Empat Menit Tiga Cinta

Tangan-tangan yang berpadu lembut dalam irama gending Jawa malam itu menggoda angan untuk larut di dalamnya. Nada-nada diatonis terdengar membahana di setiap sudut aula berhias janur itu. Membius setiap raga yang terpana akan keindahannya. Setiap raga yang senantiasa menghargai karya leluhur bangsa.

Sebuah panggung berdiri megah dengan latar dekorasi yang indah. Sebuah singgasana para raja dan ratu semalam bertahta dengan bahagia di salah satu bagiannya. Empat mata tersenyum bahagia di hari bahagia itu. Gending-gending Jawa merasuk ke gendang telinga setiap tamu yang ada disana.Di belakang panggung di sebuah kamar rias, seorang perempuan tengah dipercantik oleh seorang penata rias. Tak lama polesan-polesan tipis rata memenuhi wajah cantiknya. Perempuan itu adalah Nita, seorang penari Jawa profesional. Tak lama usai sudah prosesi itu. Nita dengan pakaian tari lengkap siap menghibur tamu yang hadir.

Gerakan gemulai Nita membius semua mata yang ada disana. Gerakan demi gerakan seperti menyatu dalam kesedihan Nita. Kesedihan yang disembunyikan dalam setiap senyuman manis dalam keterpaksaan. Rosa tahu itu karena dia bisa merasakannya. Tarian berdurasi empat menit itu usai sudah. Gemuruh tangan yang beradu menutup penampilan Nita. Nita segera melangkah kembali ke belakang panggung. Gerakan lembutnya seperti hilang begitu saja berganti dengan langkah tergesa.

“Ros, kita langsung pulang yuk,” ajak Nita pada Rosa yang sedari tadi memperhatikan Nita dari belakang panggung.

Rosa segera bergegas merapikan perlengkapan kosmetiknya dan segera menyusul langkah Nita. Sambil mengangkat kainnya, Nita melangkah semakin cepat seirama dengan degup jantung Rosa. Degup jantung yang terus berdebar menyaksikan empat menit penampilan Nita.

“Sudahlah Nit. Toh semuanya sudah lewat,” kata Rosa sambil menutup pintu mobilnya.

Mobil merah itupun melaju di jalanan kota yang mulus meninggalkan kesedihan Nita di aula itu. Hanya jejak rodanya yang tertinggal di halaman parkirnya bersama isak Nita.

Rosa berusaha menenangkan Nita yang masih saja terisak. Bulir air matanya melelehkan riasan di wajah sendunya. Kesedihan nampak benar di wajah Nita. Sama halnya dengan Rosa. Bedanya Rosa lebih pandai menyembunyikan perasaannya. Rosa lebih kuat karena ini bukan yang pertama baginya.

“Sudahlah Nit. Kan tadi cuma empat menit kamu tampil di hadapan Bowo,” kata Rosa berhati-hati untuk menjaga perasaan sahabatnya.

“Memang sih Ros cuma empat menit. Tapi kamu tahu nggak kalau tadi itu rasanya seperti ratusan tahun aku tersiksa oleh perasaanku sendiri. Kamu bisa bayangin kan gimana rasanya aku menyaksikan orang yang kucintai bersanding di pelaminan dengan perempuan lain,” kata Nita setengah terisak.

Rosa hanya terdiam dalam deru mobilnya. Suasana hening tiba-tiba hadir diantara keduanya. Tanpa sepatah kata keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Pikiran Nita masih terpaku pada sosok pria yang selama ini dicintainya. Tak beda dengan Rosa. Pikiran Rosa tertuju pada sosok pria yang sama, pria mantan kekasih Nita yang juga sangat dicintainya diam-diam.

“Ah seandainya kamu tahu perasaanku saat ini Nit,” kata Rosa dalam hati. Rosa berusaha tersenyum tanpa tahu arti dari senyuman itu. Senyuman hambar dari seseorang yang terluka.

