Perjalanan Melabuhkan Perasaan

Every night in my dream
I see you I feel you. . .

Aku terombang ambing dalam dalam setiap alunan kata dalam lirik itu. Getar audio yang merasuk sanggurdi telingaku membawa rangsang ke organ pencernaanku. Isi lambungku menari, asam yang mengalir di dalamnyapun seperti tak kuasa lagi melaksanakan tugasnya. Dan akhirnya, isi perutku keluar dengan sukses melalui rongga pencernaanku.

Mie gelas yang baru saja mampir di saluran pencernaanku kini bertahta dengan mesra di lantai dek kapal penyeberangan itu. Aku terhuyung dan akhirnya terduduk lemas bersandar di pagar buritan KMP Putri Mandalika yang akan mendamparkanku ke bibir pantai pulau Lombok. Kapal ferry ukuran besar itu masih menari diantara cumbuan ombak biru yang terpecah menjadi buih putih saat menghantam badan kapal itu.Perut mualku seperti terjebak dengan sebuah memori tentang tenggelamnya kapal Titanic. Hal ini membuat perjalananku seperti membuatku singgah pada sebuah cerita klasik tentang tenggelamnya sebuah kapal. Cerita itu membuatku terdampar pada puncak kekhawatiran. Kekhawatiran akan kejadian yang bisa saja membuatku bernasib sama dengan tragedi usang itu. Terlebih saat itu aku harus meninggalkan separuh hatiku yang baru saja berlabuh di hatiku.

Ombak besar yang datang menghadang membuat kapal oleng. Badanku bergoyang seirama liukan badan kapal diatas samudera luas membiru itu. Aku berpegangan erat pada pagar besi sambil berusaha memberikan nafas bagi bibirku untuk mengucap doa bagi keselamatan perjalananku. Bukan perjalananku yang pertama sebenarnya, tetapi terombang-ambing pada permukaan samudera hampir lima jam lamanya adalah pengalaman pertamaku. Hatikupun ikut terombang-ambing dalam keraguan kelanjutan hubungan cintaku bersama goncangan kapal itu.

Aku berusaha bangkit dan mencari tempat untuk merebahkan diri. Di atas koran yang aku gelar, aku berusaha memejamkan mata. Namun, sepertinya mataku sedang tidak bersahabat dengan kondisi perutku yang lelah. Berbantal tas ransel yang berisi beberapa lembar pakaian, aku membuka peta pulau Lombok.

“Mampus! Petanya basah oleh air mineral yang tertumpah,” bisikku dalam hati.

Mataku liar menjelajahi setiap aksara yang tertebar di peta yang basah itu. Deretan aksara yang masih asing bagi mataku. Seperti halnya aku bagi orang-orang di sekelilingku yang tengah sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Perutku terasa agak lebih enak setelah aku oles minyak angin. Akupun segera bangkit dan tidur dan membiarkan kakiku membawa tubuhku kembali ke pinggir buritan. Angin laut membelai lembut wajahku saat pandangan visualku tertumbuk pada hamparan pasir putih yang tertimpa hangatnya matahari pagi. Pemandangan yang luar biasa itu bermain dalam imajinasiku.

“Akhirnya sebentar lagi aku akan bisa mandi pasir,” kataku dalam pengembaraan khayalan indah.

Klakson kapal itu mengembalikan anganku ke alam sadarku. Aku bergegas dan kembali ke tempatku semula untuk mengambil barang-barangku. Aku segera meraih tas ranselku dan bergerak menuruni tangga kapal satu persatu. Seperempat jam kemudian aku telah menapakkan sebelah kakiku di pintu masuk bumi Lombok, pelabuhan Lembar. Aura yang belum pernah kurasakan sebelumnya merasuk jiwaku. Asing dan aneh mendengar percakapan penduduk asli yang banyak lalu lalang.

Suara calo angkutan bercampur dengan suara sopir taksi biru menawarkan jasa. Aku masih tak bergeming. Hatiku tertawan oleh kombinasi pantai dan bukit yang ada di hadapanku. Rasa capek melakukan perjalanan darat dan laut selama sehari semalam terbayar sudah. Dan tidak ada yang sia-sia.

