPI

Sepasang mata bertatapan hangat. Dalam teko.

~ @ry4nn_ ~

(11)

KOPI UNTUK BAPAK

Setiap hari, dari hangat sampai dingin, sampai basi. Sudah setahun berselang.

“Suatu hari, Bapakmu pasti pulang!”

~ @NafriYrrah ~

(12)

SECANGKIR KOPI PAHIT

Setelah 10 sendok gula, ia pun memasukkan 2 sendok kenangan ke dalamnya.

~ @lizacica ~

(13)

BARISTAKU TERCINTA

“Tidak boleh ada yang menikmati racikanmu seperti semalam!” Pintaku.

~ @_PanduAP ~

(14)

YANG KAU TINGGAL SAAT BERPISAH

Setiap pagi, masih bisa kunikmati sisa remah-remah bibirmu, di cangkir kopi.

~ @_Kinang ~

(15)

KOPI SUSU

Setelah habis, di perutku terdengar suara sapi.

~ @adisyah33 ~

(16)

SALAH PAHAM

Setelah gadis cantik itu menyeruput kopinya, cangkirnya tiba-tiba memerah kemudian leleh.

~ @ag_sega ~

(17)

KOPI PERTAMA DI HARI INI

Ternyata yang terakhir.

~ @Enrouz ~

(18)

KOPI MANIS

Setelah sekian lama dilarang, kali ini istrinya membolehkan suaminya minum kopi dengan madunya.

~ @_bhita_ ~

(19)

GARA-GARA MENYERUPUT KOPI TUBRUK

Setiap kali aku meminumnya, selalu tertabrak masa lalu.

~ @moakbart ~

(20)

KOPDAR

Sehari setelah kiamat, akhirnya kami berhasil bertatap muka.

~ @ksatria_cahaya ~

Selamat untuk 20 fiksimini pilihan.

Tunggu pengumuman 3 fiksimini terbaik.

Segera!

ttd

Host

Masih Ada Cinta untuk Perempuan di Mata Uang Sepuluh Ribuan #KeputusanCerdas

Posted on

“Lo enggak pengin nengokin makam bokap sama nyokap lo, Bos?”

“Ogah! Yang udah mati, biarin sih mati. Ditengokin juga enggak bakal hidup lagi, kan? Lagian gue juga udah lupa kampung halaman gue tuh di mana.”

Ini bukan pertama kalinya Ferdi, sahabat dan asisten pribadi sekaligus wakilku, bicara seperti itu. Dan, pembicaraan selalu saja berujung pada sebuah ceramah panjang tentang keluarga lengkap dengan silsilah dan keturunannya. Sebuah topik yang selama ini tidak pernah ada dalam daftar kamus kehidupanku. Aku tak pernah keberatan saat ia membuka topik tentang itu. Sepuluh tahun kedekatan sejak aku memimpin perusahaan ini telah menghapus jarak antara aku dan dirinya. Beruntung Ferdi bisa profesional saat menjadi asisten pribadi atau sahabat.

Keluarga?

Apa itu keluarga? Sekumpulan orang yang mencariku saat mereka butuh bantuan dana? Iya? Menurutku, keluarga tidak seperti itu. Aku punya deskripsi sendiri tentang apa itu keluarga. Sekumpulan orang yang bisa diajak berbagi tawa saat aku melakukan perjalanan ke luar negeri. Salah jika aku punya deskripsi seperti itu? Tentu tidak. Bebas, kan?

Deskripsi buatanku sendiri itu menjadi pegangan hidup setelah tahu bahwa aku tidak pernah mengenal kedua orang tuaku. Setidaknya seperti itu kebenaran yang diceritakan oleh mendiang ayahku, pemilik travel agent di Jakarta yang saat ini kukelola.

“Lo enggak boleh ngomong gitu, Bos! Gimanapun juga, mereka tetep orang tua kandung lo. Bisa kualat lo entar.” Telunjuk jari Ferdi mendadak tepat berada di depan hidungku.

“Hahaha…”

Sesat setelahnya, di atas sebuah kursi kayu, tubuhku sedikit berguncang. Tawaku menggema di sudut kafe, salah satu unit usahaku juga yang bersebelahan dengan kantor utama. Suasana kafe yang sepi karena sudah jam pulang membuat tawaku terdengar membahana.

“Ferdi… Ferdi… Masih percaya aje lo sama begituan. Mitos itu. Enggak ada istilah kualat di zaman sekarang,” kataku sambil memukul-mukul meja bundar dari kayu jati di hadapanku. Beberapa benda dari kaca terdengar beradu menimbulkan suara denting tak beraturan.

“Bos… Kualat enggak kenal zaman, lho!”

Aku melihat tatapan serius di kedalaman mata Ferdi. Tidak seperti biasanya.

“Udah, Fer. Mending lo siepin aja deh untuk keberangkatan gue ke Athena.”

Aku berusaha mengalihkan topik pembicaraan untuk sedikit menenangkan debar yang mendadak singgah. Aku juga berusaha meredamnya dengan meneguk air putih hangat hingga tandas. Setelahnya, gelas bening berukuran besar itu beradu dengan permukaan meja kayu.

“Bos… Bos… Ke luar negeri muluk mainnya. Sekali-kali jelajah Indonesia napah?” Ferdi bertanya sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi kayu.

Aku tidak segera menanggapi pertanyaannya. Ia juga sudah seringkali melontarkan pertanyaan yang sama setiap aku memintanya untuk menyiapkan perjalananku ke luar negeri. Biasanya aku hanya diam untuk menjawabnya. Namun tidak kali ini.

“Hahaha… Jelajah Indonesia? Apanya yang mau dijelajahi, Fer? Korupsinya? Carut-marut hukumnya? Intoleransinya? Hahaha…,” aku terus tertawa sampai akhirnya memutuskan untuk melanjutkan kata-kata, “Fer… asal lo tau, ya. Dana traveling gue di bank khusus masih cukup buat seneng-seneng di luar negeri. Untuk apa aku menjelajahi Indonesia? Males gila liat sampah berserakan di mana-mana. Males juga liat masyarakat enggak sadar sama sekali sama kondisi wilayahnya. Cukup masa kecil gue doang yang begitu bangga sama Indonesia. Sekarang sih ogah banget gue, Fer.”

