Keputusan dalam Keputusasaan [1]

Ketika keputusan telah dibuat, sudahkah siap dengan konsekuensinya? Ataukah itu hanya keinginan untuk mencari pelampiasan dari keputusasaan saja?

Angelica

“Damn!”

Aku membanting berkas yang baru saja diberikan Bos. Beruntung ruangan sudah sepi. Teman-teman sekantorku sudah pulang lebih cepat. Tinggal beberapa saja yang masih tinggal karena menunggu hujan reda. Sementara aku, sendirian bengong menatap layar komputer yang masih berkedip menggodaku. Ini adalah risiko yang harus kujalani. Keputusan awal untuk mengambil pekerjaan ini setelah dua tahun masa kontrakku habis. Aku bersyukur, karena dari beberapa teman seangkatanku, hanya aku yang berhasil diangkat menjadi pegawai tetap. Bukan sebuah perusahaan yang besar memang, tetapi setidaknya ada jaminan kepastian tentang masa depanku.

Dan, hari ini, adalah pertama kalinya aku mengomel sepanjang hari. Aku tahu hari ini adalah hari pertama puasa. Tapi, bagiku yang seorang Islam KTP, hal itu tidaklah sepenuhnya berpengaruh pada kepribadianku. Puasa atau tidak, aku tetap seperti biasanya. Dari mengomel tidak jelas sampai kadang-kadang berteriak-teriak keras tanpa alasan. Beruntung, teman-teman di kantorku paham. Selama ini belum ada yang berani komplain. Sebenarnya hanya sebatas itu, di depan customer, aku tetaplah seorang pelayan yang memiliki senyum paling menawan. Tak peduli hati sedang gundah, atau sedih berkepanjangan. Aku ahli dalam hal itu. Iya. Muka dua mungkin julukan yang tepat bagiku.

“Angel… Kamu enggak pulang?”

Aku mendongak melepaskan pandangan dari meja kerjaku. Kutatap Naomi yang berdiri tepat di depan kubikelku. Kulihat tas kecil warna hitam menggantung di pundaknya. Sama persis seperti milikku yang kubeli setahun lalu di Bali. Pandanganku berpindah pada jarinya yang bertumpu pada pembatas kubikelku, sebuah cincin emas bermata mutiara dengan ukiran rumit, melingkar di jari manis kirinya. Tak ada bedanya dengan yang kupakai di jari manis kiriku. Warna mutiaranya, bentuk ukirannya, dan mungkin bisa jadi berat emasnya juga.

Demi mengingat barang-barang yang dimilikinya hampir semuanya sama dengan yang kumiliki, mendadak aku merasa jengah. Masak iya, sih. Ada orang yang terang-terangan jadi copy cat. Dan, Naomi berhasil memerankannya dengan sempurna. Hanya saja, ada satu hal yang sama yang tak bisa dilakukan Naomi, menjadi kesayangan Pak Bos. Aku tersenyum ramah ke arahnya.

“Entaran. Aku masih banyak yang harus diselesaikan.”

Aku pura-pura sibuk membongkar-bongkar laporan yang harus kuselesaikan. Awal bulan yang hectic bagiku.

“Mau sampai jam berapa?”

“Entahlah.”

“Jangan kemaleman pulangnya. Entar, kan, harus tarawih.”

Busyet! Sejak kapan gadis binal ini jadi sok relijius seperti ini. Hei!It’s not your bussiness, Bitch! Demi apa Naomi tiba-tiba berubah menjadi seperti Mamah Dedeh. Ini hanya salah satu hal yang selama ini tidak pernah aku suka dari dia. Sok inilah, sok itulah. Dia pikir dia siapa bisa mengatur-atur hidupku.

“Iya. Iya. Bawel, deh.”

“Eh… By the way, kamu entar tarawih di mana?”

“Di masjidlah. Masak iya tarawih di mal. Hih! Udah… Udah… Mending kamu pulang sebelum kulempar pakai monitor ini.”

“Oohhh… Kamu tarawihnya di masjid juga? Kirain kamu kayak biasanya, tarawih di kafe di Senggigi.”

“Brengsek!”

Naomi melangkah dengan congkak menjauhi meja kerjaku. Suara high heels
Itu masih jelas terdengar di koridor depan pintu keluar ruanganku. Aku tahu dia sengaja seperti itu. Bahkan, sampai suara sepatu itu menghilang, aku masih ingat dengan apa yang dikatakannya.

“Ohh… Kamu tarawihnya di masjid juga?”

Sungguh pertanyaan yang membuat kesabaranku mendadak berpindah ke ubun-ubun. Ingin rasanya saat itu juga aku tarik jilbab hijau mudanya, lalu kupakai untuk mengikat lehernya sampai kehabisan napas. Perempuan macam apa yang seenaknya merendahkan perempuan lainnya?
Tahu apa dia tentang hidupku? Lalu, apa urusannya dia dengan hidupku? Toh, selama ini aku tidak pernah mencari gara-gara dengannya.

