#13HariNgeblogFF [2] Pukul 2 Dini Hari

13 DAYS

[2]

“Bahkan diam pun belum tentu menandakan persetujuan”

Gerimis berkepanjangan menyambut kedatangan Tobias kembali ke kota ini. Forsand, salah satu kota kecil di Norwegia yang dikelilingi oleh deretan bukit menghijau. Di sini pertama kalinya Tobias merasakan jatuh cinta. Bukan untuk pertama kalinya memang, tetapi setidaknya dia sedikit banyak mendapat pelajaran tentang bagaimana cara menghargai sebuah hubungan.

Seminggu memang waktu yang singkat menjalin hubungan bersama Aurora. Meskipun sesaat, tetapi kenangan tentangnya tidak bisa hilang begitu saja. Bahkan setelah setahun berlalu, dia masih juga belum bisa melupakan tentang hal itu. Terbukti hari ini dia kembali demi Aurora, meskipun kenyataan yang diterimanya justru sebaliknya.

Malam ini, Tobias masih belum bisa memejamkan mata. Penginapan sudah sepi. Keempat temannya sudah tertidur pulas di kamarnya masing-masing. Jonas sekamar dengan Sebastian, sementara Elvira sekamar dengan Josefine. Mereka, teman  seangkatan di Universitas Oslo, sengaja ikut ke Forsand mengisi liburan atas ajakan Tobias.

Lelah tubuh dan lelah hati memaksa Tobias langsung merebahkan diri di atas tempat tidur. Kasur empuk di sudut ruangan itu pun menemani kekosongan hati Tobias.

Tobias menikmati gerimis dari balik jendela kamarnya. Lampu kamar sengaja diredupkan sebab dia sengaja menyamarkan kesedihannya. Di atas bantal air matanya perlahan menggenang. Gerimis masih belum reda juga. Sepertinya malam begitu setia menerjemahkan isi hatinya. Dia melihat jam tangannya. Hampir pukul dua dini hari.

“Aurora….” Dia berbisik lirih hampir tak terdengar. Kalah oleh isak tangisnya sendiri.

Seperti ada kontak batin, tiba-tiba ada yang membuka pintu kamarnya. Tobias membiarkan hal itu terjadi. Dia tetap bergeming pada posisinya yang miring menatap gerimis di jendela. Dia sudah tidak peduli dengan apa pun yang akan terjadi. Bahkan sampai pintu tertutup kembali pun Tobias tetap seperti semula, terisak pelan.

Aroma wangi mendadak memenuhi ruangan itu. Tobias menciumnya, tetapi tidak memedulikannya. Dia memilih untuk tetap memejam meskipun hawa panas dirasakannya di kelopak mata. Tak lama kemudian, ada jemari mengusap air matanya dengan lembut. Dia membiarkannya. Keyakinan hatinya mengalahkan realita yang ada.

“Aurora….” Dia kembali mendesah pelan menyebut sebuah nama.

Jemari itu kembali mengusap air mata yang membanjir. Sesaat kemudian jemari itu sudah berpindah ke bagian pipi, kemudian ke leher. Tobias menggeliat kegelian saat jemari itu singgah di daun telinga kirinya. Tobias yakin itu adalah jemari Aurora, sebab hanya Aurora yang tahu kelemahannya.

“Aurora….” Tobias tidak tahan lagi dengan sentuhan-sentuhan nakal jemari itu.

Tobias kembali menggeliat saat kecupan hangat singgah di telinga kirinya. Kecupan-kecupan kecil itu mendadak semakin liar.

“Auroraaa….”

Lagi-lagi Tobias mendesah, lalu memutuskan untuk membalikkan tubuhnya. Kini pandangannya jatuh tepat di bibir yang baru saja mengecup daun telinganya. Tobias menggeser tubuhnya sedikit ke belakang karena terkejut.

“Jonas? Apa-apaan kamu?”

“Maafin aku, Tobias,” jawab lelaki itu berlari keluar menahan malu meninggalkan Tobias sendiri dalam rasa heran.

***

//

3 thoughts on “#13HariNgeblogFF [2] Pukul 2 Dini Hari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s