BATAS WAKTU SENJA

Cermin itu retak seketika kala Senja datang menghampirinya. Sepertinya cermin itu sudah tidak kuasa lagi menjadi saksi kesedihan Senja. Sontak wajah Senja ikut terpecah belah. Senja memungut serpihan kecil yang tergeletak persis di kakinya. Dia berusaha mencari bayangan dirinya dalam serpihan itu. Matanya tajam menatap lekat ke cermin itu. Bukan bayangannya yang terlihat, tetapi sesosok rapuh yang berusia senja tengah berdiri dalam kesendirian. Tanpa terasa, air mata Senja mengalir di sudut kelopak matanya. Entah sudah berapa ratus kali air mata itu mengalir di kelopak mata sendu perempuan itu.

“Siapakah sosok itu? Kenapa bayangnya selalu hadir saat aku bercermin? Mungkinkah itu bayanganku?” tanya Senja dalam hati.

Senja mengamati setiap titik wajah di cermin itu. Bentuk matanya, bentuk hidungnya dan bahkan letak tahi lalatnya sama persis dengan wajahnya. Semakin melihatnya, hati Senja semakin teriris.

“Hei, kenapa kamu menangis?” terdengar suara tanpa sosok nyata di bilik kecil itu. Sepertinya suara itu berasal dari perempuan usia senja yang ada di cermin itu.

“Ah aku nggak apa-apa kok,” kata Senja sambil mengusap air matanya. Senja masih terpaku dalam diam. Pikirannya menerawang seakan ingin menggapai sebuah impian. Impian yang entah kapan akan dapat diwujudkan.

“Kamu nggak usah menangis. Tataplah di sekelilingmu. Jangan lemah karena kamu sangat berharga bagi mereka,” kata perempuan berusia senja itu lagi.

Senja masih tetap tak bergeming. Dia teringat senyum-senyum polos yang menemaninya setiap hari di ruang kelas berdinding papan. Mereka tersenyum tulus untuk memberikan semangat hidup kepada Senja. Senyumpun terulas ringkas di sudut bibir Senja.

“Nah, begitu kan lebih baik. Ingat senyummu adalah kekuatan hatimu,” kata perempuan berusia senja itu dalam seulas senyum.

Senja seakan menemukan kembali kekuatan hatinya saat bayangan itu samar-samar menghilang. Tinggallah bayangan wajah seorang gadis berusia tiga puluh limaan yang sedang tersenyum, tersembunyi disana. Senja segera mengumpulkan serpihan cermin dan menaruhnya ke dalam tempat sampah. Sepertinya dia ingin membuang kesedihan dan bayangan buram di masa lalu.

Senja berlalu meninggalkan bilik kecil itu. Diraihnya tas kerjanya dan melangkah perlahan menuju ruang depan. Dilihatnya seorang perempuan berusia senja tengah asyik duduk di kursi goyang. Di pangkuannya teronggok sebuah kain berwarna merah marun. Dia adalah bunda Senja.

Senja berhenti sejenak untuk berpamitan kepada bundanya. Matanya tertuju pada seonggok kain berwarna merah marun yang berada di pangkuan bundanya. Kain merah marun yang senantiasa menemani bundanya setiap hari dalam kesendiriannya saat ditinggal Senja pergi bekerja.

“Senja berangkat kerja dulu bunda,” kata Senja sambil mencium tangan bundanya yang tak lagi kencang.

“Hati-hati anakku,” jawab bunda Senja dengan penuh kasih.

Senja segera melangkah menuju tempatnya bekerja yang tak jauh dari rumahnya. Tempat dimana dia bisa mendarmabaktikan ilmunya, sekaligus tempat pengabdiannya bagi bangsa dan negara. Setidaknya bagi dia, dia bisa merasa berguna dan membuat ibunya bangga.

Waktu terasa lambat berjalan, saat dalam bekerja Senja teringat kain merah marun yang selalu menjadi teman setia bundanya.

