Untuk Bagian Terbaikku #1

“Selamat pagi pak,” kata anak-anak yang tengah duduk rapi di kelas paling ujung itu.

“Selamat pagi juga anak-anak,” jawabku kalem seperti biasa dan langsung menanyakan PR pada mereka.

“Oya pak, saya sudah selesai mengerjakan tugasnya,” kata seorang anak di deretan meja paling belakang. Seorang anak laki-laki yang terkenal paling nakal di kelas ini.

Aku terdiam tidak menyahut. Seperti biasanya. Sikapku membuat anak itu terdiam. Kusuruh seorang anak perempuan si bintang kelas untuk maju. Dengan cekatan dia segera menuliskan jawaban soal eksakta di papan white board kelas itu.

“Bagus Dina, yang lain yang masih salah silahkan jawabannya segera dibetulkan. Dina, silahkan duduk kembali,” kataku kepada Dina yang masih termangu di depan mejaku.

Kulihat anak-anak sibuk merevisi pekerjaannya. Tapi ada seorang anak yang terlihat tidak sibuk membetulkan jawaban. Anak paling nakal di kelas yang duduk di deretan meja paling belakang, Tono.

“Tono! Kenapa kamu tidak membetulkan jawabanmu?” teriakku dari depan kelas.

Tono terlihat kaget, sambil terbata-bata menjawab, “Maaf pak tapi jawaban saya sudah benar, jadi nggak perlu diperbaiki lagi.”

“Apa? Jawabanmu sudah benar?” tanyaku dalam nada tidak percaya.

“I iya pak,” jawab Tono seperti ketakutan menjawab pertanyaan yang kulontarkan dengan nada tinggi.

“Mana coba! Bawa kesini biar pak guru periksa,” kataku lagi.

Tono melangkah ke depan dan menyerahkan buku tugasnya. Aku amati jawabannya. Jawabannya tersusun secara logis dan benar. Kecurigaan seketika menghantuiku.

“Kamu pasti nyontek pekerjaan Dina. Iya kan?” kataku dalam rasa tidak percaya.

“Tidak pak. Saya mengerjakannya sendiri,” jawab Tono sambil menyembunyikan pandangan matanya dari hujaman tatapanku.

“Nggak mungkin kamu bisa ngerjain soal ini. Betul kan Tono nyontek pekerjaan kamu Dina?” tanyaku pada Dina yang juga tengah menunduk.

“Maaf pak, sebenarnya bukan Tono yang nyontek pekerjaan saya, tetapi saya yang nyontek pekerjaan Tono,” jawab Dina masih tertunduk.

Jleb! Jawaban Dina seperti membuatku kehilangan tempat berpijak. Aku mengecilkan volume suaraku saat aku berkata, “Benar begitu Tono?”

“Iya pak,” jawab Tono pelan. Meskipun pelan tetapi kejujuran tidak dapat disembunyikan dari ucapannya. Kejujuran yang membuahkan penyesalan di hatiku.

“Pak guru minta maaf ya, karena sudah berprasangka buruk padamu Tono. Terus belajar ya. Pak guru bangga sama kamu,” kata-kataku mengalir jujur dari lubuk hatiku. Kata-kata yang membuat Tono berlalu dari pandanganku.

Well, pembaca ternyata memang benar adanya pepatah yang mengatakan jangan melihat buku dari sampulnya saja. Aku sudah merasakan sendiri, hanya gara-gara aku melihat sampulnya saja, aku hampir saja membunuh karakter seorang anak manusia yang bahkan tak pernah aku sadari keberadaannya.

Tapi itu cerita lama saat aku masih seorang pemula. Kini, aku semakin mengerti bahwa anak-anak adalah sosok mereka itu sendiri. Kita tidak memaksakan mereka agar menjadi seperti keinginan kita. Mereka bukanlah sosok dewasa yang terjebak dalam raga kecil. Tapi mereka adalah sosok itu sendiri. Sosok yang menyimpan kelebihan dibalik sesuatu yang orang dewasa anggap sebagai kekurangan. Padahal mereka tengah berkembang dalam dunia yang diciptakannya.

Semua tergantung pada cara kita mendukung mereka untuk menemukan jati dirinya. Dengan kepercayaan dalam senyuman kita, terbukti mereka bisa menemukan kepercayaan diri. Anggapan yang salah terhadap sosok anak yang berbeda dengan lainnya terkadang menutup logika kita akan kebenaran yang ada. Kita terlalu terkungkung oleh stigma anak nakal. Labelisasi yang sebenarnya sangat tidak tepat. Karena mungkin dengan cara itu, Tono bisa menemukan dunianya yang hilang. Kitapun berkewajiban membantu Tono untuk menemukannya. Berikan kepercayaan dan dia akan membuktikan kepercayaan yang kita berikan dengan hasil terbaik. Dan berkat kepercayaan dan kesabaranku membimbingnya, kudengar kabar terakhir Tono sekarang sekolah di sebuah sekolah favorit di kotaku.

⌣»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈♡̬̩̃̊‎mazmo♡̬̩̃̊‎✽̤̈·̵̭̌·̵̭̌«̶⌣

Sudut Kelas, 16 April 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s