[Tanjung Ringgit] ~ Serpihan Surga Terfavorit

*Catatan Perjalanan ke Tanjung Ringgit : Serpihan Surga Terfavorit*

Lombok. Mendengar nama itu disebut apa yang pertama terbayang di benak? Keindahan pantai. Kenyataan yang ada bukan saja  keindahan pantai saja yang ada di Lombok. Eksotisme pemandangan bawah laut, keagungan gunung Rinjani, kekayaan adat dan budaya, dan bahkan keramahan penduduk setempat. Benar-benar sebuah paket komplit yang masih bisa terus dieksplore untuk menemukan sisi keindahan lain yang masih tersembunyi.

Salah satu pantai yang belum dieksplore adalah Pantai Tanjung Ringgit. Dengan menumpang mobil seorang teman yang kebetulan memiliki jasa travel, saya dan rombongan sebanyak enam orang memulai gerilya Lombok. Dari kota Mataram kami menuju arah Praya, kemudian dari Praya kita menuju arah Jerowaru yang merupakan lokasi pantai Tanjung Ringgit.

Rute : A (Mataram) ~ Praya ~ Jerowaru ~ B (Tanjung Ringgit)
Sumber: Google Maps

Secara umum, jalan dari Mataram sampai Jerowaru tidak ada kendala yang berarti, karena jalannya sudah bagus. Nah! Tantangan menanti rombongan saat mobil mulai memasuki jalan kecil menuju pantai di ujung pulau. Jalan itu masuk dalam kategori membutuhkan penanganan segera. Lubang di beberapa ruas jalan mengganggu sekaligus menantang.  Tapi tidak usah khawatir, banyak pemandangan indah di kanan dan kiri jalan yang bisa mengobatinya.

Setelah perjalanan sekitar dua jam, sampailah rombongan gerilya Lombok di pantai Tanjung Ringgit yang terletak di ujung Lombok Timur itu. Setiba di lokasi kami disambut dengan pemandangan komplek mercusuar yang kurang terawat. Ada beberapa penduduk atau entah petugas yang kebetulan berada di sana. Setelah basa-basi, kami berenam melanjutkan perjalanan menyusuri jalan setapak di samping komplek mercusuar menuju pantai. Tantangan pun berlanjut. Jalan setapak yang sebagian berbatu harus kami taklukkan.

Mercusuar Tanjung Ringgit

Akhirnya, setelah kurang lebih lima belas menit menempuh perjalanan menuruni jalan setapak, kami sampai di pohon surga. Disebut pohon surga karena pohon itu adalah sebatang pohon yang paling nyaman untuk berteduh sambil menikmati keindahan laut. Sambil memandang laut dengan gradasi warna hijau biru itu, kami menikmati makan siang dengan masakahn khas Lombok, Nasi Puyung yang terkenal pedas itu.

Pohon Surga: Terlihat serpihan surga saat duduk di bawah rindangnya

Setelah puas menikmati makan siang dan istirahat, kami mulai merekam keindahan pantai Tanjung Ringgit. Banyak keindahan yang kami temukan. Diantaranya yaitu: sumur air payau yang ada bibir pantai, karya alam yang menghasilkan bentuk serupa pulau Bali di sebuah tebing, lafaz Allah di dasar samudera, dan gradasi biru hijau laut. Luar biasa!

Sumur air payau di bibir pantai
Mahakarya alam serupa pulau Bali di salah satu tebing
Lafaz Allah di dasar laut
Keindahan gradasi hijau biru laut

Angin pantai yang semilir merayu rasa kantuk kami. Niat untuk mengeksplore membuat kami mengesampingkan kantuk yang tiba-tiba menyerang. Kami pun melanjutkan petualangan di bawah matahari terik siang itu.  Berdasarkan informasi yang kami peroleh dari  penduduk setempat, kami mulai bergerilya ke sebuah meriam peninggalan zaman Jepang yang berada di sebelah kiri pohon surga. Kami menyusuri jalan setapak berdebu dan berbatu untuk mencapainya. Hanya butuh waktu lima menit untuk tiba di lokasi. Konon kabarnya di bawah meriam itu adalah bunker tempat persembunyian tentara Jepang.

Meriam Jepang

Dari meriam Jepang, petualangan masih berlanjut. Kami harus menuruni bukit untuk menuju salah satu lokasi yang tidak boleh terlewatkan saat berkunjung ke Tanjung Ringgit. Lokasi itu adalah Gua Kelelawar. Gua Kelelawar berjarak lumayan jauh dari meriam Jepang. Jalan setapak berbelok-belok harus kami tempuh. Ditambah lagi matahari yang terik menambah daya tarik tersendiri. Setelah hampir tiga puluh menit sampailah kami di Gua Kelelawar dengan bantuan seorang penduduk setempat. Aroma urin kelelawar yang menyeruak menusuk hidung tidak menghalangi rasa penasaran kami. Kami berusaha masuk dan menikmati keindahan alam yang tersaji.

Gua Kelelawar

Petualang kami pun berakhir di gua kelelawar ini. Sebelum kembali kami memutuskan beristirahat sejenak di atas bukit sambil menikmati keindahan pulau Sumbawa dari kejauhan.

Pulau Sumbawa di kejauhan

Sungguh perjalanan yang menyenangkan. Terlepas dari minimnya sarana dan prasarana yang ada di objek wisata, Tanjung Ringgit tetaplah objek yang harus dimasukkan ke dalam daftar yang wajib dikunjungi. Hal ini karena lokasi perawan dengan suguhan panorama indah layaknya serpihan surga di bumi. Setelah puas menikmati keindahan Tanjung Ringgit, kami pun meninggalkan lokasi untuk melanjutkan gerilya ke objek wisata yang lain dan bertekad untuk selalu mengabarkan pada dunia, bahwa LOMBOK ITU INDAH.

Sumber foto-foto Tanjung Ringgit: Dokumentasi pribadi.

Advertisements

4 thoughts on “[Tanjung Ringgit] ~ Serpihan Surga Terfavorit

  1. Salah satu nadzar saya kalo ke Lombok adalah harus mampir ke tanjung ringgit ini! Saya baru tahu tentang Tanjung Ringgit ini justru saat pulang dari Lombok 2011 kemarin. Saat itu saya hanya ke Senggigi dan GIli Trawangan 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s