Ferdi sepertinya tidak mau menyanggah pernyataanku. Ia tahu betul aku masih memiliki jawaban atas sanggahan yang akan diberikannya. Seperti saat-saat sebelumnya. Namun kali ini aku salah mengira. Ferdi telah menyiapkan jurus yang sama sekali tidak kuduga.

“Lalu kenapa lo enggak pindah kewarganegaraan aja sekalian, Bos? Timbang bolak-balik. Lumayan, kan, ongkos pesawat bisa buat buka usaha travel agent di sono.”

Deg!

Kali ini giliranku terdiam. Aku tidak pernah punya pemikiran seperti itu. Bagiku jalan-jalan ke luar negeri hanya untuk bersenang-senang. Bukan untuk tinggal selamanya atau sekadar melebarkan sayap usaha. Tidak. Sama sekali tidak ada niat ke arah sana. Sebab itu artinya aku harus kembali memulai dari nol. Dan, tanpa mendiang ayah angkatku, aku bisa apa. Aku tidak bisa apa-apa. Aku tahunya hanya bisa bersenang-senang. Bahkan untuk memikirkan strategi marketing pun, aku harus berkonsultasi dengan Ferdi. Bagaimanapun juga, usia Ferdi lebih matang dari aku sepuluh tahun. Ia telah berpengalaman dalam dunia travel agent selama bertahun-tahun di usianya yang ke-35. Lagipula bisnisku di Jakarta prospeknya sangat menjanjikan. Dibukanya berbagai tujuan wisata baru yang booming di Indonesia adalah alasan utamanya. Banyak yang penasaran lalu berkeinginan untuk mengunjunginya. Namun tidak bagiku. Aku tetap memilih luar negeri sebagai pilihan liburanku. Sebenarnya… Itu bukanlah alasan utamaku untuk (terpaksa) tetap tinggal di Indonesia. Ada satu pesan sebelum ajal menjemput mendiang ayah angkatku.

“Ziyaad… kamu harus mengembalikan ini kepada pemiliknya. Jangan biarkan ayahmu ini tidak tenang di akhirat hanya karena hutang yang tidak seberapa,” kata ayah angkatku sambil menyodorkan kotak kaca berisi gulungan selembar uang kertas sepuluh ribuan berpita merah kecil, sebelum akhirnya melanjutkan kembali kata-katanya, “ayahmu ini pernah meminjam uang ini saat mau membawamu kemari dari seorang perempuan yang telah me… .”

Yang kuingat hanya sampai di situ saja ia berkata padaku. Sesaat setelahnya hanya kata-kata samar yang tidak pernah aku pahami. Hanya beberapa kata saja yang masih agak jelas terdengar dan kuingat. Lahir. Nama. Kampung. Hanya tiga kata itu saja. Sepeninggal beliau, aku berusaha menemukan teka-teki dari tiga kata itu. Tidak ada petunjuk jelas yang kudapatkan, selain peta sebuah pulau yang beberapa bagiannya sudah tidak begitu jelas terbaca serta barang-barang lainnya. Aku juga mendapatkan beberapa cerita serta informasi, tetapi aku gagal merangkainya dan akhirnya memilih menyerah. Namun kata-kata Ferdi membangkitkan kembali ingatan tentang tugas yang harus kuselesaikan. Sendiri.

“Fer… rasanya gue harus pulang sekarang,” kataku sambil beranjak dari kursi.

Wait! Terus gimana persiapan ke Athena, Bos?” Ferdi berusaha menahan langkahku yang menjauh.

“Lanjut! Jangan lupa kontak Juan, yes?” kataku singkat sambil bergegas meraih tas kerja dan melangkah menuju pintu keluar kafe tanpa memedulikan ekspresi Ferdi.

Di dalam perjalanan, pikiranku mengembara ke banyak cerita dan informasi. Bukan tentang objek wisata di Yunani ataupun resto-resto yang menawan di sana. Pun pusat hiburan yang akan kukunjungi. Bukan. Bukan tentang semua itu. Ini tentang mengumpulkan berbagai cerita dan informasi yang berkelindan menjelma rimbun pikiran yang tak beraturan.

Setiba di rumah, aku bergegas menuju ruang penyimpanan. Seketika, beberapa barang yang berhubungan upaya pencarian terkumpul menjadi satu. Sebuah kotak kaca berisi gulungan uang kertas, peta, pensil, buku tulis, kapur tulis, dan buku pelajaran. Kedua tanganku sibuk membolak-balik barang-barang tersebut satu per satu. Kosong. Aku sama sekali tidak menemukan petunjuk. Hanya sekeliling terasa berputar yang kudapatkan.

Aku memaksakan diri membuka lebar-lebar peta sebuah pulau. Untuk menjawab rasa penasaran, aku buka aplikasi peta digital di smartphone-ku. Berhasil. Aku mengenalinya sebagai peta pulau Lombok. Dengan teliti aku berusaha mencari nama lokasi yang diberi tanda merah agak buram di peta kertas. Berkali-kali aku berusaha mencocokkan dengan nama yang ada. Dan, seringkali aku salah dalam menerjemahkan lokasi. Belum selesai usaha mengenali lokasi, sekali lagi sekelilingku kembali berputar.

Aku hampir saja mengacak-acak peta kertas ketika telingaku menangkap suara nada dering. Kulempar peta tersebut begitu saja dan meraih smartphone-ku.

“Sori, Bro! Kayaknya gue enggak bisa nemenin lo selama di Athena.”

Aku melangkah keluar ruang penyimpanan menuju ruang tengah. Di sofa empuk berwarna coklat, kuempaskan tubuhku yang sebenarnya penat sambil terus berbincang dengan Juan, sahabatku sejak zaman kuliah yang sekarang tinggal dan kerja di Athena.

“Soalnya sekarang juga gue harus balik ke Jakarta. Ibu sedang kritis di rumah sakit. Gue cuti lama di kantor. Oya, kalau lo masih tetep berencana ke sini, entar ada asisten gue yang siap anterin lo.”