Rongga hidungku kembang kempis menghirup kesegaran udara. Aroma pantai begitu menggodaku untuk menyusurinya. Aku buka sepatuku dan kurasakan kelembutan pasir mencium setiap titik di kakiku pada langkah pertama. Langkah pertama sebagai petualang. Rasa capek sedikit demi sedikit hilang. Aku terus melangkah menyusuri pantai itu. Sendiri.

Kesendirianku mengantarkan pada sebuah kapal nelayan. Bersandar pada tiangnya aku bertanya, “Hari ini aku kemana dulu ya?” Ombak besar yang sebagiannya menyapu wajahku memberikan jawaban atas pertanyaanku.
“Senggigi. Ya hari ini aku langsung ke Senggigi aja, sekalian cari hotel untuk menginap.”

Jawaban dari ombak membuat tubuhku kembali terjebak dalam kerumunan aroma tubuh. Di sebuah sudut, sayup-sayup aku mendengar suara tangis anak perempuan. Suara tangis yang mengetuk pintu hatiku. Kuhampiri sumber suara itu untuk memastikan suara siapakah itu.

“Kamu kenapa dik? Kok nangis,” sapaku pada seorang anak perempuan berusia sekitar tujuh tahun terduduk sendiri di sudut dekat toilet umum. Bola mata mungilnya sembab oleh air mata.

“Saya ditinggal sama kakak saya kak,” jawab anak itu dalam isak.

“Ya sudah. Sekarang kakak antar adik ke informasi ya. Biar diumumkan, siapa tahu bisa ketemu dengan kakaknya,” kataku meraih tangan mungilnya.

Setengah jam sejak pengumuman keluar dari corong ruang informasi belum juga menunjukkan hasil. Satu jam telah lewat dalam penantian membuat perutku berirama. Aku biarkan irama itu terus menendang perutku sebelum kakak dari anak ini ditemukan. Dua jam berlalu tanpa menghadirkan tanda sama sekali.

Sampai akhirnya, jam menunjukkan pukul 11. Itu artinya hampir dua jam lebih perjalananku masih sia-sia. Aku masih terduduk di ruang informasi bersama anak itu saat kudengar langkah kaki mendekat. Ternyata dia adalah kakak anak itu. Dia datang dengan membawa souvenir khas Lombok. Barang dagangannya. Setelah berkenalan dan mengucapkan terima kasih, gadis pelabuhan itupun berlalu bersama anak perempuan kecil itu dalam sebuah deretan angka. Akupun bersyukur karena aku telah bisa membuktikan kepada orang tua kekasihku yang selalu menganggapku tidak berguna.

Dalam senyum akupun beranjak meninggalkan pelabuhan itu bersama sopir taksi menuju Senggigi. Aku segera mencari hotel yang murah di sekitar Senggigi. Kuputuskan untuk makan segera makan siang. Rasa kenyang yang berkolaborasi dengan rasa capek menggoda rasa kantukku siang itu. Di ujung tidurku lamat-lamat kudengar suara seorang perempuan.

“Mas, maafkan aku ya. Kayaknya kita sudah nggak bisa bersama lagi,” kata perempuan itu pada sudut hatiku.

“Lho memangnya kenapa? Bukankah kita saling mencintai?” jawabku meragu.

“Cinta saja nggak cukup tanpa restu orang tuaku mas,” jawab perempuan itu, Rina, kekasih hatiku.

Suara alarm yang menjerit memekakkan telinga membangunkan aku. Aku membuka mata dengan degup jantung yang tidak menentu. Tidak menentu atas jawaban kekasih hatiku malam itu. Jawaban yang mengantarkan aku pada sebuah perjalanan ke tempat yang jauh sejauh-jauhnya. Kusingkirkan galau hatiku dan aku mencoba menikmati perjalananku ini. Pantai Senggigi yang indah sedikit bisa melarutkan galauku dalam ombaknya. Dan matahari yang tenggelam di sebuah sudut pantai Malimbu kala senja hari itu seperti menenggelamkan galauku selama ini. Tenggelam bersama lirikanku pada gadis pelabuhan yang berdiri di sampingku.

⌣»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈♡̬̩̃̊‎.m.a.z.m.o.♡̬̩̃̊‎✽̤̈·̵̭̌·̵̭̌«̶⌣

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s