Menulis itu Membosankan

Menulis itu membosankan.

Kok?

Iya. Bayangkan saja, setiap menulis harus dihadapkan pada lembaran kosong berwarna putih Ms Word atau kolom blog aplikasi WordPress for Blackberry. Seperti saat ini. Dan, selalu saja seperti itu. Membosankan, kan?

Tapi, itu terjadi hanya pada saat-saat awal aku menyadari, bahwa aku suka menulis, dua tahun lalu. Tepatnya tahun 2011. Pada tahun itu juga, aku mulai aktif di Twitter setelah sebelumnya sukses menjadi alay di Facebook. Padahal akun Twitter-ku dibuat pada tahun 2009. Selama dua tahun itu, aku masih bingung tentang bagaimana cara Twitteran. Ndeso banget, kan? Memang.

Hingga akhirnya, pada awal tahun 2011, ada salah seorang teman saya, @nastiti_ds, mengabarkan tentang akun Twitter @nulisbuku yang sedang mengadakan proyek menulis. Setelah memfollow, kemudian aku baru ikutan proyek menulis E-Love Story yang merupakan proyek menulis pertama kali yang aku ikuti. Dan, itu berarti mau tidak mau aku harus menulis. Awalnya, aku hanya bisa menulis satu paragraf saja dan ide langsung buntu. Maklum, saat itu aku belum mengenal apa itu sinopsis, apa itu outline. Aku menulis hanya apa yang ada dalam pikiranku saja. Jadi, wajar saja kalau akhirnya aku merasa bosan saat tidak bisa meneruskan tulisan. Aku tinggalkan tulisanku begitu saja.

Sampai akhirnya, aku berusaha membunuh kebosanan saat menulis dengan menanamkan tekad bulat untuk menyelesaikan tulisan. Alhamdulillah, tulisanku untuk proyek menulis E-Love Story pun selesai juga. Sejak saat itu, aku punya tambahan kenalan beberapa penulis @nulisbuku.

Setelah tahu tulisanku ikut dibukukan, percaya diriku meningkat. “Aku bisa menulis”. Selama kurun waktu 2011, banyak proyek menulis dari @nulisbuku yang aku ikuti dan kenal dengan banyak penulis @nulisbuku lainnya. Proyek demi proyek sukses aku ikuti. Sampai akhirnya memutuskan untuk menerbitkan buku sendiri, kumpulan flash fiction berjudul ‘CERMIN’ pada akhir tahun 2011 yang bisa dilihat di sini.

Tahun 2012, kebosanan dalam menulisku semakin terkikis berganti dengan semangat menulis. Semua berkat keaktifanku mengikuti berbagai proyek menulis, termasuk di blog. Bukan saja sebagai peserta, tetapi aku mulai memberanikan diri untuk menjadi koordinator proyek menulis di blog. Bersama Partner @WangiMS, aku menggagas proyek menulis #15HariNgeblogFF (menulis flash fiction dengan judul yang berbeda setiap harinya di blog). Proyek menulis yang akhirnya mempertemukan aku dengan teman-teman blogger dan writer lainnya dalam buku “The Coffee Shop Chronicles” (By Pass, 2012).

Pada tahun itu juga, aku ikut proyek menulis yang diadakan @nulisbuku lagi, yaitu Inspiring Teacher. Alhamdulillah masuk sebagai 60 besar. Bahagia? Iya. Banget malah. Bayangkan saja! Terpilih dari ratusan naskah lainnya. Meskipun tidak menang, setidaknya itu adalah pencapaian yang patut disyukuri. Bahkan di tahun itu juga, aku mendapat kabar baik tentang tulisanku yang menjadi salah satu dari naskah yang terpilih untuk dibukukan dalam “Dear Mama”. Dan, benar adanya, buku “Dear Mama” yang semula terbit di @nulisbuku, akhirnya bisa diterbitkan oleh penerbit mayor (Gradien) pada tahun 2013.

Kebosanan pun akhirnya berubah menjadi ketagihan untuk menulis. Pada tahun 2013 ini, setelah cukup lama vakum @nulisbuku kembali menggelar proyek menulis Kejutan Sebelum Ramadhan. Berkat ketagihan menulis, aku bisa menyelesaikan dan mengirimkan naskah kategori perorangan pada hari pertama. Sedangkan, untuk kategori kolaborasi, masih belum terpikirkan sama sekali. Awalnya ingin ‘menjual diri’ lewat @nulisbuku untuk menemukan pasangan kolaborasi, tapi aku merasa tidak pede. Sama sekali tidak pede. Aku pun hanya memantau timeline saja. Akhirnya, @minky_monster mengajakku untuk kolaborasi bertiga dengan @bellazoditama, tetapi dengan pertimbangan jumlah kata yang sedikit jika harus dibagi tiga, aku mundur.

