.:. Lelaki Merah Pucat .:.

Senja yang temaram saat seorang berwajah pucat tengah duduk sendiri di beranda gubuknya. Matanya yang sayu berusaha menatap tajam ke arah lubang jarum kecil di tangan kirinya. Sementara tangan kanannya yang keriput berusaha memasukkan ujung seutas benang merah. Satu kali gagal. Dua kali gagal. Bahkan sampai berkali-kali kegagalan selalu ditemui. Tetapi lelaki pucat itu pantang menyerah. Hatinya bersikeras untuk menyelesaikan tugas paripurnanya.

Tangan lelaki pucat itu terkadang gemetar. Entah karena faktor usia atau karena faktor dari getaran hatinya. Satu yang pasti, dia melakukan itu semua dari dan dengan hati. Berharap akan menjadi sebuah maha karya abadi yang selalu dihargai dan dihormati. Hanya itu yang mendorongnya untuk terus melanjutkan perjuangannya. Perjuangan kecil memasukkan benang ke dalam lubang jarum. Tapi itu hanya sebuah awal dari perjuangan yang lebih berat.

Senja belum temaram, tetapi pandangan lelaki itu sepertinya tak lagi terang. Dilepaskannya seutas gulungan benang merah di pangkuannya. Tangannya bergerilya meraba-raba sesuatu di dekat tulang keringnya. Tulang kering yang terbungkus kulit penuh bekas luka. Dalam pandangan kaburnya, akhirnya tangan keriputnya menemukan yang dicarinya. Kacamata.

Sesaat, kacamata itu telah berpindah ke daun telinganya. Daun telinga yang sudah tak lagi ranum. Beberapa bagiannya serupa seonggok daging tak bertulang muda. Menggelambir. Daun telinga yang keriput karena hanya digunakan untuk mendengar teriakan-teriakan patriotik dari patriot-patriot pembela kemerdekaan bangsa. Mungkin teriakan-teriakan itu begitu keras, sehingga kini dia tak lagi bisa mendengar suara dengan jelas. Teriakan-teriakan itu telah memenuhi rongga pendengarannya.

Dengan bantuan kacamata buramnya, dia akhirnya berhasil memasukkan benang merah itu ke lubang jarum. Perjuangan dimulai. Dengan segenap kekuatan yang dimilikinya, dia berusaha menusukkan ujung jarum tumpul itu tepat di sehelai kain merah putih yang telah robek sambungannya. Pelan tapi pasti tusukan itu berhasil menembus kedua sambungan kain yang saling tindih itu. Tak ada kendala pada tusukan pertama. Pada tusukan kedua, ujung jarum mengenai ujung jarinya.
Tak Nampak kesakitan di raut wajahnya. Dia mencoba tersenyum dalam pucat. Senyum yang mengalahkan rasa sakitnya. Rasa sakit yang tak lagi dirasa karena dia pernah mengalami rasa sakit yang lebih dari rasa sakit yang dideritanya. Dulu. Sebelum negara tercintanya merdeka. Senyumnya di bibir lelahnya adalah pancaran ketulusan hati. Tanpa menghiraukan setetes darah merah yang mengalir, dia melanjutkan kembali menyambung kain yang robek itu.

“Semua butuh perjuangan,” bisiknya dalam hati.

Dia masih terus menjahit kain merah putih itu dengan penuh semangat di balik raganya yang lelah. Baginya dunia boleh berubah, tetapi satu yang tidak boleh berubah yaitu semangat dalam diri untuk terus berjuang. Termasuk berjuang agar dia bisa menyelesaikan bendera ini sebelum batas waktu tiba. Esok hari tanggal 17 Agustus.

Tangan renta itu terus menari dalam gerakan benang yang seirama debaran hati. Ketulusan hati membuat jahitannya tampak halus, meskipun tak sehalus apabila dijahit dengan menggunakan mesin jahit. Sesekali senyum membayang di bawah semburat cahaya mentari senja yang mencuri pandang dari balik pohon bambu yang tumbuh subur di depan gubuk reotnya. Senyum saat senja itu adalah tabir dari sebuah kegetiran hidup yang dijalaninya selama hampir 66 tahun. Setelah Indonesia merdeka.

***

“Tarjo, ini kamu simpan bendera ini sebagai bukti bahwa kita telah merdeka. Jaga bendera ini seperti kau pernah menjaga negara ini dari penjajah.”
“Siap, Komandan!”

