Review #FF100Kata Nomor 27 [1]

Bulan purnama, bulat, besar, indah, terang-benderang.

“Ayo, kamu yang jaga. Awas ya, jangan ngintip.”

“Tu…wa…ga…pat…” Risdo menghitung hingga dua puluh sambil memejamkan mata menghadap pohon.

Kesembilan anak lainnya berjingkat mencari tempat sembunyi paling aman. Di balik pohon, di belakang pagar tanaman, di dekat jemuran. Lalu Risdo mulai mencari-cari mereka.

“Ahaa, Iwan, kena. Satuuu…”

“Maryam, itu kamu kan? Hahaha….dua.”

“Wooii, Dul, itu kamu kan? Kenaa, tigaa…”

“Hahaha…enam.”

Satu-persatu anak-anak itu mulai tertangkap basah oleh Risdo. Lalu ia melihat bayangan berkelebat di balik sumur.

“Yey, sebelas. Kena semua deh!”

“Hah, sebelas? Kita kan hanya bersepuluh?” tanya Siti.

“Jadi, barusan itu siapa?”

“Waaa….”

Flash fiction di atas adalah karya salah seorang peserta #FF100Kata @auxentina. Tulisan asli di sini. Berikut adalah review saya atas flash fiction ini berdasarkan aspek penilaian standar sebuah flash fiction.

Ide Cerita

Ide cerita dalam flash fiction ini menurut saya seru, tentang anak-anak kecil yang main petak umpet. Dengan keterbatasan jumlah kata, penulis mampu mengeksekusi ide cerita meskipun sederhana, tetapi menarik untuk dibaca.

Diksi

Diksi yang dipakai dalam flash fiction ini termasuk standar. Meskipun demikian, penulis bisa meramunya menjadi sebuah cerita yang menarik dan mudah dicerna oleh pembaca.

Twist

Twist dalam flash fiction ini terletak di bagian ending yang mengejutkan. Sayangnya, twist mengejutkan tentang hantu itu menurut saya itu sudah ‘tidak mengejutkan’ lagi.

EYD

Secara umum sudah rapi, tetapi masih ada beberapa penulisan yang harus diperbaiki. Misalnya penggunaan kata ‘kan’ dalam kalimat tanya langsung yang seharusnya diawali dengan tanda koma di belakang kata sebelumnya, “…, kan?”.

Logika Cerita

Di dalam cerita sudah menampilkan perihal sebab-akibat, yaitu anak-anak bermain petak umpet saat bulan purnama-mereka bertemu makhluk astral. Logis. Meskipun demikian, penulis sepertinya lupa dengan jumlah tokohnya. Di awal disebutkan, “kesembilan anak lainnya….”, ditambah Risdo menjadi sepuluh orang, tetapi di akhir, kok, Risdo menemukan sebelas orang? Bukankah yang bersembunyi hanya sembilan orang? Hal itu akan logis, jika makhluk astralnya ada dua, tetapi di dalam cerita sama sekali tidak tersirat makhluk astralnya ada dua.

Kesimpulan

1. Flash fiction ini bisa lebih terasa greget jika makhluk astralnya adalah hantu teman mereka yang sudah meninggal;
2. Ide masih bisa dieksplor dengan memperjelas settingnya, di halaman rumah Risdokah atau di tanah lapang yang sepikah, dan lain-lain;
3. Flash fiction ini saya masukkan dalam kategori cukup bagus. ^^

~ mo ~

Catatan:
Maaf jika kurang berkenan. Ini adalah review saya sebagai seorang pembaca, bukan sebagai ahli flash fiction karena memang saya bukan ahlinya.🙂

20 thoughts on “Review #FF100Kata Nomor 27 [1]

  1. waaa,, senangnya direview sama ahlinya.. boleh request review-in FF saya juga ga mas? *penulis newbie yg sangat butuh kripik & saran* hehe..

  2. Horeeeee…..aku di review MazMo hahaha…senang alang kepalang😀

    Waaahahaha….. harusnya teriaknya, “Sepuluh” ya, MazMo😳
    Maklum, matematikaku cuma dapat enam hahahaha….😛

    Makasiy ya, MazMo, masukannya sangat berarti buatku. Ke depannya moga lebih baik😀

    (daann review lagi dongg😛 dikasih ati mau ampela😛 )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s