Batas Datang Bulan

⌣·̵̭̌✽̤̥̈̊·̵̭̌⌣

Malam menggigil dalam serbuan angin kegelapan. Kegelapan yang membayangi hariku meskipun kala siang menjelang. Terutama saat datang bulan seperti malam ini. Datang bulan yang membuat aku kembali meregang sampai puncak tak tertahankan. Puncak yang membuat aku kembali hadir dalam kehidupan gadis kecil itu. Kehidupan gadis kecil yang seharusnya bisa terbebas dari segala yang menyiksa, termasuk aku.

Tapi aku telah merenggut gadis kecil itu dari taman bermainnya senja itu. Aku penyebab atas semua perubahan sikap dan tingkah laku gadis kecil itu. Tapi aku bisa apa. Untuk sekedar merangkai kata saja aku tak mampu. Apalagi untuk menghiburnya agar dia tak ingat lagi kejadian saat datang bulan malam itu. Namun aku hadir begitu saja dalam kehidupannya dan membuat kehidupannya semakin kelam. Hadirku telah merampasnya dari koloni canda dan tawanya. Bukan itu saja, bahkan aku juga yang menyebabkan gadis kecil itu kehilangan dunia kecilnya.

Dunia kecil tempat dia bersenandung dalam ceria dan berbagi suka dalam setiap putaran harinya. Kini dunia kecil itu telah sirna. Salahku kah? Atau salahnya sosok yang telah membuat aku ada? Yang jelas salah siapapun itu harus ada yang bertanggung jawab pada kondisi gadis kecil yang kini tersudut di kamar menggigil.

Aku merasa bersalah saat dalam setiap derai air matanya adalah sebuah kenangan. Kenangan buruk yang telah mencampakkannya dari keindahan. Keindahan bulan yang membayang di raga mungilnya yang menyelinap dari balik jendela bukan lagi sebuah keindahan baginya. Aku telah menutup keindahan itu dengan sosokku yang tak pernah mau menjauh darinya. Tak mau jauh yang membuat gadis kecil itu kian rapuh. Raganya kian lusuh senyumnya pun semakin membuatnya merasa jenuh. Jenuh akan kehidupan dan jenuh akan kehadiran sosok lain di sekelilingnya. Kecuali aku.

Raga mungil itu hampir terlempar dari kewarasannya saat aku mematuk kepalanya dengan kuat dan hampir membelah tembok tempatnya bersandar. Di kamar bernuansa pink itu hanya ada dia dan aku. Keadaan itu membuatku bebas melakukan apa saja. Termasuk menendang-nendang perutnya dan membuatnya berguling-guling dan menangis dalam bayangan sosok laki-laki yang dikenalnya.

Laki-laki itu adalah ayah tirinya. Laki-laki yang telah melemparnya ke padang gersang keputusasaan. Malam itu, saat datang bulan. Bulan yang datang saat pertama aku hadir dalam setiap aliran darahnya sampai bulan-bulan yang datang berikutnya. Selama itu aku mengikatnya sampai dia putus asa dan meracuninya sampai dia terkapar tak berdaya. Bukan itu saja, aku juga sering mencekiknya sampai dia hampir kehilangan napas. Meskipun sebenarnya itu yang dia inginkan. Aku bahkan telah membuatnya terjatuh di dasar jurang pengharapan.

Sampai akhirnya, beberapa bulan tak lagi datang. Batas datang bulan menghadirkan sosok lembut dalam kasih sayang dan doa. Kasih sayang dan doa dari ibu kandungnya yang membuatku perlahan-lahan menjauh dari kehidupannya karena sebenarnya aku memang tak seharusnya membuat hidupnya lebih menderita lagi. Cukup penderitaan fisik akibat kebejatan ayah tirinya saja yang kini telah menjalani kehidupan baru sebagai terpidana. Perlahan aku semakin menjauh seiring senyumnya yang mengalir indah bersama tatapan rembulan malam itu.

Batas datang bulan telah habis dan tak berarti lagi baginya. Membinasakan aku, trauma yang selama ini menderanya, dari kehidupannya dalam sebuah senyuman atas pengharapan untuk menemukan kembali dunia kecilnya.

⌣»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈♡̬̩̃̊‎_m.a.z.m.o_♡̬̩̃̊‎✽̤̈·̵̭̌·̵̭̌«̶⌣

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s