***

Senja hening. Hanya suara daun bambu yang bergesek tertiup angin. Senyum itu masih tersungging saat daun-daun bambu kering jatuh terinjak langkah kaki kecil setengah berlari. Konsentrasinya tak pecah, masih sama seperti dulu saat dia bertugas mengawasi gerak-gerik musuh, saat dia belum genap berusia tujuh belas tahun. Tanpa disadarinya sesosok kecil telah duduk di sampingnya. Tono, anak tetangganya yang sudah dianggap seperti cucunya sendiri. Setidaknya orang tua anak itu adalah satu-satunya keluarga yang dia miliki, setelah isterinya membawa anak satu-satunya meninggalkannya karena tidak tahan hidup menderita. Dan, hanya keluarga itu yang peduli dengan hidup dan kehidupan di usia senjanya.
Kehadiran anak itu pun memecah senja yang hening. Riuh canda tawanya adalah teman bagi lelaki itu. Dia seakan menemukan kembali dunia kecilnya yang telah hilang saat tawa khas anak kecil itu singgah di sanggurdi telinganya.

“Lagi apa, Mbah?” tanya Tono seperti biasanya dengan gaya ingin tahunya.

“Ini, Mbah sedang menjahit bendera. Masak kamu tidak melihat?” jawab mbah Tarjo dengan terkekeh sampai terlihat giginya yang sudah tak lengkap lagi.

“Mbah bisa saja. Oya, Mbah. Ini Tono bawakan makan malam untuk Mbah. Bubur ayam kesukaan Mbah,” kata Tono sambil menggeser duduknya lebih dekat lagi dengan mbah Tarjo.

“Terima kasih, Tono. Tapi sepertinya Mbah tidak butuh itu, karena Mbah belum lapar,” kata mbah Tarjo pelan tapi berwibawa.

Senja kembali hening. Mbah Tarjo meneruskan pekerjaannya, sementara Tono menyimpan makan malam dalam rantang itu ke dalam gubuk mbah Tarjo. Sesaat Tono sudah muncul lagi di dekat mbah Tarjo.

“Mbah, cerita lagi dong seperti kemarin,” kata Tono merajuk.

“Apa kamu tidak bosan mendengar cerita Mbah yang begitu-begitu saja?” tanya mbah Tarjo sambil melirik Tono dari balik kacamatanya.

“Tidak, Mbah. Saya suka dengar ceritanya. Kadang saya malah menghayal, pasti bangga bisa menjadi seorang pejuang kemerdekaan seperti Mbah,” kata Tono lagi.

“Besok saja ya. Mbah masih harus menyelesaikan menjahit bendera ini. Besok kan tanggal 17 Agustus,” kata mbah Tarjo sambil mengelus kepala Tono.

Tono yang masih berusia hampir tujuh tahun itu pun paham. Tono tiduran di samping mbah Tarjo sambil sesekali memainkan ujung bendera yang tengah dijahit mbah Tarjo.

“Sebenarnya ini bendera apa sih, Mbah?”

“Ini adalah bendera saksi perjuangan. Tetap Mbah simpan, sampai sekarang usia Mbah 83 tahun. Menjaga bendera ini adalah amanah.”

“Kok tidak merah Mbah?”

“Cucuku, seusang apapun, warna merah pada bendera kita itu ya tetap merah.”

Tono terdiam mendengarkan kata-kata mbahTarjo. Dalam hati Tono merasa bangga dengan orang yang sudah dianggap seperti kakeknta sendiri. Patriotisme yang mungkin tidak akan pernah dia miliki.

“Oya, Mbah. Nanti suatu saat boleh tidak saya menyimpan bendera itu?” tanya Tono antusias.

“Kalau kamu memang mau, kamu boleh menyimpan bendera ini. Karena kalau bukan kamu sebagai generasi penerus, siapa lagi yang akan menjaga bendera ini. Kelak kalau kamu sudah seusia Mbah, kamu juga akan tahu kenapa kamu harus menjaga bendera ini, ya,” kata mbah Tarjo sambil mengusap kepala Tono.

“Mbah, kalau kalau sampai besok belum selesai juga menjahitnya, besok saya bawakan bendera yang baru ya, Mbah, untuk dipasang di depan rumah,” kata Tono polos.

Kata-kata Tono barusan langsung membuat mbah Tarjo seperti kehilangan kesabarannya. Napas mbah Tarjo naik turun tersengal-sengal. Sejenak mbah Tarjo menghirup udara dalam-dalam, dan napasnya pun kembali normal.

“Mbah, tidak apa-apa, kan?” tanya Tono dalam nada kekhawatiran.

Senja kembali hening untuk beberapa saat. Mbah Tarjo mencoba tersenyum. Pun demikian dengan Tono. Bocah kecil itu nampak nyaman berada di dekat mbah Tarjo. Meskipun terkadang obrolan mereka tidak nyambung, tetapi Tono tetap saja menyukai suasana seperti senja hari ini. Kondisi mbah Tarjo sendiri pun sepertinya memang masih bisa untuk diajak bercengkrama dalam tawa. Kadang tawa getir menertawakan nasibnya yang getir. Nasib yang telah menempanya menjadi sosok yang kuat, tak heran sampai seusia sekarang mbah Tarjo masih belum pikun. Angin senja membawa kabar bahwa matahari sebentar lagi harus kembali ke peraduannya. Mbah Tarjo mendengar desir angin itu dan mengubahnya menjadi kata-kata.

