#13HariNgeblogFF [13] Cut!

13 DAYS

[13]

“Banyak cara mengungkapkan rasa, bahkan seringkali tidak masuk akal”

Seikat bunga semak ungu berpita biru tergeletak rapi di atas makam Aurora. Keheningan mendadak sirna setelah nada dering memecah sebelumnya. Tobias termangu dalam ragu, tetapi tetap tidak melangkah meninggalkan Aurora sendirian. Tanpa dipesan sekalipun, dia akan tinggal di sana dalam waktu yang cukup lama. Bahkan jika mungkin, sampai kematian datang menjemputnya.

Tangannya dengan cekatan memeriksa kembali pesan singkat yang baru saja diterimanya. Dia masih belum percaya kalau justru Elvira yang lebih dulu kembali ke kota ini dan bukan Jonas, seseorang yang sangat  dinantikan kehadirannya. Dada Tobias mengembang dan sesaat kemudian kembali mengempis. Sesak rindu telah usai, kini berganti dengan sesak pilu tentang rasa baru.

Tanpa memikirkan egoismenya sendiri, Tobias membalas pesan singkat itu dengan sangat singkat. Berharap tidak akan memperpanjang waktu untuk segera bertemu dan menyelesaikan pertarungan rasa cinta antarsahabat. Rasa yang datang dengan tiba-tiba bahkan tanpa peduli status hubungan mereka.

Tatapan mata Tobias menerawang jauh ke arah pohon konifer yang berderet di pinggir bukit. Menjulang dan tegar menghadapi serbuan angin musim semi. Tobias menguatkan hatinya, bahwa semua akan bisa dilaluinya dengan baik, seperti pohon konifer yang tetap bertahan hidup pada empat musim.

Pendengaran Tobias menangkap sinyal suara ranting terinjak dari arah pintu masuk pemakaman. Secara refleks dia menoleh ke arah suara. Seorang gadis bertubuh gemuk melangkah ke arahnya. Tangan kanannya menenteng seikat bunga semak ungu berpita biru. Persis yang baru saja diletakkan di atas makam Aurora.

Senyum tipis tercetak jelas di wajahnya yang merah merona. Baju kasualnya dipadu dengan celana panjang warna senada. Dengan flat shoes-nya dia berjingkat lincah di antara makam-makam yang ada. Dia akhirnya sampai juga di hadapannya tanpa berkata-kata, langsung meletakkan bunga dan mengambil sikap berdoa. Hening.

“Kamu kok mendadak ke sini, El?”

“Kenapa? Tidak suka aku balik ke sini lagi? Bukankah waktu itu aku bilang hanya mengantarkan Jonas saja? Kamu lupa, ya?”

Tobias terdiam mendengar cecaran pertanyaan dari Elvira. Kekagetannya masih belum hilang. Baru hilang saat Elvira menepuk pundaknya lalu menggenggam erat jemarinya. Tobias tidak menunjukkan sikap protes. Dia membiarkan jemarinya bertaut dengan jemari Elvira.

Sorry, El. Aku suka kok kamu kembali ke sini.” Tobias berusaha tersenyum agar suasana tidak membeku.

Elvira membalas senyuman Tobias. Baru kali ini dia benar-benar terpesona dengan senyum tulus Tobias. Senyum yang sudah membuatnya lupa dengan kejadian yang telah mereka lalui. Terlebih tatapan teduh mata Tobias yang menghunjam tepat ke jantungnya lewat binar matanya. Dia jatuh cinta lagi pada Tobias, untuk kesekian kalinya.

“Kamu mau sampai kapan seperti ini?”

“Entahlah, El. Aku tidak tahu pasti. Mungkin sampai rasa ini benar-benar hilang,” Tobias menjawab kelu.

“Tobias… Apa kejujuranku tidak cukup ampuh membuka kembali hatimu?”

Tobias menundukkan kepala, menghindar dari tatapan mata Elvira. Dia tidak mempunyai alasan kenapa sampai sekarang dia tidak pernah benar-benar bisa mencintai gadis lain selain Aurora. Dan, saat ini, di sini, cintanya benar-benar telah dimakamkannya bersama jasad Aurora.

Elvira tak kunjung melepaskan genggaman tangannya. Seandainya tidak di pemakaman, mungkin dia sudah memeluk tubuh Tobias untuk menenggelamkan rindunya. Perlahan dia memahami yang dibutuhkan Tobias saat ini adalah genggaman tangan seorang sahabat, bukan kekasih. Elvira pun akhirnya bisa memposisikan dirinya sebagai seorang sahabat bagi Tobias.

