Review #FF100Kata Nomor 27 [3]

Kali ini yang b(er)untung saya review adalah #FF100Kata milik @MeliyaIndri. Tulisan asli ada di sini.

Baru kali ini ada lelaki seaneh ini. Sebulan terakhir dia selalu datang. Setiap yang datang ke kedai kopi leletku memang bertujuan menikmati kopi plus ampasnya. Tapi gelagat lelaki ini aneh, dia selalu menungguku sampai dini hari, katanya, “Minta ampas kopi.”

Dia bilang untuk melukis wajah kekasihnya. Kukasih saja apalagi katanya dia bakal menunjukkan hasilnya kalau memang tak percaya.

Malam ini dia datang lagi. Tak meminta ampas kopi tapi kali ini dia membawa sebuah kanvas.

“Ini.” Dia menyerahkan kanvas padaku. Kusobek kertas penutupnya dan sketsa wajahku terlukis di sana.

“Untukku?”

Dia mengangguk. Aku hanya tersenyum antara bingung, tak paham, juga senang

Langsung disimak review flash fiction ini versi saya, yuk! ^^

Pembukaan

Pembukaan cukup membuat saya penasaran untuk melanjutkan membaca. Hanya saja, saya agak terganggu dengan adanya kata ‘aneh’. Kenapa? Sebenarnya pada kalimat setelahnya, penulis sudah berhasil menunjukkan pada pembaca dengan teknik show don’t tell-nya, bahwa lelaki itu aneh. Jadi, kalimat pertama yang mengandung kata sifat ‘aneh’ menurut saya mubazir.

Ide Cerita

Ide cerita yang dipilih menurut saya sangat seru dan sepertinya out of the box. Hal ini karena sepertinya ide cerita tentang pelukis ampas kopi ini masih jarang ditulis atau bahkan belum ada yang pernah menuliskan sebelumnya. Mungkin, lho, ya.

Diksi

Pemilihan kata yang digunakan cukup beragam, meskipun masih ada beberapa pengulangan kata yang sebenarnya bisa diganti dengan padanan atau deskripsi yang tepat. Dan, lagi-lagi disebabkan oleh jumlah kata yang terbatas, sehingga kesulitan dalam menulis dengan teknik show don’t tell. Sebenarnya keterbatasan kata bukanlah alasan untuk tidak mencoba menggunakan teknik itu, sih.

Twist

Twist pada flash fiction ini menurut saya sebenarnya terletak pada kalimat “sketsa wajahku terlukis di sana”. Terasa manis sekali. Hanya saja terletak pada paragraf yang tidak seharusnya. Bisa saja kalimat itu diletakkan pada paragraf terakhir dengan cara mengubah susunan letak kalimatnya. Lho? Memangnya twist harus di paragraf terakhir? Sebenarnya tidak, tapi itu akan jauh meninggalkan kesan ‘deg!’ pada benak penikmat flash fiction.

EYD

Sepertinya EYD dalam flash fiction ini sudah lumayan pas, kecuali pada paragraf ketiga kalimat kedua, seharusnya setelah kata ‘kopi’ harus ditambahkan tanda baca koma (,) sebelum kata tapi.

Logika Cerita

Sekilas membaca flash fiction ini sepertinya tidak ada logika cerita yang patah, tetapi setelah dibaca secara teliti ada beberapa hal yang menurut saya kurang logis. Salah satunya adalah pada ending ternyata lelaki itu menganggap ‘aku’ sebagai kekasih. Kok, bisa? Bisa saja sebenarnya, asalkan pada paragraf awal dituliskan ‘clue’ yang ‘samar’. Tujuannya agar ending berhasil membuat pembaca tepok jidat selesai membaca. Clue samar di paragraf awal juga bertujuan untuk menjawab pertanyaan pembaca ‘Kok bisa?’ di bagian ending. Hal ini juga sekaligus untuk menunjukkan hubungan sebab-akibat dalam sebuah cerita.

Selanjutnya hal lain yang menurut saya kurang logis adalah saat lelaki menungguku hanya untuk minta ampas kopi. Pertanyaannya adalah “Apa iya ‘aku’ begitu punya waktu luang untuk mengumpulkan ampas kopi dalam satu wadah tertentu?” Hmm… Atau mungkin lelaki itu sebelumnya minta ‘aku’ untuk mengumpulkan ampas kopi? Bisa jadi juga, sih. Kalau memang seperti itu maunya penulis, bukankah lebih baik jika di awal sedikit dijelaskan proses pengumpulan ampas kopi? Ah!

Selain itu, hal lain yang membuat logika cerita saya pertanyakan adalah “Apa ampas kopi benar-benar bisa melekat sempurna pada kanvas? Kalau memang bisa, apakah waktu sebulan cukup untuk mengerjakannya mulai dari pengeringan ampas kopi sampai penempelannya? Entahlah. Tak kalah menggelitiknya adalah sketsa wajah yang dituliskan kalau ‘aku’ langsung bisa menebak itu adalah wajah ‘aku’. Apa iya lukisan dengan ampas kopi yang dikerjakan dalam tenggang waktu singkat bisa menghasilkan sketsa sedetail itu? Bukankah akan lebih logis jika cukup dituliskan ‘sketsa yang mirip wajahku’ saja?

Demikian review saya. Mohon dikoreksi jika ada yang kurang tepat. ^^

~ mo ~

7 thoughts on “Review #FF100Kata Nomor 27 [3]

  1. eh ngomong-ngomong, gambar yang kupakai itu beneran lukisan ampas kopi lho mas. Bisa diklik kok link gambarnya. Sebelum bikin cerita soalnya aku browsing dulu..🙂 hehe

    • Buahahak! Kan tulisannya udah pernah aku review total lengkap dengan nilai pas deconstruction stage di #MFFIdol, Uda. ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s