Sayap Hitam Tengah Malam

⌣·̵̭̌✽̤̥̈̊·̵̭̌⌣

Aku serupa kelelawar. Tetapi batas pendengaranku tak seperti kelelawar. Batas penglihatankupun tak juga sama. Dan akupun tak bersayap. Yang membuatnya serupa adalah aku dan kelelawar sama-sama selalu menjadi bagian terindah dari malam.

Tak jauh beda dengan malam ini, sayap kelelawar menuntunku untuk melangkah menyusuri jantung malam. Langkahku terhenti di sebuah kafe remang-remang. Sementara kelelawar itu pasti tengah sibuk berpesta di kafe pohon berbuah ranum. Akupun melepas sayapnya dan membiarkan tubuhku tersudut di kursi kafe.

Kafe bernuansa oriental itu memang selalu buka sampai dini hari. Sepertinya pemilik kafe tahu benar bahwa di dunia ini banyak orang yang sering mengalami gangguan tidur. Seperti aku. Dan itu adalah peluang usaha bagi orang-orang yang memanfaatkan kekurangan orang lain. Meskipun kenyataannya adalah sama-sama saling memanfaatkan.

“Eh mas Romi, mau pesan apa mas? Seperti biasa ya?,” pelayan kafe itu menyapaku dengan ramah.

Aku menjawabnya dengan sebuah anggukan dalam senyuman tipis. Pelayan itu berlalu dan membiarkan sedikit rasa bingung bersemayam dalam hatiku. Kebingungan yang membuatku bersandar pada sandaran kursi besi berlapis busa kafe itu dalam helaan nafas. Bukan kebingungan akan sikapnya tetapi kebingungan akan tutur katanya.

“Kok bisa ya setiap malam orang itu selalu berpura-pura bahagia dalam tutur kata. Nggak mungkin lah dia nggak punya masalah. Tapi tetep aja dia bisa berlaku seperti itu. Hebat,” bisikku dalam hati.

Ujung jarum pendek yang berimpit dengan jarum panjang menjebakku dalam sebuah rasa iri. Rasa iri yang selalu hadir saat di hadapanku deretan tombol-tombol itu mengajak jari-jariku untuk bersenggama di setiap tengah malamku. Meja kafe yang cukup besar itu membuatku lebih bebas untuk menciptakan rasa iri menjadi sebuah karya.

“Ini mas. Kopi hitam dengan sedikit gula. Seperti biasanya. Selamat menikmati,” kata pelayan itu.

Aroma kopi luwak kesukaanku menggoda indera penciumanku dan merangsangku untuk segera mencecapnya. Indera penciumanku mengirimkan pesan bahwa pelayan itu telah berlalu setelah meletakkan sebuah lilitan kabel di meja berlapis aneka produk barang itu.

Aku masih terdiam, tetapi aku tahu maksudnya, karena kabel rol itu adalah penyelamat malamku saat laptopku kehabisan dayanya untuk menemani malamku. Dalam senyum aku kembali mengangguk. Selang beberapa menit, aku melihat sekelebat bayangan hitam yang mengantarkan aku pada sebuah ide untuk membunuh rasa iriku.

“Kelelawar. Ya, kelelawar. Itulah tema malamku,” teriakku dalam hati.

Jemariku mulai menari diatas deretan tombol-tombol berlukis abjad saat bayangan hitam itu tak lagi nampak. Bayangan hitam itu berlalu dan meninggalkan sayap hitamnya pada jari-jariku. Sayap itu terus terkepak dan membawa jariku berlabuh pada sebuah tombol berhias abjad A. Sebuah awal yang bagus aku rasa. Meskipun hanya satu abjad tapi memiliki berjuta makna bila dirangkai dengan abjad lainnya.

Sayap hitam yang melekat di jari-jariku terus menari tanpa pernah peduli dengan beberapa orang yang juga tengah menikmati rayuan tengah malam itu. Seakan berbisik mereka tertawa diantara gurauan-gurauan yang tercipta. Mungkin mereka tengah menertawakanku. Lelaki kurus berkalung syal hitam dan berbalut jaket tebal, setebal lensa kacamata yang kupakai.

Sepoi-sepoi angin malam yang basah membuat kacamata tebalku seperti berembun. Kulepaskan sejenak sayap hitam kelelawar di jariku. Jari-jari itupun berpindah ke gagang kacamataku. Dalam pandangan buram dan kabur, aku meraih selembar tisu dan berusaha membersihkan kedua lensa yang terpasang dalam bulatan frame-nya.

Kukenakan kembali kacamataku dalam siraman cahaya temaram lampu kafe. Kutemukan kembali abjad-abjad yang sempat menghilang, menghilang dalam bayangan hitam kelelawar yang beterbangan dalam pikiranku. Seperti seekor kelelawar yang menemukan mangga ranum di kegelapan malam.

Aku kembali fokus dan membiarkan ideku mengalir dalam tarian sayap hitam jari-jariku. Kububuhkan abjad A yang tadi sempat singgah di otakku. Kebekuan malam tak mampu membekukan keenceran otakku. Abjad demi abjad terus tersusun rapi dalam setiap tarian jemari.

