[BILIK CURHAT] ~ Cinta, Usia, dan Status

IMG_0343.JPG

“Saya malu mau ngomongnya, Kak Mo.”

Pembaca yang budiman bisa menebak enggak kira-kira apa pokok curhat kali ini? Yup! Bener banget. Tentang cinta sama seseorang yang jauh lebih tua usianya. Ada yang pernah ngalamin? Mungkin ada yang pernah diam-diam mencintai gurunya waktu di SMA seperti saya? #ehh

Kembali ke pokok curhat kali ini, merupakan kisah nyata dari seorang cowok yang baru lulus SMK tahun kemarin. Bisa ngira-ngira berapa umurnya dong, ya? Ya kurang lebih 18 atau 19 tahun lah ya. Nah! Berhubung enggak kuliah, dia pun memutuskan untuk langsung bekerja. Pekerjaan yang sesuai sama jurusannya, kelistrikan. Wah! Cocok banget nih buat diminta untuk menerangi hati pembaca yang sedang dalam kegelapan sebuah kesendirian. Gimana? Minat?

Udah, ah! Fokus! Gini curhat dia kemarin malam.

Seperti biasa, sepulang kerja dia main ke rumah. Sekadar numpang ngopi beserta lampirannya gitu. Ditambah bonus bisa curhat gratis ke saya. Beruntung banget, kan? Curhatnya sih biasanya seputar pekerjaan dan masa depan. Tapi entah mengapa tiba-tiba untuk pertama kalinya dia curhat tentang cinta.

Dia, saya memanggilnya Boy, mengawali curhatannya dengan sebuah pernyataan sederhana.

“Kak… Kayaknya enak ya pacaran sama cewek yang dewasa.”

Saya tak bergegas menjawabnya. Saya emang sengaja nunggu dia ngelanjutin ceritanya untuk mengetahui arah curhatannya. Tapi kayaknya sia-sia. Boy justru sibuk mainin gelas berisi kopi yang tinggal setengah. Sementara saya memilih untuk menyesap kopi.

Setelah sekian lama, akhirnya saya mutusin untuk memancingnya.

“Iya, Boy. Eh… Btw, kenapa tiba-tiba kamu ngomong kayak gitu?”

Berhasil! Terbukti tanpa sungkan-sungkan lagi dia cerita tentang kedekatannya dengan cewek yang udah dewasa. Cewek itu supervisor di tempatnya bekerja. Kedekatannya sih berawal ketika cewek itu, sebut saja Selly, minta diantar pulang. Kebetulan waktu itu Selly enggak bawa motor. Dari situ, kedekatan berkembang. Selly seringkali meminta tolong Boy untuk hal-hal remeh di rumahnya. Benerin listrik lah. Masang tabung gas lah. Pokoknya hal-hal simpel kayak gitu. Boy pun mengiyakan aja setiap permintaan tolongnya. Enggak enak dong kalau bilang enggak mau ke atasannya. Akhirnya, kebersamaan itu mau enggak mau menumbuhkan bunga-bunga cinta gitu.

“Emang apa sih yang bikin kamu suka sama dia?”

“Gimana ya, Kak. Dia itu baik, dewasa, perhatian, dan ngemong gitu.”

“Btw, umur Selly berapa, sih?”

“Seumuran Kakak deh kayaknya. Belum 30-an lah pokoknya.”

((((( BELUM 30-AN )))))

Dalam hati saya ngakak enak karena fitnahnya. Bayangin aja, udah uzur gini dibilang belum 30-an. Tapi seneng juga sih dengernya. Siapa sih yang enggak demen difitnah kayak gitu? Pembaca yang budiman pasti suka juga, kan?

Selesai ngakak dalam hati, saya pun berasumsi kalau jarak usia mereka cukup jauh. Dua belas tahunan, Gaes! Enggak jauh dari batas ideal jarak umur yang sekitar sepuluh tahun dong, ya. Masih ideal lah ya.

“Menurutmu dia ada rasa enggak sama kamu?”

“Kayaknya sih ada, Kak. Dia sering SMS sama nelpon sekedar nanya udah makan belum, lagi apa. Pokoknya hal-hal simpel gitu, deh.”

“Ya udah. Kalau emang kayak gitu dan kamu suka dia, kenapa enggak kamu tembak dia?”

“Ngg… Gimana ya, Kak?”

“Gimana apanya? Malu sama temen-temenmu karena punya pacar lebih tua? Atau…?”

“Banyak hal sebenernya, Kak. Bukan itu doang.”

“Boleh saya tahu?”

“Selain itu, saya malu untuk ngungkapin cinta ke dia, Kak. Takut ditolak. Jangan-jangan selama ini dia cuma nganggep saya adik.”

“Gini deh, Boy. Satu hal yang harus kamu tahu, cinta itu harus diungkapkan. Orang lain enggak akan pernah tahu kalau cuma kita pendam. Perhatian sama sikap aja enggak cukup. Sama kayak cowok. Cewek juga butuh kepastian lewat kata-kata. Sikap sama perhatian emang penting. Tapi jangan lupa ungkapan lewat kata juga perlu biar dia enggak bertanya-tanya lagi tentang sikap sama perhatianmu selama ini. Perkara ditolak, itu sih urusan belakangan. Ditolak pun seenggaknya kamu jadi tahu gimana perasaan dia. Dengan begitu kamu bisa mengambil langkah ke depannya.”

“Iya juga sih, Kak. Ada hal lain juga, sih.”

“Enggak bisa memulainya?”

“Bukan itu, Kak. Sekedar memulai sih gampang. Udah pengalaman saya. Ini soal status dia.”

“Statusnya dia? Istri orang? Atau … .”

Sepertinya dia bisa menebak arah perkataan saya.

“Iya, Kak. Dia janda. Enggak punya anak, sih.”

BLARRR! (Backsound kilat menyambar-nyambar)

Saya terhenyak mendengar pengakuannya. Berarti Selly ini bener-bener cewek istimewa, batin saya. Gimana enggak cobak?! Seorang janda berusia hampir tiga puluhan bisa membuat seorang pemuda kemarin sore jatuh cinta. Keren!

“Emang kenapa kalau dia janda? Apa seorang janda enggak boleh dicintai?”

“Bukan itu masalahnya, Kak. Bukan statusnya dia. Tapi…?”

“Kenapa? Malu denger bisik-bisik tetangga?”

Dia hanya mengangguk lemah.

“Boy… Boy… Kalau kamu masih malu gitu. Itu artinya kamu enggak bener-bener tulus cinta sama dia. Kamu harusnya tahu kalau cinta itu sebuah penerimaan utuh beserta segala konsekuensinya. Kalau kamu enggak siap dengan hal itu, ngapain kamu jatuh cinta?”

Sekali lagi dia menganggukkan kepala.

“Gini deh, Boy. Sebelum kamu nembak dia, pastiin dulu kamu siap dengan konsekuensinya. Kasihan dia juga kalau akhirnya kamu malu mengakuinya sebagai pacar.”

“Tapi gimana caranya, Kak? Gimana?!”

“Gampang, Boy! Jangan pikiran apa kata orang tentang cintamu. Bukankah ini hanya kamu dan dia? Yang penting kalian berdua. Plus keluarga msing-masing juga. Kalau keluargamu oke-oke aja, kenapa kamu enggak melakukan yang terbaik untuk hatimu? Kamu yang menjalani lho ini. Bukan temen-temenmu atau tetangga.”

Dia lagi-lagi mengangguk. Dan,selepas sesap kopi terakhir, dia pamit pulang dalam sebuah senyuman.

– mo –

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s