Perempuan dalam Doaku

Raga letihku terbujur di atas dipan kayu. Kaku. Sama sekali tak bergerak. Alam bawah sadarku mengajakku bermain peran pada sebuah panggung lapuk. Panggung lapuk yang menampilkan lakon kehidupan seseorang yang tak pernah mengenal kata rapuh.

Raga letihku sedikit terusik tatkala sukma merasuk kedalam ragaku. Sukma yang mulai menjejali sel-sel kehidupanku. Sel-sel kehidupan seorang manusia yang telah lama menanti jawab atas semua doa. Doa yang terpanjat di setiap sepertiga malam. Seperti halnya di sepertiga malam itu. Sebuah bisikan lembut seakan telah merayu indera pendengaranku. Impuls perlahan merambat ke saraf otakku dan sel-selnya membawaku kembali ke alam kesadaranku.

Ragaku menggeliat merontokkan panggung rapuh itu. Tetapi lakon itu belum juga usai. Menunggu sutradara kehidupan mendengar dan mengabulkan semua harapan dan doaku.

Deretan abjad dalam kata sarat makna mengalir dari dalam hatiku atas sebuah anugerah akan awal kehidupan hari ini. Kata sarat makna yang terangkai menjadi kalimat penghias di setiap sepertiga malamku. Terhitung sejak pertama kali aku terpisah darinya.

“Ya Tuhan, semoga di kehidupan baruku yang akan aku jalani bersama perempuan yang kusayangi, aku bisa temukan tanda kasih-Mu. Amin.”

Kuakhiri doa awal hariku, dini hari itu dengan sebuah senyuman. Senyuman yang selama ini bersembunyi dan bahkan hampir sirna di balik ketegaranku.

Tak seperti biasanya, pagi ini matahari ramah menyapa semesta. Seolah-olah mendengar doa dari segenap isi semesta yang mengharapkan kehadirannya untuk menghapus hari berhias awan kelabu. Di bawah teriknya pagi itu, aku melangkah ringan membawa barang-barangku dalam sebuah koper besar. Ya, hanya itu, karena memang hanya barang-barang itu yang aku miliki saat ini. Semua barang di rumah kontrakanku telah habis aku jual untuk membayar biaya pengobatan anak perempuanku. Anak perempuan hasil buah cinta yang akhirnya harus kurelakan untuk dipisahkan dari keindahan hidupku.

Langkah kecilku menyisakan bekas di tanah jalan itu. Aku berdiri di tepinya bermaksud menunggu mobil tumpangan. Dalam hati aku berdoa semoga saja ada orang yang berbaik hati mau memberikan tumpangan untukku. Di kejauhan bulatan visual di wajahku menangkap bayangan sebuah mobil. Semakin dekat bayangan itu tampak nyata sebuah mobil pengangkut hasil kebun. Tanganku melambai memberi isyarat. Bersyukur perempuan yang mengemudikan mobil itu mau memberikan aku tumpangan. Dengan susah payah akupun mengangkat koperku dan menaruhnya di bak mobil berjejal bersama tandan pisang dan hasil kebun lainnya. Aku berdoa semoga perjalananku hari ini akan berakhir indah dan tak sia-sia.

Ragaku sedikit bergoyang dan hampir menindih perempuan kecil yang duduk di sampingku. Perempuan kecil yang merupakan anak perempuan di balik kemudi itu meringis kesakitan. Aku berusaha menghiburnya dan diapun kembali tersenyum. Sepanjang perjalanan anak perempuan itu banyak bercerita tentang dunia kecilnya sampai-sampai aku tak sempat berbincang dengan ibunya.

“Ma, aku masuk sekolah dulu ya,” kata anak perempuan itu sambil mencium tangan ibunya saat mobil itu berhenti di depan sebuah bangunan sekolah.

Dalam hati aku berdoa semoga anak perempuan itu tidak bernasib sama dengan anakku yang terpisah dari orang yang menyayanginya. Di balik punggung anak perempuan itu, tak lupa aku juga berdoa untuk perempuan yang telah membuatku tetap bertahan dalam segala keterbatasanku, sampai saat ini.