Naomi

Di depan kantor, aku melihat seorang lelaki muda berusia sekitar tiga puluh tahun atau lebih sedikitlah. Dia tampak menjinjing sebuah tas plastik berwarna merah memasuki gerbang kantor yang belum ditutup. Hmm… Sepertinya dia membawa takjil. Tapi, dia membawakannya untuk siapa? Dan, bukan itu saja. Tangan kirinya juga menenteng sebuah tas plastik. Sepertinya buku. Buku apa?

Sambil menunggu jemputan, aku berteduh di depan pos satpam. Seorang satpam berwajah cukup tampan mengajakku mengobrol. Aku hanya sesekali saja menanggapinya. Ada hal lebih penting yang harus aku ketahui, melebihi urusan dengan satpam yang sok akrab itu.

Mataku lekat menatap rambutnya yang disisir rapi dan jas warna hitam yang dipakainya. Dengan payung hijau bertuliskan nama perusahaan, dia menembus gerimis tanpa ragu dari arah tempat parkir mobil. Meskipun gerimis, aku tetap mengenali dari cara berjalannya. Aku bergegas merapat ke bagian belakang pos satpam agar keberadaanku tidak diketahui olehnya.

“Aman.”

Dengan sepatu pantofel hitam mengilat, dia melangkah mantap mendaki setiap undakan di pintu masuk kantor. Wait! Dia masuk kantor? Apakah aku tidak salah lihat? Jangan-jangan…

“Mbak Naomi kok kaget gitu?”

Suara satpam yang baru bertugas sebulan di kantorku ini mengagetkanku.

“Kenapa emang? Enggak boleh? Apa urusanmu? Hah?! Hah?!”

“Ya emang, si, enggak ada urusannya sama saya. Tapi, kan, wajah cantik Mbak Naomi jadi enggak enak diliat kalau kaget kayak gitu.”

“Heh! Jangan kurang ajar kamu, ya! Aku timpuk pakai sepatu ini, tahu rasa kamu!” kataku sambil mengangkat kaki kananku dan pura-pura hendak melepas sepatu.

“Ampun, Mbak! Saya, kan, cuma becanda, Mbak.”

“Udah! Enggak penting ngurusin satpam resek kayak kamu.”

“Enggak lagi, deh, Mbak. Oya, kalau boleh tahu, kenapa, si, Mbak Naomi sampai segitu kagetnya lihat Pak Rajendra masuk ke dalam kantor. Salah gitu? Lhah?! Kantor itu kan kantornya sendiri, Mbak.”

“Bukan masalah itu, Dodol!”

“Pasti karena barang yang dibawanya, ya. Saya tahu, kok, barang-barang itu untuk siapa.”

Mataku terbuka lebar ke arah satpam tak tahu diri itu. Keningku mendadka sedikit berkerut. Hmm… Kalau memang dia tahu, aku akan mendapatkan banyak informasi darinya. Perlahan aku bersikap seolah-olah sedang berhadapan dengan customer kelas kakap.

“Kamu serius, Ron?” tanyaku dengan nada sehalus mungkin.

“Seriuslah, Mbak. Sambil nunggu jemputan, mending Mbak Naomi masuk dulu biar enggak basah. Entar saya ceritain semuanya, deh. Gimana?”

Sial! Satpam ini lama-lama kurang ajar. Aku menggerutukkan gigi menahan kesabaran. Untung aku ada maunya. Kalau tidak bisa saja sepatuku pindah ke kepalanya.

Dengan hati-hati, langkah sepatuku menjejak keramik putih di undakan pos satpam itu. Kuangkat sedikit rok panjangku di setiap undakannya.

“Dasar rok panjang sialan!”

Seharusnya aku memakai celana panjang dengan potongan yang kudesain sendiri. Bukan memakai rok panjang yang mengurangi kenyamananku dalam melangkah. Seandainya tidak wajib, aku tidak akan pernah mau memakai rok ini. Ribet.

“Jadi gini, Mbak.”

Aku memerhatikan gerak bibir Ronald dengan saksama seolah-olah tak mau ketinggalan dengan apa yang akan diceritakannya. Dipikir-pikir, si, Ronald ini terlalu handsome untuk ukuran seorang satpam. Tak kupungkiri, ketampanannya tidak kalah dari Pak Rajendra. Hanya saja, jabatan yang membuat keduanya tampak beda di mataku. Bibir tipis Ronald yang merah terus bergerak-gerak merangkai kata. Sementara aku, hanya mengangguk-angguk mendengarkannya.

“Gitu, Mbak. Jadi, sebenernya Pak Rajendra itu udah pacaran lama sama Mbak Angelica.”

Deg!

