Memang Sudah Saatnya

⌣·̵̭̌✽̤̥̈̊·̵̭̌⌣

Malam ini purnama benderang menyinari bumi. Semburat sinarnya merona ke dalam setiap celah yang ada. Keindahan terpancar dari setiap biasnya. Di beranda aku dan sahabat lamaku mencoba mandi cahaya purnama. Tetapi, hembusan angin malam mengubur niatku untuk menikmati setiap detik malam itu.

Kurasakan denyutan itu kembali datang saat angin malam lembut membelai wajahku. Denyutan yang hadir tanpa pernah diundang dan membuat meradang.

“Aduh sakit sekali!” kata temanku.

“Heh. Kamu mengolok-olok saya ya. Aku yang sakit kok malah kamu yang mengaduh kesakitan,” pikirku dengan sinis.

“Gara-gara kamu sakit, aku juga ikutan tidak bisa merasakan makan enak,” katanya lagi dengan santai.

“Besok deh kalau aku sudah sembuh. Aku janji aku traktir kamu makan enak,” kataku berpura-pura baik.

Angin malam memaksaku mengajak teman lamaku masuk dan bersembunyi dari rayuan angin malam. Tampak teman lamaku berbicara dengan seorang dokter gigi. Aku merasa senang sampai tak kusadari denyutan itu hadir kembali menyiksaku. Setelah tercapai kesepakatan, malam ini juga, aku bersama teman lamaku pergi ke dokter gigi.

“Sudah berapa lama sakitnya?,” kata dokter itu.

Aku terdiam tak menyahut dan tak bergeming dari tempatku semula. Sementara temanku yang sepertinya ikut merasakan penderitaanku tampak berbincang dengan dokter itu.

“Sudah hampir satu minggu dokter,” katanya dengan yakin.

“Ya sudah. Kalau begitu mari saya periksa. Silahkan,” kata dokter itu lagi dengan sabar.

Aku didampingi temanku segera masuk ke sebuah ruangan pemeriksaan. Ruangan yang terang itu tiba-tiba berubah menjadi benderang saat cahaya senter menyala dalam jelajah. Tanpa aku sadari dokter itu mengeluarkan sebuah jarum suntik.

JLEB!

Dengan satu kali tusukan tiba-tiba temanku terkapar. Tak ada darah. Aku kebingungan dengan situasi yang terjadi di ruangan itu. Aku tak bisa berkata apa-apa. Apa arti dari semua ini. Ketakutan tiba-tiba menjalari setiap titik tubuhku. Aku gemetar. Hendak berlari menyelamatkan diri tetapi tidak bisa, karena dokter itu tiba-tiba mencengkeramku dengan sebuah alat.

Aku tak juga tak bisa berkutik dan hanya bisa pasrah, seperti temanku. Sampai akhirnya, tak lagi kurasakan denyutan yang menyiksa. Aku pun dipindahkan ke sebuah tempat yang asing bagiku. Sebuah ruangan kecil mengkilat. Aku masih terdiam tanpa pernah tahu apa maksud dari semua rentetan peristiwa yang menimpaku dan temanku.

“Nah sudah selesai,” kata dokter itu.

“Terima kasih dokter,” kata temanku yang sudah sadar dari pembiusan.

“Ini resep yang harus ditebus. Kalau sudah habis obatnya, kesini lagi untuk kontrol ya Kek,” kata dokter itu lagi.

“Iya pak dokter,” kata temanku mencoba tersenyum sambil berlalu meninggalkanku yang terdiam sendiri dimakan usia senja di sebuah baskom aluminium ruang pemeriksaan.

Memang sudah saatnya, dengan begini aku tak akan lagi mendengar temanku meracau setiap hari karena penderitaan. Setelah tidak ada lagi aku mengisi hari-harinya aku yakin temanku bisa kembali merasakan nikmatnya makanan enak yang sudah selama seminggu ini tidak pernah mampir di rongganya.

⌣»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈♡̬̩̃̊‎_m.a.z.m.o_♡̬̩̃̊‎✽̤̈·̵̭̌·̵̭̌«̶⌣

4 thoughts on “Memang Sudah Saatnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s