Mobil kembali melaju dalam sebuah obrolan hangat tentang berbagai hal. Mulai dari hal-hal ringan tentang pekerjaan sampai hal-hal pribadi terkait dengan kehidupan berkeluarga. Dari obrolan sepanjang jalan itu aku bisa tahu bahwa setiap hari aku dan dia memanjatkan doa yang sama. Doa untuk perempuan yang disayangi.

Rem mobil berderit tepat di depan gerbang sebuah rumah bercat biru.

“Terima kasih ya bu atas tumpangannya,” kataku dalam seulas senyum.

“Sama-sama,” jawabnya ikhlas.

Aku membuka gerbang dan melangkah masuk halaman. Rumah besar itu terlihat sepi seperti tanpa penghuni. Kuketok pintu dan mengucapkan salam. Tak ada sahutan sampai akhirnya pintu rumah itu terbuka. Kulihat seorang anak perempuan berusia lima tahun membukakan pintu. Aku terhenyak menatap bola mata bundar anak perempuan itu. Bola mata yang dititipkan dari bola mataku. Aku segera memeluk anak perempuanku yang hampir setahun terpisah dariku.

“Terima kasih Tuhan karena Engkau telah menjawab doa untuk perempuan yang kusayangi dengan mengijinkan aku untuk bersamanya kembali,” kataku sambil menggendong anak itu.

Kurasakan air mata membasahi pelukanku bercampur dengan kerinduan. Kini aku bisa berinteraksi kembali dengan anakku, Rina, anak perempuan yang kusayangi. Telunjuk mungil Rina membawaku ke sebuah kamar. Kubuka pintu kamar itu dan kulihat sesosok perempuan tergolek lemah di ranjang. Senyum menghias wajahnya saat senyumku menyapa wajah tegarnya.

Kuturunkan Rina dari gendonganku dan segera kuraih dan kucium tangannya yang mulai mengeriput. Kualirkan doa dalam genggamanku untuk kebahagiaan bagi perempuan yang kusayangi, ibu mertuaku. Mata sayunya menyiratkan sebuah penyesalan.

“Akhirnya kamu datang juga nak. Gimana kabarmu?” kata-kata sendu mengalir lewat matanya yang berkaca-kaca.

“Saya baik-baik saja bu. Setelah aku terima pesan lewat pesawat telpon tetangga sebelah rumah aku nggak berpikir dua kali untuk datang kesini,” jawabku yang terbias dalam air mata yang menggenang di pelupuk mataku.

“Rima, maafkan ibu ya nak. Selama ini ibu telah memisahkanmu dari orang-orang yang kamu sayangi. Bahkan sampai meninggalnya suamimu, anak laki-laki ibu satu-satunya, ibu masih nggak pernah merestui pernikahan kalian,” kata ibu mertuaku yang meleleh bersama air matanya.

Aku sesenggukan dan kuraih tubuh rapuh yang selalu berusaha tegar itu. Aku tak mampu membendung kesedihanku. Perasaanku campur aduk dalam haru dan bahagia.

“Ibu juga telah memisahkanmu dengan anakmu, saat ibu ragu akan kemampuanmu merawatnya saat sakit,” kata ibu mertuaku sambil sesenggukan.

“Kini ibu telah menyadari kesalahan ibu dan ingin menebus semua kesalahan itu. Makanya ibu minta kamu untuk tinggal di rumah ini bersama ibu dan Rina,” kata ibu mertuaku lagi.

“Sudahlah bu. Yang penting kita sudah bisa berkumpul kembali. Itu sudah menjawab doaku selama ini. Mari kita bersama-sama berdoa untuk kebahagiaan hidup kita selanjutnya,” kataku penuh rasa haru.

Dalam hati aku mengucap syukur atas terjawabnya doaku di setiap sepertiga malam. Dengan penuh rasa sayang aku meraih tubuh mungil Rina sambil memeluk tubuh ibu mertuaku. Perempuan dalam doaku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s