Di Balik Tembok Merah

Ada dengus napas. Tersengal-sengal. Kelelahan terlihat di wajahku yang pias. Kedua kakiku menapak goyah di lantai keramik warna kuning kusam. Sebagiannya sudah retak. Di depanku, duduk seorang perempuan berambut pirang. Terdiam. Sepertinya juga sama-sama menunggu.

“Hai!”

Aku memberanikan diri menyapa gadis bermata biru itu. Dia masih terdiam. Bahkan senyumku pun tidak dibalasnya. Aku tak menyerah. Sambil mengatur pernapasan, aku menatap lurus ke arah gadis bersyal biru. Ada keinginan untuk lebih tahu tentang siapa dirinya. Hanya saja, kata-kata tak lebih dari sekadar aksara yang berdiam di rongga dada. Aku membisu. Hanya bisa memandangi tubuh yang dibalut kaos panjang warna merah muda. Sungguh perpaduan sempurna.

“Hai!”

Aku kembali memberanikan diri. Debar pun menjelma samar-samar. Detak teratur begitu jelas di dadaku. Terlebih saat bibir mungilnya yang dipoles lipstick merah muda sedikit terbuka. Aku bergegas mengeluarkan sebuah tanya, “Namamu siapa?”

“Aku Sepi.”

Setengah tak percaya, aku berusaha mendekat. Semakin jelas olehku, sepasang kakinya yang jenjang dalam celana panjang putih berbahan jeans.

Betapa luar biasa selera fashionnya.

Aku menghentikan langkah tepat dua keramik ukuran 50 cm di depannya. Dia kembali terdiam. Memandang kosong ke arah depan. Tidak ke arahku.

“Akan tiba waktumu menjadi aku.”

Deg!

Detak seolah berhenti mendadak. Aku terpaku pada kedua kakiku yang kaku. Bahkan tak tersadarkan oleh suara peluit tukang parkir yang bersahutan. Juga oleh riuh kendaraan bermotor yang lalu-lalang. Aku benar-benar tertegun. Pada sebuah ucap yang seketika melahirkan banyak tanda tanya di kepala.

“Apa maksudnya?”

“Kenapa dia bicara seperti itu?”

“Kapan waktu itu tiba?”

“Siapa penyebabnya?”

“Di mana akan terjadi?”

“Bagaimana bisa menimpaku?”

Setelahnya, hening. Aku larut dalam kebisuan panjang dalam tatap mata kosong.

“Iya. Kamu akan menjadi seperti aku, ketika kamu masih juga merasakan sepi dalam keramaian.”

Sederet kalimat meluncur begitu saja dari bibir tipisnya. Aku memahaminya sebagai sebuah petuah. Tapi, siapa dia? Apa haknya memberikan petuah padaku?

“Tenanglah, Anak Muda! Bukan kamu saja. Setiap yang pernah menikmati keriuhan, akan tahu arti sebuah kesepian.”

“Tunggu!”

Aku berteriak ke arahnya. Dia masih dalam posisi yang sama.

“Kenapa kamu berkata seperti itu?”

Dia sejenak terdiam sebelum akhirnya melanjutkan kata-katanya, “Ada masanya, kamu akan merasa sepi saat tidak dianggap oleh orang-orang di sekitarmu. Kamu takkan lebih dari sebuah pajangan. Seperti aku. Karenanya, jangan biarkan hatimu sepi. Riuhkan dengan doa-doa, agar kamu tetap bisa berguna untuk sesama. Dengan begitu, pertanyaan dalam hatimu tidaklah akan berguna.”

Aku mengangguk, pelan, lalu meninggalkannya sendirian. Di balik tembok merah tempatku sembunyi dari keramaian, di dalam kaca sebuah pertokoan.

– mo –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s