SUPERMOON UNTUK SUPERMOM

Seraut wajah terduduk lemah di sebuah kursi goyang yang telah usang. Di beranda sebuah rumah kayu kecil, di tepi sebuah telaga sunyi.

Di tepi telaga itu, delapan belas tahun yang lalu, dia menyaksikan suatu keajaiban alam bersama belahan jiwanya. Mereka bahagia, sampai akhirnya maut memisahkan mereka, dan meninggalkan kenangan dengan hadirnya buah hati tercinta.
Perlahan memori itu lenyap ditelan kelembutan suara yang berdiri di belakangnya. Itu adalah suara Bulan, buah hati tercintanya.

“Bunda, kenapa kok kelihatan sedih?” tanya gadis berusia belasan sambil menggoyangkan sedikit kursi yang setia menemani bundanya.

“Bunda nggak apa-apa Bulan,” kata perempuan paruh baya itu.

Dibetulkannya syal yang melingkar di lehernya. Ditariknya napas untuk memenuhi rongga dadanya yang tampak kembang kempis.

Bulan tak kuasa menahan harunya, berbeda dengan bulan yang merona di awal senja itu. Bulan tampak berkaca-kaca menyaksikan bulan jingga kala senja itu.

“Bulan anakku. Rasanya malam ini bunda pengen sekali mengulang kenangan indah bersama ayahmu dulu,” kata bunda.

Dengan senyuman hangat bunda menceritakan kenangan indah tentang keindahan bulan bersama ayahnya. Sesekali bunda tampak meluruskan kakinya yang kaku.

“Bulan, bunda minta tolong antarkan bunda ke tepi telaga malam ini,” kata bunda.

Bulan paham maksud bundanya. Segera dia memapah bundanya untuk duduk di kursi rodanya. Dengan penuh kasih, Bulan mendorong kursi roda itu perlahan. Derit roda yang bergesekan dengan rumput liar menjadi simponi malam yang indah.

Di tepi telaga, bulan menjadi raja langit malam itu. Bulan menengadah dan tersenyum tipis menyaksikan keindahan bulan yang merona. Kedua ujung bibir bundanya juga tampak tertarik tipis keatas. Tersenyum tipis menyaksikan keindahan bulan malam itu. Senyum bukan karena melihat bulan penuh diangkasa, tetapi melihat bayangan bulan yang menari indah dan terang di permukaan telaga.

“Bunda, coba deh lihat bulan di angkasa itu,” kata Bulan.

Wajah bunda yang tersenyum tak juga menengadah, tetapi justru menunduk lebih dalam. Senyum itu masih membekas. Senyum tulus penuh kekuatan dalam menjalani hidup yang akhirnya sampai pada batasnya. Batas karena penyakit stroke yang dideritanya.

Bulan, delapan belas tahun lalu, telah bisa mempersembahkan supermoon untuk supermom-nya. Malam ini, seharusnya Purnama, anak satu-satunya, yang menemaninya menikmati indahnya supermoon, namun tidak bisa setelah kepergiannya menyusul ayah dan kakek-neneknya, sebulan yang lalu. Bulan, tersenyum getir menatap bulan yang terang benderang malam itu. Entah kepada siap kelak akan menceritakan keindahan bulan malam itu. Ataukah mungkin tak akan ada lagi supermoon untuk supermom?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s