Katak Berkalung Berlian

Seutas tali serupa titik tenggelam di dasar sungai berbatu. Sepasang kaki menjejak kuat di atas sebuah batu hitam yang licin. Kaki yang masih goyah dari dalam hati. Mencari pijakan yang tepat agar bisa meraih seutas tali nylon warna biru yang ujungnya serupa lingkaran. Tali itu bergoyang tanpa terhanyut dalam arus kecil sungai itu.

Sepasang kaki itu tampak makin goyah dalam rasa tidak percaya. Tidak percaya atas cerita cinta nan duka. Rinai hujan pagi itu semakin menguatkan rasa dalam aroma putus asa. Putus asa yang mengikat jiwa dan membunuh rasa percayanya di atas sungai tepi desa itu.

Kedua tangan kekarnya berhasil meraih ujung tali melingkar itu. Diraih dan mencoba mengamankannya dari terjangan air yang lembut menyapa kakinya. Tali itupun akhirnya menyatu di lehernya dan tiba-tiba menjadi serupa kalung berlian yang menggoda jiwa lelahnya untuk tidak melepaskannya. Senyum menggurat terlukis di sudut bibir basah dalam terjangan rinai hujan. Rinai hujan yang menyembunyikan tatapan kosong dan melarutkan air mata pada kelopaknya.Kilatan cahaya yang menari di bawah gulita angkasa semakin menguatkan rasa percaya pada ketenangan hidupnya setelah ini. Ketenangan hidup yang dia percaya mampu membebaskan jiwanya dari seluruh nestapa. Rasa percaya yang dia percaya. Padahal rasa itu hadir dari ketidakpercayaannya terhadap kesetian separuh jiwanya.

Kedua tangannya masih memegang sisi kalung berlian di lehernya. Berharap rinai hujan semakin membabi buta dan meluapkan air sungai untuk menghanyutkan hatinya yang terluka. Terluka yang membuatnya tak mau terluka lagi. Kepercayaannya pada keindahan dunia mulai luntur bersama rinai hujan yang jatuh dan menyatu dengan arus air sungai.

Raganya sedikit bergetar saat nyanyian katak di tepi sungai menggetarkan daun telinganya. Matanya nanar mencari sumber suara. Pandangan tertumbuk pada sepasang katak yang tengah memadu kasih. Pandangan lekat itu tak bisa memungkiri hati kecilnya, bahwa sebenarnya dia masih percaya adanya cinta. Meskipun bukan cinta dari ketidaksetiaan separuh hatinya yang telah meninggalkannya.

Sepasang katak itu semakin mengumbar kemesraan di sudut pandangannya. Seakan ingin memberi tahu betapa indahnya hidup bila ada cinta. Cinta dari yang mencintai dan dicintai. Desah menggoda katak betina membuat katak jantan percaya bahwa dia bisa memiliki katak betina itu selamanya.

Air sungai tiba-tiba mengalir deras hampir sampai lututnya dan membuat batu tempatnya berpijak tak lagi nampak. Dia masih nampak berdiri kokoh saat seekor katak hanyut dan menabrak kaki kanannya. Seekor katak itu terus hanyut bersama aliran sungai dan hilang entah kemana.

Di sudut pandangnya yang lain, seekor katak tampak berdendang di tepi sungai. Tepi sungai tempat sepasang katak tadi memadu kasih. Ternyata itu bukanlah dendang kesedihan. Tetapi dendang agar didengar oleh katak lainnya. Seekor katak meloncat mendekati dendang itu. Dan keduanyapun akhirnya memadu kasih.

“Byurrr!”

Raga yang sedari tadi berdiri di atas batu arus sungai itupun tercebur ke dalam sungai. Kalung berlian terlepas di dasar sungai. Kedua tangannya mengayuh berusaha meminggirkan raganya. Kedua kakinya menjejak-jejak air berusaha menyelamatkan diri. Dalam dendang katak yang tengah memadu kasih itu dia berhasil menyelamatkan diri. Raga basahnya terdampar di tepi sungai dalam rasa percaya akan kekuatan cinta sang Maha Pencipta. Kekuatan cinta yang ditunjukkan oleh sepasang katak yang masih tetap tabah untuk mencari pasangan lagi setelah pasangannya hanyut.

“Astaghfirullah!”

Asma-asma suci terus mengalir dari bibirnya yang mulai membiru. Sejenak dia mencoba menghirup udara yang terjebak dibalik rinai hujan. Udara yang membuatnya kembali percaya bahwa hidup terlalu indah untuk disia-siakan. Udara yang memenuhi paru-parunya membuat raga letihnya menemukan kembali kekuatannya. Bangkit dalam seulas senyum menatap sepasang katak yang masih larut dalam sebuah percintaan.

Perlahan namun pasti kakinya menjejak tepi sungai. Mendaki sedikit untuk bisa mencapai badan jalan. Di sepanjang pendakian kecilnya, daun-daun bergesekan basah dalam sepoi, membuatnya percaya bahwa daun-daun itu larut dalam bahagia melihat dirinya membatalkan niatnya.

Tak sampai sepertiga putaran jarum pendek sebuah arloji, dia sudah berhasil mencapai badan jalan. Seperempat jam yang akhirnya bisa mengembalikan kepercayaan dirinya, bahwa dirinya lebih berguna bagi sesama daripada mati sia-sia. Pandangan matanya merayunya untuk melangkah mendekati pinggir jembatan bercat biru. Langkah kakinya terhenti saat kedua tangannya sibuk membuka ikatan sebuah tali nylon warna biru. Akhirnya ikatan itupun terbuka. Dengan sigap kedua tangannya menarik dan menggulung tali itu. Senyumnya terikat pada ujung tali yang melingkar. Ujung tali melingkar yang tenggelam di dasar sungai bersama kalung berliannya. Dalam pelukan hujan diapun melangkah kembali meniti masa depannya dalam rasa percaya, bahwa dia bisa menemukan kembali sosok pengganti separuh hatinya yang lebih memilih orang lain untuk menjadi pendamping hidupnya.

⌣»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈♡̬̩̃̊‎mazmo♡̬̩̃̊‎✽̤̈·̵̭̌·̵̭̌«̶⌣

Advertisements

6 thoughts on “Katak Berkalung Berlian

    1. Amien..tapi sayangnya istriku masih betah bertahta di ujung bianglala senja dan belum berkenan untuk turun dan memberikan selendang merah mudanya untukku..hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s