Untukmu Perempuan dalam Doaku

“Diam memendam lebih baik daripada bicara mendendam”

Untukmu perempuan dalam doaku,

Tahukah kau saat ini aku kembali bersimpuh di sudut ruangan ini? Sudut ruangan tempat pertama kali aku tertawan dalam auramu. Ya, sudut ruangan bersekat tirai putih yang membuatku bisa bebas mencuri pandang pada wajah sempurnamu. Meskipun tak bisa sempurna aku melihatnya, tetapi sebuah kesempurnaan yang kurasa. Sudut ruangan berukuran tak lebih dari 16 meter persegi itu, telah menjadi saksi getaran cinta dalam setiap doaku. Entah sudah berapa kali aku menghamba dalam doa disana, yang kuingat hampir lima kali sehari aku senantiasa berusaha untuk bisa bertahta di sudut ini. Sama seperti dirimu.

Hei, ini sudah waktunya. Tapi kenapa kau tak kunjung datang jua. Apakah kau sudah bosan bersembunyi di balik tirai putih itu? Atau memang kau tengah tak ada kuasa melawan kodrat dan memaksakan diri untuk bertahta disana? Ah, entahlah. Tapi tak apa-apa, karena aku bisa menghadirkanmu dalam doaku saat ini dan seterusnya.

*Penasaran dengan kelanjutannya? Sabar ya atau dilanjutin sendiri juga boleh..:D*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s