Klik! Telepon ditutup.

Aku tidak lekas bangun dari sofa. Sengaja kubiarkan anganku mengembara. Ke Athena tanpa ditemani Juan? Itu artinya aku akan keliling sendirian. Dan, sementara aku bersenang-senang di Athena, Juan harus sendirian menunggu ibunya di rumah sakit. Sahabat macam apa aku ini?

Ibu? Apakah aku punya ibu? Siapa ibuku?

Demi ibunya, Juan rela melakukan perjalanan pulang dari luar negeri. Begitu berbaktinya ia sebagai anak. Sementara aku? Sekadar mengunjungi makamnya yang jelas-jelas di Indonesia pun aku enggan. Anak macam apa aku?

Deg!

Secepat kilat aku telepon Ferdi untuk membatalkan perjalananku ke Athena. Aku memutuskan untuk melakukan perjalanan terpanjang sepanjang hidupku – pulang. Pulang? Ke mana? Apakah masih ada rumah ternyaman untuk aku pulang yang bernama pelukan ibu? Entahlah.

Keputusanku sudah bulat. Aku harus segera menemukan tempat seharusnya aku pulang. Di depan sebuah laptop, jemariku menarikan kata demi kata. Aku telah menemukan beberapa kata kunci untuk diketik di kolom pencarian berdasarkan barang-barang petunjuk yang ada. Sekolah. Terpencil. Lombok.

Di peramban yang kubuka, muncul berbagai informasi tentang sekolah terpencil di Lombok. Aku menemukan nama sekolah di wilayah Praya. Untuk memastikan, kucocokkan dengan peta. Tidak ada kecocokan sama sekali. Bukan. Berarti bukan wilayah Praya.

Aku memutuskan mengganti kata kunci. Sekolah. Pelosok. Lombok. Sama seperti sebelumnya. Pandanganku tertuju pada urutan pertama hasil pencarian. Muncul debar yang berbeda. Beberapa titik di peta menunjukkan letak yang sama. Apakah di sini rumahku?

“Fer… Tolong atur perjalananku ke Lombok. Segera! Thanks!”

Kututup telepon tanpa memedulikan protes dari Ferdi di seberang. Setelahnya aku telah selesai merapikan barang-barang yang merupakan petunjuk bagiku untuk menjelajah. Selanjutnya aku tinggal menunggu konfirmasi dari Ferdi sambil membebaskan angan-angan. Bayangan-bayangan gelap satu per satu bergantian. Wajah Indonesia tampak berubah-ubah dalam sempitnya pikiranku. Kegelapan. Kesunyian. Kesemrawutan. Ketertingalan. Kejahatan.

“Akhirnya mau tidak mau aku menjelajah Indonesia juga,” batinku sambil tersenyum getir.

Seperti dugaanku. Tidak sampai hitungan jam, Ferdi membuyarkan puzzle potongan wajah Indonesia yang hampir selesai kususun. Ia mengabarkan telah menyelesaikan tugasnya. Aku tinggal berangkat.

Dan, tanpa terasa kakiku pun berpijak juga di Bandara Internasional Lombok, bumi yang mungkin adalah tanah kelahiranku. Aku tidak yakin. Hanya saja keinginan kuat telah membutakan kenyataan bahwa aku sama sekali tidak tahu tentang Lombok. Bagiku, dua jam penerbangan terasa menjadi waktu terlama yang pernah kutempuh. Sebab ini adalah perjalanan dalam negeri pertamaku. Sebelumnya? Sekadar niat saja bahkan tidak ada.

Di jalur keluar bandara, berkali-kali aku menengok ke segala arah sambil memegang kedua tali ransel. Kali ini aku sekadar menunaikan janji lalu kembali menikmati hedonisme lagi.

Kenyataannya? Berawal dari tatapan mata pada sebuah papan bertuliskan namaku yang dipegang seorang pria bertubuh gempal. Dang! Ferdi memang bisa diandalkan. Saat aku tidak tahu siapa yang harus dihubungi selama di Lombok, ia telah memilihkan seorang pemandu wisata untukku.

“Nginep di mana, Bang?” Lelaki berambut gondrong yang diikat rapi itu memecah kesunyian mobil Avanza hitam yang disopirinya.

“Gue enggak tau, Bang. Emang Ferdi bilang apaan sama lo?” tanyaku balik sambil melirik ke arah wajahnya yang brewokan.

Pemandu wisata yang kuketahui bernama Ahmad itu hanya diam. Ia tetap fokus mengendarai mobilnya di sepanjang by pass dari arah bandara. Sebuah bisu yang mau tidak mau mengganggu pikiranku.

“Waduh! Jangan-jangan Ahmad ini enggak kenal sama Ferdi.”

“Astaga! Jangan-jangan Ahmad ini mau nyulik gue.”

“OMG! Jangan-jangan Ahmad ini mau ngrampok gue.”

“God! Tolong selametin gue sekarang juga!”

Aku mendekap tas ransel kuat-kuat untuk menyembunyikan kecamuk dalam hati. Aku hanya tidak ingin perjalanan ini berubah menjadi malapetaka. Beruntung akhirnya Ahmad menghentikan mobilnya di depan sebuah hotel di tengah kota. Aku pun pamit untuk beristirahat.

Keesokan harinya, Ahmad telah membukakan pintu mobil untukku sambil berkata, “Jadi ke mana kita hari ini, Bang? Saya siap mengantarkan.”

Aku menjawab pertanyaan itu dengan senyuman sampai akhirnya aku dan ia duduk berdampingan di bagian depan mobil. Hawa sejuk diiringi dengan lagu-lagu band indie yang setahuku berasal dari Jogja.

“Mau diganti lagunya, Bang?” tanya Ahmad sambil menjulurkan tangan kea rah perangkat audio di bagian dashboard mobil.

Aku menggeleng sambil berkata, “Enggak usah panggil Bang, ah! Panggil aja Zi. Keknya kita seumuran, deh. Bukan begitu… Ahmad?”

