Jangan Tanya Semesta

Dalam diam hari terus berbilang
Tanpa rasa bosan bumi terus berotasi
Membuat matahari senantiasa menari menghias hari
Terbit dari ufuk timur dan tenggelam kala senja di ufuk barat
Entah kapan kebosanan itu kan menyergap bumi
Dan menghentikan perputaran bumi pada porosnya

Semua semesta seakan larut dalam gembira
Gembira dalam setiap perputarannya
Gembira dalam segala sifatnya sementara
Sementara menunggu ajal
Sementara menunggu siksa

Hiruk pikuk, sorak sorai, dan tepuk tangan senantiasa membahana tanpa rasa bosan
Senyuman nyinyir bagi semesta yang nestapa senantiasa ada
Cibiran getir bagi sesama yang tak ada senantiasa membabi-buta
Topik demi topik kepalsuan terangkai dalam nada kepalsuan
Tanpa bosan, mengumbar durjana nan nista

Merajalela hati dalam cengkeraman tangan-tangan berhias permata setan
Mandi kekayaan di tengah telaga darah penderitaan
Semua dilakukan, semua juga diagung-agungkan

Bersujud jiwa dalam sebuah irama doa
Tatkala bosan melanda menghimpit relung sukma
Gelak tawa bukan lagi sebuah hiasan canda
Bahkan sedu sedanpun tak lagi sebuah duka

Bersimpuh jiwa di batas cakrawala senja
Menghamba pada sebuah kata
Mencari jawaban atas segala tanya
Tanya tentang arti batas kebosanan

“Wahai semesta, tidakkah kau merasa?”

“Apa yang harus kurasa?”

“Banyak sekali yang harusnya kaurasa.”

“Kenapa harus aku yang merasa, kalau seluruh isiku saja tidak pernah merasa?”

“Karena kau adalah penguasa”

“Bukan aku sang penguasa. Aku hanya menjalani titah saja dari yang empunya kuasa yang paling maha.”

“Tidakkah kau merasa bosan melihat kelakuan isi semesta?”

“Kenapa harus bosan? Itu kan hak mereka.”

“Tapi harusnya kan diingatkan.”

“Diingatkan dengan cara bagaimana lagi biar mereka bosan? Tidak cukupkah dengan segala bencana?”

“Sepertinya belum cukup.”

“Kalau begitu biarkan saja. Toh kelak mereka akan mempertanggungjawabkannya.”

“Kelak kapan? Sampai kau bosan dan hancur dengan sendirinya?”

“Itu sudah pasti dan seperti itulah ketetapan-Nya. Biarkan saja mereka terus menari dalam maksiat, sampai isi semesta yang lain bosan melihat.”

“Cukup bijakkah membiarkan isi semseta berlaku sesuka hatinya?”

“Jangan tanya aku! Tanyalah pada hati nuranimu! Sudah cukup bijakkah kau menjaga isi semesta dan sudah cukup baikkah kau perlakukan isi semesta.”

Jiwa teronggok dalam bulir-bulir penyesalan
Penyesalan akan kelakuan tanpa rasa bosan
Rasa bosan yang berujung pada kerusakan
Kerusakan isi semesta dengan segala kesombongannya

“Wahai semesta, tidakkah kau merasa?”

“Apa yang harus kurasa?”

“Kebosananku dengan janji manis para penguasa.”

“Kenapa aku harus merasa. Bukankah kebosanan itu adalah milikmu? Kenapa kamu diam saja untuk mengatasi kebosananmu?”

“Aku tak tahu harus berbuat apa.”

“Itulah kebodohanmu. Bosan tanpa pernah bisa melawan kebosanan. Berbuatlah jangan hanya bisa berontak dalam diam.”

“Aku tak pernah diam. Aku selalu berteriak sampai bosan. Tapi tetap saja teriakanku tidak didengar.”

“Itu saja tidak cukup! Lukiskan solusi di setiap teriakan yang berarti! Dengan begitu penguasamu akan bosan dengan kebatilan mereka.”

Jiwa terjerembab dalam kubangan kebosanan
Kebosanan yang tercipta dari lingkaran setan
Tak terputuskan dan tak terelakkan
Terus mencengkeram tanpa bisa terlepaskan

“Wahai semesta, tidakkah kau merasa?”

“Apa lagi yang harus kurasa?”

“Kebosananku dengan tingkah polah isi semesta yang tak lagi ramah satu dengan yang lainnya.”

“Kenapa aku harus ikut-ikutan merasa?”

“Karena kau telah rusak dan hampir luluh lantak karenanya.”

“Ketahuilah hai isi semesta. Aku takkan binasa sampai saatnya tiba. Sampai aku benar-benar merasa bosan dengan segala keluh kesah. Sampai aku bosan mendengar desah manis di balik topeng kepalsuan.”

“Kenapa kau tak segera bertindak?”

“Berlakulah sesukamu terhadapku hai isi semesta. Aku tak bisa mengelak. Teruslah bernafsu menjamahku. Teruslah kobarkan birahimu dalam menggauli aku. Tapi jangan pernah kau lupa, kau akan mempertanggungjawabkan itu semua pada saatnya. Saat aku binasa karena rasa bosan yang kautanamkan dalam setiap tutur kata dan tingkah lakumu!”

Jiwa bosan tersungkur di tepi jurang kebosanan
Tak tahu lagi kemana akan mengadu
Selain mencoba membuka pintu kalbu
Agar bisa memaknai setiap kebosanan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s