HARI YANG BERBEDA

Tak seperti biasanya, pagi ini ada sedikit yang berbeda dengan senyumku. Menatap seraut wajah yang berdiri kaku dihadapanku. Wajah itu tersenyum sinis padaku. Aku berusaha untuk tetap tersenyum manis seperti biasanya, tetapi tetap saja sosok itu mencibir dalam senyum. Tak seperti biasanya. Membuatku tak tahu apa makna dari senyuman itu. Ruangan inipun tak seharum hari kemarin. Aroma melati semerbak mewangi. Kelambu tipis terpasang dengan indahnya di sebuah tempat tidur yang lebih bersih dan rapi dari biasanya.

Kulihat wajah itu berlalu dari hadapanku. Kurasakan ada yang berbeda dengannya pagi ini. Senyumnya tak semanis kemarin saat menatapku. Bahkan langkahnyapun tak setegap saat pertama dia mengenalku. Dengan agak terseret, dia melangkah ke ruang tengah. Penampilannya lebih rapi dengan tubuh dibalut setelan jas warna hitam. Sepatu sportnyapun tak lagi sama dengan yang kemarin. Sepatu sportnya berubah menjadi sepatu pantofel mengkilat.

Pintu yang terbuka membuat pandanganku leluasa memandang setiap titik rumah itu. Kulihat dia menghilang dari pandanganku dan bersembunyi di balik punggung yang lalu lalang. Aku masih terdiam tanpa kata-kata melepas kepergiannya dalam sejuta tanya akan perubahannya. Di satu titik kulihat sebuah singgasana berdiri dengan megah. Singgasana yang tak pernah ada disana sebelumnya.

Suara riuh rendah orang yang sibuk mengatur ruangan tak bisa membuatku beranjak. Rumah yang biasanya sepi dengan empat orang penghuni, termasuk aku, kini menjadi banyak penghuni layaknya rumah susun. Sosok demi sosok berbalut pakaian mewah berseliweran. Beberapa diantaranya mengatur piring dan sendok dalam sebuah tatanan yang rapi. Meja kursi tamu tak lagi berada di tempatnya. Diganti dengan kursi plastik yang berderet rapi.

Aku mendengar jam dinding berdentang sembilan kali. Biasanya hanya aku sendiri yang mendengarnya, tetapi tidak hari ini. Hampir seratus orang mendengarkan dentang jam dinding itu. Mendengar dentangan itu mereka segera duduk dengan rapi untuk mengikuti sebuah prosesi. Prosesi sakral yang belum pernah terjadi di rumah ini.

Sosok itu duduk rapi di depan seorang yang sepertinya adalah seorang penghulu. Disampingnya duduk seorang perempuan paruh baya, yang aku yakin dari usianya dia adalah ibunya. Duduk berderet disana keluarga besarnya. Di deretan paling depan, duduk sepasang mempelai. Seorang laki-laki yang mirip dengan sosok itu, tetapi usianya lebih muda, duduk khusyuk di depan penghulu. Di sampingnya duduk mempelai perempuan yang cantik, secantik diriku.

Tak lama prosesipun selesai, saat tamu yang hadir serentak menjawab, “sah!” Kedua mempelai dan yang lainnya tersenyum bahagia, kecuali sosok itu. Sosok itu tertunduk saat mempelai pria yang ternyata adalah adiknya menyerahkan sebuah bingkisan kepadanya, sebagai tanda pelangkah. Keduanya berangkulan haru, sementara sang ibu hanya bisa menangis penuh haru.

Kedua mempelai menuju singgasana, yang kemarin adalah tempat lemari buku bertahta. Kini sebuah singgasana menggantikannya dan memberikan tempat terindah bagi kedua mempelai. Sosok itupun berlalu sejenak dan melangkah menghampiriku.

Berkaca-kaca dia menatapku penuh iba. Bibirnya bergetar hebat tatkala tangannya menyentuh wajahku. Tangisan yang tak pernah kudengarpun pecah seketika. Sesuatu yang berbeda telah terjadi dalam hidupnya.

“Kenapa kautinggalkan aku?” ratapnya pilu.

Aku hanya terdiam, karena aku hanyalah sebuah foto usang yang tertempel di kaca lemari pakaiannya. Dan kini aku menjelma menjadi seorang putri di singgasana, bukan dengan dia, tetapi dengan adik laki-laki satu-satunya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s