.:. Batik Terakhir .:.

Matahari pagi masih malu-malu mengintip dari celah pohon beringin yang tumbuh di halaman bangunan luas itu. Angin pagi pun masih basah seperti rumput yang tumbuh rapi meninggalkan sisa embun. Perlahan hangatnya matahari mengusir kesejukan embun pagi. Embun-embun yang menempel di rumput dan dedaunan mulai menetes. Mencium bumi dengan ikhlas dan terbiar mengisi pori-pori tanah yang basah. Tanah basah yang meninggalkan bekas tapak kaki dengan ukuran cukup besar, tidak seperti ukuran sewajarnya. Jejak tapak kaki itu menuju sebuah tempat cuci kaki di dekat teras sebuah bangunan bergaya tradisional. Air tampak mengucur sejuk membasahi kedua telapak kaki itu secara bergantian. Sesaat kemudian tak lagi terdengar gemericik suara air yang jatuh di atas sekumpulan bebatuan dan pasir putih itu.

Kedua tapak kaki itu perlahan menjejak teras bangunan serupa pendopo itu. Di sebuah dingklik, lelaki berusia tiga puluh tahun itu duduk merenung. Pandangan matanya terpaku pada kertas bergambar pola sederhana yang selalu menemani hari-harinya. Pola-pola sederhana indah itu hadirkan kekaguman di dalam hatinya. Hati yang begitu menghargai arti sebuah karya cipta warisan budaya yang luhur sebuah bangsa. Sesekali hatinya menggerakkan jemarinya untuk meraba pola-pola abstrak pada selembar kain yang tergantung di sebilah kayu. Beberapa bagiannya tampak belum selesai, dan tugasnya adalah menyelesaikannya. Hatinya telah bertekad bulat untuk menyelesaikannya sesegera mungkin. Dia segera mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan untuk melaksanakan pekerjaannya. Di teras rumah itu sudah ada seorang gadis manis sedang melakukan hal yang sama dengannya, Srikandi. Seulas senyum tulus dari gadis itu adalah semangatnya dalam berkarya.

Pagi masih belum terlalu hangat, tetapi tungku yang disiapkannya sudah mengepulkan sedikit asap. Dengan cekatan dia mengambil malam panas dengan sebuah canting dan mulai meniupnya perlahan. Malam itupun telah berpindah di atas kain membentuk gambar yang sesuai dengan pola, gambar sepasang burung merpati. Mereka berdua seperti sedang berlomba saja. Tanpa tegur sapa dan tanpa tutur kata. Yang ada hanya lirikan mata keduanya yang hadir dalam sebuah senyuman. Matahari mulai merekah, pagi pun pecah.

“Ternyata kamu jago juga ya,” kata gadis berambut panjang itu. Kekaguman menyeruak di dadanya saat dia melihat hasil karya lelaki yang tengah tersenyum di sampingnya.

“Siapa dulu dong gurunya. Kan kamu yang ngajarin aku. Hehe,” jawabnya sambil terkekeh.

Srikandi pun ikutan terkekeh, bukan karena kelucuan kata-kata laki-laki itu, tetapi karena logatnya yang mengundang tawa. Sejenak mereka rehat dari aktivitasnya. Melepas lelah dalam obrolan ringan diselingi tawa riang di sanggar yang dulu ramai dengan orang yang mau belajar membatik.

“Aku suka deh karena kamu mengalami kemajuan pesat dalam pelajaranmu hari ini, Steve,” kata Srikandi.

“Itu kan berkat guruku yang cantik yang dengan sabar mengajariku,” jawab Steve tersipu malu sampai-sampai wajah putih kemerahannya bersemu semakin merah.

“Kamu bisa aja deh,” jawab Srikandi sambil mencubit lengan Steve.

“Jangan ganggu aku terus ya. Waktuku tinggal seminggu lagi nih,” kata Steve dengan logat Belandanya.

