[Diary Sang Zombigaret] – Perjamuan Terakhir

Napasku tersengal-sengal. Ini bukan pertama kalinya. Setidaknya sudah dua bulan terakhir ini. Udara bukan lagi sebuah kesegaran bagi rongga paru-paruku. Semua karena kebiasaan burukku sejak aku berusia belasan tahun. Kebiasaan yang aku pelajari dari ayahku. Meskipun tidak pernah diajarkan olehnya, tetapi aku juga banyak belajar dari teman-teman sepermainan saat aku SMP hingga sekarang berusia 30 tahun. Sebuah rentang waktu yang panjang untuk bersenang-senang. Semu.

Tak terkecuali malam ini. Di pinggir jalan sepi menuju rumah, aku rebah. Mendadak tubuhku terguncang oleh batuk yang tiba-tiba datang. Dengan tempo cepat dan suara keras, batuk itu membuatku mengeluarkan dahak. Aku berusaha membuka tangan yang kupakai untuk menutup mulut. Setelahnya, aku melihat telapak tanganku. Ada yang berbeda di permukaannya. Bukan dahak seperti hari-hari biasanya. Kali ini ada gumpalan berwarna merah. Aku berusaha bangun. Pengaruh alkohol dan berjuta-juta partikel asap rokok seusai berpesta dengan teman-temanku mengalahkan kesadaranku. Tubuhku yang semakin hari semakin kurus dari sebelumnya tak mampu meneruskan langkah. Sekelilingku mendadak gelap.

Saat membuka mata, kulihat sekelilingku tetap gelap. Tunggu! Ini bukan rumahku yang nyaman di tepi desa. Rumahku tidak segelap ini. Bukan itu saja. Rumahku juga tidak sepengap ini. Hanya saja, ada satu hal yang sama. Rumahku dan ruangan ini sama-sama bau asap rokok. Aku masih terbaring di lantai basah dan lembab. Mataku memandang kosong ke sekeliling. Tidak ada siapa-siapa. Tidak ada apa-apa. Aku benar-benar sendirian. Aku bangun dan bersandar di dinding yang juga lembab ketika kurasakan seseorang datang menghampiriku. Dia memegang tanganku. Dingin.

Aku beringsut menjauh dan meringkuk di sudut. Dia terus mendekatiku. Sesaat setelahnya, dia menyalakan lampu kecil di atas sebuah nampan yang dibawanya. Bukan lampu kecil saja. Di sekitar lampu terdapat beberapa piring bertudung mengilat. Tepat di depanku, dia meletakkan nampan itu. Aku memperhatikan dan meneliti setiap bagiannya. Nyala redup lampu kecil,  sebuah gelas berisi cairan merah pekat, dan piring yang telah dibuka tudungnya berisi makanan berwarna kehitaman.

“Ini. Makanlah! Sudah lama kamu tidak makan enak, bukan?”

Kurasakan perutku bergejolak. Sudah beberapa bulan terakhir aku memang jarang makan. Bukan tidak ada yang dimakan, tetapi memang aku sama sekali tidak memiliki nafsu makan. Aku sudah merasa kenyang ketika partikel asap rokok lebih dulu masuk ke dalam aliran darah di tubuhku. Selalu seperti itu. Tak heran, tubuhku tinggal kulit yang membalut tulang. Kurus kering.

“Kok, diam? Kamu tidak mau?”

Pertanyaannya membuatku kembali berusaha fokus pada makanan yang dihidangkannya.

“Makanlah! Ini kesempatanmu menikmati makanan.”

Aku menatap ke arah sumber suara itu.  Samar kulihat wajahnya begitu dingin menatapku.

“Ayo! Segera habiskan. Waktumu tidak banyak.”

Sedikit menunduk, dia menyodorkan nampan ke arahku. Tanganku menyentuh makanan itu dan merasakan tekstur lembut. Aku mengambilnya sepotong. Kubatalkan niat ketika melihat rongga-rongga yang ada di dalamnya. Aku hendak meletakkan kembali makanan itu, ketika tangan berjari-jari panjang itu mendorong pelan tanganku untuk menyuapkan makanan ke mulut. Aku menggigitnya sedikit. Lidahku merasakan sensasi yang berbeda. Tidak seperti masakan yang pernah kucicip sebelumnya. Aku pun segera menghabiskannya.

“Bagaimana? Enak, kan? Habiskan. Itu milikmu sendiri. ”

Kudengar tawa penuh cemooh membahana sampai dia kembali melanjutkan kata-katanya,  “Iya. Itu adalah paru-parumu sendiri. Sengaja aku masak untukmu. Sayang kalau dibiarkan. Tadi aku lihat terjatuh saat kamu pingsan di pinggir jalan.”

Aku melongo. Dengan spontan, aku pun meraba bagian dadaku. Kosong. Aku lalu melihatnya. Lubang besar menganga. Tanpa paru-paru. Hanya tinggal pangkal tenggorokan yang meneteskan darah kental. Keluar begitu saja bersama udara pengap yang kuhirup.

“Cukup! Waktumu habis!”

Aku melihat seseorang  berjubah panjang yang menyambung menjadi sebuah tutup kepala itu mengayunkan schyte yang berkilat-kilat.

Selanjutnya gelap.

– mo –

1255171_596220503797621_947247904_n

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s