Bunga Senja Terakhir

Warna kuning, hijau, dan merah menghiasi sebagian bumi merah di senja yang merekah. Tanpa adanya konfrontasi warna-warna itu berbagi dan saling mengisi. Mengisi untuk memberi keindahan pada sesuatu yang sangat berarti. Setidaknya sangat berarti bagiku.

Aku yang saat ini sebatang kara sepertinya tak bisa lepas dari rayuan warna-warni yang menggoda itu. Tanganku bergerak lincah diantara dahan-dahan berduri. Satu per satu bunga-bunga indah warna-warni itu telah berpindah ke dalam keranjangku. Meninggalkan batang dan beberapa bunga tanpa mahkota. Berguguran karena kering dan layu. Seperti aku saat ini.

“Aku bantu ya Nek,” kata Mita, anak tetanggaku yang sering membantuku.

“Boleh, tapi hati-hati ya,” kataku pada Mita yang mungkin seumuran dengan cucu pertamaku yang sampai saat ini bahkan aku tidak tahu wajahnya seperti apa.

“Iya Nek,” jawab Mita dengan gaya khasnya yang membuat kelopak mataku basah.

Aku dan Mita dengan hati-hati memetik bunga yang diantaranya berduri. Tak lama aku dan Mita pun menyelesaikan rutinitas senja itu.

“Nek, besok saya bantu jualan bunga di pasar ya,” kata Mita yang sudah aku anggap seperti cucuku sendiri.

“Tidak usah Mita. Besok nenek tidak jualan,” jawabku sambil membelai rambut Mita.

“Terus bunga-bunga yang kita petik tadi untuk apa?” tanya Mita penuh rasa penasaran.

“Ini untuk nyekar ke makam pamanmu,” jawabku sambil mengusap air mata yang mengalir dalam pilu.

“Tapi kenapa banyak sekali Nek?” tanya Mita dalam tatapan mata polosnya.

“Ini untuk Nenek titipkan pada ibumu. Agar suatu saat nanti ibumu dan kamu bisa menaburkan di atas pusara nenek,” jawabku datar tanpa ekspresi.

Mita terdiam dalam sejuta tanya. Anak sekecil itu belum paham dengan apa yang baru saja aku katakan. Mita berlalu sementara aku mulai mengaduk-aduk isi keranjang dan membungkusnya dengan daun pisang. Aku letakkan rapi untuk aku titipkan besok pagi pada ibu Mita.

Senja masih merona saat aku melangkah ke rumah Mita dengan membawa beberapa bungkusan bunga. Basa-basi dengan ibu Mita pun terjadi saat aku mengajak Mita untuk bersama-sama mengunjungi tempat istimewa anak bungsuku.

Matahari masih kokoh bertahta di ujung senja saat aku terpekur di samping pusara anak bungsuku yang dimakamkan sebulan yang lalu. Di atas gundukan tanah merah itu aku menaburkan bunga terakhir di akhir doaku. Di sampingku berdiri sosok mungil yang setia mendampingiku.

“Ayo Nek kita pulang. Sudah sore,” kata Mita, yang selalu membantuku sepeninggal anak bungsuku.

“Iya Mita,” kataku kelu sambil mengusap air mataku.

Aku menangis bukan karena anak bungsuku yang meninggal karena sakit, tetapi karena aku teringat saat terakhir kali aku melihat cucuku yang belum genap sebulan dibawa pergi oleh ibunya. Alasannya karena anakku hanya bekerja sebagai penjual bunga, sama seperti aku. Sementara sudah sejak lama kelima anakku yang lain tidak ada lagi yang memperhatikanku sejak dulu. Mereka terlalu sibuk untuk sekedar memikirkan aku. Wajar aku sangat kehilangan, karena dialah satu-satunya yang tetap membantuku bekerja sampai akhir hidupnya.

Aku tinggalkan kenangan burukku bersama bunga warna-warni yang aku taburkan. Rasa iri menggayut di pikiranku. Pusara yang tak bernyawa saja senantiasa ditemani keindahan bunga. Sementara aku, yang nyata-nyata bernyawa sama sekali tidak pernah ditemani keindahan kehadiran anak-anakku. Aku menjadi bunga terakhir tanpa kelopak. Kelopak itu, anak-anakku, telah terlepas dari sisiku.

Kepasrahanku pada apa yang harus kujalani membawaku pada sebuah rumah di tepi hutan. Rumah papan dengan halaman dipenuhi bunga warna-warni. Mataku terbeliak karena melihat ada yang berbeda pada rumah itu. Jelas terlihat di retina mataku yang sedikit mengembun karena air mata, sebuah tulisan.

RUMAH INI DISITA

Sendi kakiku lemas saat aku teringat hutang-hutangku untuk modal usaha belum lunas sampai tiba waktunya. Beban itu membawaku ke tepi batas kesadaranku. Aku roboh. Samar kudengar Mita berlari mendekat ke arahku dan berteriak minta tolong. Dari balik kelopak mataku yang hampir terpejam penuh, aku melihat satu bunga mawar yang mulai layu di ujung senja. Bunga senja terakhir yang aku lihat sampai akhirnya aku menutup mata. Sendiri dan sepi.

⌣»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈♡̬̩̃̊‎_m.a.z.m.o_♡̬̩̃̊‎✽̤̈·̵̭̌·̵̭̌«̶⌣

Advertisements

6 thoughts on “Bunga Senja Terakhir

    1. Tengkiyu apresiasinya bro..masih tahap belajar juga kok..:)

      Masukannya dong biar lebih keren lagi..:)

      Postinganmu juga keren2 kok..

  1. Setuju. Bagus ceritanya. Tapi pengin tanya nih. Kan disebut si nenek ke kuburan anak bungsunya. Tapi yg diingat kok malah anak pertamanya ya… Itu salah tulis atau gmana ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s