“Untuk apa bunda setiap hari merenda kain itu?” Pertanyaan itu selalu saja menghantui pikiran Senja. Dia tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan setiap hari oleh bundanya. Tenggorokannya selalu saja tercekat saat dia ingin menanyakannya pada bundanya. Senja berusaha mengumpulkan segenap rasa yang terserak untuk bisa menemukan kekuatan untuk bertanya. Perlahan namun pasti Senja bisa kembali fokus ke pekerjaannya. Niat untuk bertanya menjadi pendorong semangatnya menjalani hari.

Jam dinding di ruang kelas itu hampir menunjukkan pukul satu. Terlihat wajah-wajah belia tersenyum menunggu saat pelajaran berakhir. Tak lama bel tanda pulang berdentang. Seketika sekolah itu sepi tanpa tawa riuh anak-anak yang tengah bermain-main.

Senja masih termangu di depan kelas itu. Entah apa yang dipikirkannya. Sampai akhirnya, ada suara yang membawanya kembali ke dunia nyata.

“Bu Senja, saya duluan ya, soalnya sudah dijemput suami saya,” kata bu Nelcy yang seumuran dengannya.

Senja mengiyakan dalam senyum getir. Dia berpikir betapa bahagianya bu Nelcy yang telah bersuami dan bahkan telah memiliki dua orang putra. Hati Senja merasa teriris membayangkan kebahagiaan mereka.

Langkah kaki Senja terhenti saat sampai di depan rumah. Rumah terlihat sepi tanpa penghuni. Tangannya yang tak lagi muda berusaha membuka daun pintu dengan paksa. Ternyata terkunci. Matanya berusaha mencari-cari bundanya di sekitar rumahnya. Namun yang dicarinya tak kunjung ditemukannya.

Tiba-tiba dilihatnya seorang tetangganya tampak tergopoh-gopoh berlari ke arahnya. Orang itu tampak tergesa-gesa. Ternyata dia adalah Hari, mantan kekasihnya yang telah meninggalkannya tujuh tahun yang lalu dan memilih wanita lain sebagai pendampingnya.

“Senja, ada yang gawat,” kata Hari terengah-engah.

“Ada apa Har?” tanya Senja kaget.

“Bundamu barusan dibawa ke rumah sakit oleh paman Anto,” kata Hari sambil mengatur napasnya yang masih terengah-engah.

“Bunda kenapa Har? Sakit jantungnya kambuh lagi ya?” tanya Senja penuh kecemasan.

“Saya juga nggak tahu. Sudahlah ayo saya antar kamu ke rumah sakit sekarang,” kata Hari sambil menarik tangan Senja.

Senja langsung naik ke boncengan motor Hari. Hari segera melarikan motor itu ke rumah sakit. Dalam perjalanan ke rumah sakit, angin siang itu menerbangkan aroma yang membuat Senja ke memori masa silam. Aroma tubuh yang dulu sempat menghiasi relung hatinya, kini tergambar nyata di depannya. Gambaran nyata yang telah meruntuhkan asanya untuk membina hidup bersama. Senja tak mau larut dalam memori dan kembali fokus ke bundanya yang tengah terbaring di rumah sakit.

Lima belas menit berlalu, dan sampailah mereka di pelataran parkir rumah sakit umum itu. Bau obat terasa menyengat saat Senja dan Hari melangkah masuk ke ruang VIP. Sesosok raga rapuh tergolek lemah di ranjang besi kamar itu. Selang infus tampak bergelantungan di sisi ranjang dan bermuara pada urat nadi tangan bundanya.

Senja segera menghampiri bundanya. Bundanya hanya bisa tersenyum tanpa sepatah kata. Senja memeluk tubuh bundanya dan menumpahkan segenap rasa sayangnya. Air mata itu kembali menetes haru. Tangan bundanya mengelus rambut panjang Senja dengan penuh kasih.

