SAKSI BISU ITU, TAKSI

Tak ada satupun yang berubah dari dulu. Tetap biru seperti sejak pertama aku bertemu dan bercumbu, tiga tahun lalu. Hampir lebih dari seribu malam aku mencumbunya, tanpa ada kebosanan melanda. Yang ada hanya kepuasan atas dasar keikhlasan melakukan yang seharusnya dikerjakan. Meraba setiap titik tubuhnya tatkala hendak bersenggama di jalan raya, adalah rutinitas yang kulakukan dengan penuh suka cita. Semua demi keluarga tercinta.

Seperti biasa menjelang malam, aku mulai siapkan stamina untuk memulai pengembaraanku. Kulihat warna biru itu berdiri dengan cantik menunggu belaianku. Akupun tak menyia-nyiakan waktu. Kunaiki dan segera kukendalikan dalam goyangan alur maju.
Malam masih menggeliat dalam kerumunan manusia yang lalu lalang. Aku menghentikan goyangan dan melangkah keluar. Menunggu kesempatan sampai ada orang yang mau menggunakan jasanya. Bersandar pada pintu, kukagumi wajahku di kaca cembung di sisi pintu. Tanganku mulai menjelajahi rambut hitam lebat di kepalaku membentuk alur yang rapi.

“Hmm, tak heran banyak yang tergoda padaku,” kataku dalam hati.

Senyum bangga terulas dari bibirku, seorang pria muda yang beranak satu, berusia satu bulan. Aku beranggapan bahwa di kepala tiga usiaku adalah saat terhebat bagi diriku dalam menjalani kehidupan sesungguhnya.

“Oh betapa indahnya hidupku,” kataku dalam hati sambil membetulkan krah baju seragamku.

Tanpa kusadari, kulihat bayangan seorang pria muda dengan wajah penuh luka nampak di spion taksiku. Aku terkesiap dalam degupan jantung yang hampir melonjak. Akupun menoleh, tetapi kenyataan yang kudapat bukanlah seperti yang sesungguhnya. Beberapa pria muda tengah berjalan beriringan dalam tawa. Namun tak ada satupun wajah yang serupa pria dalam spion itu.

“Aneh banget sih,” bisikku dalam hati.

Aku tak ambil pusing dengan semua itu, kujalankan kawan malamku ketika ada seorang pria yang hampir seumuran denganku menggunakan jasaku. Seorang pria muda berpenampilan rapi, yang aku mengiranya adalah seorang bankir. Pria di jok belakang masih juga membisu. Sekilas kulirik dari kaca atap, dia menatap tajam ke arahku. Tajam dan tanpa ekspresi.

“Mau kemana pak?” tanyaku mencoba memecah kesunyian di ruang kecil ber-AC itu.

“Ke Senggigi pak,” jawabnya singkat masih tanpa ekspresi.

“Wuih hebat bapak ini, pulang kerja langsung ke Senggigi. Lagi suntuk ya pak?” kataku sambil tersenyum.

Kedua ujung bibirnya nampak tertarik keatas menciptakan seulas senyum setelah hampir lima belas menit tertahan. Entah apa yang menahannya untuk tidak tersenyum dari tadi.

“Iya,” jawabnya singkat.

“Waduh, si bapak jawabnya singkat banget,” kataku lagi.

“Maklum lagi suntuk,” katanya lagi.

“Emang suntuk kenapa pak? Suntuk karena pekerjaan ya?” tanyaku penasaran.

“Nggak juga kok,” jawabnya singkat.
Aku merasakan jawaban itu mengandung makna penolakan. Akupun terdiam beberapa saat.

“Oya pak, nanti di pertigaan dekat hotel Sinar itu belok kiri ya,” katanya tiba-tiba.

“Iya pak,” jawabku singkat.

Pikiranku menerawang begitu dia menyebut hotel Sinar. Seingatku kalau dari hotel Sinar belok kiri itu adalah arah ke pantai.

“Mau ngapain bapak ini malam-malam ke pantai?” tanyaku dalam hati.

Aku tidak mau berandai-andai dan terkungkung dalam pertanyaan-pertanyaan negatif yang hanya akan membuat konsentrasiku terpecah. Aku kembali fokus pada tugasku mencumbu lingkaran kaku itu.

Tak sampai setengah jam, mataku tertumbuk pada sebuah papan nama sebuah hotel. Aku segera membanting setir ke arah kiri dan sampailah aku di tepi sebuah pantai yang sunyi. Hanya deru ombak yang memecah kesunyian malam di pantai itu. Di keremangan purnama kulihat buihnya berebutan ingin mencumbu bibir pantai.

“Maaf pak, kita sudah sampai,” kataku sambil menghentikan taksiku.

“Oh terima kasih. Oya bapak mau kan menemani saya malam ini?” tanya orang itu.

Aku sama sekali tak mengerti maksud orang itu. Aku terdiam sejenak tanpa bisa memberikan jawaban yang pasti.

“Maksud bapak apa ya?” tanyaku masih dalam kebingungan.

“Maksud saya, bapak temani saya menghabiskan malam di pantai ini. Saya lagi butuh seseorang malam ini,” kata orang itu.

“Bapak nggak usah khawatir, nanti saya akan membayar bapak lebih,” kata orang itu lagi.

