#CeritaSudutKota – Taman Tanpa Tanda

Memotret bagian yang kadang luput dari perhatian

image

Pagi di Taman Mini yang Maksi

Taman nyalah (nanggung). Seperti itu biasa orang menyebutnya. Bukan tanpa alasan pastinya. Luasnya memang tak seberapa. Fasilitasnya pun tak jauh berbeda. Seadanya. Beberapa bangku taman dan bundaran di tengah sebagai pelengkapnya. Terlebih taman ini antimainstream, tak punya papan nama berupa deretan huruf-yang-katanya-lagi-hits. Hanya ada plang kepemilikan tanah oleh pemerintah kota Mataram dan tulisan nama warna emas di satu sisi temboknya, Taman Adi Sucipto.

Tak ada cerita seru di dalamnya. Namun ada pembelajaran yang bisa dicontoh darinya. Apakah itu? Kebersihannya!

Diakui atau tidak, taman ini cukup bersih dengan rumput yang terawat. Pepohonan yang mengelilinginya pun sangat meneduhkan. Pemandangan seperti itu membuat saya bertanya-tanya, “Kenapa taman ini berbeda?”

Aha! Saya pun menemukan jawabannya. Selain karena perawatan rutin, taman mungil di dekat pom bensin Pelembak Ampenan ini masih sedikit orang berjualan. Hanya saat tertentu saja. Biasanya sore hari saat ramai pengunjung. Pada pagi hari hampir tidak ada aktivitas apa-apa di taman ini. Hampir tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali. Senyap. Hanya deru mesin kendaraan yang melewati kiri dan kanannya. Maklum, taman ini berada di ujung sebuah persimpangan. Wajar kalau bising diapit dua jalur kendaraan.

Meskipun demikian, pada saat-saat tertentu, taman ini terasa sepi. Cocok bagi pasangan atau keluarga untuk menghangatkan hubungan. Sekadar jalan santai atau duduk-duduk di kursi semen yang ada bisa menjadi pilihan. Berbincang santai tentang apa saja. Tertawa lepas tanpa beban di dalamnya. Semua bisa dilakukan. Hanya saja akan terasa lebih nikmat rasanya jika ada terobosan baru.

Biarkan saja taman tersebut tetap seperti ini keadaannya. Tidak apa-apa. Tak perlu sarana ini itu dan sebagainya. Pun papan nama seperti yang sudah ada di tempat lainnya. Cukup papan nama yang sudah ada sebagai identitas. Justru membuatnya tampak berbeda. Yang perlu diperbarui mungkin adalah peraturan di dalamnya.

Sebagai taman kecil yang cocok untuk pasangan dan keluarga berbagi cerita, ada baiknya jika di taman ini diterapkan aturan berbeda. Apa itu? Taman Tanpa Tanda. Maksudnya? Saat memasuki taman ini tidak diperbolehkan meninggalkan tanda keberadaan. Tidak boleh update status di Foursquare, Path, Facebook, Twitter, Instagram, dan akun media sosial lainnya. Dengan arti kata, no gadget di taman ini. Tujuannya apa? Jelas. Untuk lebih mendekatkan pasangan atau keluarga yang sedang menghabiskan waktu bersama.

Tidak perlu setiap hari aturan diterapkan. Cukup hari tertentu saja. Hari libur, misalnya. Pun tak perlu aturan tertulis. Kesadaran pengunjung saja sudah cukup rasanya.

Sulit? Iya. Karena belum pernah mencoba. Saya pribadi sih bisa. Suatu hari bersama teman-teman menghabiskan waktu beberapa jam saat libur di taman ini hanya untuk berdiskusi. Tak ada satu pun gadget menemani. Bisa? Bisa, kok. Sulit? Ah! Dengan adanya komitmen setiap kesulitan akan menemukan jalannya.

– mo –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s