Right, Bang! Eh…. Zi. Jadi ke mana tujuan kita? Bang Ferdi enggak pernah ngomong apa-apa sama saya soalnya.” Ahmad berkata sambil menarik kembali tangan dari dashboard dan meletakkannya di kemudi.

“Ahmad anak Lombok asli, kan?” tanyaku sambil membuka ritsleting tas dan mengeluarkan peta pulau Lombok.

“Iya, Zi. Kenapa?” Kulihat mata Ahmad penuh tanda tanya saat melihat peta yang sudah kubuka di pangkuanku.

“Berarti tahu daerah ini, dong?” Kali ini aku memusatkan pertanyaan dengan telunjuk kananku. Sekilas kulirik Ahmad berusaha menemukan lokasi yang kumaksud. Setelahnya ia menganggukkan kepala.

Perjalanan pun berlanjut dengan candaan Ahmad yang hampir mendekati garing. Meskipun demikian, aku cukup terhibur hingga hampir sampai lokasi. Menurutnya, jalan menuju kampung tidak bisa dilalui mobil. Satu-satunya cara adalah dengan naik sepeda motor atau berjalan kaki. Dan, petualangan pun dilanjutkan. Aku memilih berjalan kaki karena memang suka. Langkahku pun akhirnya melewati jalan setapak yang di kiri dan kanannya ditumbuhi pepohonan rimbun dan tinggi. Tidak sampai di situ saja. Petualangan berlanjut ketika aku harus dibantu Ahmad untuk menyeberangi sebuah sungai kecil berbatu. Beberapa kali aku hampir terjatuh.

Hingga akhirnya…

“Itu kampung yang situ cari, Zi,” kata Ahmad sambil menunjuk ke arah pemukiman saat ia berdiri sejajar denganku.

Aku tak menanggapi perkataannya. Aku lebih memilih membiarkan rasaku berkelana. Campur aduk. Andai benar seperti itu adanya, apa yang akan kulakukan? Jika tidak demikian kenyataannya, aku harus bagaimana? Dan, pertanyaan-pertanyaan lainnya berlomba memenuhi ruang pikirku. Penuh. Demikian tiba-tiba kurasakan. Pertanyaan demi pertanyaan terus berputar. Meningkatnya kuantitas dan intensitas pertanyaan beradu dengan keletihan akhirnya membuatku tumbang. Gelap untuk beberapa saat.

“Zi…”

Mendengar panggilan samar itu, aku berusaha membuka kedua kelopak mataku. Berat. Semuanya serba tidak jelas. Tidak kerumunan di sekitarku yang kudengar di sekitar dengan bahasa yang sama sekali tidak kupahami. Tidak juga dengan jalan pikiranku yang sepertinya sudah buntu.

“Zi…”

Suara yang sama kembali terdengar. Bukan suara Ferdi, Ahmad atau siapapun yang kukenal. Ini suara seorang perempuan. Siapa? Entahlah.

“Ibu?” Aku menggumam lirih dalam setengah sadarku.

Di tengah hal-hal yang serba tidak jelas, aku berusaha membuka mata kembali. Gagal. Sekitarku lebih dulu berputar-putar sebelum aku bisa menerjemahkan semuanya sebagai bayangan di retina mata. Aku hanya butuh waktu mengatasi vertigo ini.

Tak seberapa lama kemudian, aku bisa membuka mata. Perputaran sekeliling tak lagi begitu menyiksa.

“I… Ibu siapa?” Aku bertanya sambil mendelikkan mata sekaligus memastikan suara yang kudengar adalah milik seorang perempuan.

“Ibu pemilik rumah ini, Zi. Panggil saja Ibu Zaenab. Barusan ada seorang anak muda yang mengantar kamu ke sini. Dia bilang namamu Zi sebelum pergi karena harus mengantar tamu ke bandara. Oya, bagaimana keadaanmu? Masih pusing?”

Aku mengangguk ke arahnya. Sejenak kemudian aku melihat perempuan yang kutaksir berusia sekitar lima puluh tahun itu mengambil segelas air putih dari atas lemari kayu. Tak jauh dari tempatku berbaring. Ia kemudian membantuku bangun dan meminumkan air tersebut. Dengan bersandar di tembok, aku dan Ibu Zaenab pun terlibat perbincangan hangat. Dari bertuturnya, aku menyadari bahwa keenggananku selama ini untuk berinteraksi dengan masyarakat pelosok adalah sebuah kesalahan besar. Sungguh sebuah ketakutan yang berlebihan. Terlebih setelah dua minggu kondisiku berangsur membaik. Aku telah mengabarkan pada Ferdi tentang keputusanku untuk tetap tinggal bersama keluarga besar Ibu Zaenab. Kehangatan Ibu Zaenab dan seorang cucunya bernama Rini yang masih sekolah di SD terdekat membuatku berani membuka diri. Kuceritakan tujuan kedatanganku.

“Maaf, Bu,” kataku sambil membuka kotak kaca berisi gulungan uang kertas sebelum akhirnya melanjutkan kata-kata, “saya ditugaskan mendiang ayah angkat saya untuk mengembalikan uang ini. Beliau enggak ngasih tahu apa-apa tentang kepada siapa saya harus mengembalikan uang ini. Ayah hanya memberikan beberapa petunjuk.”

“Boleh Ibu melihatnya, Zi?” Ibu Zaenab menatap ke arah kotak kaca dan beberapa barang petunjuk yang telah kusodorkan sesaat sebelumnya.

“Silakan, Bu. Saya sudah enggak tahu lagi harus bagaimana memecahkan petunjuk-petunjuk ini,” kataku sambil sedikit memalingkan wajah dari arah Ibu Zaenab yang menekuni barang-barang tersebut.

“Kamu kenapa masih menyimpan uang lama ini, Zi?”

Aku memalingkan muka ke arah Ibu Zaenab dan melihatnya sedang memegang uang sepuluh ribuan edisi lama bergambar pahlawan wanita. Aku sejenak terdiam untuk mengatur pernapasan.