Aku Ingin Seperti Kelelawar

Sederet kalimat yang mewakili hati dan perasaanku malam ini. Sejenak aku tertegun dalam diam, saat menatap gulita langit malam. Gelap dan kelam, segelap dan sekelam hidupku saat ini. Saat semua yang indah tercerabut paksa dari perjalanan hidupku. Aku hanya bisa mendesah dalam pasrah toh semuanya sudah berlalu.

Hampir jam setengah satu, saat angin malam berhembus masuk ke telingaku dan membuat tubuh kurusku bergetar. Angin yang masuk ke telingaku itu membawa kembali ideku yang sesaat beterbangan bersama angan kelamku. Otakku bekerja dan membuat jari-jariku menemukan kelanjutan dari deretan kata yang sudah tercipta.

Aku ingin seperti kelelawar. Kamu tahu nggak kenapa aku ingin seperti kelelawar? Memangnya apa sih kelebihan kelelawar? Kamu pasti tahu, tapi tak pernah menyadarinya. Menyadari bahwa semua makhluk yang diciptakan oleh-Nya memiliki kelebihan masing-masing. Dan aku mungkin salah satu yang menyadari itu. Dari kelelawar aku bisa belajar banyak tentang berbagai hal. Aku bisa belajar menaklukkan rintangan agar bisa tetap melanjutkan kehidupan. Meskipun di tengah gulita malam menjelang. Bagi kelelawar gulita malam tak lagi menjadi sebuah rintangan, karena kelebihannya. Tak seperti aku, yang mengembara di tengah malam untuk sembunyi dari rasa tidak percaya diri akan keterbatasanku, terutama keterbatasan dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan sosok-sosok yang lain setelah kecelakaan yang menimpaku. Dan kelebihan itulah alasanku kenapa aku ingin seperti kelelawar.

Sesak kurasakan saat udara malam memenuhi paru-paruku. Kuhentikan tarian sayap hitam sejenak untuk membiarkan indera penciumanku menikmati aroma kopi luwak yang kepulan asapnya mulai berkurang. Berkurang terbawa dinginnya angin malam. Aroma itupun membiarkan bibirku mencecap larutan hitam dalam cangkir porselen itu. Cecapan pertama langsung membuat jantungku berdetak lebih cepat dan membuatku terjaga dari rasa kantuk. Malam telah setengah jam berlalu dari setengahnya saat samar-samar aku mendengar suara seseorang.

“Mas Romi! Mau ditambah lagi kopinya?” tanya pelayan kafe, yang aku tahu namanya Rio dari deretan abjad yang terjahit rapi di baju merahnya.

Dalam samar aku menggeleng pelan, karena memang kopiku belum habis setengahnya. Kulanjutkan lagi rasa iriku pada kelelawar dalam tulisan tanpa pernah menghiraukan sosok-sosok yang berlalu lalang di jalanan malam.

Aku ingin seperti kelelawar. Kamu tahu kenapa? Karena kelebihannya pastinya. Kelebihan dalam mendengar rangsang suara yang membuatnya peka terhadap gerakan sekecil apapun di dekatnya. Itu yang membuatku iri. Nggak heran kan kalau aku sungguh ingin seperti kelelawar?

Belum juga aku menyelesaikan paragraf itu, air mataku menetes bersama embun malam. Setiap kata dalam deretan kalimat itu membuatku tak kuasa lagi menahan hatiku yang terasa mulai pecah menjadi air mata. Air mata yang membawaku kembali ke suatu masa, saat tengah malam itu aku hampir menabrak bayangan hitam yang berkelebat di depanku, kelelawar yang akhirnya mati sia-sia dengan sayapnya yang patah terlindas ban motorku. Keseimbanganku goyah, motorkupun roboh bersama tubuhku yang hampir lebur membentur sebuah batu besar. Kejadian singkat yang membuahkan derita panjang. Derita panjang yang membuatku selalu merasa iri dengan seekor makhluk yang bernama kelelawar. Untung saja rasa iri itu tidak berubah menjadi kebencian dalam diriku. Justru menjadi sumber inspirasiku karena kelelawar yang mati tertabrak itu telah memberikan sayapnya untuk aku pasang di jari-jariku.

Sedikit demi sedikit tengah malam mulai bergeser menuju dini hari. Akupun menggeser tubuhku dari kursi di sudut kafe itu setelah kukemas air mata bersama cerita yang belum berujung. Aku segera membayar bill pada kasir dan beranjak meninggalkan kafe itu. Langkahku terhenti di depan gerbang kafe saat ada seseorang yang menepuk pundakku.

“Mas Romi ini ada barangnya yang ketinggalan,” kata sebuah suara samar di balik punggungku.

Aku menoleh ke belakang dan kulihat Rio tengah menyodorkan sesuatu. Aku menerimanya dan memasangkan alat bantu dengar itu di telingaku sambil berkata, “Terima kasih Rio.” Akupun menjabat tangan Rio yang menjabat erat jari-jari yang memakai cincin berhias sayap hitam kelelawar, jari-jari tanganku.

⌣»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈♡̬̩̃̊‎mazmo♡̬̩̃̊‎✽̤̈·̵̭̌·̵̭̌«̶⌣

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s