Keputusan dalam Keputusasaan [3]

Ketika mimpi seakan hilang begitu saja, akankah cinta yang mempertahankannya?  Atau justru hati memilih menyerah begitu saja?

Rajendra

Brak!

Suara benturan yang terdengar keras membuat tubuhku sedikit terlonjak. Kerumunan orang semakin banyak. Aku penasaran dengan yang terjadi. Dengan sedikit bergegas, aku membuka pintu depan mobil. Kakiku menjejak trotoar di depan sebuah sekolah kejuruan negeri di Mataram yang remang-remang itu. Suara riuh kerumunan beberapa orang itu sudah seperti lebah yang berdengung. Beberapa di antaranya ada yang bisik-bisik, tapi tak sedikit yang bicara keras tentang insiden yang terjadi.

“Kayaknya dia mabok tuh!”

“Mentang-mentang mobil bagus.”

“Lain kali hati-hati, dong, Pak!”

Dan, masih banyak suara-suara lainnya yang menggaduhkan kepalaku. Di trotoar itu, aku melangkah ke depan dan berhenti tepat di tong sampah berwarna biru bertuliskan Pemkot Mataram. Tempat sampah itu remuk dengan penyangga besi yang bengkok. Aku menundukkan tubuhku, lalu mengecek bumper depan mobilku.

“Cuma lecet dikit.”

Aku mengambil jarak lima langkah ke belakang lokasi kejadian itu. Kusandarkan tubuhku  ke pagar depan sekolah itu. Jari-jariku refleks meraih ponsel di kantong celana kerjaku. Sederet nomor berhasil aku hubungi.

“Assalamu’alaikum.”

“…”

“Bisa minta tolong dibangunin. Penting ini.”

“…”

“Terima kasih. Assalamu’alaikum.”

Kututup sambungan telepon dengan sesekali mengetuk-ngetukkan sepatu pantofelku di pagar tembok itu. Sementara kerumunan orang-orang yang menyaksikan kecelakaan barusan sudah pergi. Tinggal aku sendiri memikirkan cara agar mobilku bisa sampai rumah. Dan, sepertinya pikiranku tak cukup kuat membuatku berpikir. Aku terduduk di atas rumput, memegang kepala bersandar pada pagar tembok.

Tidak seharusnya malam ini aku memaksakan diri mengikuti Angelica ke Senggigi. Untuk apa? Toh sejak mengenalnya aku sudah tahu dia itu gadis seperti apa. Bahkan, sebelum akhirnya berada di bawah atap kantor yang sama, aku justru mengenalnya saat aku menghabiskan malam Minggu di Happy Cafe. Dua tahun yang lalu, dia adalah seorang penyiar senior sebuah radio swasta di Mataram yang merangkap sebagai penyanyi kafe. Dan, kebetulan kantorku menggunakan jasanya dalam sebuah acara gathering di Happy Cafe.

“Rajendra,” kataku mengulurkan tangan padanya yang duduk tepat di depanku seusai acara.

“Saya Angelica, Pak.”

Dari raut wajahnya, aku taksir usianya sekitar 28 tahun. Selisih hampir enam tahun denganku. Tapi, dugaanku salah, karena ternyata dia baru berusia 24 tahun yang berarti selisih sepuluh tahun denganku. Ah! Aku salah menilai umur seseorang dari wajahnya. Dari ceritanya, aku tahu beban hidup telah mengguratkan kedewasaan di wajahnya.

“Kamu nyaman dengan yang kamu jalani saat ini, Ngel?”

“Insya Allah, Pak. Demi hidup saya dan adik-adik saya, mau tidak mau saya harus membuatnya nyaman.”

Jawaban-jawaban cerdas keluar begitu saja dari bibirnya. Ini yang kukagumi darinya. Tentang hidup yang bahkan aku sendiri tidak pernah terpikir tentang hidup itu sendiri apa. Jauh beda dengan pemikiranku yang hidup hanya untuk diriku sendiri. Bagaimana tidak. Sebagai anak tunggal dari keluarga pengusaha restoran yang mapan, aku tak perlu repot-repot membantu orang tuaku dalam hal finansial. Semua murni untuk diriku sendiri.

“Kebetulan di kantor saya ada lowongan untuk tenaga kontrak. Kalau kamu berminat, besok aku tunggu di kantor. Ini kartu nama saya.”

“Terima kasih, Pak.”

