Untuk Luka yang Bernama Entah

Aku menikmati secangkir kopi bersama puisi rindu di sini. Kamu pun sama. Secangkir kopi dengan sepi, di meja kita.

Kita adalah aku dan kamu, sepi-sepi yang hanya terbaca oleh puisi bisu, secangkir kopi perlahan melarutkan rindu. Bukan begitu?

Rinduku larut pada adukan pertama. Kamu masih saja membisu, sedang aku pelan-pelan hilang ditelan hiruk pikuk isi kepalamu.

Sengaja kulakukan itu untuk memberi ruang waktu bagi ingatanmu tentang masa lalu. Setelahnya, rindu adalah adukan terakhir kita.

Ruang tentang masa lalu itu begitu sesak akan luka. Bolehkah aku segera mengakhiri adukan terakhir itu dan meneguk kebahagian kita?

Adukan terakhir, kau yang menentukannya. Pun bahagia. Aku bukan siapa-siapa, selain pengendara luka mencari persinggahannya.

Kemarilah, duduk bersamaku. Kita rayakan malam dengan cangkir kopi yang baru. Luka akan kita teguk sama-sama.

Tunggu di situ. Aku menujumu. Luka, biar saja tertinggal di suatu masa. Sebab pada akhirnya kita hanya mengenal bahagia.

Cepatlah. Cangkir kopi ini mulai dingin. Aku duduk di meja paling pojok, menunggumu dengan secarik kertas. Bersiap menulis puisi.

Bersabarlah. Aku takut tergesa langkah justru membuat kopi tumpah. Bukan seperti itu bahagia yang ingin kubuncah.

Aku hanya tak suka menunggu lama. Waktu saat menunggu seakan menghantui dengan bermacam luka kecewa yang baru. Aku hanya takut.

Jangan takut terluka lagi. Bukankah luka telah menguatkanmu? Tersenyumlah! Dengan begitu, bahagia menemanimu di ruang tunggu.

Rapuhku telah kututupi dengan puisi. Aku menggenggam hati yang hancur. Kuat seperti apa yang kau lihat? Bila senyum bisa menipu.

Kuat seperti yang kulihat di matamu yang bulat. Mungkin senyum adalah muslihat, tapi binar ialah sesungguhnya hati yg bersinar.

Tahukah kamu bila itu caraku menyamarkan sendu? Kabut dan kelabu selalu datang menghiasi hariku, sedang pelangi tak kunjung tiba.

Saat aku tiba di hadapanmu, genggamlah tanganku. Bersama, kita akan melukis pelangi, dari sisa luka yang tak terkatakan sepi.

Aku akan menunggu hadirmu dengan sabar. Dan bila saat itu tiba, tak henti kurapal doa padaNya, semoga bahagia berpihak pada kita.

Harapku pun begitu. Agar luka-luka kita kembali menemukan riang yang pernah hilang dan tawa yang kadang palsu semata.

Mataram, 28 Juli 2013

Duet puisi antara @OkkyYolanda dengan @momo_DM lewat Twitter.

2 thoughts on “Untuk Luka yang Bernama Entah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s