#13HariNgeblogFF [9] Menanti Dilamar

Hari kesembilan Tobias menikmati kota kecil Forsand. Hamparan hijaunya menawarkan keindahan. Itu adalah salah satu hal yang membuat dia memutuskan untuk memperpanjang masa liburan di tempat ini. Selain belum puas menjelajahi kenangan dari dermaga kanal sampai puncak bukit di batas kota, masih banyak hal yang harus diselesaikan. Ada janji yang harus ditepatinya empat hari lagi.

Langkah kaki Tobias menjejak jalan setapak. Kedua tangannya memegang erat stang sepeda yang disediakan oleh pihak penginapan. Sendiri dia menghabiskan hari. Sebastian dan Josefine dibiarkannya menikmati liburan itu berdua. Dia tahu, hari ini mereka sedang menikmati perjalanan dengan perahu pesiar keliling kanal.

Di depan sebuah restoran, Tobias menyandarkan sepedanya berderet dengan sepeda-sepeda lainnya. Dengan sedikit bergegas dia melangkah masuk. Di sebuah kursi, dia melihat-lihat daftar menu seafood. Sebenarnya hari ini dia sangat ingin mencoba makan lutefisk, masakan laut ala Norwegia, yang menjadi menu andalan restoran itu. Tetapi, Tobias mengurungkan niatnya. Dia memilih menu biasa. Menu yang sering dipesan bersama teman-temannya.

Seporsi menu seafood itu pun akhirnya tandas. Pun dengan segelas orang juice. Tobias melangkah ke wastafel. Air dingin membasahi kedua telapak tangannya. Sesaat kemudian, dia telah mengayuh sepeda melintasi bawah bukit sebelah kanan kota. Dia menyusuri setiap bagian dengan penuh kekaguman. Kota kecil yang tenang dengan segala rahasia keindahannya. Matanya terpaku pada bunga warna merah yang mulai menghiasi pohon Ash yang banyak tumbuh di tepi bukit itu.

Butiran bening mulai tampak membasahi kening Tobias. Beberapa helai rambutnya tampak lengket. Dengan napas yang sedikit memburu, Tobias memutuskan beristirahat. Kedua kakinya terjulur bebas ke arah tepi jalan. Kedua tangannya sibuk mengibas-ngibas untuk sekadar menghilangkan hawa gerah. Beruntung angin musim semi berhembus sepoi-sepoi.

Tobias merebahkan tubuhnya di bawah pohon teduh. Di antara sela-sela daun, dia bisa melihat langit yang biru bersih hampir tanpa awan. Bibirnya melengkung tipis. Pikirannya mendadak singgah di Aurora Coffee Shop.

“Semoga kata-kata Pak Bernard waktu itu bukan basa-basi.”

Tobias sangat berharap, Pak Bernard akan segera melamarnya untuk mengelola coffee shop itu. Terlebih kesanggupan Jonas untuk kembali lagi ke Forsand adalah titik terang bagi keinginannya. Dia yakin, sahabatnya itu tidak akan mengingkari janjinya. Meskipun, kejadian malam itu menyisakan rasa yang tidak bisa ditangkap oleh akal sehatnya, tetapi permintaan maaf Jonas telah meluluhkan hati Tobias. Permintaan maaf dengan cara yang tidak biasa.

Empat hari lagi. Tobias masih sabar menanti. Kesanggupan dari orang tuanya dan permintaan maaf Jonas adalah salah satu yang menguatkannya. Sebenarnya sudah sejak hari pertama kedatangannya, Pak Bernard melontarkan wacana itu. Tetapi, waktu itu Tobias menanggapinya biasa saja, sebab dia belum menyampaikan hal itu pada kedua orang tuanya. Dan, setelah kedua orang tuanya menyanggupi, sekarang giliran dia menanti dipinang oleh Pak Bernard.

Raut wajah Tobias mendadak berubah. Bibir tipisnya tak lagi melengkung. Kedua tangannya memukul-mukul permukaan tanah berlapis rumput hijau. Mendadak dia teringat kembali dengan Aurora, alasan dia berlibur ke Forsand. Sejenak kemudian, tangan kanannya menggenggam erat rumput hijau seakan hendak mencabutnya.

“Sayang, Aurora tidak bisa menjadi saksi terwujudnya mimpiku. Tapi, setidaknya aku masih bisa tetap dekat dengannya.”

Tobias mengangkat tubuhnya lalu kembali mengayuh sepedanya dan berhenti tepat di depan gerbang sebuah pemakaman. Batu nisan berjejer rapi di tanah pemakaman itu. Tetapi, beberapa di antaranya sudah ada yang rusak dimakan waktu. Seperti itulah perjalanan hidup yang akan dialaminya. Tak sampai lima menit, Tobias memutar kembali arah sepedanya dan perlahan meninggalkan pemakaman itu.

“Tunggu aku, Aurora. Aku akan kembali besok pagi dengan sebuah kabar gembira.”

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s