Sedih? Iya, si. Kecewa? Pasti. Dan, entah kenapa aku mendadak kepikiran untuk mengajak @WangiMS untuk kolaborasi. Belum aku mengutarakan niat, eh… Si Partner, @WangiMS justru lebih dulu mengajak untuk kolaborasi. Klop, kan? Akhirnya, tanpa sinopsis, tanpa outline, aku dan partner mulai menulis. Ngebut? Tidak juga, si. Aku dan partner menikmati setiap proses penulisan dengan santai. Dan, baru agak tergopoh-gopoh setelah partner @WangiMS aku beri tahu tentang deadline proyek menulis. Jeng! Jeng! Ternyata, dia tidak tahu deadline proyek menulis itu kapan. Hih! ๐Ÿ˜

Sampai akhirnya, hari pengumuman naskah terbaik proyek menulis itu tiba. Saat yang lain sedang mengikutinya secara langsung di FX Senayan, aku mengikutinya lewat timeline. Berhubung nasi belum matang padahal sudah waktunya berbuka puasa, terpaksa kutinggalkan keriuhan pesta di timeline. Semua karena aku lupa untuk masak nasi pas sore harinya. Goblos! ๐Ÿ˜

Karena memang sedang riweuh dengan persiapan untuk buka puasa, aku tidak menghiraukan mention yang masuk. Pikirku, “Ah! Paling itu mention dari peserta #ngabubuwrite yang lagi aku adain. Entar aja abis buka aku cek lagi.” Habis buka puasa, aku mengecek mention yang ternyata berisi ucapan selamat. Lho? Apa-apaan ini? Ternyata tulisanku dan Partner @WangiMS yang berjudul ‘Waktu yang Tepat’ terpilih menjadi salah satu dari 17 pasangan kolaborasi terbaik. Alhamdulillah. Aku sama sekali tidak menyangka.

Ternyata, kehebohan mention tidak berhenti di situ saja. Kehebohan berlanjut saat @nulisbuku mengumumkan 17 tulisan terbaik kategori perorangan. Alhamdulillah, tulisanku yang berjudul ‘Di Jarimu, Kupenuhi Janjiku’ juga terpilih menjadi salah satu dari 23 tulisan terbaik. Bangga? Pasti. Sungguh kejutan (sebelum) Ramadhan yang membahagiakan bisa satu buku dengan penulis-penulis kece lainnya. Daftar nama kontributor dalam buku Kejutan Sebelum Ramadhan selengkapnya ada di sini.

Tentunya hal ini menjadi pendorong bagiku untuk lebih baik lagi dalam menulis melalui praktik langsung. Ternyata menulis itu membosankan tidak benar adanya. Pencapaian yang baik atas sebuah tulisan adalah alasan utama untuk mematahkan anggapan, bahwa menulis itu membosankan.

Jadi, masih mau bilang kalau menulis itu membosankan? Pikir-pikir dulu, deh! Mulailah menulis sekarang juga, lalu kamu akan ketagihan untuk terus melakukannya. Terbukti! ๐Ÿ™‚

Catatan:

Dan, berikut ini adalah penampakan buku Kejutan Sebelum Ramadhan Terbaik. Penasaran dengan kedua tulisanku yang di dalamnya? Dapatkan bukunya hanya di nulisbuku.com dengan cara mengirimkan email ke alamat: admin@nulisbuku.com,ย dengan subyek email: โ€˜BELI BUKU KEJUTAN SEBELUM RAMADHANโ€™ dan menyertakan nama lengkap, alamat, no hp dan judul bukunya.

~ mo ~

Advertisements

6 thoughts on “Menulis itu Membosankan

  1. Waaah selamaaaaaaat mas ๐Ÿ˜‰ kereeen dah mas momo ini *ud dobel coment neh* hahahaha
    Menulis emg gag pernah membosankan tp diriku lagi berada di titik ‘malas’ nyentuh lappy T_T baby sakit plus yang lain2 bikin kecapean sampe hasrat menulis jd nguap T_T prompt utk mff msh draft di hp pun hikz *jadi curcol*
    Tapi bener katamu, menulis bikin ketagihan..ahh jadi kangen blogku..

  2. Masmo emang hebat! Perjuanganmu selama dua tahun menulis, telah menghasilkan puluhan buku yang diterbitkan. Salut!
    ๐Ÿ™‚
    Eh, btw, ‘goblos!’ itu bahasa apa, Mas? :p

    1. Insya Allah, pada akhirnya semua orang akan menjadi hebat di jalurnya lewat usaha dan doa masing-masing. Semangat! ๐Ÿ™‚
      Plesetan dari goblok kali, Aam. ๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s