SEPI DI AWAL PAGI

“Sahabatku sedang apa ya sekarang?” tanya Angga dalam hati ketika kelopak matanya terbuka lebar.

Matahari masih bermalas-malasan dan belum beranjak dari peraduannya. Suara gaduh pedagang di pasar sebelah rumah Angga seakan menyadarkannya akan sebuah tugas mulia. Aktivitas di perumahan yang padat penduduk itu tak kalah bisingnya. Suara motor lalu lalang, suara teriakan bercampur dengan umpatan-umpatan. Sungguh suasana kehidupan yang membosankan. Kesadaran Angga belum pulih seratus persen. Bahkan dia sendiri tidak menyadari tentang apa yang telah diucapkan tadi. Spontan, matanya nanar melihat dari balik jendela kamarnya menatap di kejauhan. Menatap deretan perumahan, persawahan, padang ilalang dan hutan yang masih pekat berselimut dini hari.

Angga bergegas menunaikan kewajiban dan tampak mulai berkemas. Buku catatan dan alat tulis sudah dipersiapkan. Semuanya dijejalkan bersamaan dengan makanan ringan dan kamera digital.

“Alhamdulillah sudah penuh,” kata Angga setengah berbisik.

Angga segera mencabut telepon genggamnya dari stop kontak dan segera mengamankannya di tas kulit kecilnya. Angga segera melangkah dalam diam, seolah tak sanggup menahan hasrat yang telah lama terpendam. Hasrat ingin mendengarkan cerita dari sahabat, yang sudah lama tidak ada kabar merapat. Kabar yang ingin dituangkan dalam sebuah tulisan, untuk membuat sadar beberapa golongan.

Motor melaju di tengah jalanan sempit yang berlubang. Suaranya menggelegar bak luapan sebuah amarah yang telah lama terpendam. Laju motor sedikit melambat, saat Angga membelok ke arah kiri di persimpangan. Jalanan rusak berbatu di sebuah perkampungan masih sunyi dan sepi.

“Saatnya menaklukkan padang ilalang gersang,” kata Angga dalam hati ketika roda motornya melagukan dendang bergesekan dengan ilalang yang tumbuh di padang itu.

Tak sampai lima belas menit, Angga berhasil menaklukkan padang ilalang gersang itu. Sebenarnya a
da jalur lain menuju bukit itu, tetapi terlalu jauh. Angga-pun tak mau ambil resiko kehilangan waktu, sehingga dia ambil jalan menerabas. Jalan menerabas yang memang sudah ada sebelumnya, jadi tidak ada kekhawatiran akan mengorbankan beberapa individu ilalang sebagai taruhannya.

Kendaraan bermotor roda dua itu terus melaju mengikuti alur berkelok bertanah tandus. Sampai akhirnya, jalanan setapak itu menembus sebuah perbukitan. Perbukitan luas yang menyimpan sejuta vegetasi yang bermanfaat bagi manusia. Angga segera memarkir motornya diantara semak-semak berkabut.

“Selamat pagi sahabatku,” teriak Angga tiba-tiba.

Sepi. Tidak ada jawaban. Bahkan burung-burung yang hinggap di pepohonan tak ada lagi hasrat untuk menjawab dengan kicauannya.

“Kok aneh ya, tidak seperti biasanya,” bisik Angga dalam hati.
Angga melangkah mendekati sekumpulan
pohon jati yang menunduk. Beberapa dahannya patah dan terjerembab di bawah kaki pohonnya. Daun-daun hijaunya tak lagi segar. Nampak berkerut dan menguning. Sekumpulan pohon jati itu terdiam dalam simponi pagi yang sepi.

“Selamat pagi sahabatku,” Angga berteriak lebih keras dari sebelumnya.

Kekesalan menghampiri batas kesabarannya. Dia berlari ke sekumpulan semak berduri. Disentuhnya ujung daunnya yang mengatup. Sama sekali tak ada respon apalagi jawaban. Suasana yang tak biasa bagi Angga.

Seminggu sebelumnya mereka masih tertawa bersama. Saling bercerita tentang masa depan dunia. Tentang harapan dan tentang asa akan indahnya kehidupan manusia. Pohon mahoni yang biasanya tegak berdiri menghadang datangnya hujan, kini seperti tak bernyawa lagi. Semak berduri yang bunga kecilnya selalu berembun kini seakan tak bernapas lagi. Pohon jati yang biasanya dengan gagah berani menahan laju aliran air dari puncak bukit, sepertinya tak ada semangat lagi. Vegetasi langka yang menambah deretan daftar harus dilindungi, tak lagi cerah menatap hadirnya sang mentari pagi. Tumbuhan besar berkanopi rindang yang melindungi setiap tumbuhan di bawahnya juga seakan mematung dalam sebuah kepasrahan. Semuanya membisu dalam sepi.

“Terus apa artinya aku datang kemari?” tanya Angga sambil menyandarkan hati pada sebuah pokok pohon jati.

Angga terduduk dalam sepi sendiri. Pokok pohon jati itu tetap tak bergeming. Berderitpun tidak sama sekali. Berjuta tanya membuncah di hati, tanpa bisa berbuat sesuatu yang pasti.

“Ayolah sahabatku, ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi,” ratap Angga sambil mendekap tasnya erat-erat.

Sepi masih juga menghiasi pagi. Angin sepoi-sepoi sepertinya tak mampu membuat dedaunan untuk bernyanyi. Sampai akhirnya, deru mesin terdengar menggelegar di sebelah barat daya. Saling bersahutan dalam sebuah ketamakan. Ketamakan manusiawi yang tidak pernah menghargai arti sebuah persahabatan sejati.

Angga akhirnya menemukan jawaban atas sepi di awal pagi. Lunglai menghampiri hati yang tak mampu memegang teguh janji. Janji untuk menjaga vegetasi agar tetap bernyanyi, janji untuk selalu melindungi. Angga pasrah dalam rasa bersalah. Raga kekar itu sepertinya tak lagi tegar. Sepi tanpa canda tawa sahabatnya telah membunuh kesadarannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s