“Atas permintaan ayah angkat saya, Bu. Katanya uang ini yang akan menuntun saya pulang ke pelukan ibu kandung saya.”

Sudut mataku menangkap Ibu Zaenab yang sedang membolak-balikkan uang kertas tersebut. Sesekali keningnya tampak berkerut. Sepertinya ia sedang berpikir tentang sesuatu.

“Uang ini bergambar R.A. Kartini. Hmm… Bisa jadi nama ibu kandungmu itu Kartini, Zi.”

Goblok!

Kenapa aku tidak pernah berpikiran ke arah sana? Kenapa?!

“Bisa jadi, Bu. Lalu buku tulis, kapur, buku pelajaran SD itu maksudnya apa, Bu?” tanyaku sambil menggeser posisi duduk mendekat Ibu Zaenab.

“Gampang itu, Zi. Ibu yakin ibu kandungmu adalah seorang guru. Dari mana Ibu tahu? Tentu Ibu tahu. Sama halnya dengan ibumu, Ibu juga memakai barang-barang ini untuk mengajar anak-anak di SD filial di atas bukit kampung ini.” Ibu Zaenab meletakkan kembali barang-barang yang dipegangnya di atas dipan tempatku berbaring.

Aku melihat perempuan berkerudung itu menatap ke arah dinding kamar tepat di bagian kananku. Aku mengikuti arah pandangannya. Foto dalam pigura? Bukan. Hiasan dinding? Bukan juga. Lalu apa? Jika aku beri tahu, kamu mungkin tidak akan percaya. Yang ditatap Ibu Zaenab tidaklah menempel di dinding dalam arti yang sesungguhnya. Namun ini adalah perempuan bertubuh mungil yang tiba-tiba bersandar di dinding. Tubuhnya tampak lelah.

“Sudah pulang sekolah, Rin?” tanyaku sambil beranjak bangun dari dipan sebelum akhirnya melanjutkan kata-kata, “tumben cepet banget lo pulang sekolah? Ada rapat?”

Kuncir dua di kepala anak perempuan kelas dua SD tersebut bergoyang-goyang pelan. Sesaat kemudian anak perempuan tanpa baju seragam dan alas kaki itu terdiam. Mengetahui kondisi Rini, aku memaksakan diri untuk bangun. Belum sempat berdiri sempurna, anak perempuan bertahi lalat di dagu itu lebih dulu menghampiriku.

“Kakak Zi istirahat saja dulu. Rini enggak papa, kok. Kita dipulangkan karena atap kelas bocor. Untuk sementara kita disuruh belajar di sini. Kakak Zi mau liat kita belajar?”

Dengan bantuan Ibu Zaenab aku pun berdiri dan melangkah pelan menuju ruang depan. Tampak olehku beberapa anak sedang berkumpul. Sebagian ada yang tertawa-tawa di pojokan. Sebagian lagi tampak menulis di buku masing-masing.

Dengan sikap berdiri yang menurutku masih tegap, Ibu Zaenab mengajak anak-anak berdiri dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Meskipun beberapa terdengar sumbang, aku yakin mereka menyanyikannya dengan sesungguhnya cinta. Mendadak aku merasa kerdil di hadapan mereka. Terlebih saat menyaksikan Rini begitu menghayati setiap lirik yang dinyanyikannya. Bagaimana bisa mereka seperti itu sementara aku tidak? Ke mana perginya patriotisme yang dialirkan ibu dalam darahku? Ah! Mungkin sedikit demi sedikit telah terbawa arus kesombongan. Bisa jadi juga telah tersumbat oleh gelimang harta yang hanya kuanggap sebagai recehan di salah satu bank.

Kekuatan hatiku perlahan mengendur dan membuatku beringsut dari ruang tengah. Suara hati anak negeri perlahan menghilang. Pun barisan rapi anak-anak yang mencintai ibu pertiwi. Gambaran itu telah hilang saat aku tiba di kamar. Kini gambar itu menjelma seorang perempuan di selembar uang sepuluh ribuan. Pahlawan emansipasi bernama R.A. Kartini. Nama yang sama seperti nama ibuku, pendiri SD filial yang saat ini kondisinya semakin mengkhawatirkan. Begitu diceritakan Ibu Zaenab, teman baik ibuku, sebagai jawaban atas teka-teki yang diberikan mendiang ayah angkatku.

Hingga sebulan kemudian, aku bisa memahami cinta, sebagai patriotisme yang berkobar dalam dada. Terima kasih, Ibu. Untuk jiwa sosial yang kaualirkan di dalam darahku. Terima kasih, Rini. Untuk cinta yang kaukenalkan sehingga aku bisa kembali berkenalan dengan Indonesiaku. Terima kasih juga, Ibu Zaenab. Untuk segala cinta dan kepedulian sehingga SD filial peninggalan ibu kandungku bisa dibangun dengan uangku. Keputusanku mengalokasikan uang di bank untuk melakukan perjalanan adalah tepat. Meskipun kali ini, bukan lagi perjalanan ke luar negeri, tetapi perjalanan hati atas nama cinta untuk ibu pertiwi.

Untuk terakhir kali, kutatap wajah dan kubaca nama perempuan di mata uang sepuluh ribuan sebelum akhirnya benar-benar terkubur tepat di makam ibu kandungku.

“Aku mencintaimu,” bisikku.

 

***

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com danNulisbuku.com

Berbincang dengan Petang

Posted on

“Hai, Petang!”

“Hai juga! Ah! Rasanya lama sekali kau tak membuka suara. Ke mana saja?”

“Tidak ada, Petang. Aku tak ke mana-mana. Hanya berputar-putar saja dengan bahagia sebagai pusatnya.”

“Yakin?”

“Tentu saja. Kenapa harus meragukannya?”

“Aku tak meragukanmu. Hanya penasaran saja. Tentang apa yang membuatmu bahagia. Tentang apa yang membuatmu enggan beranjak dari sekitarnya.”

“Adalah aku. Dirimu yang tak pernah mengeluh saat seharusnya cakrawala menyentuh.”

“Jelaskan padaku, wahai pemilik bahagia. Mau?”