Maklum Steve yang kelahiran Belanda keturunan Jawa belum setahun tinggal di Indonesia bersama keluarganya setelah resmi menjadi warga Negara Indonesia. Kepindahannya karena pekerjaan yang menuntutnya. Karena pekerjaan juga dia kenal dengan Srikandi. Asisten di kantornya yang bergerak di bidang ekspor impor, termasuk batik. Kebersamaan menumbuhkan rasa cinta diantara keduanya. Meskipun Steve belum mengenal betul latar belakang keluarga Srikandi, tetapi dia yakin bahwa Srikandi adalah perempuan yang paling tepat mendampinginya. Dia menjaga perasaan Srikandi dengan tidak bertanya terlalu banyak tentang keluarga Srikandi. Yang dia tahu, bahwa keluarga Srikandi adalah keluarga baik-baik, karena bisa membuka lapangan pekerjaan bagi perempuan-perempuan di kampungnya. Menjadi pembatik di sanggarnya. Kekagumannya pada keluarga Srikandi membuat Steve mantap untuk belajar membatik.

“Steve, kenapa sih kamu semangat sekali belajar membatik?” tanya Srikandi.

“Tidak perlu kujelaskan alasannya. Aku melakukannya semata-mata karena aku suka dengan batik,” jawab Steve ringan.

“Aku tahu batik itu kan warisan budaya Indonesia yang harus dijaga kelestariannya,” kata Steve lagi.
Jawaban Steve membuat Srikandi semakin kagum.

“Ah, seandainya generasi muda Indonesia kayak Steve. Pasti batik akan semakin mengakar dan dikenal dunia,” kata Srikandi dalam hati sambil menatap lekat-lekat wajah lelaki pujaan hatinya.

“Benar nih Steve? Tidak alasan lain yang membuatmu sehingga bela-belain belajar membuat batik,” ledek Srikandi dalam tawa renyah.

“Udah deh tidak usah ngeledek terus. Nanti aku tidak mau belajar membatik lagi lho,” jawab Steve sambil mencubit mesra pipi Srikandi, kekasihnya.

***

“Buktikan kalau kamu memang sungguh-sungguh mencintai anak saya,” kata pak Wibisono, sebulan yang lalu di rumahnya ditemani istri tercintanya, ibu Wibisono. Cacat permanen pada tangannya tidak mampu menutupi kecantikannya yang alami, mirip dengan Srikandi.

“Iya, Pak. Akan saya buktikan. Saya akan segera mengurus kepindahan saya ke Indonesia,” jawab Steve dengan mantap.

“Bukan itu maksud saya. Maksud saya buktikan kalau kamu benar-benar bisa menjadi orang Indonesia yang sesungguhnya. Apa kamu sanggup?” tanya pak Wibisono lagi.

“Demi cinta saya pada Srikandi, saya sanggup, Pak,” jawab Steve mantap.

Pak Wibisono tersenyum melihat kesungguhan Steve pada anak perempuannya, setidaknya sampai saat ini. Sebenarnya pak Wibisono tidak bersungguh-sungguh dengan tantangannya itu. Beliau hanya ingin menguji kesungguhan Steve saja, dan Steve sepertinya sungguh-sungguh dengan tekadnya.

***

Seminggu kemudian, matahari senja mulai tergelincir saat Steve menyelesaikan batik pertamanya setelah sebulan dikerjakannya. Senyum terpancar di wajahnya saat menatap hasil karyanya. Berbeda dengan air muka Srikandi yang justru berbeda dengan Steve. Kesedihan di hatinya tak bisa disembunyikan dalam senyuman semunya. Steve berusaha menghibur Srikandi dengan kata-kata yang menenangkan. Mereka berdua memutuskan untuk beranjak dari teras rumah itu. Steve segera melipat kain batiknya dengan rapi. Sentuhan jemari Steve pada jemari Srikandi mampu menenangkan hatinya. Srikandi pun tersenyum dalam rengkuhan Steve yang hangat.

Keduanya melangkah menyusuri jalanan sunyi menuju rumah Srikandi. Tak butuh waktu lama untuk sampai ke sana, karena jaraknya memang berdekatan. Di dalam rumah sudah menunggu orang tua Srikandi. Steve segera duduk di kursi rotan di ruang tamu rumah berdinding papan itu. Ruang tamu yang luas itu membuat Steve leluasa untuk melihat-lihat seisi rumah. Perabot antik tertata rapi di sudut ruangan. Dinding papannya berhiaskan ornamen-ornamen tradisional, salah satunya adalah kain batik karya orang tua Srikandi yang dipasang tepat di bagian tengah-tengah ruangan. Steve mengagumi batik itu dengan kagum.

Setelah basa-basi dengan kedua orang tua Srikandi, Steve pun mulai menyusun kata menyampaikan maksud kedatangannya.

