Karma Purnama Kesembilan

⌣·̵̭̌✽̤̥̈̊·̵̭̌⌣

Darah kental masih menetes di jalan sempit itu. Darah segar dari seonggok daging yang masih berwarna merah dalam sebuah kardus usang. Terbuka dan sobek di beberapa bagiannya. Menumpuk pada tumpukan tempat sampah sudut kota yang sunyi. Di dekatnya sederet gigi bertaring tajam menatapnya nanar. Di ujung mulutnya darah juga menetes. Dengus napas ciptakan uap di tengah malam berhiaskan purnama.

Aku terduduk kaku di bawah purnama yang terhalang bangunan tempatku bersandar. Tak ada ketakutan sedikit pun di raut wajahku. Ekpresiku datar seperti membiarkan semua itu terjadi. Aku hanya bisa pasrah karena memang itu balasan untukku. Aku masih tak bergerak dalam sepinya malam.

Aku hanya menatap tatapan mata rakus yang masih kokoh berdiri sambil menggoyangkan tubuhnya. Dengan kekuatan taringnya dia kembali mencabik-cabik seonggok daging itu. Tetapi dia tidak cukup tangguh untuk mencabik-cabik hatiku. Justru aku yang telah membuat hatinya robek.

Hatinya yang robek karena perbuatanku yang telah menghilangkan nyawa buah hatinya. Dengan tanganku sendiri. Hanya karena jeritannya yang selalu mengganggu lelapku tiap malam. Tiap malam dengan disaksikan oleh janin yang berlindung dalam rahim lemahku. Di rumah kardus ujung jalan sempit itu. Rumah kardus saksi bisu saat seorang laki-laki yang baru aku kenal telah merenggutku dari keindahan duniaku.

Kehilangan keindahan dunia yang akhirnya melahirkan penyesalan yang mendalam. Penyesalan yang tidak akan pernah bisa aku titipkan di ujung malam yang akan menghilang dengan hadirnya pagi. Penyesalan membuat kehidupanku terpuruk dalam kehidupan yang teruk. Tanpa tempat tinggal menetap. Tanpa orang-orang yang bisa membantuku bangkit saat aku terjatuh. Sendiri. Ya hanya sendiri di rumah kardus yang sudah hampir roboh.

Malam ini adalah malam kesembilan saat purnama datang kembali meronakan bumi malam. Malam kesembilan purnama yang seharusnya membuatku menjadi wanita yang paling bahagia. Bahagia karena hadirnya seorang buah hati. Tapi tidak bagiku. Keterbatasan yang aku miliki telah menutup tangis buah hatiku. Malam purnama tak juga terpecahkan oleh tangis seorang bayi. Sampai aku sadari kalau bayi itu tidak bernyawa sejak dalam persinggahan sementaranya.

Sampai akhirnya, malam ini tubuhku yang mulai kaku tak kuasa mengusir kerakusan yang nampak di depanku. Kerakusan dari seekor anjing yang telah mencabik-cabik bayi tak bernyawa yang baru saja aku lahirkan. Sama seperti saat aku membunuh anaknya satu purnama yang lalu di tumpukan sampah itu.

Pada gigitan terakhirnya di ujung taringnya yang runcing, arwahku melayang meninggalkan ragaku yang terduduk kaku bermandi darah. Karma malam itu mengantarkan arwahku melayang ke kehidupan baru untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatanku di dunia.

⌣»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈♡̬̩̃̊‎_m.a.z.m.o_♡̬̩̃̊‎✽̤̈·̵̭̌·̵̭̌«̶⌣

Advertisements

3 thoughts on “Karma Purnama Kesembilan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s