Keputusan dalam Keputusasaan [9]

Kadang keyakinan mengalahkan keraguan. Tapi, ada kalanya sebaliknya bukan?

Adam

Puasa hari kesembilan. Masih seperti hari-hari sebelumnya. Toko buku, pelanggan, dan cinta yang entah. Menikmati kesendirian sebelum tiba masanya pertemuan adalah caraku agar tetap kuat. Aline adalah satu-satunya alasanku. Aku bahkan tak punya alasan lain untuk tidak menunggunya yang sebenarnya sudah tampak di depan mata.

Tapi entah mengapa, sampai saat ini, bahkan sekadar bayangannya pun aku tak mampu meraihnya. Hanya suara yang selama ini mengajarkan aku, bahwa kadang cinta harus menunggu. Menunggu untuk dituntaskan sebagai rindu, atau bisa jadi menunggu untuk sesuatu yang kadang sebenarnya tidak perlu. Pilihan. Tergantung masing-masing yang menjalani cinta itu sebagai satu keyakinan.

Pun aku.

Siang itu, di ruang baca halaman belakang toko buku. Ronald tampak ragu-ragu untuk mendekatiku. Ronald yang kukenal tidak seperti itu. Dia selalu saja punya cara untuk mengganggu kesendirianku. Tapi, kali ini tidak.

“Sini, Ron!” ajakku sambil menepuk bantal di atas karpet hijau di sampingku.

Ronald bergeming di pintu belakang. Tatapannya lurus ke arahku. Meskipun begitu, dia hanya diam. Tak menyahut ajakanku.

“Hei! Ayolah! Sini!”

Ajakanku untuk kedua kalinya, tak berhasil membuatnya mendekat. Sepertinya dia tidak ingin mengganggu kesendirianku.

“Ron! Kamu kenapa?”

Ronald beringsut dari pintu belakang. Tubuhnya tak lagi bersandar pada bibir pintu. Satu per satu langkahnya menujuku dan berhenti tepat di sampingku.

Kuletakkan buku yang sedang kubaca, lalu meraih tubuhnya untuk mendekat. Hanya untuk memastikan, bahwa dia tidak mengganggu kesendirianku.

“Kak…”

“Iya… Ada apa?”

“Maafin saya sebelumnya.”

“Maaf untuk apa? Enggak mau, ah!”

Aku berusaha bersikap hangat agar suasana tidak beku.

“Kak… Barusan Mbak Jasmine telepon aku.”

“Terus?”

“Dia bilang, hari ini dia balik dari Sumbawa dan mau langsung ke Gili Trawangan. Bareng… ”

“Aline?”

“Iya, Kak.”

Deg!

Kenapa harus Ronald yang memberitahuku tentang hal ini. Padahal seharusnya Aline sendiri yang memberitahuku. Secara refleks tanganku merah ponsel di meja pendek di depanku. Sederet nomor kutekan. Tak terdengar nada sambung. Sepi. Tak ada jawaban.

“Kak Adam baik-baik aja?”

Aku tak menjawab pertanyaan Ronald. Gemuruh dadaku berkecamuk. Saat ini aku benar-benar tidak paham dengan Aline. Apa maunya? Apakah dia sengaja mempermainkan perasaanku? Entahlah. Aku tak tahu pasti. Satu hal yang kutahu, keyakinan selama ini perlahan memudar menjadi serpihan.

“Kak… Kak Adam baik-baik aja, kan?”

“I… Iya, Ron. Aku baik-baik aja, kok.”

“Kak Adam kepikiran sama Mbak Aline?”

“Kamu pasti udah tahu tentang itu, Ron. Jadi untuk apa lagi kamu tanyain?”

“Maaf, Kak. Saya hanya khawatir sama Kak Adam.”

Bah! Tahu apa dia tentang kekhawatiran. Toh, selama ini aku baik-baik saja. Jadi kenapa harus dikhawatirkan.

“Ron… Tolong kamu temenin anak-anak di toko, ya.”

“Iya. Tapi, Kak Adam mau ke mana?”

“Menenangkan diri.”

Ronald bergegas meninggalkanku. Sedangkan aku, langsung bergegas ke tempat parkir. Mobil jeep berukuran kecil itu pun akhirnya membelah jalanan Mataram yang sepi. Jauh meninggalkan Al-Hidayah dan keyakinan-keyakinanku di belakang.

