#CeritaSudutKota – Bukan Monopoli Lelaki Dewasa


Memotret bagian yang kadang luput dari perhatian

image

“Tidak bisa, Bu!”

“Ayolah, Pak! Kasihlah harga pas.”

Si Bapak sejenak terdiam. Sepertinya ia sedang menimbang-nimbang tawaran dari calon pembelinya. Sesekali ia menggeleng.

“Tambah sedikit lagi lah, Bu. Barangnya bagus, nih. Cocok untuk ibu yang cantik.”

Kena!

Si Ibu itu akhirnya menaikkan sedikit harga penawarannya. Deal! Kesepakatan harga tercapai. Sebutir batu berwarna merah pun berpindah ke saku si ibu. Sementara beberapa lembar uang kertas berwarna merah telah terselip di kantong Si Bapak. Senyum tak pernah lepas dari bibirnya.

“Lumayan.”
Mungkin seperti itu kata hatinya.

Keriuhan tidak berhenti di saat itu juga. Masih banyak suara bersahutan menunggu kesepakatan. Kali ini giliran anak-anak yang sedari tadi berkerumun. Mereka memilih batu yang dijejer terpisah. Dari tampilannya jelas terlihat kualitasnya. Mereka sesekali menimbang-nimbang. Tak jarang memicingkan mata seolah-olah ingin memastikan keaslian. Namun mereka telah paham, yang sesuai dengan mereka adalah yang pas dengan uang sakunya. Atau mungkin uang yang dibawa setelah lelah memaksa orang tuanya melalui drama penuh air mata.

Entahlah. Satu yang pasti, mereka tak mau ketinggalan. Sepulang sekolah atau hari libur seringkali ikut nimbrung dalam kerumunan penjual batu akik di ruko dekat lampu merah perlimaan Ampenan. Entah untuk benar-benar bertransaksi atau sekadar agar disebut sebagai anak kekinian.

Tanpa disadari demam batu akik berdampak juga pada anak-anak. Mereka menjadi lebih dini mengenal tentang kekuatan mistis batu dan keajaiban-keajaiban yang dimilikinya. Anak-anak memiliki kemampuan menyerap informasi yang berbeda dengan orang dewasa. Beberapa di antaranya melakukan sesuatu tanpa memikirkan dampak setelahnya terlebih dahulu.

Ini yang sangat dikhawatirkan. Perasaan memiliki power karena memakai batu akik, bisa jadi digunakan untuk hal-hal negatif. Mem-bully teman sebaya, misalnya.

Mungkin ini kekhawatiran yang terlalu berlebihan bagi beberapa orang. Namun, tetap saja harua diwaspadai oleh orang dewasa. Jangan biarkan anak-anak bermain di dunia orang dewasa. Mari jaga agar mereka bisa menikmati tawa bahagia di dunia kecilnya yang luas dan ceria.

Dari keriuhan tersebut mengabarkan kepada kita bahwa perihal batu akik bukan monopoli lelaki dewasa (baca: bapak-bapak).

– mo –

2 thoughts on “#CeritaSudutKota – Bukan Monopoli Lelaki Dewasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s