“Begini, Petang. Sebelumnya izinkan aku bertanya. Kenapa kau tak pernah menolak untuk diganti gulita?”

“Karena memang seperti itu seharusnya. Lalu apa hubungannya dengan bahagiamu?”

“Aku pun demikian adanya, Petang. Aku tak pernah mengeluh untuk hari-hari yang berat. Sebab ada malam yang meringankan beban seharian”

“Lalu… Siapakah malammu? Bolehkah kutahu?”

“Malamku adalah kekasihku. Pemilik hati, pemeluk pilu.”

#SafetyFirst – (Bukan) Raja Jalanan

Posted on

“Sebab keselamatan diri saat berkendara adalah tanggung jawab masing-masing kita”

 

Cekrek!

Di keremangan lampu rumah bagian belakang, tangan mungil tampak memutar gagang pintu. Hampir tak terdengar suara saat pintu terbuka. Setelahnya terdengar kaki sedikit berjingkat. Ia pun bergegas masuk ke kamar.

Tanpa sepengetahuannya, sepasang mata tajam mengawasi dari depan sebuah kamar tak jauh dari kamarnya. Dibantu penerangan di ruang kerjanya yang terbuka, ia bisa memastikan bahwa ia adalah anak tunggalnya, Jidin Putra.

Tok! Tok! Tok!

Di dalam kamar Putra tak mengindahkan suara tersebut. Ia telah lebih dulu membenamkan wajahnya di bantal. Raut wajahnya tak seperti saat ia pamit pada ayahnya sore sebelumnya. Matanya terlihat sayu. Bibirnya sesekali digigitnya. Bahkan air matanya pun seakan hendak berlomba lebih dulu menyentuh permukaan bantal.

“Put… Kamu sudah tidur?”

Putra tak menyahut suara berat milik ayahnya. Ia bergeming. Hingga akhirnya, ia pun beringsut dan perlahan bangun. Dengan sedikit menyeret kakinya, ia membuka pintu kamar pada panggilan yang kesekian kalinya. Di depannya terlihat sesosok lelaki paruh baya berdiri tegak. Perlahan menghilang saat sesosok itu berganti dengan bidang persegi empat berwarna putih, keramik lantai rumahnya.

“Kamu baru pulang?”

Putra hanya mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangan dari bidang persegi yang ditatapnya lekat-lekat. Ia tahu, ayahnya akan marah besar. Melanggar janji adalah kesalahan yang paling sulit dimaafkan oleh ayahnya. Ia tahu betul hal itu. Ini bukanlah pertama kalinya. Namun kali ini ia rasakan ada yang berbeda. Ia pun mengumpulkan keberanian dan mengalihkan pandangan kembali fokus pada wajah laki-laki yang telah membesarkannya sendirian selama lima belas tahun ini.

Di ruang tengah yang benderang, ia bisa melihat jelas kelelahan di mata ayahnya. Hingga akhirnya ia berhasil juga memecah keheningan.

“Pa… Pa.. Papah belum tidur?”

“Papah masih nunggu kamu, Put.”

“Kok?” Putra bertanya sambil sedikit membelalakkan mata.

Pernyataan dari ayahnya, satu-satunya orang tua yang dimilikinya, melahirkan banyak pertanyaan di kepalanya. Ini memang pertama kalinya. Biasanya, ayahnya lebih memilih menghabiskan waktu dengan membaca buku di kamarnya. Atau sesekali juga ia lebih memilih menekuni pekerjaannya. Ia bisa melihat dari lampu ruang kerjanya yang tetap menyala meski jam berapa pun ia pulang.

“Ayo!” kata lelaki berkacamata itu sambil menarik tangannya.

Ajakan ayahnya membuat ia tersadar dari lamunan singkatnya. Ia tak menolak saat ayahnya menariknya ke arah ruang kerja. Ia tahu betul, ada sesuatu yang ingin ditunjukkan oleh ayahnya. Namun ia belum tahu apa itu.

Sesaat kemudian, ia merasakan tarikan tangan ayahnya kian longgar dan akhirnya terlepas. Beban ia rasakan bertumpu di pundak bagian kanan. Ia tahu itu adalah tangan kanan ayahnya. Ia pun melangkah bersamaan dengan langkah kaki ayahnya.

“Kamu kenapa pulang telat lagi?” tanya ayahnya sambil melangkah.

“Maaf, Pah. Putra enggak ngabarin dulu tadi. Sebenernya Putra baru saja pulang dari rumah sakit.”

Ia mengikuti ayahnya yang mendadak menghentikan langkahnya yang sedikit tertatih. Bukan karena faktor usia.

“Siapa yang sakit, Put?”

“Ngg… anu, Pah. Aris, Pah.”

“Aris?” Tanya ayah Putra sambil melepaskan pelukannya sebelum kemudian melanjutkan kata-katanya, “Aris temen kamu yang suka kebut-kebutan itu?”

Sesaat setelah tangan ayahnya terlepas dari pundaknya, ia menganggukkan kepala. Tak lama kemudian ia pun menyandarkan tubuhnya di dinding depan pintu ruang kerja. Pandangannya kosong menatap langit-langit ruang keluarga. Sementara ayahnya sudah terlihat duduk di kursi kerjanya.

“Kemarilah, Put!”

Putra menuruti permintaan ayahnya untuk masuk. Ia tidak duduk di sofa depan meja kerja. Namun ia memilih duduk di kursi tanpa sandaran di samping ayahnya. Ia tahu kursi tersebut biasa digunakan ayahnya untuk meluruskan kedua kakinya yang sebenarnya salah satunya tidak akan pernah bisa lurus.

Atas permintaan ayahnya juga, ia menceritakan kronologi kecelakaan yang menimpa temannya. Sesekali ia melihat ayahnya menganggukkan kepala. Sesekali pula, ia melihat ayahnya berusaha membuka gulungan di atas meja kerja dengan satu tangannya.

Keheningan tercipta ketika Putra menyelesaikan ceritanya dan ayahnya selesai menggelar gulungan kertas di meja kerjanya.

