#30HariMenulisSuratCinta [16] Mataram, Keindahan Bak Pualam

Untukmu Mataramku,

Ini adalah surat terbuka pertama dariku untukmu, Mataram. Semoga saja, entah kapan pun, akan ada pejabat pemerintahan di wilayahmu yang membaca curahan rasa cintaku ini. Rasa cinta yang mulai tumbuh sejak aku mengenalmu, dua belas tahun yang lalu.

Mataramku yang semakin maju,

Di salah satu titikmu, aku pernah menjadi saksi perubahanmu ke arah yang lebih maju. Aku mengenalnya sebagai pasar Kebon Roek. Aku ingat betul, sebab hampir delapan tahun lamanya aku setia menjelajahi setiap titiknya, membantu masku berjualan bakso. Dulu, pasti kamu ingat seperti apa pasar Kebon Roek, kan? Aku pun masih ingat betul pasar Kebon Roek, sebuah pasar tradisional yang semrawut dan belum tertata. Sampai akhirnya, terjadi musibah dua kali kebakaran, pasar itu tetap bisa berdiri sampai sekarang. Kini, pasar tradisional yang kumuh itu telah berubah menjadi pasar yang rapi dan maju. Akan tetapi, jangan bangga dulu. Sebab masih perlu pembenahan di beberapa lokasinya. Mulai dari pengaturan lapak pedagang sampai sistem drainase. Terlebih di bagian timur pasar yang menjelma genangan dan tumpukan sampah, sehingga mengeluarkan bau busuk. Semoga bisa segera ditangani dengan kerja sama dan koordinasi yang baik antara pemerintah dengan pedagang untuk bersama-sama membenahi melalui kesadaran membuang sampah pada tempatnya. Sehingga pada akhirnya, penghargaan-penghargaan yang pernah kamu terima itu memang pantas adanya.

Mataramku yang semakin religius,

Tentu kamu masih menyimpan memori kejadian kerusuhan antaragama tahun 1999, kan? Kenangan itu juga masih membekas di hatiku. Meskipun aku tidak menjadi saksi secara langsung karena sedang mudik, tetapi aku tahu dampak yang kamu alami. Terlebih di dunia pariwisata Lombok yang mendadak menurun jumlah kunjungan wisatawannya. Sangat disayangkan waktu itu karena wargamu mendadak mudah terprovokasi. Waktu itu aku bahkan sempat berpikir untuk tidak menginjakkan kaki lagi di tanahmu. Tapi kemudian kenyataan menyadarkanku, bahwa hidup harus berjalan apa pun kondisimu waktu itu. Aku pun kembali menjejakkan kaki di tanah suburmu. Kini, aku bisa berbangga hati, karena sejak kejadian itu tak ada lagi konflik yang mengancam ketenanganmu. Semua umat beragama bisa hidup rukun dalam satu tujuan bersama, memajukanmu. Semoga tragedi itu tidak terjadi lagi dengan semakin tingginya toleransi umat beragama di wilayahmu.

Mataramku yang semakin berbudaya,

Dulu, pertama kali aku mengenalmu, kutemukan keunikan budaya yang tidak pernah kutemui sebelumnya di tanah kelahiranku, Solo. Aku begitu kagum dengan apa yang kamu miliki. Adat-istiadat dan budaya yang tetap dilestarikan dan dijunjung tinggi. Dari keragaman aksen bicara sampai pada adat unik ‘nyongkolan’ dan tradisi-tradisi lainnya. Meskipun statusnya sebagai pendatang, tetapi aku ikut bangga dengan yang kamu miliki. Salah satu caranya yaitu aku selalu berusaha menyempatkan diri hadir dalam setiap event tahunan, seperti Lebaran Topat. Terkait dengan budaya, sepertinya semua bisa dilestarikan, karena bisa menarik perhatian wisatawan. Menurutku perlu diperbanyak lagi event budaya yang diselenggarakan secara profesional.

Mataramku yang semakin kubanggakan,

Semua itu adalah hal-hal yang membuatku jatuh cinta padamu. Selain tentunya keramahan wargamu, suasanamu yang tenang, dan perkembangan yang semakin menjanjikan. Tapi, sayang sekarang Mataramku yang dulu lahan hijau perlahan-lahan berubah menjadi lahan ruko. Dan, sayangnya tidak semua ruko dimanfaatkan dengan baik, bahkan beberapa di antaranya justru terbengkalai. Apakah memang seperti ini wajah Mataramku seharusnya? Tentu tidak. Tapi bagaimanapun juga itu adalah konsekuensi kemajuanmu. Semoga pada waktu mendatang aku bisa kembali menemukan wajah Mataramku yang tetap memikat seperti sebelumnya meskipun sudah berjamur ruko-ruko. Bukan itu saja. Sebagai wargamu, kadang aku merasa iri dengan kemajuan pariwisata daerah lain di pulau Lombok. Padahal sebenarnya, kamu juga memiliki potensi yang tidak kalah besarnya. Kamu punya pusat budaya, pusat kerajinan, pusat kuliner, dan pusat wisata pantai. Mungkin butuh waktu untuk membenahi pariwisatamu. Sebisa mungkin aku akan selalu mendukung demi kemajuanmu lewat karya nyata sesuai bidang keahlianku.

Sekian dulu, dan asal kamu tahu, apa pun adanya dirimu saat ini, aku tetap mencintaimu. Sebab itu jangan kecewakan aku dengan berhenti berbenah. Aku yakin kamu bersama wargamu, termasuk aku, bisa membenahi semua kekurangan dan menjadikanmu lebih maju, sehingga keindahanmu yang bak pualam takkan pernah memudar.

Dariku yang mendambakanmu lebih maju, religius, dan berbudaya,

@momo_DM

5 thoughts on “#30HariMenulisSuratCinta [16] Mataram, Keindahan Bak Pualam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s