[BILIK CURHAT] ~ Namanya Juga Hidup

DP BBM

DP BBM

“Yang dimauin dia enggak mau. Yang enggak dimauin eh dia yang ngejer-ngejer. Sebel!”

Duh! Seringkali emang kayak gitu sih, ya. Banyak kok contoh kejadiannya. Saya sendiri yang begituan udah sering bangetlah. Lhah kok jadi saya yang curhat? Ngg…

Lupain curhatan saya barusan. Oke?! Oke, dong! Mending kita kembali pada curhatan di awal tulisan. Suer. Itu sama sekali bukan curhatan saya. Saya hanya numpang curhat saja. Lhah?! Sama aja kali, ya. #ehh

Langsung aja deh, ya. Jadi yang curhat di atas sama sekali bukan saya, tapi temen saya. Sebut saja namanya Cinta. Mungkin pembaca yang budiman bertanya-tanya, “Kenapa harus namanya Cinta?” Gini ya, Gaes! Bukan tanpa alasan saya pakai nama Cinta. Masalahnya dia ini mirip banget sama tokoh Rangga di film AADC. Tasnya doang sih yang mirip sebenernya.

Oke! Balik ke inti permasalahan yang akan dibahas hari ini tentang kejar mengejar cinta. Terdengar basi enggak, sih? Emang, sih. Seenggaknya masih enak untuk dinikmatin lah, ya. Gimana enggak? Masalah cinta kan emang enggak ada basinya untuk dibahas. Pasti setuju, dong?

Perihal kejar-mengejar cinta bukan monopoli cowok saja. #FYIajasih. Buktinya, sepagi ini saya kedatangan tamu, seorang mahasiswi PPL dari salah satu universitas di Mataram. Namanya mahasiswi pasti cewek dong, ya. Awalnya sih si Cinta ini konsultasi RPP IPA Terpadu. Nah! Selesai konsultasi untuk persiapan ngajarnya, dia enggak langsung keluar ruangan. Entah gimana awalnya, tiba-tiba dia melacur.

Gini curhatannya.

“Pak… Mau nanya dikit, nih. Boleh?”

“Boleh, dong! Nanya apa emang? Materi pelajaran?”

“Bukan, Pak.”

“Ya terus?”

“Ngg… Anu, Pak. Saya mau nanya-nanya dikit tentang cinta.”

Modyar!

Tapi saya enggak bisa mengelak, dong! Saya sih cuma yakin kalau dia emang nyaman untuk cerita sama saya.

“Boleh. Boleh. Gimana? Gimana?”

Cinta membetulkan posisi duduknya lebih dulu sebelum akhirnya ngomong pelan ke saya, “Pak… Kenapa ya kok keseringan yang kita mau susah banget dikejer, sementara yang enggak kita mau, justru dia yang agresif banget ngejer kita?”

Deg!

“Kamu nanya apa ngolok, sih?”

Gitu kurang lebih kata saya. Dalam hati, sih. Enggak mungkin dong seorang konsultan cinta dengan akreditasi A ngomong kayak gitu langsung di depan kliennya. Bisa turun entar akreditasinya jadi A-.

Mendengar pertanyaan dari Cinta tentang cinta (enggan pusing baca kalimat ini, kan?), saya diam sejenak. Butuh penjelasan singkat yang tepat untuk membantu memecahkan permasalahan yang dihadapinya. Di sela-sela menunggu jawaban, Cinta tak henti-hentinya memainkan spidol boardmarker yang dipinjamnya dari saya sambil menunduk.

“Cin…” (Baca C I N. Bukan C Y I N)

Ia mendongakkan kepala. Tatapannya tenggelam dalam bola mata saya saat saya melanjutkan kata-kata.

“Namanya juga hidup. Kamu pasti tahu kan, bahwa dalam hidup ini, kadang yang kita inginkan bukanlah yang kita butuhkan.”

Ia menganggukkan kepala.

“Kamu juga pasti udah tahu, hidup udah ada yang mengatur, kan?”

Sekali lagi, ia mengangguk.

“Nah! Bisa jadi yang kamu kejer-kejer dan ingin kamu dapetin, sebenernya bukan yang kamu butuhin. Tapi bisa juga dia yang kamu butuhin untuk menjaga hatimu selamanya. Kita enggak pernah tahu, kan?”

Ia menunduk.

“Sama halnya dengan yang ngejer-ngejer kamu. Kamu enggak capek kejer-mengejer cinta?”

“Capek sih sebenernya, Pak. Tapi gimana, ya? Serba salah, sih. Di satu sisi saya pengin punya pacar kayak cowok yang saya kejer-kejer dan enggak mau pacaran sama cowok yang ngejer-ngejer saya.”

“Kamu berjuang untuk mendapatkannya, kan?”

“Iya, Pak.”

“Coba kamu pikir sekarang. Itu artinya sama kayak cowok yang ngejer-ngejer kamu. Dia juga berjuang untuk ngedapetin kamu. Oya, cowok yang kamu kejer-kejer care enggak sama kamu?”

Ia terdiam. Hanya gelengan pelan sebagai jawaban.

“Nah! Pasti kamu sebel, kan? Sama. Cowok yang ngejer-ngejer kamu pasti juga gitu. Sekarang kenapa kamu enggak coba aja untuk berhenti sebentar. Istirahat dari kejer-kejeran gitu.”

“Maksudnya, Pak?”

“Maksudnya gini. Kamu berhenti sejenak agar cowok yang ngejer-ngejer itu bisa nangkep kamu. Saat udah kayak gitu… Kesempatan bagimu untuk mengenalinya lebih jauh. Jika cocok, ya lanjut. Kalau enggak, ya tinggal kamu ngomong baik-baik sama dia. Beres.”

“Gitu ya, Pak? Dicoba, deh!”

Cinta menjawab dengan senyum lebar saat meninggalkan ruangan saya untuk melanjutkan tugasnya mengajar di kelas.

Semoga enggak capek lagi ya, Cyin! Eh… Cin maksudnya. Hih!

– mo –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s