Seekor sapi betina sedang duduk di sebuah padang. Angin malam berembus melahirkan kantuk tak kepalang. Ia sendirian saja. Sesekali ia menggelengkan kepala. Bunyi lonceng di lehernya bergemerincing saat itu juga. Ia terus berusaha membiarkan matanya terbuka. Ia hanya tak ingin tertidur tiba-tiba. Itu saja. Bahkan gulita tak menyurutkan niatnya untuk tetap terjaga. Pun nyeri pada luka bernanah di sekujur tubuhnya. Berhasilkah ia?

Sesaat kemudian sepi menyergap. Tak terdengar lagi suara lonceng di lehernya. Ke manakah ia? Tak ada yang mengetahuinya. Bahkan angin malam enggan bercerita. Pun pohon-pohon yang daun hijaunya telah berubah warna. Pekat menyapa. Gulita. Tanpa tanda.

Sementara itu seekor sapi jantan mengendap-endap dari arah tepi padang. Suara langkah kakinya menimbulkan bunyi samar saat menginjak ilalang. Ia baru saja kembali dari berkelana. Tak seberapa lama, ia pun tiba di tempat sapi betina semula berada. Mendadak tubuh besarnya gemetar di belakang tubuh sapi betina. Apa yang terjadi? Tidak terjadi apa-apa sebenarnya. Ia hanya tak mampu menahan diri ketika sapi betina tiba-tiba terbangun dan bertanya, “Sudah berapa betina kaucumbu malam ini?!”

Tak lama kemudian, sapi jantan itu benar-benar jatuh. Di sekitarnya berserakan ramuan obat luka yang berhasil diperolehnya dari seseorang yang telah mempekerjakannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s