Di pinggir jalan, aku memarkirkan mobil. Langkah kakiku gontai menapak jalan setapak berlapis beton. Sekitar sepuluh langkah kemudian, aku tiba di depan teras berlantai keramik putih berukuran besar. Kuarahkan langkahku ke sisi kiri bangunan. Sejuk saat air membasahi anggota badan. Setelahnya aku telah duduk bersimpuh. Merangkai kata menjadi sebaris doa.

“Ya Allah… Jika keyakinanku ini benar adanya, maka kuatkan aku untuk bisa menghapus keraguan yang melanda. Aamiin.”

Aline

“Buruan!”

Gue hafal betul. Itu adalah teriakan Jasmine. Selalu saja kayak gitu. Gue heran, kenapa Jasmine ini sanggup hidup kayak robot? Padahal, si, sebenernya gue yang lebih pas menjadi robot. Iya. Gue menjadi robotnya Jasmine lebih tepatnya. Gimana enggak coba?! Jasmine bilang ke kanan, gue sudah pasti ke kanan. Beruntung selama ini Jasmine sama sekali enggak pernah menyuruhku untuk terjun ke dasar jurang. Bisa mati gue.

“Iya, Jas. Bentar lagi, nih!”

Gue pun akhirnya memasukkan baju terakhir secara sembarangan. Yang penting masuk. Beres. Gue melangkah keluar kamar. Gue tahu pasti, di luar Jasmine udah nunggu gue dengan muka macam Mak Lampir. Hiih! Gue enggak takut sama Jasmine, si, sebenernya. Hanya saja ada sedikit perasaan enggak enak kalau sampai bikin dia kecewa. Sebab gimanapun juga, gue bisa kayak sekarang berkat kegigihan Jasmine. Gue pastinya enggak tinggal diem, dong! Setidaknya gue bisa berbuat sesuatu untuk sekadar mengucapkan terima kasih. Dan, sekarang adalah saat yang tepat. Meskipun gue harus ngorbanin perasaan gue.

Perasaan? Lhah?! Emang selama ini gue punya perasaan? Bukannya perasaan gue udah dimatiin sama Jasmine. Enggaklah. Perasaan gue ke Adam masih ada, kok. Ya meskipun gue enggak yakin seratus persen kalau perasaan gue bisa tertuntaskan dalam waktu dekat ini. Passion gue terlalu besar di dunia modelling. Bukan karena jasa Jasmine juga, si, sebenernya. Gue melakukannya karena emang gue demen. Itu aja. Dan, gue melakukan sesuatu juga enggak bakal setengah-setengah. Total.

“Elo udah siap, Lin?”

“I’m ready, Jas. So, what are we waiting for? Let’s go!”

Jasmine mengikuti langkah cepat gue menuju mobil yang sudah disiapkan. Ibu pejabat dan rombongan udah nungguin. Perjalanan panjang menuju Lombok siap dimulai. Dan, dalam perjalanan pagi ini, badan gue rasanya remuk terguncang-guncang di dalam mobil. Jalannya, si, bagus. Masalahnya, belokan dan tanjakan serta turunannya bener-bener bikin enggak nahan.

“Jas…”

“Iya.”

“Elo enggak capek?”

“Elo, kan, tahu gimana gue, Lin.”

“Iya juga, si.”

Gue akhirnya memilih diam. Setidaknya dengan begitu, gue bisa menikmati perjalanan ini. Tanpa terasa, rombongan pun sampai di Lombok setelah menyeberang hampir dua jam. Beruntung ombaknya enggak gede-gede amat. Jadi, ya lumayan menyenangkan bagi gue.

Selama perjalanan gue enggak banyak ngomong. Hanya lebih sering dengerin obrolan Jasmine dengan ibu pejabat tentang proyek kerjasama ke depan dan tentang gala dinner penutupan proyek amal ini di Gili Trawangan.

“Jadi, sponsor kegiatan kita udah nunggu di Gili Trawangan.”

“Terus?”

“Ya berarti kita langsung ke pelabuhan Bangsal.”

“Berarti enggah mampir dulu di Mataram, Bu?”

“Enggaklah. Takutnya entar kelamaan lagi.”

Gue denger keduanya tertawa kecil. Mendadak gue ngerasa ada yang aneh dalam diri gue. Adam. Hah?! Iya. Adam. Selama berhari-hari gue udah ngelupain Adam. Bahkan, telepon terakhirnya barusan juga gue cuekin. Jujur. Bukannya gue enggak mau ngangkat, tapi karena ada Jasmine. Bunuh diri namanya kalau sampai dia tahu gue berhubungan sama Adam. Gue tahu, Jasmine adalah tipikal yang enggak suka melihat seorang perempuan terlalu bergantung pada laki-laki. I think she’s a real single fighter.

