#CeritaSudutKota – Seorang Bapak Tua dan Gerobaknya

~ Memotret bagian yang kadang luput dari perhatian ~

image

Pemandangan Pagi di Jalan Adi Sucipto Ampenan (Dok. Pribadi)

 

Setiap orang tahu, pagi adalah awal untuk mencari rezeki. Bukan saja pegawai pemerintahan. Bukan juga monopoli pekerja kantoran. Apa pun jenis pekerjaan, pagi adalah pintu rezeki.

Tak terkecuali seorang bapak berompi kuning ini. Tulisan warna hitam di bagian belakang rompinya atau di gerobaknya, rasanya cukup jelas menunjukkan di mana ia bertugas.

Hampir setiap pagi saat berangkat ke sekolah, saya selalu melihat bapak tua ini. Selalu seperti ini. Mengais, mengumpulkan, mengangkat, dan mengangkut. Mungkin memang seperti itu job description yang harus ia lakukan. Entah tertulis atau tidak. Bisa jadi tentang kontrak kerja dan sistem pembayaran pun sama. Sama-sama abu-abu.

Namun, memperhatikan gerak-geriknya dengan saksama, saya tahu ia kompeten dan berdedikasi penuh dalam pekerjaannya. Mungkin tanpa harus punya bekal pendidikan tinggi sekalipun. Bandingkan dengan beberapa oknum dengan pendidikan tinggi dan pekerjaan yang sesuai bidang ilmunya. Beberapa di antaranya justru tidak memiliki kompetensi dan dedikasi. Semata-mata demi materi. Jika terus-menerus seperti ini, ke manakah perginya nurani? Ah! Entahlah mungkin motivasinya berangkat kerja hanya agar mendapat predikat ‘sudah bekerja’. Ya… meskipun kenyataannya hasil kerjanya tak seberapa.

Terlepas dari itu, kembali lagi pada masing-masing oknum. Bukan urusan kita. Bukan pula urusan bapak tua dan gerobaknya. Toh tidak ada hubungannya, kan?

Bapak tua dan gerobaknya tak pernah mempermasalahkan etos kerja orang lain. Ia hanya berusaha tetap bekerja sesuai tugas yanf diberikannya. Baginya ini adalah amanah. Sekecil apa pun rezeki diperoleh yang penting berkah. Begitu katanya saat saya bertanya tentang penghasilannya.

Bukan itu poinnya sebenarnya. Yang perlu menjadi fokus kita saat ini adalah menemukan cara meringankan pekerjaannya. Membantu menggenjot gerobaknya yang penuh sampah? Tentu tidak. Itu tidak akan membantunya. Ia masih punya kuasa melakukannya sendirian saja.

Lalu apa?

Begini. Kita perhatikan dulu bak sampah yang ada. Ukurannya tidak terlalu besar, kan? Tentu tidak akan cukup menampung volum sampah yang berlebihan. Kita sebagai agen sampah pertama, hendaknya berpikir ulang sebelum membuang sampah di bak yang seperti itu. Tujuannya jelas. Agar sampah tidak berserakan. Kita masih bisa membatalkan niat membuang sampah di sana. Bukankah bak sampah yang disediakan tidak hanya satu buah saja? Masih ada alternatif bak sampah di lokasi lain. Lalu kenapa kita harus memaksakan membuang di sana? Tolong dipikirkan!

Bukan kita saja pastinya. Rasanya tidak fair kalau kita menimpakan kesalahan pada oknum ‘kita’ saja. Bagaimanapun juga, pengadaan bak sampah yang representatif tetaplah tanggung jawab pemerintah kota. Dalam kasus ini tentu Pemerintah Kota Mataram. Tergantung pemerintah mau atau tidak membantu meringankan kerja bapak tua dan gerobaknya.

Semoga.

– mo –

2 thoughts on “#CeritaSudutKota – Seorang Bapak Tua dan Gerobaknya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s