Tak lama kemudian, bunda Senja sudah membaik kondisinya. Mereka tersenyum seperti biasanya. Bunda Senja menegaskan bahwa keadaannya baik-baik saja. Hari yang duduk tak jauh dari sana menyaksikan dengan haru.

“Bunda tidak apa-apa Nak,” kata bunda Senja sambil kembali mengelus rambut Senja.

Senja hanya tersenyum sambil mengelus rambut bundanya yang sudah nampak memutih rata. Memutih karena usia tanpa seorangpun yang mampu untuk melawannya.

“Syukurlah bunda. Senja senang mendengarnya,” kata Senja sambil mengusap air matanya.

“Kamu kesini sama nak Hari ya?” tanya bunda Senja yang dari tadi sudah melihat Hari duduk di sudut ruangan itu.

“Iya bunda,” kata Senja sambil memberikan isyarat kepada Hari untuk mendekat.

“Gimana keadaan ibu?” tanya Hari dengan santun.

Bunda Senja tersenyum sekilas dan menjawab, “Alhamdulillah ibu tidak apa-apa nak Hari. Nak Hari sendiri gimana kabarnya. Sudah lama nggak silaturahmi ke rumah lagi.”

“Alhamdulillah, saya juga baik-baik saja bu. Maaf bu, bukannya saya bermaksud memutuskan silaturahmi, tapi sejak saya cerai dengan istri saya, saya memutuskan untuk merantau ke luar kota. Kebetulan sedang libur makanya sejak dua hari lalu saya pulang kampung,” kata Hari panjang lebar.

Bunda Senja hanya mengangguk pelan mendengarkan cerita Hari. Sesekali bunda Senja terbatuk kecil. Sementara itu, Senja hanya memperhatikan percakapan keduanya. Dia masih membisu sampai akhirnya matanya tertuju pada seonggok kain merah marun. Kain yang senantiasa disulam renda oleh bundanya.

Senja meraih kain itu dan memperhatikan setiap detilnya. Sepertinya itu adalah sebuah kebaya yang berhias renda di tepinya. Beberapa bagian tampak masih belum direnda dengan sempurna.

“Bunda, boleh saya bertanya?” tanya Senja tiba-tiba.

Kekuatan bunda dalam menghadapi sakitnya adalah kekuatan Senja untuk merangkai kata demi kata menjadi sebuah tanya. Senja berusaha merangkai tanya dengan sederhana agar bundanya lebih mudah untuk menjelaskannya.

“Senja anakku. Itu adalah kebaya yang sengaja bunda siapkan untukmu sejak lama. Bunda ingin nanti saat bunda selesai merenda kebaya itu, kamu telah menemukan seseorang sebagai pendamping hidupmu. Bunda ingin kamu memakai kebaya itu di hari bahagiamu nanti,” kata bunda Senja sambil berlinang air mata.

Air mata Senja ikut larut dalam harapan bundanya. Hari yang sejak tadi termangu ikut merasakan kesedihan mereka.

Senja mengamati kebaya itu dengan seksama. Sepertinya hanya tinggal hitungan hari saja kebaya itu akan selesai direnda oleh bunda. Itu adalah batas waktu yang diberikan bunda untuknya. Sejenak kegelisahan melanda hati kecil Senja. Bunda mengerti kegelisahan anak gadisnya.

“Senja, anakku. Kamu nggak usah terlalu mikirin kata-kata bunda. Anggap saja itu sebagai penyemangat bagimu agar kamu bisa bangkit dari keterpurukanmu selama ini,” kata bunda Senja berusaha mengusir kegelisahan hati Senja.

Senja merasa tenang dengan perkataan bundanya dan dia juga meminta bundanya untuk tidak terlalu memikirkan hal itu dulu. Yang terpenting baginya adalah kesehatan bundanya.

Hampir dua jam berlalu, mereka bertiga berbincang hangat. Sesekali mereka terdengar tawa kecil tanda bahagia. Hari segera pamit dan berjanji untuk datang menjenguk kembali ke rumah sakit nanti malam.