“Gambar apa ini, Pah?” tanya Putra sambil menggerakkan jemarinya di atas sketsa dengan menggunakan pensil yang terhampar di depannya. Menjawab penasaran di hatinya, ia pun kembali bertanya, “Ini siapa, Pah? Tahi lalatnya mirip sama Papah.”

Putra melihat ayahnya berdiri dengan susah payah. Telunjuk kanannya menunjuk tepat di atas sketsa sebuah wajah.

“Ini Papah waktu masih remaja. Ya kira-kira seusia kamulah.”

“Wuih! Papah keren. Masih remaja tapi tunggangannya motor gede gitu.”

“Keliatannya emang keren, Put. Kenyataannya itu hanya perasaan Papah doang.”

“Maksudnya, Pah?”

Putra mengikuti jari ayahnya yang bergerak ke sana kemari di atas kertas menunjuk pada urutan sketsa. Ia dengan sungguh-sungguh memperhatikan setiap penjelasan yang menyertainya. Tak ada satu pun yang terlewat. Hingga sedikit demi sedikit ia bisa melupakan tentang temannya yang terbaring di rumah sakit.

Pada sketsa terakhir di bagian pertama, ia mendengar ayahnya menarik napas panjang. Jari-jarinya berhenti tepat di ujung sketsa berupa jalan besar. Di sana, sketsa diri ayahnya sedang naik sepeda motor besar. Ia dikelilingi beberapa tokoh lainnya. Wajah ayahnya tergambar sangat puas. Hal ini diperjelas dengan gambar mahkota di kepalanya. Bahkan pada caption di bawah sketsa tertulis, Mahesa Raja Jalanan. Di titik tersebut, ayahnya menghentikan ceritanya untuk sesaat. Ia sama sekali tak menyangka jika masa remaja ayahnya jauh melebihi dirinya saat ini.

“Awalnya Papah bahagia.”

Putra mendengar nada datar dalam penutup cerita bagian pertama yang digambarnya. Ia tak berani menyahut lebih jauh perkataan ayahnya. Terlebih saat ia memperhatikan dengan jelas perubahan raut wajah ayahnya. Perubahan yang semakin terlihat jelas ketika ayahnya melanjutkan cerita.

“Sebutan itu Papah peroleh ketika Papah berhasil merajai berbagai balapan. Ilegal memang. Tapi gejolak remaja Papah waktu itu tidak peduli dengan semuanya. Yang Papah tahu waktu hanya menang… menang… dan menang. Lalu puaskah Papah dengan semua itu? Tentu, Put. Papah puas dengan semua pencapaian. Papah bangga dengan semua pengakuan. Bahkan Papah sampai lupa kalau waktu itu harus mengikuti ujian kelulusan.”

Sampai di situ, Putra melihat ayahnya kembali menarik napas panjang. Ia berusaha menahan kantuknya untuk menunggu kelanjutan cerita ayahnya. Benar saja. Tak butuh waktu lama baginya untuk menunggu. Hanya beberapa detik setelahnya, ayahnya kembali melanjutkan cerita.

“Sekarang coba lihat bagian dua ini, Put. Bagian ini adalah fase terendah dalam hidup Papah.”

Putra kembali mengikuti gerakan jari ayahnya di atas sketsa. Dengan saksama ia memperhatikan gabungan dari garis-garis yang membentuk sebuah cerita tersebut. Ia menghentikan pengembaraan penglihatannya pada sketsa sesosok mayat. Ia mengumpulkan keberanian di ujung jari telunjuk kanannya.

“Ini siapa, Pah?” Putra bertanya sambil menoleh ke arah wajah ayahnya yang sedang menarik napas.

“Dia adalah Rasjid. Sahabat Papah sejak masih SD. Kami berdua sangat dekat. Mungkin sedekat kamu sama Aris saat ini.”

Pikiran Putra berusaha mencerna penyebab kematian teman ayahnya dari rangkaian sketsa. Ia terbelalak ketika melihat kenyataan yang ada. Sosok Rasjid digambarkan sedang naik sepeda motor. Di belakangnya tampak gedung bertuliskan nama sebuah SMA di kotanya. Ia memahami itu sebagai Rasjid yang sedang pulang sekolah. Lebih terkejut lagi, ketika ia melihat Rasjid digambarkan terguling di jalan menuju rumah dalam keadaan tanpa memakai pengaman kepala. Dari sketsa ayahnya itu, ia juga tahu penyebab meninggalnya. Hanya karena masalah sederhana. Rasjid tampak jatuh di sebuah tikungan tajam. Kepalanya tepat membentur pembatas trotoar jalan. Seketika ia bergidik.

“Pah… “ Putra menyentuh pundak ayahnya yang menunduk dengan menumpukan tangan kanannya di meja kerja.

Keduanya bersitatap sesaat setelah akhirnya ayahnya melanjutkan cerita.

“Itu belum seberapa, Put. Kejadian selanjutnya bisa kamu lihat apa yang terjadi. Setelah temen Papah, selanjutnya adalah giliran Papah. Di tempat yang sama. Penyebabnya pun sama. Papah terlalu sembrono saat menikung. Beruntung nyawa Papah masih bisa diselamatkan. Tapi ya… akhirnya kondisi Papah kayak yang kamu lihat saat ini.”

Cerita ayahnya terhenti saat ia menunjukkan tangan kirinya. Ia tahu bagaimana kondisi tangan kiri ayahnya. Secara fisik terlihat lengkap dan sempurna. Namun secara fungsi, terbatas sekali. Tangan kiri ayahnya tidak bisa dipakai untuk melakukan kegiatan-kegiatan berat. Bahkan hanya untuk sekadar memasukkan ke dalam lengan baju saja, ayahnya selalu kesulitan.

“Bukan itu saja, Put. Kamu lihat kaki Papah?”

Suara ayahnya menghentikan pengembaraan ingatan tentang kesulitan-kesulitan yang pernah dialami ayahnya karena keterbatasannya. Ia juga telah tahu tentang kondisi kaki ayahnya. Secara kasat mata, ia bisa melihat dari cara berjalan ayahnya yang tertatih.