Obrolan pun kututup dengan keyakinan, bahwa dia akan menemuiku keesokan harinya. Dan, benar adanya. Angelica datang dengan sederet kemampuan di curriculum vitae-nya. Tanpa berpikir panjang, aku menerimanya sebagai tenaga kontrak bersama beberapa teman seangkatannya. Awalnya aku memang sempat ragu kalau dia bisa bekerja sama denganku di kantor. Tapi, Naomi, pegawai senior di kantorku meyakinkan, bahwa Angelica pasti akan berubah setelah dia mendapatkan pekerjaan tetap.

Sampai saat ini, setidaknya Naomi benar. Angelica bisa diajak bekerja sama dengan etos kerja yang luar biasa. Tetapi, tidak semua keyakinan Naomi benar adanya. Terbukti sampai sekarang, Angelica, masih menekuni kesenangannya menghibur tamu-tamu di kafe sebagai penyanyi.

Harusnya malam ini aku percaya padanya. Tapi, rasanya aku sudah tidak sanggup untuk terus-terusan berbaik sangka. Bayangkan! Di depan mata kepalaku sendiri, jelas-jelas Angelica memilih berpisah dengan teman-temannya dan naik mobil mewah bersama seorang Om-om seusiaku. Seketika mimpiku hancur berkeping-keping. Kehancuran yang membuatku berpikir ulang tentang arti pernikahan.

“Bapak baik-baik aja?”

Suara Ronald mengubur ingatanku dan mengembalikan aku ke dunia nyata. Kuraih tangannya yang terulur ke arahku. Berkat Ronald, aku pun akhirnya bisa kembali duduk nyaman di jok depan mobilku yang sedikit ringsek bagian bumper depannya. Beruntung kerusakan itu tak lebih hancur daripada mimpi yang selama ini telah kubangun. Entah kapan aku akan bisa merapikannya. Waktu? Iya. Hanya waktu yang bisa menjawabnya.

Ronald

Di samping Pak Rajendra, saya mengemudi dengan tenang setelah sebelumnya tak lupa membayar taksi yang mengantar saya. Sudah hampir pukul tiga dini hari. Waktu di mana seharusnya saya terbangun untuk salat tahajud bersama Kak Adam. Tapi, dini hari ini saya terbangun karena ada hal urgent yang harus diselesaikan. Pak Rajendra membutuhkan saya segera. Tentu saya tak bisa menolaknya. Bagaimanapun juga status saya adalah sopir pribadi keluarganya. Sesuai kesepakatan, kapan pun dibutuhkan saya harus siap.

Saya melambatkan laju mobil saat melewati Kantor Gubernur NTB. Ikon provinsi itu tampak megah dengan cahaya yang menyinari sekitarnya. Kontras sekali dengan tempat kejadian kecelakaan Pak Rajendra yang remang-remang. Ah! Kehidupan memang kadang harus seperti ini. Perbedaan-perbedaan kondisi yang tak bisa dihindarkan. Mungkin dengan begini, setidaknya akan ada perbandingan.

Melihat kondisi Pak Rajendra, saya sama sekali tidak berani membuka suara. Satu keinginanku hanyalah membawanya pulang ke rumah dengan selamat. Mobil itu benar-benar hening. Hanya terdengar deru halus mesin AC mobil. Keheningan terus menemani hingga di depan rumah sakit.

“Stop, Ron!”

“Pak Rajendra mau periksa ke rumah sakit dulu?”

“Enggak, kok.”

“Terus?”

“Kepalang tanggung, Ron. Belok kanan aja. Kita makan sahur dulu di dekat rumah sakit.”

Saya mengiyakan instruksi Pak Rajendra. Mobil perlahan berbelok ke arah deretan lapak-lapak rumah makan di sepanjang pertigaan itu.

“Di sini aja.”

Saya pun memarkirkan mobil di pinggir jalan, lalu mengikuti langkah Pak Rajendra ke sebuah lapak. Diam-diam aku mengaguminya. Seorang petinggi sebuah kantor ternama tak segan untuk makan sahur di tempat biasa seperti ini. Okelah kalau misalnya saya atau Kak Adam cocoklah makan di sini. Tapi, ini Pak Rajendra. Aku hanya menggelengkan kepala, saat saya menyadari, bahwa pilihan tempat makan tidak akan menjatuhkan harga diri seseorang.

Saya dan Pak Rajendra bergabung dengan beberapa orang yang sudah datang terlebih dahulu dengan tujuan sama, mengisi perut. Sepiring nasi telah tandas, pun teh manis hangat yang menemaninya.

“Ron… Aku minta maaf. Seginian udah harus bangunin kamu.”

“Ah! Enggak papa, Pak. Ini, kan, emang udah jadi salah satu tugas saya.”