“Tidak usah diganti yang baru, Cu. Yang penting maknanya. Bendera baru atau lama yang penting bagaimana kita menghargai dan menghormati jasa pahlawan dibalik bendera itu,” kata mbah Tarjo memecah keheningan.

“Begitu ya, Mbah. Memangnya kenapa kalau diganti dengan yang baru?” tanya Tono polos.

“Ingat ya, Cu. Tidak ada yang bisa menggantikan bendera ini, dengan warna yang lebih indah sekalipun,” kata mbah Tarjo tegas.

“Besok kalau sudah jadi kita pasang di luar ya, Mbah. Biar seluruh Indonesia tahu kalau Mbah itu seorang pejuang hebat.”

“Tidak usah. Kehebatan tidak perlu dipamerkan,” jawab mbah Tarjo datar.

“Kalau tidak begitu, bagaimana negara bisa tahu kalau Mbah itu seorang pejuang?” tanya Tono lagi yang sudah dibelenggu rasa ingin tahu.

“Tidak perlu. Bisa melihat bendera merah putih tetap berkibar dan dihormati saja, Mbah bahagia,” jawab mbah Tarjo sambil meneruskan jahitannya.

Tono mencoba untuk memahami kata-kata mbah Tarjo. Meskipun terkadang bingung, tetapi tetap saja dia manggut-manggut untuk menyenangkan hati mbah Tarjo.

“Kamu tahu kenapa Mbah tidak mau memasang bendera ini di luar?”

“Kenapa, Mbah?”

“Gara-gara dipasang di luar, bendera Mbah ini jadi robek tertiup angin. Makanya Mbah putuskan untuk menyimpan bendera ini di hati Mbah. Biar aman,” mbah Tarjo menjelaskan pada Tono dengan senyum tersungging. Senyum penuh kemenangan karena sebentar lagi pekerjaannya selesai sebelum senja gelap benar-benar berlalu. Sedetik kemudian, senja pun hadirkan kegelapan. Mbah Tarjo tersengal-sengal.

***

“Mbah sudah bangun?” tanya Tono yang mengunjunginya bersama orang tuanya malam itu di rumah sakit.

“Sudah, Cu. Kok Mbah bisa berada di sini?” tanya mbah Tarjo yang tertidur di sebuah kamar di sebuah rumah sakit. Botol infuse masih menggantung di samping ranjang tempatnya tergeletak tak berdaya. Tubuhnya masih lemas sampai-sampai dia tidak menyadari sudah berapa lama dia berada di sini. Yang diingatnya hanya saat itu ditemani Tono tengah menyelesaikan jahitan terakhir pada sambungan bendera merah putih.

“Panjang ceritanya, Mbah. Sekarang Mbah istirahat dulu, biar saya dan Tono yang menemani Mbah,” kata pak Jono, ayah Tono.

“Mbah mau apa?” tanya Tono.

“Mbah cuma ingin menyelesaikan jahitan yang belum selesai kemarin,” kata mbah Tarjo pelan.

Tono meraih tasnya dan mengambil selembar kain.

“Mbah tidak perlu mikir untuk menyelesaikan jahitan itu lagi. Karena saya sudah menyelesaikannya,” kata Tono dengan bangga sambil menyodorkan kain pucat itu pada mbah Tarjo.

“Wah hebat kamu. Mbah bangga sama kamu. Ternyata masih ada generasi muda yang peduli dengan benderanya sendiri,” kata mbah Tarjo berkaca-kaca. Suasana hatinya sudah penuh dengan suka cita dan bangga sampai-sampai dia tak kuasa membendung air mata. Air mata yang mengalir itu seketika menggerakkan hati Tono untuk menyeka setiap butir air mata yang meleleh di pipi keriput itu.

“Iya sudah. Karena kamu yang menyelesaikannya, Mbah izinkan kamu untuk memasang bendera ini di depan rumah. Besok kamu pasang di depan rumah ya,” kata mbah Tarjo.

“Tapi, Mbah,” jawab Tono menahan haru.

“Tidak ada tapi-tapian. Pokoknya besok kamu harus memasangnya, ya?” kata mbah Tarjo, kali ini lebih tegas dari sebelumnya.

“Iya, Mbah,” jawab Tono sesenggukan dalam pelukan ayahnya, pak Jono yang juga tengah tergugu dengan pandangan terpaku pada kalender di kamar itu. 17 September 2012.

4 thoughts on “.:. Lelaki Merah Pucat .:.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s