“Iya, Pah. Putra tahu banget. Jadi sejak remaja Papah kayak gini?”

“Begitulah, Put. Dalam segala keterbatasan, Papah akhirnya memutuskan meninggalkan jalanan dan menanggalkan atribut raja jalanan. Kejadian itu menyadarkan Papah bahwa keselamatan diri di jalan adalah tanggung jawab masing-masing kita. Papah akhirnya juga menyadari bahwa kebanggaan memiliki gelar hanyalah semu dan sementara. Pada akhirnya kita tetaplah manusia biasa dengan segala keterbatasannya. Waktu itu Papah benar-benar terpuruk. Bahkan pernah suatu waktu sama sekali enggak ingin hidup. Namun kakek dan nenek kamu enggak pernah menyerah untuk membangkitkan Papah. Dan, berkat mereka Papah bisa kembali bangkit untuk mengikuti dan meneruskan jejak bisnis toko buah mereka. Hingga saat ini.”

Putra melingkarkan lengan ke pinggang ayahnya. Di lengan kiri ayahnya, ia menyandarkan kepala sambil berkata, “Pah… Putra baru tahu cerita ini. Maafin Putra juga, Pah. Selama ini enggak pernah ngindahin nasihat Papah.”

“Put… Papah hanya nunggu waktu yang tepat untuk menceritakannya padamu. Bagaimanapun juga Papah enggak ingin kamu mengalami nasib yang sama kayak Papah.”

Putra merasakan jari tangan kanan ayahnya bergerak menyusur kepalanya. Ia pun akhirnya memilih mengeratkan pelukan di pinggang ayahnya. Ada keinginan untuk tidak berpisah. Baginya perpisahan cukup hanya dengan ibunya yang meninggal saat melahirkannya dan… masa remajanya yang tak pernah mengindahkan keselamatan berkendara.

***

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Honda Motor dan Nulisbuku.com

Lomba Penulisan Cerita Rakyat 2015 oleh @budayasaya

Posted on Updated on

  
Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyelenggarakan Lomba Penulisan Cerita Rakyat. Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan kreativitas bercerita di kalangan masyarakat dalam rangka melindungi kekayaan budaya. Melalui kegiatan ini diharapkan dapat terdokumentasi cerita-cerita rakyat dan tertanam nilai-nilai budaya sehingga nilai-nilai tersebut teraplikasi dalam kehidupan sehari-hari.

Lomba dengan tema “Cerita Rakyat sebagai Wahana Pembangunan Karakter Bangsa” berupa penulisan kembali cerita rakyat yang bersumber pada cerita rakyat Indonesia dengan versi penulis, baik dalam jenis mite, legenda, maupun dongeng. Lomba ini dibagi dalam dua kategori, yakni:

  1. Cerita rakyat untuk anak
  2. Cerita rakyat untuk umum

Ketentuan Umum:

  1. Naskah cerita merupakan penulisan kembali karya orisinal perorangan yang belum pernah dipublikasikan dan bersumber pada cerita rakyat Indonesia.
  2. Memfollow akun twitter @budayasaya dan fanspage FB kebudayaanindonesia
  3. Cerita rakyat yang ditulis kembali diharapkan diambil dari cerita rakyat yang selama ini belum banyak digali.
  4. Setiap peserta hanya dapat mengirimkan naskah 1(satu) judul.
  5. Panjang naskah terdiri atas 10–15 halaman tanpa gambar/ilustrasi.
  6. Naskah diketik di atas kertas A4, Times New Roman 12, spasi 1,5, margin kiri 4 cm, kanan 3 cm, atas 3 cm, dan bawah 3 cm.
  7. Judul cerita bebas dan sesuai dengan inti cerita dan tema lomba. Cerita tidak mengandung SARA, pornografi, dan kekerasan.
  8. Pendaftaran lomba dimulai tanggal 10 Juni 2015 dan ditutup tanggal 20 Agustus 2015 (stempel pos/jasa Kurir)
  9. Naskah yang dilombakan menjadi milik Direktorat Internalisasi Nilai dan DiplomasiBudaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta hak cipta tetap pada pengarang.
  10. Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat.
  11. Naskah dan fotokopi KTP/Kartu Pelajar peserta dikirim dalam bentuk softcopy ke alamat email kekayaanbudaya@gmail.com atau hardcopy ke alamat: Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya, Kompleks Kemdikbud Gedung E Lantai 10. Jl. Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta Pusat. Telepon: (021) 5725047/5725564.

Alur Pendaftaran:

Hadiah Pemenang baik untuk kategori cerita rakyat untuk anak maupun cerita rakyat untuk umum yaitu:

  • Juara I sebesar Rp. 30.000.000 (tiga puluh juta rupiah),
  • Juara II sebesar Rp. 20.000.000 (dua puluh juta rupiah),
  • Juara III sebesar Rp. 15.000.000 (lima belas juta rupiah),
  • Harapan I sebesar Rp. 10.000.000 (sepuluh juta rupiah),
  • Harapan II sebesar Rp. 7.500.000 (tujuh juta lima ratus ribu rupiah),
  • Harapan III sebesar Rp. 5.000.000 (lima juta rupiah),
  • Enam hadiah hiburan masing-masing sebesar Rp. 2.000.000 (dua juta rupiah).

Ketentuan Khusus:

  1. Pajak hadiah ditanggung pemenang
  2. Dua belas finalis dari dua kategori diundang ke Jakarta untuk wawancara
  3. Karya 12 terbaik akan diterbitkan dalam Katalog Pemenang Lomba.
  4. Tim Juri terdiri atas ahli dalam bidang tradisi lisan, akademisi, praktisi, media, dan bahasa.

 Tahapan Kegiatan dan Jadwal

  1. Publikasi Lomba > Mei – Juni 2015
  2. Pengiriman Naskah > Juni – Agustus 2015
  3. Seleksi Teknis > Agustus 2015
  4. Penilaian Naskah > September 2015
  5. Wawancara Finalis > Oktober 2015
  6. Pengumuman Pemenang dan Penyerahan Hadiah > Oktober 2015

 Sumber: kebudayaan.kemdikbud.go.id