CAHAYA SEMESTA

Lilin di genggamanku meleleh dalam pasrah. Radiasi sinarnya tak lagi menghangatkan sekujur tubuh yang menggigil dalam beku. Bahkan retina mataku tak merasa silau dengan rangsang optik yang masuk. Bayangan titik cahaya itu menembus jauh di belakang titik tangkap. Kegelapan lorong tak berbatas itu menyekap titik-titik tubuh dalam warna hitam. Hitam yang menari angkuh mengikuti tekstur dinding lorong yang tak rata.

Relief alam tak mampu menggoda anganku untuk menyentuhnya. Tanpa menyentuhnya sekalipun, indera perabaku merasakan bahwa ini hanyalah semu. Sesaat dalam lorong kegelapan sampai cahaya terang di ujung lorong. Batu sandungan menghalangi langkahku untuk terus maju. Simpang. Ya sebuah simpang lima yang membuat hatiku terbelah empat. Dimana bertahta angkuh sebuah hati bimbang di salah satu penjurunya. Hatipun terbelah mengikuti arah lurus ke empat arah. Kubiarkan hatiku berlari dan bermain dengan dengan dunianya masing-masing. Sementara aku, masih saja termangu dalam ragu. Tanpa pernah bisa menyatukan hati pada satu arah kutuju.

Lorong itu masih berselimut hitam. Nyala lilin meredup ketika angin dari keempat penjuru berkolaborasi menyerangnya. Angin pembawa berita kerinduan. Kerinduan yang hampir memadamkan api yang menjalar dalam lelehan. Lelehan itu perlahan-lahan menetes di pelupuk mata. Terpasung dalam bingung. Cemburu dalam ragu. Entah berapa lama lagi pengap itu kan berlalu.

Dalam diam tak beranjak. Menunggu belahan masing-masing hati dalam sebuah kabar. Nun diujung sebuah penjuru, tampak setitik cahaya redup. Namun cahaya itu perlahan sirna bertabir kabut. Bulatan visual memandang tajam ke satu arah penjuru. Setitik cahaya terang bergoyang genit terkena candu angin lalu. Tanpa henti terus menari mengikuti arah angin. Di ujung penjuru lainnya, seberkas cahaya merona. Merona terbias kotak kaca. Anginpun seperti tak mampu untuk menyentuhnya. Pandangan menyapu ujung penjuru terakhir. Cahaya merona dalam sejuta warna. Bianglalakah itu?

Lelehan terakhir lilin itu menyisakan sebuah genangan. Wajah dalam genangan berontak, tak sabar menunggu belahan-belahan hati yang bermain dan bercumbu dengan cahaya-cahaya di ujung penjuru. Cahaya lilin tak lagi menampakkan wajah resah. Pekat menyelimuti. Lilin terjatuh, akupun tersungkur dalam sujud damai. Deretan kata penuh makna terangkai dalam sebuah simponi. Simponi tak berirama dari sebuah jantung dan paru-paru. Paru-paru sesak, jantungpun bergolak.

Kesepuluh jari meraba dalam doa berusaha untuk kembali kuat. Perlahan tangan bertumpu pada dinding batu lorong itu. Dan diapun bisa berdiri tegak mendengarkan belahan-belahan hati yang tlah kembali. Belahan hati pertama datang dengan segenap bujuk rayu. Berusaha menuntun langkah ke lorong pernah dituju. Ke arah cahaya yang tersaput kabut pekat. Belahan hati kedua tak kalah manisnya memompa semangat untuk bertemu dengan cahaya dalam tarian genit memabukkan. Tak hanya sampai disitu, kabar-kabar manis terus berhembus. Belahan hati ketiga bercerita keindahan sejuta warna. Penuh tipu dalam fatamorgana. Belahan hati keempatpun tak juga meragu untuk mencumbu. Mencumbu setiap titik cahaya dalam kotak kaca. Tentang indahnya cahaya yang terbias.

Hati berkumpul kembali menjadi satu membuat rapuh jiwa terurai dalam suramnya rona. Terangkai dalam sudut gelap menghamba. Menghamba pada sebuah asa tanpa jawab hadir disana. Jiwa berusaha tegar dalam melangkah merambat di sepanjang dinding lorong. Tak tahu lagi entah arah ujung penjuru lorong yang dilalui. Semuanya begitu pekat dan tak ada lagi cahaya terlihat di ujung penjuru. Relief alam penghias dinding lorong sedikit bersuara saat tangan beradu dendang dalam genggaman.

Langkah terseok dalam mencari jawaban. Dan kali ini hatinya merasa benar. Tak lama di ujung lorong arah yang dituju, setitik cahaya merona. Percepat langkah menuju kesana. Ternyata ujung lorong ini adalah awal langkahku menyusuri lorong gelap ini. Aku diam termangu dalam pesona satu cahaya. Satu cahaya nyata yang pernah kutinggalkan untuk mengejar cahaya lainnya yang merona semu. Ternyata hatiku telah menuntunku kembali ke cahaya yang seharunya aku tuju. Hatiku lebih tahu arah mana yang ingin dituju. Karena hati suci tahu kebenaran yang hakiki. Ujung lorong pekat, menari di bawah siraman cahaya. Setitik cahaya yang terlihat dari kejauhan ternyata adalah sang cahaya bagi semesta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s