Aku termangu dalam ragu. Tetapi, naluriku mengatakan bahwa memang benar bapak ini tengah membutuhkan seseorang. Akupun membuka pintu dan duduk bersandar pada taksi di sebelah bapak itu.

“Oya pak, saya Toni, bapak siapa?” tanyaku sambil mengulurkan tanganku.

“Saya Anton,” katanya sambil menjabat erat tanganku. Jabatannya begitu erat, namun terasa dingin. Sebuah jabatan yang menimbulkan tanya dalam pikiranku. Perlahan aku mencoba melepaskan jabatan tangan itu.

Aku dan Anton akhirnya terlibat dalam percakapan yang hangat. Sesekali cahaya purnama memantulkan senyum di wajahnya yang hanya sesaat hadirnya. Senyum di wajahnya berlalu saat mendung tipis merayu purnama dan mengajaknya bercumbu dalam kepekatan. Senyum itu tiba-tiba berubah jadi kegalauan yang mendalam.

“Toni, malam ini aku ingin menceritakan tentang kisahku. Mungkin kamu heran. Tapi nggak apa-apa, pertama aku melihatmu, aku yakin dan tahu kalau kamu adalah orang yang tepat,” katanya.

Gerakan tubuhnya membuat taksi sedikit bergoyang. Aku berusaha rileks dan mencoba menjadi pendengar yang baik. Dia tampak menghela napas, sepertinya tak tahu harus darimana dia memulai ceritanya.

“Aku menikah dengan istriku hampir lima tahun yang lalu, tapi sampai sekarang kami belum mempunyai anak,” kata Anton dengan mimik sedih.

Aku mengerti dengan kesedihannya itu dan berusaha menghiburnya. Kuceritakan kisah temanku yang tak jauh beda dengan kisahnya. Kisah yang kuceritakan itu sepertinya belum mampu membuatnya merasa nyaman.

“Bukan itu masalahnya,” katanya lagi.

“Terus masalahnya apa pak?” tanyaku pelan.

“Istriku selingkuh dan sekarang tengah hamil. Dia telah dihamili oleh selingkuhannya,” kata Anton sambil memukul-mukul pasir.

Aku tak bisa membayangkan kesedihan Anton. Aku ikut larut dalam kesedihannya. Sepertinya aku ingin membantu membuang kesedihan itu ke tengah laut. Kulihat matanya berkaca-kaca diterpa cahaya purnama. Aku tak tahu, apakah itu pengaruh angin malam ataukah suasana hatinya. Anton menghela napas panjang sambil menghempaskan tubuhnya pelan ke badan taksi. Sementara aku, dengan seksama mendengarkan setiap kata yang terucap dari bibirnya.

“Istri saya seorang SPG di sebuah swalayan. Setiap hari dia bekerja dan baru pulang jam sepuluh malam. Saya nggak bisa rutin menjemputnya, karena kesibukan saya,” kata Anton menceritakan tentang istrinya.

Mendengar kata SPG, anganku melayang pada sosok cantik, tinggi, dan langsing dengan penampilan yang menarik. Aku hanya tersenyum membayangkan itu.

“Kenapa kamu tersenyum?” tanya Anton padaku tiba-tiba dan membuyarkan khayalanku.

“Nggak kok pak, saya hanya teringat dengan SPG yang ada di swalayan saja. Pasti istri pak Anton cantik ya?” kataku dengan senyum.

“Toni bisa saja,” katanya lirih dalam sendu, masih tanpa ekspresi.

Hampir satu jam aku dan Anton terlibat dalam obrolan tentang istri Anton. Dari obrolan itu, Toni tahu banyak tentang kepribadian Anton. Dia ikut merasakan kesedihan teman barunya itu.

“Ah sudahlah, mungkin ini memang takdir yang harus saya jalani,” kata Anton penuh kesabaran, mengakhiri obrolan malam itu. Taksikupun menjadi saksi bisu cerita kehidupan pilu Anton malam itu.

Anton memutuskan untuk pulang dan akupun mengantarkannya sampai tujuan. Jalanan mulai lengang, aku dan taksiku menari bebas tanpa banyak hambatan.

“Turun dimana pak?” tanyaku ketika sampai di sebuah perempatan lampu merah.

“Terus saja, nanti ada perempatan kecil di depan itu belok kiri,” jawabnya pasti.

Kurasakan getaran aneh menjalar dalam tubuhku, saat aku belok kiri di jalan itu. Aku merasa jalan ini sudah tidak asing lagi bagiku. Aku hapal betul dengan jalan ini, karena ini adalah jalan yang sering kulewati dulu setiap malam minggu sebelum aku menikah dengan istriku.

Tak lama kemudian, Anton memintaku menghentikan taksiku di depan sebuah rumah bercat biru. Dia segera membayar dua kali lipat dan melangkah masuk ke rumah itu. Demi melihat rumah itu, aku tercekat dan hampir tak bisa bernapas. Deru mesin taksiku adalah denyut jantungku. Wajahku tiba-tiba memucat membuat aliran darahku terhenti sesaat dan membuatku mematung di belakang kemudi. Ternyata Anton adalah suami mantan kekasihku, seorang SPG swalayan yang telah melepaskan dahagaku saat kehamilan tua istriku, malam itu, satu purnama yang lalu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s