Satu Jiwa Dua Tawa

“Hei, kamu tahu nggak hari ini ulanganku nilainya sepuluh lho. Hahaha,” kataku dengan bangga yang membuat ruangan itu menjadi riuh dengan tawaku.

“Halah, dasar kamu. Sepuluh hasil nyontek aja bangga. Kayak aku dong, biar nilai jelek tapi hasil kerja sendiri. Hehehe,” katanya dalam tawa mengejek.

“Proses nggak penting bung. Yang penting kan hasilnya. Sempurna. Hahaha,” tawaku semakin membahana dalam suka.

“Jiah, kalau aku sih malu dapet nilai bagus tapi hasil dari ketidakjujuran. Aku kan orangnya jujur nggak kayak kamu. Hahaha,” tawa mengejeknya berubah menjadi tawa penuh cibiran.

“Itu kan kamu. Kalau aku sih asik-asik aja tuh. Hahaha,” tawaku semakin tak terkendali.

“Dasar pemalas kamu. Bisa-bisanya bangga dengan kemalasanmu. Padahal itu kan artinya kamu membohongi dirimu sendiri dong. Hehehe,” tawa cibiran seolah berubah jadi tawa sindiran.

“Biarin. Terserah aku dong. Tadi aja di sekolah pak guru bisa aku bohongin kok. Hahaha,” tawaku semakin mengikat sukmaku dalam rasa bahagia di sudut kamar kecil itu.

“Tega banget sih kamu. Kayak nggak pernah belajar sopan santun aja deh? Hehehe,” tawa menusuk yang pernah terdengar di kamar laki-laki berusia tujuh belas tahun itu.

“Siapa suruh pak guru juga tega ngasih kita soal yang sulit-sulit. Coba soalnya gampang kan aku nggak perlu nyontek. Hehehe,” tawaku dalam pembenaran kelakuanku semakin membuat seisi kamar merasa muak.

“Aneh kamu ini. Nggak mungkin dong pak guru ngasih soal yang nggak pernah diajarkan ke kamu. Kamu tidur terus kali waktu dijelasin. Hahaha,” tawa membahana memekakkan gendang telingaku.

“Ah itu sih nggak penting. Yang penting orang tuaku bisa bahagia karena aku mendapatkan nilai yang bagus. Siapa suruh orang tuaku selalu maksa aku untuk bisa sempurna tanpa pernah menghargai ketidaksempurnaanku. Jadi wajar dong kalau aku menempuh berbagai cara. Hahaha,” tawaku terbayang dalam kebahagiaan orang tuaku.

“Waduh. Udah lupa ya kalau satu kebohongan bisa melahirkan kebohongan lain. Pertama kamu bohong pada dirimu sendiri, terus berbohong sama pak guru eh sekarang kamu juga bohong sama orang tuamu. Jangan-jangan kamu bohong juga dalam tawamu saat ini. Hehehe,” tawa yang terdengar sadis kembali memenuhi kamar pelajar SMA yang tengah mencari jati dirinya dalam jiwa mudanya.

Dan, tawa terakhir itu telah membuat tawaku terasa hambar dan membuatku terperangkap pada sebuah kaca lemari di kamarku. Tawa sinis di balik kaca lemari itu masih juga membahana, saat aku mulai berpikir untuk menghentikan tawaku. Akhirnya, aku menyadari bahwa tawaku saat ini adalah sebuah kebohongan. Kebohongan dalam tawa demi sebuah tawa kebahagiaan kedua orang tua. Tawa demi tawa dari wajah dalam cermin yang merupakan sisi lain jiwaku menyadarkanku akan berbagai hal terutama tentang kejujuran. Akupun menutup tawaku dengan niat untuk berkata jujur dan meminta maaf pada kedua orang tuaku dan juga pak guruku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s