Tak ada lagi obrolan. Kata-kata telah habis larut bersama sisa teh manis hangat yang telah tandas. Saya hanya memandangi gelas kosong itu dengan tanda tanya.

“Seperti inikah suasana hati Pak Rajendra sekarang?”

“Ron…”

“Iya, Pak.”

“Kamu tahu kenapa sampai aku mengalami kecelakaan?”

“Enggak tahu, Pak. Tadi hampir aja nanya. Tapi, enggak berani. Saya pikir Pak Rajendra masih trauma gitu.”

Saya melihat kedua sudut bibir Pak Rajendra tertarik ke dua arah yang berbeda. Saya pun akhirnya berlaku sama.

“Emang Bapak lagi mikirin apa? Atau jangan-jangan Bapak mabok, ya?”

“Hush! Kamu ini. Emang kamu pernah liat saya mabok apa?”

“Hehe… Enggak, si, Pak. Soalnya tumben aja, seginian Bapak masih eksis di jalanan.”

“Panjang ceritanya, Ron.”

“Tentang Mbak Angelicakah?”

Pak Rajendra tidak segera menjawab pertanyaan saya. Dia justru berdiri membayar makan, lalu mengajak saya pulang. Dalam perjalanan ke rumahnya pikiran saya terus tertuju pada Mbak Angelica. Padahal, kalau dipikir-pikir, betapa beruntungnya Mbak Angelica bisa menjadi kekasih Pak Rajendra. Tapi, entahlah. Mbak Angelica pasti punya alasan sendiri hingga melakukan hal ini pada Pak Rajendra. Mereka bisa menjadi pasangan impian. Sangat berbeda dengan saya yang sampai saat ini hanya bisa berpasangan dalam mimpi.

Angelica

Kurasakan penat di sekujur tubuhku saat aku membuka mata. Kulirik jam di layar ponselku. Pukul 8. Seharusnya aku sudah bersiap untuk berangkat, karena satu jam lagi aku harus sudah berada di kantor untuk melayani customer. Tapi, sepertinya aku tak sanggup untuk memaksakan diri pergi ke kantor. Segera kukirimkan pesan singkat ke Rajendra.

Done!

Hampir setengah jam menunggu, tak kunjung ada balasan. Aku tidak tahu apa alasan Rajendra. Tak biasanya dia seperti ini. Bahkan, tak butuh waktu semenit untuk membaca kalimat-kalimat penenangnya dalam pesan singkat. Kuputuskan mencari nama Rajendra di daftar kontak. Terdengar nada sambung dan tidak diangkat. Suara gigiku gemerutuk menahan gejolak hati. Ada apa? Kenapa? Pertanyaan-pertanyaan terus berkecamuk mengantarkan aku pada titik jenuh. Aku menyerah untuk menghubunginya. Rasa menyerah yang akhirnya mendamparkanku di sebuah pantai yang remang-remang.

“Kamu mau, kan, jadi istriku?”

“Maaf, Om. Tapi aku enggak mau jadi istri kedua.”

“Ya… Kalau gitu, kamu mau, kan, nunggu proses percerain dengan istriku selesai?”

“Aku butuh waktu, Om.”

Sungguh kejadian buruk yang bukan hanya sekadar mimpi. Ini nyata. Om Liem terang-terangan melamarku semalam. Gila! Dasar buaya!

Tak kupungkiri, saat ini aku benar-benar ingin menikah. Tapi, bukan dengan Om Liem, seseorang yang meskipun selalu membantu kebutuhan finansialku, aku tidak pernah mencintainya. Aku hanya mencintai Rajendra. Dan, sudah hampir dua tahun ini, sayangnya Rajendra tak pernah sekalipun menyinggung masalah pernikahan.

Damn!

Dasar lelaki pengecut. Padahal kalau dipikir-pikir, dia menunggu apa lagi, si? Semuanya sudah dia miliki. Termasuk hatiku, satu-satunya yang kumiliki. Satu hal yang membuatku benci padanya, adalah dia selalu saja punya cara berkelit saat aku berusaha mengarahkan obrolan tentang pernikahan. Hal ini membuatku menjadi terombang-ambing. Terlebih hari ini tanpa alasan yang jelas, dia tidak menghubungiku. Salahkah aku jika akhirnya aku juga berusaha mempertahankan hubungan dengan Om Liem? Lelaki yang terang-terangan berani mewujudkan mimpiku memiliki keluarga yang utuh? Atau haruskah aku terus menunggu Rajendra mengajakku menghabiskan hidup bersama dalam ikatan pernikahan yang selama ini masih menjadi mimpi bagiku?

*** bersambung ***

~ mo ~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s