.:. Prasasti Tapak Kaki .:.

⌣·̵̭̌✽̤̥̈̊·̵̭̌⌣

Purnama di angkasa menerangi langkah kakiku. Senyum bintang malam menjadi penuntunku. Jejak langkahku terserak di sepanjang perjalanan. Aku menikmati malamku dalam segala kesendirianku. Jalur utama kawasan wisata tampak hiruk-pikuk. Aku terus melangkah di sepanjang trotoar. Tak pedulikan mata yang menatap dalam tanda tanya. Aku terus melangkah. Pasti.

Deretan bangunan yang kulewati seperti memanggilku untuk singgah. Aku hanya tersenyum. Aku sedang tidak ingin larut dalam secawan anggur kenikmatan. Ini adalah malamku. Aku tak ingin hingar-bingar musik mengusik hatiku yang mencari ketenangan. Bukan ketenangan sesaat, seperti sebelumnya.

Penat sepertinya enggan mendekat. Lalu-lalang pejalan seperti mengajakku beradu cepat. Dua buah bayangan membuat langkah kakiku terhenti. Aku menajamkan pandanganku. Tampak sepasang muda-mudi bersandar pada pembatas jalan menghadap pantai. Samar kudengar mereka berbincang tentang perasaan.

“Maaf. Saya tidak tahu kalau kamu diam-diam memendam perasaan padaku.”

Deg! Jantungku seakan berhenti berdetak. Aku mengenal betul suara itu. Ini gila. Aku sudah tahu bagaimana rasanya.

Aku bergegas meninggalkan bayangan-bayangan itu dalam samar debur ombak pantai Malimbu. Aku tak mau lagi mendengar percakapan basi seperti itu lagi. Kuayunkan kakiku gontai. Kuhapus jejak tapak kakiku dengan senyuman.

Purnama semakin merona. Aku semakin bersemangat menikmati malam. Ini malamku. Angin malam membawaku ke tepi pantai dan menghapus setiap jejak yang tertinggal di pasir putihnya. Rona purnama jatuh dalam riak gelombang. Gemuruh dadaku segarang debur yang memecah malam.

Aku duduk di salah satu batu karang yang ada. Sunyi? Tidak. Karena sepi menemaniku malam ini. Kulemparkan pandangan. Beberapa meter di samping kananku, berkumpul beberapa orang. Sepertinya mereka sedang gathering. Rasa penasaran membawaku mendekat.

Beberapa orang tampak asyik berdiskusi. Purnama di atas samudera membias pada wajah-wajah yang ada di hadapanku. Tatap mata yang ramah. Senyum yang bersahabat menyambutku. Aku pun bergabung ke dalam kerumanan itu. Kesamaan hobi membuatku mudah berbaur. Rencana proyek bersama penulisan buku. Agenda pertemuan selanjutnya, melekat erat dalam pikiranku. Bahkan, aku masih ingat betul kata per kata secara rinci.

Kata-kata yang seketika memenuhi rongga dada dan menyesakkan. Tanpa terucap kata, aku berlalu. Menggenggam seraut wajah dan mendekapnya dalam-dalam di dadaku yang siap mengirimkan sinyal ke pembuluh di kelopak mataku. Aku kembali terpana. Pada wajah yang sama di kepenatan ruang rindu.

Ah! Aku bosan dengan perasaanku ini. Aku terlalu letih untuk mengerti bahwa sebenarnya cinta masih bersemayam di hatiku. Meskipun cinta itu bukan untukku, tapi aku tahu itu adalah cintaku.

Aku kembali mengikuti langkah kakiku. Menyusuri trotoar dan bukan lagi hamparan pasir. Suara sepatu yang beradu dengan trotoar melagukan simponi hati. Temaram lampu jalan membias dalam genangan. Langit yang benderang tak mampu menghalangi hujan yang tiba-tiba turun membasahi bola mataku. Hujan ini takkan mampu menghentikanku menyusuri malam. Ini malamku.

Kuambil sapu tangan untuk menghapus sisa genangan. Sesaat aku pun kembali tersenyum. Aku akan terus berjalan. Dengan atau tanpa dirimu.

Kulirik jam tanganku. Pukul 19.30.

“Masih sore,” pikirku.

Kaki kiriku masih sanggup bergantian dengan kaki kanan dalam mencipta sebuah langkah pasti. Langkahku belum bisa dihentikan. Bahkan oleh pedagang cinderamata yang dengan gigih berusaha merayu birahi belanjaku. Sedikit pun aku tidak tergoda. Godaan demi godaan muncul. Kali ini oleh seorang pengamen jalanan.

“Kucinta kamu bukan berarti kutak mendua, sayang kau nilai aku salah.”

Lirik lagu dari bibir nakal pengamen jalanan itu memaksaku untuk semakin mempercepat langkahku. Aku melangkah setengah berlari. Aku muak dengan sindiran semacam itu.

Akhirnya, aku berhasil menghindar dari pengamen jalanan itu, bahkan sebelum dia menyelesaikan bait terakhir dari lagu itu. Aku tahu akhir dari lagu itu. Aku dan kamu.

