Mistar Khilaf

“Anda diputuskan bersalah.”

Suara tegas itu menggetarkan hati Rahmat, seorang guru honorer. Penyesalan datang terlambat. Tiada guna. Sekarang adalah saat ini, saat dia duduk diantara sorak sorai yang hadir.

Rahmat tertunduk. Tak bisa membela diri. Semua bukti sudah nyata. Semua saksi memberatkannya. Rahmat pasrah dengan keputusan yang dihasilkan dari perbuatannya pada gadis kecil itu.

Gadis kecil yang duduk di hadapannya bersama orang tuanya dan kepala kampung yang memimpin pertemuan. Kesepakatan dirundingkan. Pertemuan bubar. Rahmat meminta maaf dan memberikan biaya pengobatan pada keluarga gadis kecil itu.

Rahmat mengemasi barang-barangnya untuk pindah mencari tempat mengajar. Tak lupa dia membawa mistar kayu bukti kuat yang telah membuatnya terpaksa berhenti mengajar di sekolah desa itu.

⌣»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈♡̬̩̃̊‎_m.a.z.m.o_♡̬̩̃̊‎✽̤̈·̵̭̌·̵̭̌«̶⌣

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s