Senja melepas kepergian Hari dengan seulas senyum harapan. Sepeninggal Hari mereka berdua kembali terlibat perbincangan hangat tentang berbagai hal. Sampai akhirnya, malampun datang mengganti senja. Mereka berdua masih berada dalam ruangan yang sama, namun suasana hati yang berbeda.

Malam merambat perlahan saat Hari kembali masuk ke ruang perawatan itu. Hari tampak membawa bungkusan dan menyodorkannya kepada Senja. Ternyata bungkusan itu berisi nasi goreng kesukaannya. Nasi goreng seafood pedas yang dijual pak Yanto di depan toko bangunan. Senja tersenyum dan segera menghabiskan nasi goreng penuh kenangan itu.

Hari-hari berikutnya Hari rutin mengunjungi bunda Senja di rumah sakit. Intensitas komunikasi membuat hubungannya dengan Senja kembali membaik. Hari sepertinya ingin membuka kembali hati Senja dan mengobati luka lama yang ada. Niat itu sudah disampaikan kepada bunda Senja, saat Senja meninggalkan mereka berdua untuk bekerja. Bunda Senja sepertinya tidak keberatan dengan niatan itu. Bunda Senja tahu bahwa Hari seorang yang baik. Perceraian Hari itupun terjadi bukan karena faktor dari Hari, tetapi istrinya yang berselingkuh dengan pria lain.

Seminggu kemudian, bunda Senja sudah dinyatakan sembuh dan diperbolehkan untuk dibawa pulang. Seperti biasa bunda selalu berusaha menyelesaikan sulaman rendanya sebagai batas waktu bagi Senja untuk mengakhiri masa lajangnya. Hari semakin sering bersilaturahmi ke rumah Senja dan setia menemani bunda menyulam renda itu.

“Senja, ada satu hal yang ingin aku katakan ke kamu,” kata Hari di beranda rumah Senja kala senja itu.

“Apa itu Hari?” tanya Senja sambil membetulkan letak duduknya di samping Hari.

“Kalau kamu nggak keberatan, aku ingin menjadikanmu sebagai pendamping hidupku. Gimana Senja,” kata Hari dalam nada yakin dan mantap.

Keyakinan Hari dalam setiap abjad yang terangkai menjadi kata-kata ternyata belum mampu membuat Senja yakin dengan hatinya. Senja tiba-tiba gelisah dalam gundah. Seketika Senja merasa berada dalam sebuah persimpangan. Dia bingung harus lurus dalam sendu ataukah belok kiri dalam kelu. Pikirannya menerawang dalam bimbang tentang jalan yang akan dipilihnya. Dia bingung antara dua pilihan yang membingungkan. Semua karena batas waktu yang diberikan bunda. Dia bingung apakah harus merangkai hari bersama orang yang pernah melukai hatinya ataukah dia akan merangkai hari sendiri sampai menjadi seperti perempuan berusia senja yang hadir di setiap dia bercermin, seorang perempuan yang pura-pura tegar dalam kesendirian dalam tawa sampai usia senja. Dia hanya bisa berharap semoga benang sulam bunda habis untuk sementara sampai dia menemukan jawaban penuh keyakinan akan masa depannya.

Sementara itu, bunda Senja tengah menyelesaikan sulaman renda terakhirnya. Pertanda batas waktu bagi Senja telah habis. Seiring dengan itu, tiba-tiba napas bunda Senja tersengal. Senja dan Hari berlari masuk dan menyaksikan bunda Senja telah sampai di batas waktu hidupnya.

Bulir air mata perempuan berusia senja itu menetes perlahan teringat semua peristiwa yang telah lalu. Satu per satu orang terkasihnya telah meninggalkan dirinya sendirian. Termasuk Hari yang telah berhasil meyakinkan hatinya untuk memenuhi batas waktu yang diberikan bunda Senja. Dengan tegar dia menunggu batas waktu hidupnya dengan penuh semangat di ujung usia senjanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s