Napasku memburu. Dadaku turun naik dengan cepat. Ritme jantung sepertinya berubah tidak seperti sebelumnya. Aku menghela napas dalam-dalam dan udara segar pun kembali mengisi paru-paruku. Aku bernapas lega. Lepas dari himpitan masa lalu yang membelengguku lewat lagu.

Hatiku kembali riang. Seringan langkahku menyusuri malam. Satu-satunya teman setia malam ini adalah lantunan musik dari kafe yang berjejer di pinggir jalan. Dari yang remang-remang sampai terang-benderang. Dari yang sepi pengunjung sampai yang ramai. Aku rasa wajar, karena malam ini adalah malam Minggu. Malam Minggu kesekian kalinya tanpa kamu menemani.

Aku kembali bergegas. Sudah hampir pukul delapan saat mata hatiku tertambat pada sebuah panggung hiburan. Sepasang kekasih menari penuh romantika.

“Ah! Seandainya hujan,” harapku dalam hati.

Tapi sepertinya hujan takkan mau turun dari celah purnama. Aku memejam dalam bayangan hujan yang kuciptakan sendiri. Genangan air, daun yang basah dan kupu-kupu yang beterbangan mencari tempat berteduh menemani sepasang penari. Semuanya lekat dalam hujanku. Kubuka mata, sepasang penari itu telah turun dari panggung.

Aku tak lagi pedulikan bayangan penari itu, aku melangkah mengikuti kunang-kunang yang tiba-tiba berpijar di pelupuk mataku. Kunang-kunang selalu tahu kemana aku harus melangkah. Setapak demi setapak aku merajut malam dalam langkah. Entah sudah berapa puluh meter kutempuh. Tak ada lelah dan tak ada yang bisa menghentikan langkahku malam ini. Termasuk kamu, masa laluku.

Di sela-sela langkahku, aku melirik purnama. Perlahan tapi pasti berubah kedudukannya. Seperti hidupku saat ini yang sedang menuju sebuah kepastian, setidaknya itu adalah harapanku.

Tiba-tiba tatapanku terhenti pada sebuah lampu mobil yang tepat mengenai mataku. Silau. Aku goyah dan hampir terjatuh. Mobil, ya mobil. Mobil telah membangkitkan cemburuku. Aku selalu saja terseok dan kalah saat berusaha mengejarnya. Mobil selalu lebih cepat dari langkah kakiku.

“Biarlah. Toh langkah kakiku tak bisa mengalahkan kecepatan mobil.”

Kubiarkan mobil itu berlalu. Aku sudah mengalaminya dulu. Saat aku memaksakan diri untuk adu balap dengan sebuah mobil. Kakiku hampir saja tak sanggup melangkah dan aku hampir terjatuh ke jurang yang paling dalam. Jurang kegelapan yang akhirnya mengajarkan aku tentang keikhlasan dalam menerima kekalahan. Sebuah kekalahan yang akhirnya membuatku selalu cemburu pada mobil yang telah berhasil lebih dulu mendapatkan hatimu, dibanding langkah kakiku.

Waktu mengajarkanku untuk bisa menerima kekalahan. Meskipun mendapatkanmu bukanlah sebuah permainan. Tapi semua kejadian tentangmu telah mendewasakan aku, bahwa untuk mendapatkan segala sesuatu tidak bisa dipaksakan. Termasuk mendapatkan cinta.

Ruas jalan masih menciptakan gabungan warna-warni oleh kendaraan bermotor yang lalu lalang. Kebisingan menyeruak ke dalam relung hati. Menginstruksikan mata untuk berbinar dan bibir untuk tersenyum. Aku telah sampai. Bibir perlahan mengeja deretan aksara yang tertumbuk di retina. Kafe Romansa.

Aku tertegun menatap deretan aksara. Sebuah kafe yang romantis di tepi pantai, menggoda anganku untuk singgah. Akankah kafe ini bisa menghentikan langkahku? Bisa saja. Tanpa rasa bimbang aku yakin untuk memilih jalan setapak ke kanan, menuju hall belakang. Ruangan luas itu telah penuh sesak pengunjung yang larut dalam hingar-bingar musik. Kukemas jejak langkahku di kursi biru. Menunggu.

“Sudah lama, Mas?”

“Belum.”

“Sebentar ya, Mas. Tinggal setengah jam lagi.”

“Iya, Sayang.”

Kulepas kepergiannya yang kembali bekerja. Bersamanya aku ingin terus melangkah tanpa henti mengubur bimbang dalam asa sampai semesta berhenti ada. Dia adalah masa depan yang bersedia menggantikan posisimu; kekasihku masa lalu.

⌣»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈♡̬̩̃̊‎ @momo_DM ♡̬̩̃̊‎✽̤̈·̵̭̌·̵̭̌«̶⌣

3 thoughts on “.:. Prasasti Tapak Kaki .:.

  1. Wah ini tulisan terpanjang buatan mas momo yang pertama saya baca😀

    Kalaupun langkah kaki bisa mengalahkan kecepatan mobil, berarti anda superhiro😀

      • wah wah makin jatuh cinta ni ma tulisannya yg mengagumkan. wah ternyata dirimu terpesona ma pantai malimbu ni. sunguh amat keren. terus gerakan jemarimu jg berhenti berkarya y jadilah penulis sejati y mazmo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s