“Ros,” kata Nita lirih membuyarkan lamunan Rosa.

“Ada apa Nit?” tanya Rosa lirih.

“Kamu tahu nggak, kenapa aku ambil job ini?” tanya Nita sambil melepaskan selendang dan atribut yang dipakainya.

“Emang apaan Nit?” tanya Rosa nyaris tanpa ekspresi.

“Aku hanya ingin melihat kebahagiaan Bowo, meskipun itu cuma empat menit. Empat menit itu sangat berarti bagiku, karena aku bisa melihat langsung kebahagiaan Bowo yang bersanding dengan perempuan pilihan orang tuanya. Itu sudah cukup bagiku,” kata Nita sambil menyeka air mata di sudut matanya dengan selembar tisu.

“Itu juga alasanku Nit mau menemanimu malam ini,” kata Rosa singkat.

Raut wajah Nita tiba-tiba berubah keheranan. Dia sempat ragu-ragu dengan pendengarannya. Keraguan atas jawaban teman karibnya yang tidak pernah dia duga.

“Maksudmu apa Ros?” tanya Nita.

Rosa tergugup karena tidak menyadari jawaban yang telah diucapkan akan menghadirkan tanya dalam diri Nita. Rosa berusaha mengumpulkan kekuatan hatinya yang larut dalam degup jantungnya. Rosa juga berusaha menemukan abjad demi abjad yang terserak di relung sukmanya.

“Nit, asal kamu tahu ya. Jujur saja, sebenarnya aku juga menderita selama empat menit penampilanmu tadi. Seandainya aku belum tanda tangan kontrak kerja, aku pasti takkan sanggup hadir disana,” kata Rosa sambil meminggirkan mobilnya.

Tak terdengar lagi deru mobil itu bersama sepinya hati keduanya. Hening.

“Nit, mungkin saat ini adalah saat yang tepat bagiku untuk menceritakan padamu. Mungkin bagimu empat menit tadi itu serasa seratus tahun, tapi bagiku adalah siksaan batin selama seribu tahun,” kata Rosa.

Rosa menghela napas panjang. Nita hanya bisa memandangi wajah Rosa dengan penuh keheranan.

“Jujur saat ini aku posisinya sama seperti kamu. Bedanya aku lebih bisa menerima kenyataan ini. Sebenarnya empat menit setelah Bowo memutuskanmu, dia langsung menyatakan cintanya padaku. Karena aku mencintainya, akupun menerimanya. Maafkan aku Nita,” kata Rosa sengau dalam isak tangis.

“Jadi selama ini kita mencintai pria yang sama? Oh my God. Kenapa kamu nggak pernah cerita Ros?” kata Nita sambil mengguncang-guncang bahu Rosa.

Rosa hanya terdiam dalam guncangan. Hatinya seketika pecah bersama linangan air matanya. Nitapun tak jauh beda. Air mata mengalir dengan deras di pelukan Rosa.

“Aku hanya nggak ingin menyakitimu Nit. Tapi sudahlah toh semuanya sudah berlalu. Bowo sudah menjadi milik orang lain dan bukan milik salah satu dari kita, karena itu pasti akan lebih menyakitkan,” jawab Rosa terbata-bata.

“Iya Ros. Bagi kita mungkin belum seberapa dibanding hati Bowo yang selama empat menit tadi terbagi menjadi tiga cinta. Semoga Bowo bahagia, karena itu adalah kebahagiaan kita,” kata Nita tak kalah harunya.

Keduanya semakin erat berpelukan. Pelukan dua orang sahabat yang sama-sama merasa tersakiti oleh seorang pria yang sama. Mereka berbagi kesedihan dalam setiap derai air mata yang mengalir. Mengalir bersama hati yang mencoba menemukan makna sebuah keikhlasan dalam merelakan kepergian seseorang. Seseorang yang pernah memberikan cinta yang sama untuk mereka berdua.

⌣·̵̭̌✽̤̥̈̊·̵̭̌⌣

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s