.:. Setengah Lingkaran Bumi .:.

“Radiittt! Hentikaannn!”

Radit tak mengindahkan kata-kata Arini. Dia terus saja memutar mainan di halaman sebuah TK itu. Mainan itu semakin lama semakin cepat berputar. Bunyi derit poros besi pun terdengar semakin keras. Arini yang sedang duduk di dalamnya, mencengkeram pegangan besi bercat merah selang seling biru itu dengan kuat. Arini histeris.

“Kamu sudah gila, Radiittt! Hentikaannn!”

Radit tak lagi memutar mainan itu. Dia mundur lima langkah dari posisinya semula. Matanya tak luput memandang Arini yang terus berputar. Tanpa ekspresi, Radit bersedekap memperhatikan rambut panjang Arini yang tampak berkibar. Wajah cantik Arini yang putih tampak semakin pucat. Bibir tipisnya tak henti-hentinya berteriak histeris. Keadaan halaman TK yang sepi, hanya ada mainan-mainan lain yang membisu, membuat jeritan Arini sia-sia.

Setelah putaran kesekian, dan mainan belum juga melambat, Radit kembali mendekati Arini. Jemarinya yang kuat mencengkeram besi pada salah satu sisi. Selang satu menit kemudian, mainan itu pun berhenti berputar. Kembali poros besi yang tampak berkarat itu berderit. Arini tampak lemas. Dia tak lagi kuasa mengeluarkan kata-kata.

Radit meraih tubuh Arini dan menenggelamkannya dalam pelukan. Arini pasrah, meskipun hatinya berontak. Dia masih tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan Radit barusan.

“Arini, maafkan aku, ya,” kata Radit sambil mengecup kening Arini.

Arini terdiam dalam pelukan Radit yang membawanya menuju ke bawah pohon rindang. Radit duduk bersandar pada pokok pohon nangka yang sudah tampak tua. Radit membaringkan Arini dan memangku kepalanya di pahanya. Sesekali dia mengelus rambut Arini. Arini yang masih merasakan pusing hanya diam mengatupkan bibir. Sesekali dia mengerjap-ngerjapkan matanya perlahan agar bisa kembali normal.

“Arini, aku tahu kamu menderita barusan. Pasti saat itu kamu takut, aku akan tiba-tiba meninggalkanmu,” kata Radit sambil menghela napas, “kamu pasti juga khawatir tentang apa yang akan terjadi padamu, apabila mainan itu tiba-tiba lepas dari porosnya. Iya kan?”

“Sebenarnya tadi aku tidak ada maksud untuk mencelakaimu,,” kata Radit melanjutkan.

“Lantas kenapa kamu lakukan itu tadi, Dit? Kamu tidak khawatir akan terjadi apa-apa padaku?” kata Arini dengan nada kesal.

“Apa yang kamu rasakan setelah kejadian tadi?” tanya Radit pada Arini yang sudah kembali normal.

“Banyak, Dit. Seperti yang kamu bilang tadi. Aku takut kamu akan meninggalkanku begitu saja,”

“Itu saja?”

“Aku juga takut takkan ada yang bisa menolongku saat aku jauh darimu.”

“Nah! Berarti kamu sudah mengerti sekarang. Itu yang akan kurasakan, mulai besok pagi.”

“Radit…kamu jangan begitu, ah! Aku pergi ke Brazil kan cuma dua bulan, untuk tugas liputan. Lagian Indonesia – Brazil kan tidak lebih dari setengah lingkaran bumi. Terus kenapa tadi kauputar-putar aku?” jawab Arini sambil mencubit perut Radit.

“Karena aku tidak ingin setengah lingkaran bumi. Itu akan membuatmu jauh dariku. Aku ingin satu lingkaran bumi, agar kita bersatu dalam satu titik temu.”

“Apaan sih kamu, Dit! Ini nih akibat terlalu serius mengajar. Huh!”

Suasana pun mencair, kembali seperti biasanya. Tawa, cubitan, dan kebahagiaan tentunya.

“Arini, perasaan takut kehilangan kamu pasti ada. Seperti kamu tadi. Bahkan cuma dalam jarak lima langkah dan waktu lima menit, kamu merasa akan kehilangan aku.”

Kali ini Arini terdiam, mencoba mencerna kata-kata Radit. Radit tersenyum melihat Arini yang sedang memejamkan matanya. Radit mengacak-acak rambut gadis yang sudah menjadi kekasihnya selama setahun itu.

“Tapi tenang saja, Arini. Keyakinan pada keseriusan akan membuat hal itu takkan pernah terjadi. Buktinya tadi aku kembali dan menghentikan mainan itu. Kelak setelah pulang, aku juga yang akan menghentikanmu di hatiku; sebagai istriku. Kamu mau, kan?”

Arini tersenyum dan tidak menjawab. Dia hanya menurut saat pelan-pelan Radit menyematkan cincin di jari manisnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s