Dilema Rasa di Ujung Malam

Botol-botol beraneka warna dan bentuk menjadi saksi hingar bingar musik malam itu. Seorang wanita muda usia belasan tersudut di sofa coklat ruangan itu. Cahaya warna warni bergantian membias di bola mata mungilnya. Warna warni yang tak seindah perjalanan hidupnya. Perjalanan hidup seorang gadis muda yang dipaksa menjadi dewasa dari usia sebenarnya karena keterpurukan ekonomi keluarga.

Bibir mungilnya mencecap minuman yang tersaji di depannya. Beberapa puntung rokok telah menemaninya sepanjang malam Minggu ini. Puntung rokok seorang lelaki muda, manajer kafe, yang selalu setia menemaninya dan baru saja pamit meninggalkannya untuk suatu alasan. Sesekali dia membetulkan letak rok hitam mininya yang senada dengan stokingnya. Dihentak-hentakkannya sepatu hak tingginya mengikuti dentuman musik. Kepalanya mengangguk-angguk seakan ingin menumpahkan segala beban pikiran yang ada.

Pandangan visualnya terantuk pada sosok-sosok yang tengah menikmati kesenangan sesaat itu dengan berbagai macam gaya. Tua muda, laki-laki dan perempuan beradu gerakan seiring musik yang terus menjerit. Aroma minuman bercampur dengan keringat menambah kelam suasana malam. Bahkan beberapa diantaranya sudah berada di ambang batas kesadarannya. Sepertinya tak ada lagi batas antara suka dengan dosa.

Malam itu adalah malam Minggu ke-enam dia kembali larut dalam kehidupan malam. Suasana malam itu tiba-tiba terasa berbeda. Hingar bingar musik hilang bersamaan dengan masuknya beberapa orang berseragam coklat. Razia. Gadis muda itu tampak pasrah seandainya dia harus kena razia malam itu. Dan ternyata malam itu dia menjadi bagian dari beberapa gadis muda yang terkena razia. Dimatikannya puntung rokok yang belum habis setengahnya.

Dia bersama dengan beberapa gadis muda lainnya digiring petugas ke markas, karena masih di bawah umur. Gadis-gadis muda yang semuanya adalah Pemandu Lagu itu, tertunduk lesu di mobil petugas yang mengangkut mereka. Termasuk dia. Dia juga tertunduk dalam perasaan yang bercampur aduk. Hingar bingar musik kembali pecah saat petugas selesai melaksanakan tugasnya.

Jarum pendek menunjuk angka dua, saat mereka menginjakkan kaki di markas wilayah hukum tempat kafe itu berada. Dia langsung digiring ke ruang kepala, sementara yang lainnya digiring ke ruang penyidik. Di dalam sebuah ruangan mereka bergantian menjawab pertanyaan yang diajukan penyidik.

Di dalam ruang kepala, dia terbenam dalam dua perasaan. Perasaan senang dan sedih.

“Selamat Sinta. Kamu sudah menjalankan tugasmu dengan baik,” kata kepala yang bernama Reni.

“Kami mengucapkan terima kasih atas kerja samanya,” kata ibu Reni lagi sambil menyodorkan sebuah amplop.

“Iya bu sama-sama. Saya juga mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan,” jawab Sinta.

“Terus bagaimana nasib teman-teman saya Bu?” tanya Sinta sambil memasukkan amplop ke dalam tas kecilnya.

“Berdasarkan informasi dari kamu, karena mereka semua masih di bawah umur, mereka akan kami pulangkan ke keluarga di daerah asal masing-masing. Kami juga akan mengusut tuntas kasus perdagangan anak ini,” jawab ibu Reni tegas.

“Syukurlah Bu, kalau begitu. Semoga bisa diusut dengan tuntas dan bisa ditemukan dalangnya,” kata Sinta.

“Nah, sekarang kamu pulang diantar anggota saya. Salam sama ibu kamu semoga cepat sembuh. Semoga uangnya cukup untuk membantu biaya pengobatan beliau,” kata ibu Reni sambil mengantarkan Sinta keluar ruangan.

Sinta segera pamit dan tanpa pamit pada teman-temannya yang masih diinterogasi, Sinta masuk ke mobil petugas untuk diantar pulang. Dalam gelisah Sinta meninggalkan markas itu. Matanya tertumbuk pada sebuah papan nama kafe saat mobil itu melewatinya. Kafe tempat dia ditugaskan mencari informasi tentang gadis-gadis seusianya yang dipekerjakan di sektor berbahaya.

Sepanjang perjalanan pulang, pikiran Sinta tidak pernah lepas dari bayangan seorang laki-laki. Manajer kafe yang mencintainya apa adanya. Laki-laki yang selama enam minggu telah membuatnya merasakan keindahan semu dunia malam. Rasa cintanya yang besar pada laki-laki itu membuat Sinta tak mampu membuka informasi kalau laki-laki itu adalah dalang dari praktik perdagangan anak di kafe itu. Sinta pun pasrah dalam gelisah. Terjebak diantara cinta dan tugas mulia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s