Single fighter. Gue bahkan sama sekali enggak pernah kepikiran untuk selamanya hidup sendiri. Beruntung aja Jasmine masih punya nyokap. Lha gue? Sebatang kara gini. Kalau enggak punya pasangan, lalu siapa coba yang akan bikin gue bahagia. Diri gue sendiri? Enggak akan cukup. Gue bukan Jasmine, perempuan super mandiri, yang katanya bisa hidup sendiri. But, it’s okay. It’s her choice. Yang penting, si, dia nyaman dengan hidupnya, why not?

Pukul empat waktu setempat saat gue dan rombongan tiba di pelabuhan Bangsal. Meskipun belum weekend, tapi tetep saja ramai. Kami disewakan boat agar cepat sampai. Dan, bener. Tak sampai setengah jam, boat udah nyandar aja di pelabuhan Gili Trawangan. Gue yang emang baru pertama kalinya ke sini, langsung terpesona dengan keindahan pantainya. Pasir putih dipadu dengan bule-bule yang berkeliaran. Amazing!

Dengan kendaraan tradisional, gue dan rombongan dijemput ke hotel ternama di pulau ini. Hotel yang nyaman dengan fasilitas yang bagus. Gue masuk kamar bersebelahan dengan Jasmine. Sebenernya bisa saja, si, berdua, tapi tahulah si Jasmine emang lebih demen menyendiri. Beruntung penyelenggara akhirnya mengiyakan permintaan Jasmine.

Gue merebahkan tubuh penat di atas kasur empuk. Masih ada waktu untuk beristirahat sampai gala dinner dimulai pukul delapan malam. Gue ambil handphone gue di dalam tas kecil oleh-oleh Jasmine dari Singapura. Kutekan sederet angka dan tersambung.

“Lagi sibuk?”

“…”

“Sori. Baru sempat ngubungin balik. Tadi lagi dalam perjalanan bareng Jasmine soalnya.”

“…”

“Jadwalnya, si, sampai Sabtu. Jadi, Minggu aku free.”

“…”

“Are you serious.”

“…”

“Okay. I’ll be waiting for you here. Bye.”

Sumpah! Perasaan gue enggak pernah kayak gini. Deg-degan banget rasanya saat menutup telepon. Gue enggak sabar, meskipun gue masih ragu, Jasmine akan mau mengundurkan jadwal kepulangan jadi malam Senin.

Rajendra

Hari ini aku pulang kantor lebih cepat dari biasanya. Ada acara yang harus kuhadiri. Tak bisa diwakilkan, karena kantorku adalah sponsorship tunggal dalam event besar ini.

Aku tergesa-gesa memasuki lobi hotel. Hampir tak ada waktu untuk melihat sunset seperti yang biasa aku lakukan di sini. Aku memilih untuk segera menyiapkan diri.

Waktu pun terus berputar. Membawaku pada sebuah pertemuan. Beberapa meja bundar ditata rapi. Beberapa pasangan duduk melingkar bersama pasangan lain. Ruangan penuh warna dengan baju batik dan baju muslim. Bahkan beberapa di antara memakai perpaduan antara keduanya. Aku tahu mereka adalah model yang sengaja disiapkan untuk penutupan road show malam amal di Mataram dan Sumbawa.

Ibu Samudra menyambutku di depan pintu ballroom. Dengan gaya khasnya, Ibu Samudra mempersilakanku duduk di meja depan bersama tamu penting lainnya. Berkat Ibu Samudra, aku mengenal dua orang perempuan yang duduk di hadapanku. Di bagian lingkaran lainnya.

“Rajendra.”

“Nice name, Mister Rajendra. Jasmine,” katanya mengulurkan tangan.

Sesudahnya, aku berkenalan dengan perempuan satunya, Aline. Obrolan hangat sepanjang pagelaran membuatku merasa tidak kesepian. Terlebih setelah acara selesai, Jasmine mengajakku jalan-jalan berdua ke pantai. Entah mengapa aku begitu menikmati kebersamaan dengan Jasmine. Nyaman. Tetapi ada satu hal yang membuatku berpikir ulang, apakah aku benar-benar nyaman atau hanya sekadar pelampiasan keraguan atas hubunganku dengan Angelica. Yang mana?

*** bersambung ***

~ mo ~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s