Skala Nyawa

“Cepat angkat!”

Aku dan beberapa orang pun mengangkat tubuh yang tergeletak di bawah reruntuhan jembatan. Berdarah dan beberapa bagian anggota tubuhnya terpisah dari badannya. Sekarat. Ada tiga sosok di bawah reruntuhan jembatan penghubung yang ambruk itu.

“Bawa ke mobil!”

Aku menuruti instruksi itu. Aku angkat sesosok mayat. Air mataku mengalir deras saat aku tahu sosok itu adalah adikku, anggota keluargaku satu-satunya. Lengkap dengan seragam sekolahnya. Sekarat. Penyesalan tiba-tiba menyeruak saat aku teringat aku telah memaksanya untuk berangkat sekolah.

Kini adikku terbujur di dalam mobil ambulans yang membawanya ke rumah sakit. Aku mendampingi dan berdoa dalam penyesalan. Dari balik kaca aku melihat desaku telah luluh lantak dilanda gempa dengan kekuatan 5,9 skala Richter.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s