Keduanya masih hening di tengah pemakaman yang sepi. Tubuh Elvira tenggelam dalam pelukan hangat Tobias, sehangat matahari yang beranjak menuju titik tengah rotasi bumi. Tobias merangkul Elvira dan mengajaknya keluar area pemakaman. Belum sampai lima langkah, mendadak Tobias dikejutkan oleh suara tepuk tangan dari arah pintu masuk.

Mereka menghentikan langkahnya. Tobias melepaskan pelukannya di bahu Elvira. Dia juga mengambil sedikit jarak darinya. Pandangan matanya tak lepas dari langkah kaki yang perlahan mendekat. Suara tepukan terdengar semakin jelas dan hilang saat mereka berjarak satu meter.

“Cut!”

Dia berteriak lantang di depan Tobias dan Elvira. Sorot matanya tajam ke arah keduanya, “Aku sudah menduga. Sayangnya akting kalian kurang meyakinkan.”

“Jo… Jonas?”

Keduanya terperangah mendapati Jonas yang berdiri tegak di depan mereka. Seharusnya dia masih berada di Oslo, bukan di sini.

“Iya… Ini aku. Kenapa? Kaget? Aku sengaja mempercepat kembali ke sini setelah tahu Elvira ternyata sudah berangkat lebih dulu.”

“Tidak kenapa-napa. Aku cuma heran saja. Bukankah seharusnya baru besok kamu kembali ke sini seperti janjimu?” tanya Tobias.

“Kebetulan urusan di Oslo sudah selesai. Jadi, aku percepat saja ke sini. Rinduku padamu sudah tak tertahankan lagi.”

Jonas tertawa ditimpali gelak Tobias dan Elvira. Ketiganya pun terbahak akrab seperti biasanya. Tobias tidak perlu menjelaskan semuanya, sebab Jonas tahu kalau dia dengan Elvira tidak ada hubungan apa-apa selain sahabat. Tetapi, asumsi Jonas tidaklah seperti dugaannya.

“Oya… kamu sudah bertemu dengan orang tuaku?”

“Maaf, Tobias. Aku memutuskan menyelesaikan urusan ini sendiri tanpa menghubungi orang tuamu. Kamu tidak marah, kan?”

“Aku tidak punya alasan untuk marah, Jonas. Terima kasih ya kamu sudah membantuku.”

“Ini demi menebus kesalahanku padamu dan persahabatan kita.”

Ketiganya kembali larut dalam kebahagiaan. Betapa hal ini adalah yang mereka inginkan sejak awal mereka bersahabat. Hangat.

“Aku akan mewujudkan mimpi sejatimu,” Jonas membatin.

“Oya, Sebastian sama Josefine ke mana? Kok tidak kelihatan?” tanya Jonas membuyarkan suasana melankolis itu.

“Mereka sedang menikmati liburan ke tebing kematian. Itu yang pernah kuceritakan padamu dulu.”

Jonas mengangguk pelan. Sesaat kemudian Jonas mengeluarkan berkas yang dibutuhkan dan menyodorkannya pada Tobias. Tobias semakin terharu saat melihat berkas yang dibawa Jonas sudah lengkap. Tak terkecuali Elvira juga ikut senang. Akhirnya, mereka bisa baikan seperti semula.

Tobias menyodorkan kembali berkas itu pada Jonas. Kedua tangannya maju hendak memeluk Jonas. Tiba-tiba terdengar suara pistol menyalak, hampir tak terdengar. Tobias jatuh terkulai di atas sebuah makam memegang dada kirinya yang berlubang dan mengeluarkan banyak darah.

“Kalau aku tidak bisa memilikimu, maka takkan kubiarkan orang lain untuk memilikimu juga. Selamat menjemput mimpi sejatimu, Sahabatku.”

“Sekarang giliranmu, wanita palsu dengan ketidakjujuran perasaan yang memuakkan!”

Untuk kedua kalinya pistol kembali memakan korban. Kali ini Elvira yang jatuh terjerembab.

“Kini aku bisa memiliki Aurora Coffee Shop untuk diriku sendiri.”

Tawa kemenangan pun kemudian meledak di pemakaman yang hening siang itu.

-Fin-

2 thoughts on “#13HariNgeblogFF [13] Cut!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s