HUJAN MALAM ITU

Rintihan pelan terdengar di emperan sebuah pertokoan. Hampir tak terdengar karena tertutup nyanyian hujan. Derasnya hujan membuat suara rintihan menjadi lebih samar terdengar. Suara rintihan dari seorang anak laki-laki berusia belasan yang tergolek lemah sendirian di depan pintu sebuah toko perhiasan. Anak laki-laki itu terus merintih dalam kesendirian. Tubuh kurusnya menggigil kedinginan.

“Tuhan tolong aku. Aku ingin pulang,” bisik anak itu dalam hati.

Tetesan air hujan sepertinya tanpa ampun terus menghujam bumi. Kilatan petir menambah suasana malam itu semakin terasa mencekam. Jalanan sepi dan seperti tidak ada kehidupan. Raga mungil itu masih saja menggigil. Matanya terpejam rapat tanpa air mata.

“Tuhan, aku mohon segera hentikan hujan ini. Aku tidak mau orang tuaku menangis karena aku,” bisik raga lemah itu.

Raga lemah itu masih saja merintih, sementara hujan masih juga mengiris-iris angkasa dengan tetesannya yang bagaikan sebilah mata pedang yang tajam. Tetesan yang bisa saja membunuh orang yang tak mampu menahan akibat yang ditimbulkannya.

Kepasarahan menghampiri raga mungil itu. Dia tak tahu lagi apa yang akan diperbuatnya. Dia hanya bisa memanjatkan doa berharap semoga hujan akan segera reda.

“Ya Tuhan, redakanlah hujan malam ini, biar aku bisa mudah menemukan jalan pulang,” batin anak itu dalam pasrah.

“Tuhan kalau memang Engkau menghendakinya, ijinkan aku pulang Tuhan. Aku tak mau lama-lama terjebak dalam hujan malam ini,” batin anak itu lagi.

“Aku sudah rindu dengan ayah dan ibuku Tuhan. Mereka sudah terlalu lama menungguku. Jangan biarkan mereka bersedih dalam penantiannya,” kata anak itu dalam hatinya yang mulai membeku.

Hujan masih belum juga mau beranjak meninggalkan malam itu. Tetesan-tetesannya membuat anak itu tak mampu lagi bergerak. Hujan seakan berteriak karena telah berhasil menjebak raga mungil nan rapuh itu.

Malam telah melewati setengahnya, saat sesosok bayangan mendekati raga mungil yang tergolek lemah itu. Sosok itu mendengarkan setiap doa yang terucap dari hati anak itu. Dia hanya bisa mengamati setiap gerakan dari anak itu.

“Kasihan sekali anak ini. Sudah lewat tengah malam, tetapi belum bisa pulang karena hujan,” kata sosok itu dalam hati.

Dipegangnya tubuh anak itu dan dirasakan kehangatan aliran darah anak itu. Anak itu menggeliat dan mengerang lirih dengan napas tersengal. Satu demi satu napas itu keluar masuk paru-paru melalui hidungnya. Jantung yang memompa darah di sekujur tubuhnya sepertinya mulai melemah karena tak mampu lagi melawan hawa dingin karena lebatnya hujan.

Sosok itu memegang nadi tangan kiri anak itu dan menekannya dengan lembut. Dirasakannya denyutan lemah di nadinya. Sosok itu diam dan terpaku dalam ragu. Tak tahu harus bagaimana caranya menolong anak itu. Sementara dia tahu kalau itu bukanlah tugasnya.

“Seandainya saja aku bisa membantu pasti keadaan anak ini akan lebih baik,” kata sosok itu lirih.

Di tengah gemuruhnya air hujan dan suara halilintar, bibir anak itu berkata dalam kelu, “Tuhan, aku ingin pulang.”

“Kasihan sekali kamu nak. Mari aku bantu,” kata sosok itu sambil membisikkan sebaris doa suci.

Anak itu berusaha mengikuti doa yang didengarnya dengan terbata-bata. Dengan sekuat tenaga yang ada, dia berusaha menyelesaikan doa sampai kata terakhirnya. Usaha itu tidak sia-sia, karena akhirnya dia mampu juga menyelesaikan doanya.

Serta merta hujanpun reda dan membuat suasana menjadi terasa tenang dan damai. Perlahan namun pasti dia berusaha bangkit dari tidurnya. Dia tersenyum dalam harap bisa segera pulang menemui kedua orang tua tercintanya. Hujan sudah tak bisa lagi menjebaknya dalam sebuah pergumulan rasa.

“Kamu sudah siap bertemu dengan orang tuamu nak?” tanya sosok itu sambil menggamit tangan anak itu.

“Saya sudah siap. Memangnya situ tahu dimana kedua orang tua saya?” tanya anak itu dengan nada ragu.

“Ah kamu tak usah ragu nak. Saya tahu tujuan kemana harus mengantarmu. Tenang saja nak, saya sudah lama kenal sama mereka kok,” kata sosok itu berusaha meyakinkan anak itu.

Anak itupun yakin dengan apa yang diucapkan sosok itu. Mereka berdua berjalan beriringan dan mulai melangkah perlahan menyusuri jalan terang ke arah yang dituju. Tak lama sampailah mereka berdua di sebuah tempat dimana kedua orang anak itu menunggu.

Sementara itu, sesaat setelah hujan reda terdengar tangisan di sebuah emperan pertokoan. Tangisan dua anak kecil terdengar saling bersahutan. Mereka menagisi raga mungil yang terbujur kaku.

“Kak Roni! Jangan tinggalkan kami,” kata Reni, adik Roni yang paling kecil, terisak sambil mengguncang-guncang tubuh Roni yang terbujur kaku.

“Kalau kak Roni pergi bagaimana dengan nasib kami?” kata Rina berlinang air mata sambil mendekap tubuh Roni.

Perempuan-perempuan mungil itu terus terisak di tengah malam tanpa mengetahui apa yang akan mereka perbuat. Mereka menyalahkan hujan malam itu yang telah menjebak kakaknya dalam kedinginan, sehingga kakaknya tidak bisa pulang mengambil obat asmanya.

Mereka terus mengguncang-guncang tubuh kaku Roni tanpa pernah bisa menyadari bahwa Roni telah meninggalkan mereka untuk selama-lamanya. Tubuh Roni tetap terbujur kaku. Tak ada lagi tanda-tanda kehidupan di sekujur tubuhnya. Yang ada hanya senyuman terakhirnya untuk mengingatkan adik-adiknya, bahwa kematian bisa menjemput siapa saja, kapan saja, dan dimana saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s