[Benang Kelambu] ~ Keindahan dari Relung Kalbu

Hari Senin tanggal 26 Desember 2011. Cuti bersama dalam rangka peringatan hari Natal yang jatuh pada hari Minggu. Itu artinya libur. Di Lombok, libur pasti identik dengan jalan-jalan. Pun, dengan aku yang setelah seminggu dirajam pekerjaan yang menumpuk, akhirnya bisa sedikit bernapas lega. Cihuy.

Pagi masih berkawan dengan sepi, tapi aku sudah mempersiapkan diri. Ritual pagi pun kelar. Aku bergegas mengambil tas punggungku. Satu per satu barang-barang pribadiku pun sudah nongkrong ganteng dalam tas yang lumayan besar itu: plastik kresek, tembakau, sarung, handuk, celana kolor, kaos dalam, sampo, sabun cair, pembersih muka, body lotion, parfum, dan nggak lupa minyak kayu putih. Eh…itu mau jalan-jalan atau mau jualan sih? Jangan salah. Barang-barang itu wajib ada lho kalau kita mau ke Benang Kelambu.

Tak kurang dari lima belas menit, semuanya udah beres gitu aja. Lhah kok belum berangkat? Sabar ya, soalnya aku kan harus nunggu teman-temanku ngumpul dulu. Akhirnya, sekitar jam 08.00 Wita, kontingen pun siap berangkat. Tiba-tiba, ”Eh…Mas bawa cobek dong!” kata salah seorang temenku. #Matek! Mau wisata lha kok malah disuruh bawa cobek. Piye to?

Pukul setengah sembilan, saat aku dan teman-temanku yang berjumlah tujuh orang siap berangkat. Masing-masing sudah siap mengendarai motornya berboncengan, tak lupa dengan bawaannya, termasuk aku yang kebagian tugas membawa cobek. Setelah siap, barulah konvoi kecil itu pun berjalan pelan tapi pasti melewati jalur utama Mataram-Lombok Timur.

Kira-kira setengah jam kemudian, sampailah kami di pertigaan Pancor Dau. Petualangan dimulai saat kami harus belok kiri di pertigaan tersebut. Kami menyusuri jalan yang lebih kecil, lumayan bagus sih, meskipun ada beberapa lubang. Tidak sampai lima belas menit, kami pun tiba di pertigaan sebuah pasar yang entah apa namanya. Kami pun bersiap untuk menaklukkan tantangan selanjutnya. Apakah itu? Hmm…ceritain nggak ya? Ceritain ah. Tantangan selanjutnya adalah #jengjengjeng menyusuri jalan aspal yang hampir sama sekali nggak ada pilihan. Ambil kanan lubang, ambil kiri juga lubang, ambil jalan bagian tengah, apalagi. Siap-siap aja perut diguncang-guncang

Semangat liburan yang menggebu mengalahkan jeritan perut yang meronta. Eh…tapi jangan salah lho. Meskipun jalanannya kalau boleh dibilang “butuh penanganan segera” , tetapi view di sepanjang perjalanan sangat keren lho. Nggak percaya? Setelah menaklukkan jalanan yang berbelok-belok dan turun-naik serta lumayan bikin jantung hampir copot, akhirnya setengah jam kemudian sampailah kami di pintu masuk obyek wisata Benang Stokel. Heh! Katanya mau ke Benang Kelambu kok malah masuk ke Benang Stokel sih? Pengen tahu?

Kami pun akhirnya berhenti di depan loket karcis eh…gak ding. Kita nggak perlu turun dari motor, karena langsung ada petugas yang akan melayani kita untuk pengurusan karcis masuknya. Hanya butuh Rp 4.000,- per orang untuk bisa masuk ke Obyek Wisata Benang Stokel, plus dapet bonus parkir gratis sekaligus. Murah kan ya? Di areal parkir ternyata bukan motor saja, tetapi juga mobil. Woh! Berarti mobil bisa masuk juga dong ya

Saat memasuki jalan setapak yang sudah permanen itu—beberapa bagian rusak sih—kami disambut oleh deretan kios-kios yang menjajakan minuman dan makanan kecil. Dan, yang bikin kami agak takut, ternyata di belakang rombongan kami ada beberapa pemuda membawa karung yang menguntit. #Jleb! Kita khawatir dong. Secara mereka penampilannya–ya gitu deh. Aku pun memberanikan diri untuk melirik sedikit. Ternyata mereka sedang mengumpulkan sampah. Rasa takut pun berubah jadi salut. Meskipun udah ada mas-mas yang mungutin sampah, bukan berarti kita bisa seenaknya buang sampah key….

Belum lima menit menyusuri jalan setapak itu, mata kami sudah dimanjakan dengan pemandangan yang top markotop. Sepasang air terjun kembar terlihat menakjubkan banget. Melihat view yang top banget itu, naluri model kami pun langsung muncul. Alhasil jepret satu kali, jepret dua kali dan seterusnya. Perjalanan dilanjutkan dengan menuruni anak tangga yang jumlahnya kurang lebih seratus anak tangga. Nggak percaya? Itung aja sendiri Lalu kami melalui sebuah jembatan kecil yang nggak ada pengaman di kanan kirinya. Konon kabarnya pernah lho ada turis yang jatuh ke sungai kecil di bawahnya.