“Begini, Pak. Saya ingin membayar hutang saya untuk membuktikan bahwa saya sungguh-sungguh mencintai Srikandi,” kata Steve sambil menyerahkan sebuah bungkusan berisi kain batik buatan tangannya. Hatinya lega karena sudah bisa memenuhi janjinya. Meskipun berbeda 180 derajat dengan perasaan hati keluarga Wibisono.

Pak Wibisono hanya diam, dalam hatinya beliau kagum dengan hasil karya Steve yang lumayan halus bagi seorang pemula. Hatinya tiba-tiba resah entah apa yang dirasakannya saat ini. Tak beda jauh dengan istrinya yang juga hanya terdiam. Pun demikian dengan Srikandi. Diam. Senja pun menjadi sunyi. Hanya suara riuh orang-orang kampung yang masih beraktivitas. Pikiran mereka bertiga tertumpu pada satu arah yang sama.

“Nak Steve, Bapak menghargai kesungguhanmu. Kami bangga padamu. Kami juga mengucapkan terima kasih padamu,” jawab pak Wibisono datar.

“Terima kasih apa, Pak? Saya tidak mengerti. Saya hanya berusaha melakukan yang terbaik yang saya bisa saja. Kain batik ini adalah bukti kesungguhan saya, Pak,” jawab Steve yang tiba-tiba didera kebingungan.

Pak Wibisono terdiam. Perasaannya benar-benar tidak menentu. Terharu. Tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Sesekali beliau menghela napas dalam-dalam. Beliau bingung harus memulai darimana menceritakan hal ini pada Steve. Sementara Srikandi tersedu dalam pelukan ibunya yang berusaha menahan tangisnya agar tidak pecah.

Steve semakin bingung dengan pemandangan di depan matanya. Pertanyaan demi pertanyaan muncul di hatinya. Meskipun demikian dia tetap berpikiran positif, bahwa semuanya baik-baik saja. Steve ikut larut dalam keharuan itu. Dia berpikir mungkin orang tua Srikandi sedih karena akan ditinggal oleh Srikandi, anak satu-satunya.

“Nak Steve. Bapak bangga sama kamu. Karena kamu sudah berusaha bersungguh-sungguh melakukan yang terbaik,” kata pak Wibisono sambil membuka bungkusan berisi batik tersebut.

“Ibu juga terharu, ternyata masih ada yang peduli pada warisan budaya kita. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi seandainya tidak ada kamu,” jawab ibu Wibisono yang agaknya sudah mulai tenang.

“Terima kasih ya, Steve. Kamu sudah membuat bangga orang tuaku,” kata Srikandi ikut menimpali.

“Asal kamu tahu, Steve. Satu hal yang membuat kami terharu, yaitu bahwa batik yang kamu buat itu adalah batik terakhir,” kata pak Wibisono.

“Apa maksudnya batik terakhir, Pak? Saya tidak mengerti,” kata Steve

Pak Wibisono menghela napas panjang sebelum melanjutkan kata-katanya. Ada sesuatu yang mengganjal hatinya yang membuatnya seperti tersendat dalam bercerita. Tak lama beliau bisa menguasai hati dan perasaannya.

“Karena kamu telah menyelesaikan batikmu, itu artinya kamu sudah lulus dari sanggar kami, dan itu artinya kami harus menutup sanggar kami,” jawab pak Wibisono datar. Kata-kata pak Wibisono membuat suasana hening. Masing-masing berjalan pada pikirannya sendiri-sendiri. Nyaris tak ada senyum di raut wajah keluarga Wibisono. Terdiam dalam haru.

“Tetapi kenapa harus ditutup, Pak?” kata Steve.

“Karena sudah tidak ada lagi yang mau belajar membatik di sanggar kami. Anak-anak muda di kampung kami lebih memilih untuk menjadi tenaga kerja di luar negeri karena penghasilannya lebih menjanjikan. Sehingga sekarang tidak ada lagi yang belajar dan bekerja di sanggar kami. Sampai akhirnya kamu datang dengan kesungguhanmu untuk belajar. Kami sangat menghargai itu,” kata pak Wibisono lagi. Tiba-tiba pikirannya menerawang jauh ke masa-masa kejayaan sanggar batiknya. Saat anak-anak muda, laki-laki maupun perempuan berduyun-duyun ke sanggarnya untuk belajar membatik dengan suka cita. Kini sanggar itu siap menunggu saatnya menjadi sebuah kenangan yang akan terlupakan tergerus oleh kemajuan zaman.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s