Jantungku seakan berhenti berdetak. Kenyataan yang sama sekali tak ingin kuketahui. Aku menyesal telah berusaha mencari tahu semuanya lewat Ronald. Ronald yang sepertinya tahu kekagetanku, berusaha menenangkanku.

“Mbak enggak papa?”

I’m okay. Don’t worry. Oya, sebenernya kamu tahu dari mana, si, Ron?”

“Oalah Mbak… Mbak… Saya selain jadi satpam di sini, kan, juga merangkap sopir pribadi keluarga Pak Rajendra.”

Busyet! Sudah sebulan Ronald di sini dan aku baru tahu kalau ternyata dia juga dekat dengan Pak Rajendra. Kenyataan apa lagi ini. Aku mengutuk diriku sendiri. Selama ini aku sama sekali tidak pernah berpikir, bahwa Ronald adalah orang terdekat Pak Rajendra. Aku sudah benar-benar dibutakan oleh cinta, sampai-sampai aku tidak peka dengan sekitarku, yang seharusnya bisa menjadi jalan mudah bagiku.

Suara sepeda motor matic terdengar berhenti di depan pos satpam. Dion. Aku meninggalkan Ronald dalam raut kekecewaan. Gerimis pun telah pergi, berganti dengan rinai yang perlahan melarutkan eye shadow dan bedakku. Ini pertama kalinya aku cemburu yang sebenar-benarnya cemburu. Kenapa harus Angelica, Pak Rajendra?

Rajendra

Aku menapak keramik putih di kantor yang telah aku diami hampir sepuluh tahun ini dengan pasti. Suara sol sepatu pantofel menimbulkan suara yang memupus suasana kantor yang hening. Langkah kaki membawaku ke lantai dua. Debar menjalar saat lorong jatuh di pandanganku. Sementara kedua tanganku menenteng dua tas plastik yang berisi penuh, hatiku pun penuh oleh harapan-harapan.

Membawa takjil tak pernah seberat membawa buku. Tinggal beberapa langkah lagi aku akan sampai. Takjil menemani lembur malam ini, dan buku agama sebagai makanan tambahan yang lezat dan bergizi. Kebetulan di toko buku milik Adam itu ada diskon selama bulan Ramadan ini. Aku mengetahui keberadaan toko buku di samping lapangan olahraga itu berkat informasi dari Ronald. Langganannya semasa kuliah, katanya. Dan, terbukti rekomendasi Ronald tidak salah. Justru di toko buku kecil itu, aku menemukan dua surga. Surga bacaan sekaligus jalan menuju surga yang sesungguhnya lewat buku agama koleksinya. Lengkap. Mulai dari petunjuk beribadah sederhana sampai karya-karya tokoh muslim yang mendunia.

“Assalamu’alaikum.”

“Walaikumsalam.”

Angelica menjawab salamku seperti biasa saat aku berkunjung ke kontrakannya. Lengkungan mendadak tercipta dari bibirnya. Aku membalasnya dengan menunjukkan barang-barang yang kubawa untuk menyenangkannya. Dua tahu adalah waktu yang cukup bagiku untuk mengenal Angelica. Meskipun, belum semua hal bisa kuketahui, setidaknya aku tahu makanan kesukaannya, siomay.

“Ini aku bawain takjil untuk buka. Enggak seberapa, si. Cuma kurma sama… ”

“Sama apa, Raj?”

“Sama apa hayo? Coba tebak?”

Seperti seorang pemikir ulung, Angelica berulangkali mengerutkan keningnya. Dan, akhirnya dia pun berhasil menebak makanan yang kubawa.

Di kejauhan terdengar suara azan Magrib berkumandang. Setelah berdoa aku mengajak Angelica untuk berbuka puasa. Tiga biji kurma dan air mineral cukup manjur mengembalikan stamina tubuhku.

“Sebenernya kamu enggak usah gini-gini banget, Raj.”

“Kenapa emang?”

“Aku enggak enak aja ama temen-temen lain.”

“Jadi, kamu enggak nyaman bersamaku?”

“Hih! Bukan gitu juga kali. Ah sudahlah! Laper, nih!”

Aku menuruti kata-kata Angelica. Ritual selanjutnya adalah salat magrib berjamaah. Ini adalah konsekuensi atas perintah yang kuberikan padanya sebagai atasan. Dan, kali ini aku yang harus menemaninya lembur pekerjaan, sebagai kekasihnya. Selesai dengan semua itu kusodorkan buku-buku agama padanya. Satu per satu ditelitinya judulnya. Tak lama, buku-buku itu telah berpindah dari tangannya ke laci mejanya.

Aku hanya bisa menatapnya dengan pandangan penuh tanda tanya. Apakah yang kulakukan padanya ini adalah benar? Ataukah ini hanya keinginanku semata agar aku lebih dihargai sebagai kekasihnya? Entahlah.

*** bersambung ***

~ mo ~

Advertisements

2 thoughts on “Keputusan dalam Keputusasaan [1]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s