Setelah melewati sungai kecil, kami mulai menapaki jalan permanen. Jadi kita nggak takut lagi terpeleset. Di ujung jalan permanen itu, sudah menunggu anak-anak tangga yang siap dicumbu langkah kaki. Satu undakan—dua undakan—sampai sepuluh undakan, berhenti untuk istirahat. Capek mamen! Sekitar lima menit, perjalanan dilanjutkan. Undakan demi undakan kami lewati dengan hati-hati. Entah sudah undakan yang keberapa, kami melihat berderet-deret air terjun. Ah. Seandainya ada satu bidadari di setiap air terjun, pasti deh Pantes aja disebut Benang Kelambu, air terjunnya itu lho nggak putus-putus membentuk serupa tirai tipis. Hmm. It’s so romantic deh pokoknya. Sekitar pukul 10.30 Wita, sampailah kami sekarang dengan selamat. Oya, nggak perlu bayar lagi lho untuk masuk ke Benang Kelambu. #fyiajasih. Rasa capek pun terbayar dengan view yang luar biasa.

Dengan agak susah payah dan terengah-engah, kami mulai menjelajahi jalan setapak di bukit. Agak licin dan menantang. Terlebih karena dalam tas punggungku ada cobek. Meh! Kumpulan vegetasi yang hijau sedikit banyak mampu menghilangkan kepenatan. Tanjakan dan turunan adalah tantangan yang harus ditaklukkan. Termasuk sungai kecil. Hampir lima belas menit, kami dikepung semak belukar dan pohon-pohon besar. Meskipun napas tinggal setengah, kami nggak nyerah dong pastinya! Tak lama kemudian terdengar sayup-sayup gemericik air terjun. Meskipun lelah, kami justru semakin semangat….

Bekal pun segera diturunkan. Aku begegas mengeluarkan cobek. Temen-temenku yang cewek segera melakukan tugasnya masing-masing. Ada yang mengupas mentimun, ada yang mencuci rumput laut, ada yang memotong-motong kacang panjang, dan yang lebih seru ada yang bikin sambel pelecing. Aku pun tepokjidat melihat kesibukan mereka. Ini wisata atau pindah rumah? Nggak lama kemudian, #kulinerlombok pun siap. Nasi putih, urap rumput laut, pelecing kangkung, kerupuk kulit , dan nggak lupa ikan bakar bumbu seraten, eh…bumbu Taliwang ding. Selanjutnya nggak usah deh ya diceritakan kenikmatan menyantap #kulinerlombok di tengah-tengah deretan air terjun. It’s really amazing!

Abis mandi ronde pertama, kami memutuskan untuk menikmati kelezatan #kulinerlombok lagi. Kemudian lanjut lah kami mandi ronde kedua. Break sejenak untuk sholat eh…lalu mandi lagi ronde ketiga. Tak lupa memakai sampo, sabun, dan pembersih muka. Setelah mandi nggak lupa juga dong handukan biar kering, lalu pakai deh minyak kayu putih biar hangat. Nggak usah khawatir, udah disiapin tempat ganti pakaian kok.

Kurang lebih pukul 15.00 Wita, kami pun memutuskan untuk pulang setelah membersihkan sampah di sekitar lokasi. Dan, tak lupa membawa kembali aksesoris yang ada, termasuk cobek #nelencobek. Oya, sebelum meninggalkan Benang Kelambu, aku sempat dikejutkan oleh tepukan pelan di pundakku. Ternyata salah seorang temen cewekku yang berjalan sejajar denganku. Tiba-tiba saja dia berbisik lirih, “Mas, besok kita pre wedding nya di sini aja ya.” Meh! #pingsansebulan

Rintik hujan yang menemani perjalanan pulang kami, membuat kami lebih hati-hati dalam menjejak setiap jengkal tanah yang ada agar nggak jatuh. Akhirnya, sampailah kami di Benang Stokel. Kami memutuskan untuk singgah sejenak dan berfoto-foto ria. Itulah kisah perjalananku dan teman-temanku menjelajahi keindahan Benang Kelambu. Udah tahu dong kenapa disebut Benang Kelambu dan kaitannya dengan pengantin. Penasaran? Masih belum percaya juga? Ya udah silakan datang dan buktikan sendiri! Maaf saya nggak bertanggung jawab kalau ternyata aslinya jauh lebih indah dari foto-foto yang ada.

Terbukti, kan, kalau LOMBOK ITU INDAH?!

4 thoughts on “[Benang Kelambu] ~ Keindahan dari Relung Kalbu

    • Dong ayok ke Lombok, Aya!🙂
      Bales mention Twitter besok, ya. Ceritanya lagi off tweet sehari gegara MU kalah 1 – 0 dari Man City.🙂

    • Haish! Repost yang pernah dimuat di blognya ommin @infolombok.🙂

      Terus aku harus bilang “WOW” gitu?
      #eeaaa
      Mihihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s