.:. Mengeja Usia Rindu untuk Ibu .:.

Ibu…
Sebab cintamu yang penuh,
Dulu dalam dekapmu, luka begitu mudah sembuh,
Dan, hatiku pun tak lagi bermandi keluh,
Kini, jauh darimu membuat usiaku tak lagi mengenal kata mengeluh.

Ibu…
Sebab kasihmu yang utuh,
Dulu dalam ragamu yang rapuh, duka hampir tak pernah tersentuh,
Dan, damai bukan lagi ketakutan yang penuh,
Kini, tanpamu membuat usiaku memahami tentang cinta seluruh.

Ibu…
Sebab sayangmu yang tak palsu,
Dulu pada dadamu yang bisu, kusandarkan pilu yang masih ingin menyusu,
Dan, ketenangan hati adalah teduh senyumanmu,
Kini, tak di pelukmu membuat usiaku mengerti bahwa hidup adalah tentang menyayangi selalu.

Ibu…
Sebab kau telah melahirkan aku,
Dulu pada punggungmu kusandarkan tangisanku,
Dan, seketika airmata bukan lagi tetes kesedihan yang harus dieja,
Kini, yang ada hanya punggung tanganku, perlahan kuhadirkan airmataku.

Ibu…
Sebab kau mencintaiku,
Dulu lenganmu adalah bahagia masa kecilku,
Dan, tawa selalu saja hadir di tengahnya, terburu-buru,
Kini, jarak memisahkan lengan itu, meninggalkan tawa semu.

Ibu…
Sebab kau mengasihiku,
Masa kecilku adalah bahagia tanpa perlu ragu,
Dan, riang adalah sela-sela jemari yang menuntuku,
Kini, jemarimu adalah doa bagi setiap pertambahan usiaku.

Ibu…
Sebab kau adalah ibuku,
Masa kecilku tak pernah mengenal kata rindu selain engkau,
Dan, menginginkan pelukan untuk luka tak pernah sesulit mengeja waktu,
Kini, sejuta langkah darimu, aku hanya bisa memelukmu dalam doaku.

Ibu…
Sebab kau adalah cahaya,
Masa kecilku tak pernah mengerti gulita kehidupan yang sesungguhnya,
Dan, pelita adalah petuahmu yang bijaksana,
Kini, seribu tahun cahaya darimu, aku kembali bertambah usia.

Ibu…
Sebab kau adalah alasanku mengeja waktu,
Tak apa kan, kalau aku belum bisa memberikan kebahagiaan untukmu?
Kebahagiaan yang menguatkan usia senja rapuhmu?
Dan, kelak di sisa usiamu, janjiku adalah prasasti bertambahnya usiaku.

Ibu…
Sebab kau adalah adanya usiaku,
Akan kuberikan bahagia semampu aku membahagiakanmu,
Aku tahu kau tak pernah menuntut itu,
Dan, setua apa pun aku, aku tetaplah anak bungsumu.
Iya kan, Bu?

Mataram, 27 Maret 2013 (00:00 Wita)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s